Loading...

Foto: unsplash.com

Assalamu’alaikum,

Hai, namaku Elvi Sundari. Aku salah satu mahasiswa S-1 jurusan Teknik Kimia di Universitas Sumatera Utara, Medan. Aku sangat menyukai travelling. Aku pernah bermimpi menjelajah seluruh pulau di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak hanya itu, aku juga ingin ke tempat-tempat indah di seluruh dunia, melihat betapa luar biasanya Tuhan menciptakan keindahan yang membentang di bumi ini. Aku ingin seperti Ibnu Batutah, sang penjelajah dunia.

Apakah definisi travelling yang sesungguhnya bagimu? Bagiku travelling itu penuh dengan pelajaran, pendidikan, kedisiplinan, dan latihan. Travelling is training. Mengapa? Karena ketika kita melakukan travelling, kita dilatih untuk bersikap disiplin pada aturan yang sudah ada. Maksudnya adalah menyesuaikan diri pada tempat dan keadaan dimana kita tinggal. Jika kita berada ditempat yang memiliki hal yang tidak boleh atau dianggap tidak sopan dilakukan pada daerah/kota/negara A, maka kita harus menyesuaikan diri mengikuti peraturan tersebut. Apabila kita melanggar atau melakukan perbuatan tersebut, maka akan buruklah diri kita bahkan nama daerah/kota/negara asal kita dimata warga di daerah/kota/negara tersebut. Berdasarkan pengalaman pribadiku ketika berada di Jepang, aku harus menahan sampah di dalam tasku sampai aku menemukan tempat sampah yang sesuai dengan jenis sampahku. Apabila aku membuang sampah sembarangan, maka akan merugikan diriku sendiri, baik berupa sanksi maupun hal buruk lainnya. Oh iya, salah satu mimpiku sebelum aku lulus S-1 adalah aku bisa pergi ke Jepang tanpa biaya dari orang tua. Alhamdulillah aku berhasil mewujudkannya dengan mengikuti event di sana sebagai salah satu mahasiswa perwakilan dari Indonesia. Aku sangat senang, apalagi aku dan partner-ku bisa mendapatkan juara 1 pada event tersebut. Namun, kami disana hanya 3 hari saja dan diisi dengan kegiatan event tersebut. Jadi, hanya sedikit pengalaman yang aku dapatkan. Salah satu foto kenangan kami di Shibuya Station, Jepang dapat dilihat pada Gambar 1. Fotoku yang menggunakan jilbab berwarna merah muda dan partner lombaku lelaki berkacamata dengan jaket hijau.

Gambar 1. Foto di Shibuya Station, Jepang

(Sumber: Foto Pribadi)

Aku akan menceritakan tentang travelling yang paling berkesan menurutku. Travelling ini dilakukan oleh aku dan teman-temanku di Aceh. Sebenarnya, kami melaksanakan KP (Kerja Praktek) di sana sebagai salah satu syarat untuk kelulusan S-1 pada jurusanku. KP yang kami laksanakan setiap hari senin hingga jum’at. Kami memanfaatkan hari sabtu dan minggu untuk travelling. Aceh merupakan salah satu tempat yang paling indah di Indonesia. Pesona pantainya tak bisa sedikitpun dapat terlepas oleh sorot mata. Sepanjang perjalanan yang kami lalui, selalu disambut oleh hijaunya bukit dan birunya pantai Aceh. Rasanya beban setelah melakukan KP hilang begitu saja setelah melihat dan merasakan keindahan Aceh. Tempat yang kami kunjungi yaitu Masjid Baiturrahman, pantai Lampuuk, PLTD Kapang Apung, Museum Tsunami, dan beberapa pantai lainnya yang ada di Aceh. Beberapa foto kenanganku saat berada di sana dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. (a) Foto di Masjid Baiturrahman (Sumber: Foto Pribadi)

Gambar 2. (b) Foto di Pantai Lampuuk (Sumber: Foto Pribadi)

Saat kami di Aceh, tempat paling seru dan tidak terlupakan adalah Sabang. Terlebih, aku sangat ingin sekali ke sana. Ini merupakan travelling yang paling berkesan bagiku. Seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya, travelling is training. Banyak pelajaran yang bisa kupetik dari travelling-ku saat di Aceh.

