Loading...

(photo source: unsplash.com)

Travelling yang mengesankan itu adalah travelling yang tidak bisa dan mungkin tak ingin terlupakan detailnya seperti apa dan juga bukan hanya menikmati perjalanan. Tapi bagiku lebih dari hanya menikmati setiap perjalanannya, tak hanya alam yang kita nikmati, tapi bagaimana perjalanan dan momen tersebut bisa mengubah cara berpikir dan kehidupan kita di hari depan.

Ada 2 momen berharga di 2 tahun ini yang aku dapatkan dari travelling yang memberikanku kesan yang indah tentang kehidupan ini. Dan mengajarkanku untuk lebih bersyukur memiliki kehidupan yang aku hidupi saat ini. Bertemu dengan seorang yang menemaniku, berjuang bersamaku untuk bisa bersama dalam ikatan suci dan mengenal lebih dalam seorang teman yang pernah konflik denganku yang belum bisa aku sebut sebagai sahabat, tapi aku bersedia untuk mendengar keluh kesahnya tentang kehidupan yang dia jalani.

Awal pertemuan itu terjadi saat pengalaman pertamaku travelling tanpa ditemani oleh keluarga dan berangkat hanya dengan 2 orang teman kantor. Selama 4 Hari 3 malam yang merupakan hari terindah sepanjang 2019. Aku dan dua temanku join open trip untuk pertama kalinya. Open trip pertama kita adalah ke Bromo. Hari pertama open trip kita tidak langsung ke Bromo melainkan ke Yogyakarta. Berangkat Rabu malam dan tiba di Yogyakarta Kamis pagi.

Di Yogya kita diberikan kebebasan untuk pergi ke mana pun dan harus kembali lagi di spot awal pukul 22.00 WIB. Bukan pertama kalinya memang aku ke Yogyakarta, tapi memang Yogyakarta memiliki ketertarikan tersendiri sehingga akupun tidak bosan untuk mengunjunginya. Di Yogyakarta aku dan kedua temanku hanya menghabiskan waktu untuk berkunjung ke Pasar Bringharjo, dan sekitaran jalan malioboro. Bus kembali melaju pada pukul 22.00 dan melanjutkan perjalanan ke Solo untuk menjemput beberapa peserta open trip dari Solo. Aku terbangun ketika bus tersebut berhenti di titik penjemputan di Solo, dan melihat sekilas seorang laki-laki dari jendela bus tempat aku duduk, oleh karena lelahku berjalan seharian di Yogyakarta, akupun kembali tertidur hingga keesokan pagi kami tiba di sebuah rumah di kota Batu.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Di kota Batu aku dan ke 3 temanku pergi mengunjungi perkebunan apel, memang sudah niatku dari awal untuk melihat secara langsung bagaimana pohon apel itu sebenarnya, dan satu dari keinginanku terpenuhi. Setelah pukul 22.00 kami berangkat dari Batu menuju Bromo, bus kami berhenti di salah satu minimarket di daerah Batu untuk membeli beberapa keperluan seperti mantel hujan, cemilan, dan lain-lain. Dikarenakan mantel di minimarket tersebut mahal dan hanya tersisa 2pcs, akhirnya aku pun keluar dan bersenda gurau dengan salah satu temanku dan lelaki itu.

Ternyata dia adalah seorang tour leader dari Solo. Dia tour leader yang bertanggung jawab untuk peserta dari Solo. Singkat cerita, kami tiba di pasar Tosari untuk menaiki jeep, aku duduk di dalam mobil di sebelah supir dikarenakan kondisi saat itu subuh dan sangat dingin. Sesampainya di Bromo aku dan kedua temanku menikmati indahnya matahari terbit dan indahnya bulan di dua sisi yang berbeda. Pengalaman ini merupakan yang terindah saat  itu, bisa menikmati matahari terbit dan bulan di waktu yang sama dan tempat yang sama.

Di Bromo aku mulai mengenal beberapa teman-teman baru dari open trip ini, berasal dari suku dan daerah yang berbeda-beda, bersenda gurau, makan bersama, hingga melakukan aktivitas yang menyebabkan kehebohan. Ya liburan adalah saat yang bebas untuk melakukan apa pun itu, memang benar kata pepatah tak kenal maka tak sayang.

