Loading...

Berbicara tentang Banyuwangi, tinggalkan pikiran mengenai kisah horor dan tarian-tarian mistis. Namun sangat layak untuk memasukkan kota yang berbatasan langsung dengan Selat Bali ini ke dalam bucket list liburan impianmu.

Jelajah Banyuwangi bisa dimulai dari wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen. Gunung Ijen yang terletak pada ketinggian 2.386 mdpl masuk ke dalam kawasan cagar alam yang menyimpan kejutan istimewa. Pendakian yang saya lakukan, dimulai pada pukul 02.00 dini hari dan memakan waktu sekitar 2 jam untuk berhasil menginjakkan kaki di puncaknya.

Tiba di puncak saat masih gelap membuat gunung ini memberikan kejutan demi kejutan. Dibalik kabut dan asap belerang tebal mulai terlihat kawah berwarna biru kehijauan ditambah pemandangan api biru yang menyala atau yang biasa disebut blue fire yang konon katanya hanya ada dua di dunia dan salah satunya berasal dari kawah ijen ini menambah kadar kecantikan si kawah.

Rasa kagum saya belum selesai, ketika eksotisnya panorama matahari terbit dari balik tebing-tebing tinggi yang mengelilingi kawah. Mata kami disuguhi oleh banyaknya jasa antar pengunjung menuju puncak menggunakan gerobak dua roda yang dinaiki 2-3 orang pengunjung. Penambang belerang juga menjadi pekerjaan warga setempat, keranjang rotan yang dipikul berisi batu-batu belerang diangkut menuruni gunung, tak jarang mereka menjual souvenir dari belerang yang sudah dipahat beraneka model cantik. Tak hanya itu, si gagah Gunung Raung dari kejauhan juga ikut memanjakan mata selama pendakian.

Destinasi selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Taman Nasional Meru Betiri. Salah satu akses menuju Meru Betiri yang saya lewati yaitu dari Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Kabupaten Banyuwangi. Petualangan dimulai dari Pantai Rajegwesi sebagai tempat singgah dan memesan perahu milik nelayan setempat sebagai akses menuju Teluk Hijau. Karena gelombang laut begitu tinggi, kamu harus siap jika air laut menghantam perahu dan membasahi seluruh pakaian. Kurang lebih 15 menit waktu yang ditempuh dan saya menemukan pantai tersembunyi dengan hutan belantara di bagian kiri dan kanan sukses menghipnotis setiap pengunjung.

Petualangan dilanjutkan dengan jeep menuju Pantai Sukamade, jeep digunakan karena medan yang terjal dan bebatuan. Karena sungai Sukamade tidak memiliki jembatan dan kendaraan harus menerjang aliran sungai. Maka, berkunjung ke Sukamade tidak disarankan saat musim penghujan karena air sungai akan meluap dan menutup akses yang ada. Saat musim kemarau, air sungai tidak begitu tinggi sehingga membuat pesona tersendiri pada kawasan ini dan cocok menjadikannya spot mengambil gambar yang sayang untuk dilewatkan.

Alangkah lebih baiknya jika kamu menyewa homestay untuk menginap, maka suasana hidup ditengah-tengah hutan belantara akan begitu terasa ditambah dengan tidak adanya jaringan serta pasokan listrik yang tersedia hanya pada pukul 17.00 sampai 23.00. Pantai Sukamade bisa dikunjungi saat pagi hari ketika ingin merasakan sensasi pelepasan tukik yang dilakukan oleh Resort Pengelolaan Taman Nasional Sukamade.

Namun juga tak kalah menarik jika dikunjungi malam hari ketika ingin melihat penyu dari laut yang bertelur di pesisir pantai. Pihak Seksi Pengelolaan harus menemani atau menjadi tour guide perjalanan malam menuju Pantai Sukamade, hal itu dikarenakan setelah sampai di pesisir pantai para pengunjung harus selalu diingatkan untuk tetap hening dan tidak menyalakan penerangan apa pun dengan tujuan agar penyu yang ingin bertelur tidak merasa terganggu.

Beruntungnya saya dan beberapa pengunjung setelah menunggu sekitar 45 menit, akhirnya berhasil melihat penyu yang bertelur. Pihak pengelolaan mengizinkan untuk mengambil foto si penyu sebelum ia kembali ke laut dengan syarat tidak boleh menggunakan lampu flash dan hanya boleh mengambil gambar bagian punggung si penyu. Melakukan safary night dengan jeep bisa dilakukan sembari perjalanan kembali dari Pantai untuk melihat satwa apa saja yang berkeliaran di malam hari. Perjalanan ini begitu mengesankan, saya tidak akan berfikir dua kali untuk kembali menjelajahi Banyuwangi ketika ada waktu dan kesempatan.

 

Nama Penulis: Friska Dita Sifaun Nadhiro

Instagram: www.instagram.com/friskadsn/

Facebook: friskaditasyifaun

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×