Loading...

(photo source: pixabay.com)

Diantara indahnya keping-keping syurga, Danau Toba menjadi salah satu kepingan keindahannya. Danau yang memiliki pulau di tengah-tengahnya ini merupakan destinasi yang wajib dikunjungi jika kita berkunjung ke provinsi Sumatera Utara. Di kawasan danau ini pula terdapat sebuah pulau bernama Pulau Samosir. Dari pulau inilah, bentang luasnya Danau Toba semakin terlihat memukau indah. Bila sudah memutuskan untuk berkunjung ke Danau Toba, maka tidak lengkap rasanya jika tidak menapaki kaki di pulau Samosir.

Untuk bisa menjangkau Pulau Samosir, kita bisa memilih menyeberangi danau dengan menggunakan jasa penyeberangan kapal Ferry. Kapal ini merupakan kapal pengangkut penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Ajibata Parapat menuju pulau Samosir. Sebenarnya, akses untuk menuju pulau Samosir juga bisa ditempuh melalui jalur darat, yakni berangkat dari kota Medan menuju pulau Samosir namun dapat memakan waktu yang cukup lama sekitar 9 jam. Untuk itu, menaiki kapal Ferry bisa menjadi opsi. Biaya untuk menyeberang juga terbilang tidak mahal hanya cukup merogoh kantong dengan mengeluarkan uang 15 ribu rupiah saja per orangnya. Jika membawa kendaraan pribadi berupa mobil, maka bisa ikut diseberangkan menggunakan kapal Ferry dengan tarif ongkos 135 ribu rupiah.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah menempuh penyeberangan kurang lebih 45 menit, kita akan tiba di pulau Samosir dengan disambut hembusan angin sejuk serta nyanyian ombak yang benar-benar memasung diri untuk bermukim. Sedikit menyimpan rasa kecewa kalau kita berkunjung ke Pulau Samosir tetapi tidak bermalam. Sebab, ada banyak lokasi yang bisa di datangi di Pulau ini. Ketika memilih untuk bermalam di pulau Samosir, kita tidak perlu khawatir karena di pulau ini sudah banyak sekali tersedia penginapan yang relatif terjangkau dan bagus. Salah satu daerah yang memiliki banyak penginapannya yakni di daerah Tuktuk. Lokasinya juga strategis karena tidak begitu jauh dari dermaga.

Sejauh mata memandang, di pulau Samosir ini mata kita akan dimanjakan dengan deretan bukit-bukit bagai lukisan. Danaunya pun juga demikian, keduanya seolah tak memiliki sisi kosong dan terus ada di setiap sisi penglihatan. Perpaduan antara luasnya danau dan bukit-bukit di sekelilingnya menciptakan ketenangan bagi siapa saja yang memandangnya. Wajar memang jika danau ini disebut kepingan syurga.

Jika pagi hari menjelang, udara sejuk di pulau ini akan menyapa kulit. Beruntungnya di pulau ini juga terdapat sebuah pemandian air hangat yang terletak di Pangururan, tepatnya di ibu kota Kabupaten Samosir. Di sini, kita bisa menikmati sensasi berendam air hangat dengan aroma khas belerang. Cukup membayar 20 ribu rupiah saja, kita bisa bebas berendam. Sembari menikmati kehangatan air, berendam di air belerang juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

(photo source: bumantaranews.com/Ingot Simangunsong)

Ketika matahari sudah mulai terasa terik, biasanya orang-orang berbelanja di daerah Tomok untuk membeli buah tangan khas Samosir. Ada banyak sekali berbagai macam barang yang bisa kita beli, mulai dari makanan, pakaian, ulos, topi, tas, dan berbagai aksesoris lainnya.

 Selain pemandangan bentang indahnya Danau Toba, di pulau Samosir kita dapat melihat langsung bagaimana budaya suku Batak yang menjadi suku asli pulau Samosir ini. Masyarakat di pulau ini dikenal sangat menghargai leluhurnya. Mereka sangat kental mewarisi tradisi. Hal ini terbukti dari bagaimana suku Batak menghargai dan menjaga sejarah dari para leluhur dengan melestarikannya.