Sebelum aku mengenal teman-teman baruku, aku mengira mereka adalah orang yang dingin yang hanya berteman dengan orang yang mereka kenal, tapi ternyata setelah beberapa percakapan, kita mulai dekat dan bahkan peduli satu sama lain, ketika aku mengantuk atau gelisah contohnya, mereka akan mulai bercanda sehingga aku melupakan apa yang membuatku ngantuk dan gelisah.

Entah kenapa saat kami mengitari pasir berbisik di Bromo, aku ingin sekali berfoto dengan tour leader itu, dan dengan bantuan temanku. Akhirnya kita bisa berfoto bersama. Sejak saat itu kita bertukar akun Instagram dan perjalanan cintaku dengannya dimulai sejak hari itu, tidak hanya tentang perjalanan cinta. Tapi kisah-kisah perjalanan liburanku ke tempat-tempat baru, banyak ku dapat dari dia, mengenal lebih dalam budaya Jawa dan lokasi-lokasi sejarah. Hingga menyicipi makanan-makanan Jawa seperti jadah, jadah apolo, serabi, sate buntel, tengkleng dan masih banyak lagi, dan sampai sekarang berkat hubungan ini, aku bisa travelling ke lebih banyak tempat, dan mengenal keluarganya.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Kembali tentang Yogyakarta yang menyimpan begitu banyak cerita dari kisah perjalanan liburanku. Aku dan temanku bersepakat untuk bertemu di Yogyakarta. Kita adalah teman satu kantor dan satu department. Dulu kita pernah dekat dan kembali jauh yang entah kenapa sebabnya masih tidak ku ketahui sampai sekarang. Di Yogyakarta kita menginap di satu kamar yang sama, sejak hari pertama liburan hanya berdua dengan dia, dia setia menemaniku pergi ke tempat yang aku inginkan.

Kami nekat pergi naik motor dari Yogyakarta ke Temanggung untuk menikmati suasana alam di atas gunung di antara gunung Sumbing dan Sindoro. Aku di posisi driver, aku mengendarai motor dengan kecepatan 100km/jam, hingga membuat dia takut dan berkali-kali memintaku untuk menurunkan kecepatanku. Tapi aku tetap berada pada kecepatan yang sama untuk mengejar pagi di gunung. Di saat liburan ini dia mulai bercerita tentang kehidupan asmaranya dan juga keluarganya.

Awalnya dia menutupi kehidupan keluarganya hingga perlahan dia mulai terbuka dan mulai mengeluarkan air mata saat dia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dialaminya saat ini. Perjalanan kisah cintanya yang tak kunjung berujung di umur dia yang menjelang kepala 3. Ia dikhianati oleh seorang lelaki yang menurutku tidak tampan bahkan tidak layak untuk diperjuangkan. Temanku adalah seorang pekerja keras, ia harus membiayai orangtua dan kebutuhan adiknya yang masih berkuliah, sedangkan pria itu sudah tidak bekerja.

Malam harinya kami memutuskan untuk makan dan nongkrong untuk melanjutkan cerita dari kehidupannya di salah satu tempat angkringan yang terkenal di Yogyakarta Angkringan Pendopo Lawas nama tempat itu, kita makan semua makanan yang tidak ada di kota asal kita, dan ya memang harganya tidak semurah di tempat lain, tapi setidaknya ada cita rasa baru yang membuat tidak sia-sia menghabiskan uang untuk itu.

Perjalanan ini sangat mengena di hatiku, dan mengajarkanku untuk lebih banyak bersyukur atas kehidupan yang aku hidupi saat ini, untuk keluarga, pasangan, teman-teman, dan pekerjaan. Ternyata ketika engkau merasa hidupmu sangat terpuruk, masih ada orang di luar sana yang menutupi keterpurukannya dengan senyum dan kebahagiaannya yang palsu.

 

Penulis: Sri Kezia Tamara Tarigan

Instagram: srikezia

Twitter: kezia_tamaras

Facebook: 

Sri Kezia Tamara Tarigan

Press Enter To Begin Your Search
×