Loading...

2009, Indonesia

Ini sudah keberapa kalinya aku menonton film UP. Meskipun begitu, air mataku tetap mengalir manakala menyaksikan petualangan Carl Fredicksen untuk menepati janjinya kepada mendiang istrinya.  Sejak saat itu, Aku bersumpah suatu saat aku juga harus bisa naik balon udara.
 

5 tahun kemudian...

Hari masih gelap dan cuaca dingin menusuk ketika aku keluar dari apartemenku di Arizona, Amerika Serikat. Aku tak bisa tidur nyenyak karena terlalu bersemangat. Pikiranku sibuk melayang layang di udara. Aku tak sabar menyongsong matahari terbit. Aku tak boleh melewatkan sedetik pun momen “once in a lifetime” ini.

Jarum jam di tangan mulai menunjukkan pukul 5 pagi. Mobil Van dari Hot Air Balloon Expedition telah menunggu di luar. Bersama dengan temanku, kami masuk ke dalam mobil dan si supir yang ramah melajukan van nya menuju ke launch site atau tempat dimana kita akan terbang dengan balon udara. 

Balon udara sejatinya adalah salah satu moda transportasi  yang tidak menggunakan mesin. Salah satu alat pengontrol dan pengerak balon udara ini adalah angin. Jadi nggak ada yang namanya gagang kemudi yang bisa dibelokkan ke kiri atau kanan dan juga tidak ada rem. Satu satunya si pilot balon(kapten) mengontrolnya adalah dengan membaca tekanan dan pergerakan angin dan mencocokannya ke arah tujuan yang diinginkan.

Arizona, New Mexico dan Southern California merupakan contoh daerah yang cocok digunakan untuk ber-balon ria karena tekanan anginnya yang sesuai dan juga landscape alam yang luas. Selain itu disini, cuacanya selalu mengasikkan dan jarang bersalju. Bahkan, di Alberqueque, New Mexico setiap tahunnya dijadikan tuan rumah ajang international balon festival dimana ratusan balon bisa terbang bersamaan.

Sepanjang jalan menuju launch site, sang supir masih terus berkomunikasi dengan tim yang sudah di launch site dan memastikan lokasi launch site. Karena balon udara sangat tergantung dengan  angin, maka kita tidak bisa memilih daerah keberangkatan maupun tempat balon akan landing. Berdasarkan info dari si kapten, lokasi balon udara yang akan kami naiki berada di North Scottsdale.  Bisnis balon udara sangat bergantung pada cuaca. Sebenarnya aku telah menjadwalkan terbang beberapa hari yang lalu tetapi tiba tiba dibatalkan karena angin bergerak terlalu kencang yakni mencapai lebih dari 33mph dimana batas aman untuk balon terbang adalah 10 mph. Mungkin kalau aku ngotot terbang, balon udaranya bisa mendarat hingga ke Las Vegas.

Oleh karena itu, begitu sampai di launch site, perasaanku sangat lega. Di sebuah tanah kosong yang luas dan rata, sudah tampak beberapa tur balon udara yang lainnya sedang bersiap siap dan bahkan beberapa di antaranya sudah mengudara terlebih dahulu.

Matahari masih malu malu menunjukkan wujudnya. Sebelum naik ke balon, saya dan teman teman harus mengisi berkas dan menyatakan semua resiko yang terjadi selama menaiki balon udara ada di pihak kita. Sementara itu, Kapten dan beberapa kru sedang “memompa” si balon dengan api sehingga menimbulkan hawa panas.

Perlahan tapi pasti, balon beserta keranjang yang semula terbaring di tanah sedikit mulai sedikit mengembang, tegak berdiri dan tampaklah wujud aslinya, yakni balon udara berwarna warni lengkap dengan icon Arizona, kaktus saguaro raksasa.

Segera para kru balon memanggil kami melompat masuk ke dalam keranjang sebelum balon terbawa angin. Di dalam keranjang  balon udara tersebut ada 13 orang yang dibagi dalam 5 sekat pembatas agar berat yang ditanggung balon imbang. Kapten yang memimpin perjalananku ialah kapten bill. Orangnya asik, lucu dan tidak pelit membagi informasi sehingga perjalanan yang sudah mengasikkan ini bertambah asik. Sepanjang perjalanan, dia sibuk menghidupkan api yang disemburkan ke dalam balon hingga balon bisa naik.

