Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

Pernahkah kau punya mimpi? Mimpi yang kau tak ingat. Aku pernah. Lupa tepat kapan tepatnya aku menyimpannya sebagai sebuah mimpi. Mungkin sekitar umur empat atau lima tahun. Gambar kecil bentuk dari sebuah candi di pintu rumahku. Setiap berdiri di atas dinding setengah, pembatas teras dan halaman, aku selalu melihatnya.

“Itu adalah candi hebat. Luar biasa. Tempatnya jauh sekali. Orang seperti kita mana bisa kesana,” kata seorang kakak temanku. ‘Suatu hari, Aku ingin kesana. Ingin ke tempat yang tak mungkin itu.’ Aku berkata dalam hati.

Umur delapan tahun kami pindah rumah. Mungkin karena itu kenapa setelah bersekolah, meskipun telah mengenal dan mengetahui letak candi itu, aku tak pernah ingat ingin ke sana.

Ketika dunia sosial media mengubah dan membuat hidup lebih mudah. Aku dan bersama beberapa teman yang kukenal lewat aplikasi biru membuat grup WhatsApp, kami berencana pertemuan komunitas sekalian berdarmawisata. Tempat yang kami sepakati adalah: D.I Yogyakarta, daerah yang mempunyai banyak destinasi tempat wisata, juga merupakan tempat tinggal beberapa teman di komunitas tadi.

Dalam diskusi panjang, merencanakan akan mengunjungi wisata mana saja, kami berdebat, pantai dan candi mana yang akan kami kunjungi. Aku bersikukuh ingin mengunjungi Prambanan, yang aku suka legendanya. Tetapi kalah suara, teman-teman memutuskan mengunjungi candi Borobudur.

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Itu adalah kutipan dari buku tetralogi kedua Laskar Pelangi, Sang Pemimpi. Aku merasa kadang-kadang semesta memang bersatu padu mengabulkan mimpi kecil seseorang. Mimpi kecil hanya karena aku sering mengamati gambar itu di pintu rumahku. Gambar yang aku tidak tahu, bahwa ketika memimpikannya, dia berada di negeri ini. Mimpi yang didengar dan dikabulkan-Nya. Maka pada hari itu aku sampai pada salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Tuhan tahu tapi menunggu untukku.

Perjalanan itu juga sering kurasa ajaib. Aku menyukai sebuah perjalanan, tetapi tak punya cukup banyak teman yang punya hobi yang sama. Dalam berbagai grup WhatsApp yang anggotanya suka mengadakan pertemuan, hanya rencana itu yang berhasil. Banyak komunitas dan grup WhatsApp, tapi setiap rencana lebih banyak tak jadinya dengan berbagai alasan. Perjalanan panjang pertama kali yang aku lakukan. Lubuklinggau-Yogyakarta. Menyeberangi lautan, naik bus, kereta api. Sangat panjang. Tetapi aku menyukainya.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Dari kejauhan sebelum memasuki lokasi candi, kami berhenti, mengambil beberapa pose yang dilatari candi secara landscape. Aku juga mengambil beberapa angel dari tempat kami berdiri saat itu. Hanya candi. Ketika itulah aku teringat dan merasa dejavu. Aku pernah melihat candi dalam posisi itu di suatu tempat.

Borobudur merupakan monument Budha termegah, kompleks stupa terbesar di dunia. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar. Pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel. Terdapat 504 arca Budha dan memiliki koleksi relief Budha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar terletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha tengah duduk bersila dalam posisi teratai Mudra (sikap tangan) dan Dahrmachakra mudra (memutar roda Dharma).

Borobudur juga merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran agama yang diyakini.

Pada pintu masuk candi, segera disuguhi kemegahan sang candi, yang sayangnya juga diperlihatkan pemandangan yang menyedihkan, beberapa kepala patung tidak berada pada tempatnya. Keserakahan manusia adalah cerita yang menyedihkan dan menjengkelkan dalam setiap sejarah panjang umat manusia.

Kami menaiki tangga tingkat pertama untuk memulai perjalanan menyusuri candi. Aku meraba susunan batu batu, stupa, sambil berpikir dan tak berhenti mengagumi kehebatan orang-orang yang hidup pada zaman 800 masehi itu. Hebat, luar biasa, amazing! Bisa menciptakan bangunan seperti ini pada waktu itu. Bangunan yang begitu mencengangkan manusia, sampai lebih seribu tahun kemudian.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Melihat langsung relief di dinding, yang bercerita tentang sejarah, budaya, agama. Relief-relief yang juga menggambarkan sepuluh tingkatan pencapaian menuju nirwana. Hanya saja sayangnya sebelum kesini mestinya cari tahu tentang candi ini di google, karena kecewa tak jadi ke Prambanan. Maksudnya misalnya ada pembekalan pengetahuan tenang candi, pasti lebih paham dengan relief-relief itu. Kamu pasti mau tanya, ‘kenapa nggak waktu itu saja cari tahunya’. Waktu kami terbatas, mesti cukup pose, memoto dan lain-lain, lagipula aku harus hemat baterai handphone. Beberapa relief berhasil aku abadikan kok.

Ada sebuah mitos juga, kalau bisa menyentuh sebuah benda dalam sebuah stupa yang terkenal dengan nama arca Kunto Bimo, maka permintaan apa pun akan terkabul. Aku juga sibuk mencari benda itu sambil mengucap permohonan. Sepertinya sih aku tidak bisa mencapai benda yang dimaksud, keinginanku tidak tercapai. Meskipun pada akhirnya aku hanya anggap itu sekedar mitos saja.

Selain candi Borobudur, kami juga mengunjungi hutan pinus, Keraton Yogya, pantai Pok Tunggal yang keindahannya mirip pantai-pantai di Bali. Air terjun Sri Getuk. Menyusuri Malioboro dengan jalan kaki. Makan gudeg yang kalau di lidahku berasa manis. Orang Sumatera kurang menyukai rasa manis, tapi aku menyukai telur merahnya.

Melewati perjalanan panjangnya dan menikmati banyak pemandangan, juga mengingatkan pada film 5 CM. Perjalanan panjang yang membuat kita mencintai Indonseia. Lebih mencintai Indonesia. Tentu ada banyak juga yang belum aku lihat dan mengunjunginya. Misalnya candi Prambanan tadi, Parangtritis dan Pangandaran (pantai terkenal dalam cersil Wiro Sableng, hahaha), juga pohon beringin kembar yang katanya juga merupakan gapura dalam dunia astral. Semoga ada lain-kalinya, bisa mengunjungi kota yang tenang dan damai ini lagi.

Ketika banyak keajaiban di dunia ini, kita pun punya keajaiban sendiri. Apakah mimpimu? Apakah kau juga bermimpi tentang perjalanan dan menemukan hal yang menabjukan lebih dari ini? Ayo berceritalah kawan, teriakkan pada dunia. Teriakan mimpi-mimpimu. Tidak ada hal yang tak mungkin, tidak ada yang mustahil. Suatu hari, mungkin kau akan menemukan aku berlayar di laut, atau mungkin berdiri kaku di atas tebing, atau menari bersama sunset yang hampir padam. Meneriakkan mimpi-mimpi!

 

Penulis: Dimarifa Dy

Instagram: @dimarifa_dy

Facebook: Dimarifa Dima

Press Enter To Begin Your Search
×