Loading...

(photo source: pixabay)

Tiga puluh tiga anak dengan sebuah impian untuk dapat menjejakkan kakinya di daerah bagian tengah Indonesia beberapa waktu lalu harus menunda untuk mewujudkan impian mereka. Jika sesuai jadwal, seharusnya tiga puluh tiga anak ini—bersama saya dan 4 orang fasilitator lainnya—berangkat pada 18 Maret lalu, menjadi penjelajah muda. Anak-anak ini adalah siswa dari Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang mempunyai mimpi besar untuk menjejakkan kaki mereka di NTT, mulai dari Kupang, Ende, hingga Labuan Bajo.

Untuk apa anak-anak ini pergi jauh-jauh ke NTT? Apa yang akan mereka lakukan di sana?

Mari saya ceritakan sedikit.

Anak-anak ini adalah anak-anak yang luar biasa. Saat ini mereka sudah berada di kelas 8 Sekolah Lanjutan (setara dengan SMP). Di tahun ajaran yang lalu (2019-2020, saat masih kelas 7) kami memiliki satu program besar yang bernama Young Explorer alias Penjelajah Muda. Tema besar dari program ini adalah menapak tilas kerajaan Islam yang ada di Indonesia. Apakah itu saja sampai jauh-jauh ke NTT? Tentu tidak! Di sana kami juga belajar tentang bentang alam, sosial, budaya, dan lingkungan. Ada misi khusus yang akan mereka bawa ke sana.

Sudah banyak sekali yang mereka lakukan untuk kegiatan penjelajahan ini sejak Juli 2019. Anak-anak ini mendapat tantangan untuk menentukan sendiri tujuan penjelajahan impian mereka. Mereka perlu menentukan anggaran biaya keseluruhan, akomodasi (transportasi dan tempat tinggal ataupun penginapan) yang akan digunakan, hingga berbagai kegiatan yang akan dilakukan. Anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil ini kemudian mempresentasikan destinasi impian mereka masing-masing. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya NTT dipilih sebagai destinasi yang akan mereka tuju.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Ini adalah satu hajat besar bagi kami. Semuanya bergotong royong untuk mewujudkan mimpi besar ini. Apa saja yang mereka lakukan setelah menentukan destinasi? Salah satu yang mereka lakukan adalah mengumpulkan dana karena dana yang dibutuhkan untuk memberangkatkan tiga puluh tiga siswa dan lima orang fasilitator tentu tidak sedikit. Berbagai macam fundraising kami lakukan, mulai dari berjualan makanan hingga barang elektronik, membuka kafe, bekerja di tempat catering orang tua, menjadi event organizer, serta presentasi ke perusahaan-perusahaan. Hujan-hujanan, panas-panasan, kotor-kotoran, rasanya kami sudah melewati itu semua.

Setiap kali ada tim yang berangkat untuk presentasi, teman-teman yang tinggal di kelas akan menyemangati tim yang berangkat dan sekembalinya mereka dari tempat presentasi, akan disambut dengan tepuk tangan meriah bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Setiap kali dana terkumpul, akan kami sampaikan di kelas kepada semua anak dan mereka tentu sangat senang. Sedikit demi sedikit yang lama-lama menjadi bukit. Lucu sekali rasanya mengingat jawaban kompak mereka saat kami bertanya “apakah siap untuk tidur di masjid jika tidak dapat tempat menginap karena dana yang kurang atau pun karena memang tidak ada penginapan di tempat yang kami tuju?” Ternyata mereka semua menjawab, “siap, buuu! Siap! Yang penting kami berangkat!”

Selain urusan dana, mereka juga menyiapkan lebih rinci kegiatan yang akan dilakukan di NTT. Berangkat dari Jakarta, mereka akan menuju Kupang untuk belajar kebudayaan dan melakukan bakti sosial. Selanjutnya menggunakan kapal laut mereka akan munuju kabupaten Ende di Flores. Di sini mereka akan belajar tentang kerajaan Islam yang ada di Ende pada masa lampau. Lagi, mereka akan melakukan bakti sosial. Berpindah sedikit, mereka akan melakukan trekking ke Danau Kelimutu untuk melihat bentang alam dan keragaman satwa yang ada di sana.