Lambat laun, kami terbawa naik ke angkasa. Dari beberapa meter hingga melayang ribuan meter di atas tanah. Jika sebelumnya saya duduk di window seat pesawat, saya suka berpikir bagaimana rasanya berada di sayap pesawat dan merasakan langsung angin diluar atau membayangkan melintasi awan. Sedikit banyak efeknya dapat saya rasakan ketika naik di balon udara. Dari pertama kali keranjang terangkat hingga akhirnya mencapai titik tertinggi kami yakni kurang lebih setinggi 1 mil dari daratan. Sensasinya begitu mendebarkan ketika memandang ke bawah. Rumah, jalan, danau tak ubahnya hanya seperti mainan monopoli yang berpetak petak.

Sekali lagi karena angin adalah segalanya, durasi waktu perjalanan tidak dapat ditentukan. Yang bisa dijanjikan adalah 45 menit hingga 90 menit. Sayangnya hari itu, pemandangan sedikit tertutup debu sehingga jarak pandang terbatas.

Ketika mulai mendarat, kami diharuskan mengambil posisi menekuk lutut sambil berpenganggan pada keranjang. Landingnya memang tidak begitu mulus karena kami mendarat di gurun yang berbatu batu dan bersemak kaktus. Tiba tiba juga masih ada angin yang bertiup dan membuat keranjang oleng. Tetapi justru disanalah puncak adrenalinenya bagiku. Kata si kapten bill bisa saja ketika telah mendarat, tapi kalau angin tetep kencang, balon udara bisa diterbangkan kembali ke atas. Oleh karena itu ketika balon hampir menyentuh tanah, kru yang sedari tadi mengikuti kami telah berjaga di bawah dan stand by menarik dan menahan keranjang.

Sesampainya menginjak bumi kembali, para kru langsung menyiapkan makan pagi ala piknik. Dengan cepat dan tangkas mereka membuka meja lipat, menata kursi serta menghidangkan menu breakfast yakni croissants, quiche, dan apel. Tidak ada kesan asal asalan karena makanan yang disajikan masih segar dan berkualitas tinggi. Begitu juga dengan alat makan berupa besi lengkap dengan serbet. Yang tak disangka sangka adalah jamuan champagne di saat pagi buta.

Sebelum makan, sang kapten bill memberikan sepatah dua patah kata tentang perjalanan kami yang diakhiri dengan doa khas naik balon udara yang juga tercetak di gelas champagnenya.

“The winds have welcomed you with softness. The sun has blessed you with his warm hands. You have flown so well and so high, that God has joined you in your laughter and set you gently back again into the loving arms of Mother Earth.”

Amin.

Belum cukup mengisi hariku yang penuh kebahagian ini, sang kapten bill memanggil nama peserta satu per satu.

“Congratulation” katanya sambil memberikan Certificat d’Ascension En Machine Aerostatique dan menjabat erat tanganku.

Aku dan teman temanku pun beramai ramai men-toskan gelas champagne tanda bukti kelulusan terbang dengan balon udara untuk pertama kalinya.

Aku bernapas lega, akhirnya bisa mencoret naik balon udara dari “50 things to do before die” listku. A Dream Comes True Journey. Cheers!

Waktu terbaik

Morning flight ( 5am – 8 pm) selalu tersedia setiap tahunnya tetapi khusus afternoon flight untuk melihat sunset hanya ada di bulan November hingga Maret. Banyak orang memilih untuk menaiki balon udara ketika momen spesial misalnya ulang tahun, anniversary bahkan melamar kekasih. Jika anda juga bertujuan sama, beritahukan hal ini sebelum berangkat (ketika reservasi) supaya anda tidak kaget dengan surprise kue ulang tahun serta ucapan selamat ulang tahun yang telah menanti.

 

Nama Penulis: Lenny

Instagram: www.instagram.com/lenny.diary/

Twitter: www.twitter.com/lenny_diary

Facebook: Lenny Lim

Press Enter To Begin Your Search
×