(photo source: merdeka.com)

Saat berkeliling di pulau ini, kita bisa menyaksikan tarian patung si gale-gale. Tarian yang dikenal dengan nama ”tortor” ini dikendalikan oleh orang dengan tali yang dirakit pada bagian-bagian tubuh patung. Lucu dan nyentrik.

Dari keterangan masyarakat setempat, tarian ini memang sengaja dilestarikan dan masih tetap dijaga sampai sekarang. Tarian patung si gale-gale menjadi bukti kekayaan warisan masyarakat di tempat ini. Tarian ini juga memiliki cerita historis tentang kepergian anak salah seorang raja yang diabadikan dalam patung karena pada saat itu raja begitu sangat terpukul atas kepergian anaknya. Oleh sebab itulah patung ini dibuat. Ketika kita berkunjung ke pulau Samosir ini, kita juga bisa ikut melakukan tarian si gale-gale dengan dipandu seorang pemandu tari.

Warisan lainnya yang masih dilestarikan yakni rumah-rumah adat. Rumah adat batak Toba memiliki ciri khas arsitektur yang unik. Rumah adat yang dimiliki suku ini berupa rumah panggung dengan kolong di bawahnya yang biasa digunakan untuk kandang binatang peliharaan. Lantai rumahnya terbuat dari papan dengan beratapkan daun rumbia.

Selain melihat rumah adat, di sini kita juga bisa melihat peninggalan sejarah berupa batu parsidangan. Batu ini merupakan batu sidang untuk mengadili masyarakat-masyarakat terdahulu apabila melakukan kesalahan. Kita bisa melihat dan bahkan menyentuh langsung bagaimana bentuk dari batu itu. Di pulau ini juga, kuburan-kuburan para raja dan leluhur masih terjaga dengan baik. Kita juga bisa melihat langsung bagaimana kuburannya di sana.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Tidak habis sampai di situ, pulau Samosir juga menyedikan tempat bagi orang yang suka mendaki dan camping. Keindahan deretan bukit yang menghiasi danau Toba ini bisa didaki. Salah satu bukitnya yaitu bukit Holbung. Letak bukit Holbung berjarak kira-kira 20 Km dari ibu kota kabupaten Samosir. Di bukit ini biasa menjadi spot primadona untuk memandang luasnya danau Toba dari sisi ketinggian. Keindahannya sulit digambarkan jika kita tidak langsung merasakannya di sana. Apalagi jika melihat matahari terbit dari sini, sungguh, benar-benar indah ciptaan Tuhan.

Terakhir yang tidak kalah menakjubkan. Di pulau Samosir juga terdapat danau lain selain danau Toba. Danau Sidihoni namanya. Danau inilah yang disebut sebut sebagai danau di atas danau. Dikatakan demikian sebab pulau Samosir letaknya berada di atas danau Toba, namun di pulau Samosir juga terdapat danau lagi. Takjub dan ajaib, bukan? Danau ini sering dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai jalur irigasi dari pada sawah-sawah yang ada disekitarnya. Warna air danau ini berbeda dengan warna air danau Toba, ia sedikit kecokelatan, tidak sebiru danau Toba. Namun, itu tetap mengurangi keindahan pemandangannya dikarenakan danau ini dikelilingi rumput hijau bagai padang rumput yang indah.

Sore hari biasanya orang-orang akan menghabiskan waktu untuk menikmati lembayung senja di tepi pantai. Matahari tenggelam begitu damai di sini. Seolah ia meninggalkan harap untuk ditunggu lagi datang saat terbit fajar esok hari. Samosir, tak akan habis rasanya bait-bait ceritamu terukir.

 

Penulis: Yogo Pamungkas L. Tobing

Instagram: Yogotobing

Facebook: Yogo Tobing

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×