Masih di pulau Flores, kemudian mereka bergerak ke arah barat menuju Labuan Bajo menggunakan transportasi darat. Di sana mereka akan melakukan kegiatan bersih pantai, kampanye tentang pentingnya pelestarian Komodo, bakti sosial, dan observasi bawah air. Oh iya, di setiap tempat yang mereka datangi, mereka akan melakukan kampanye tentang menjaga lingkungan. Beberapa hal yang akan disampaikan yaitu:

  1. Mengganti tas belanja sekali pakai dengan tas belanja yang tidak sekali pakai
  2. Membawa botol minum dan alat makan sendiri (yang tidak sekali pakai)
  3. Membuang sampah pada tempatnya
  4. Tidak memberi makan hewan sembarangan
  5. Tidak merusak fasilitas umum

Semua misi inilah yang menjadi bara api untuk menjaga semangat anak-anak ini. Meski kadang pasang surut karena lelah, namun semangat itu tetap membara. Semakin dekat hari H, semakin persiapan semakin mantap. Melalui berbagai proses, anak-anak tumbuh menjadi anak yang tangguh, mau bekerja keras, dan semakin mengenal satu sama lain. Kami bakar terus satu per satu kayu bakar supaya api semangat tetap ada.

Baju seragam, barang-barang keperluan bakti sosial dan kampanye, workbook, keperluan pribadi masing-masing, tiket pesawat dan tiket kapal, perlengkapan dokumentasi, snack perjalanan, obat-obatan, semuanya kami kumpulkan satu per satu. Berbagai koper dan kardus kami siapkan. Banyak sekali rasanya barang yang akan kami bawa. Anak-anak juga sudah mendapat berbagai tugas kerja sejak sebelum keberangkatan, hari H, hingga kepulangan. Ada tim dokumentasi, bakti sosial, kampanye lingkungan, pembuat buku sebagai bentuk lain dokumentasi kegiatan kami, tim Waste Brand Audit, tim media sosial yang akan meng-update kegiatan kami di media sosial. Semua ini dikerjakan oleh tiga puluh tiga anak-anak hebat.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Kenapa mereka harus melalui semua proses ini? Karena di usia mereka ini mereka disiapkan untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, mandiri, tangguh, dan memiliki akhlak yang baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Kami berharap dengen proses panjang yang sudah dilewati, mereka memiliki cukup banyak pengalaman dan portfolio diri sebagai bekalnya di masa depan.

Di awal tahun 2020, tepatnya bulan Februari, berita tentang kasus Covid-19 mulai muncul satu per satu. Pihak sekolah gencar menyampaikan protokol standar keamanan untuk melindungi diri dari Covid-19. Kami semakin disiplin menjaga kesehatan. Di suatu kesempatan saat kami sedang cek kesehatan, seorang anak yang biasanya ceria malah terlihat gugup dan pucat. Saat ditanya kenapa, katanya karena takut tidak lolos cek kesehatan. Kami para fasilitator memang sempat mengatakan kalau tidak lolos cek kesehatan mungkin mereka tidak bisa berangkat ke NTT karena kami ingin anak-anak ini betul-betul serius menjaga kesehatan terutama saat keadaan sedang tidak baik seperti ini.

Berita tentang Covid-19 semakin marak dan nampaknya keadaan semakin tidak baik bagi kami. Tiga hari sebelum keberangkatan, tepatnya hari Minggu tanggal 15 Maret 2020 kami kami (fasilitator) dan kepala sekolah menyampaikan dengan berat hati kepada orang tua dan siswa bahwa kita harus menunda keberangkatan. Berat rasanya menyampaikan berita ini. Kami semua menangis bersama. Sedih sudah pasti. Kecewa mungkin ada, tapi kami tidak bisa memaksakan untuk berangkat. Di tengah sedu sedan itu ada seorang anak yang bilang, “bu, kalau kita semua disuruh berangkat malam ini, kita siap…”

Alhamdulillah anak-anak bisa menerima keputusan ini. Mereka semua dapat mengambil hikmah atas penundaan keberangkatan ini. Sampai saat ini, Agustus 2020, kami tetap menjaga api semangat kami untuk dapat menjejakkan kaki kami di tanah NTT dan melaksanakan misi besar kami. Atas segala kerja keras, kebersamaan, dan kesabaran semuanya, kami harap kami semua dapat pergi bersama-sama dan melunasi ‘hutang’ ini. Ya, ini seperti hutang kepada anak-anak. Semoga waktu yang tepat untuk kami akan segera tiba.

Penulis: Ari Lia Wulandari

Instagram: @ariliawulandari

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×