Saat kami ingin pergi ke pelabuhan, kami hampir saja ketinggalan kapal. Oh iya, aku lupa memberi tahu bahwa kami terdiri dari 4 orang. 3 orang cewek dan 1 orang cowok. Secara psikologis, sikap cewek memang lebih panik daripada cowok saat keadaan mendesak. Ya, benar saja. Saat hampir ketinggalan kapal, kami semua (cewek) merasa panik sedangkan yang cowok tetap tenang dan mencoba menenangkan kami bertiga. Mencoba menjelaskan bahwa jika rezeki tidak akan lari dari pemiliknya. Kalimat sederhana yang terkesan biasa namun punya kekuatan yang luar biasa untuk mengubah situasi dan keadaan. Kami bertiga pun merasa sedikit tenang. Beruntungnya, kami ternyata sampai di pelabuhan tepat waktu dan tidak ketinggalan kapal. Pelajaran pertama adalah jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa kita ketahui karena semua sudah diatur dengan sebaik-baiknya oleh Tuhan Yang Maha Esa, apapun itu terimalah dengan ikhlas dan syukur.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Selama di dalam kapal, aku sangat menikmati pemandangan hamparan lautan yang luas membentang, ada perasaan takut dan tenang bercampur. Entahlah, aku sulit mengungkapkannya. Walaupun perjalanan pertamaku naik kapal, namun aku sangat bersyukur karena aku tidak mabuk laut. Waktu pun tak terasa berlalu hingga kami sampai di Sabang. Kami langsung mencari penginapan yang diperoleh dari salah satu kenalan saat di kapal tadi. Penginapan terdekat dan relatif murah bagi mahasiswa, ternyata banyak juga mahasiswa travelling ke Sabang menginap di tempat penginapan tersebut. Kami sangat bersyukur karena penginapannya tidak jauh dari lokasi pelabuhan dan terkesan aman juga lumayan nyaman. Pelajaran kedua yang aku dapatkan yaitu manusia memang makhluk sosial, tak bisa lepas dari yang namanya kehidupan sosial atau berteman. Semakin banyak teman, semakin mudah hidup. Namun, jangan juga terlalu mudah percaya pada orang lain terutama orang yang baru saja kita kenal.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Kilometer Nol Indonesia. Hal yang membuat kami tidak bisa melupakannya yaitu perjalanan dan rute yang kami lalui saat menuju ke sana. Mulai dari jalan berkelok dan licin hingga jalan yang dipenuhi dengan pemandangan yang sangat indah, apalagi semakin berada di puncak. Keseruannya semakin terasa saat dilakukan bersama teman-teman kita. Kami ke sana menggunakan sepeda motor yang kami bawa dari Medan. Sepeda motor yang kami bawa menggunakan kapal. Pengalaman pertamaku naik sepeda motor sebagai pengemudi menuju bukit. Sangat berkesan bagiku. Sepanjang perjalanan aku tak bisa berhenti menikmati rute yang aku lalui. Merasakan segarnya udara pagi, hijaunya pepohonan, birunya lautan. Sangat menakjubkan. Pelajaran ketiga yang aku dapatkan adalah berjelajahlah di Indonesia, negerimu sendiri. Cintailah negerimu sendiri, Indonesia sangat indah bahkan tak kalah indah dengan wisata luar negeri yang kau puja-puja itu.

Akhirnya kami sampai di Kilometer Nol Indonesia. Sesampainya di sana, kami sangat menikmati pemandangan laut tanpa batas. Ada pulau kecil di tengah laut, kata orang-orang disitulah Indonesia diukur mulai 0 (nol) kilometer. Aku benar-benar takjub, aku sempat terdiam tanpa kata. Menangis seperti tanpa sebab. Padahal, saat itu yang aku pikirkan adalah “sebagai generasi muda, aku sudah melakukan apa saja untuk negeriku yang tercinta ini?” pertanyaan ini melintas dalam hatiku dan mengundang mataku untuk berkaca-kaca sejenak. Mulai hari ini aku akan berjuang seperti para pahlawan perang memperebutkan kemerdekaan. Caranya saja yang berbeda, semangatnya tetap sama. Itulah pelajaran keempat yang aku dapatkan, yaitu strong motivation. Foto kami di Kilometer Nol Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Foto di Kilometer Nol Indonesia

(Sumber: Foto Pribadi)

Kami melanjutkan perjalanan kami ke Pulau Iboih untuk melakukan snorkeling. Selama perjalanan, teman cowok kami yang pernah ke sana sedikit lupa arah jalan menuju Pulau Iboih. Kami memutuskan untuk bertanya kepada salah satu warga setempat. Akhirnya kami diberi petunjk jalan menuju ke sana. Jalan yang kami lewati terkesan berbahaya, licin karena terkesan mengandung lebih banyak tanah liat, turunan, dan tanjakan. Perjalanan semakin sulit karena subuh tadi hujan, membuat jalan semakin licin. Awalnya kami ragu, karena melihat keadaan jalan yang harus kami lewati. Karena ragu, kami bertanya pada warga yang ingin melewati rute tersebut juga tetapi warga tersebuut berjalan tanpa kendaraan apapun. Warga itu mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk sampai di Pulau Iboih. Sebenarnya, kami tidak berani. Namun, kami harus melewatinya karena rasa ingin kami yang begitu kuat sampai di Pulau Iboih. Pertama, kami harus melewati turunan, setelahnya adalah tanjakan. Jalan yang licin membuat temanku yang cewek mengalami kesulitan melewatinya, dan akhirnya mengalami kecelakaan dan terjatuh dari sepeda motor. Beruntungnya hanya luka kecil saja dibagian tangannya. Temanku yang cowok mulai merasa bahwa perjalanan tak layak dilanjutkan. Kebetulan ada satu warga yang lewat. Warga tersebut memberitahu kami bahwa ada satu jalan yang bagus namun jauh menuju Pulau Iboih. Kami memutuskan melewati jalan tersebut. Ternyata informasi yang disampaikan kurang sesuai. Lokasi kami dari awal menuju Pulau Iboih tidaklah sejauh yang disampaikan warga tersebut. Kami merasa dibohongi oleh tiga orang warga yang kami tanyai. Pelajaran kelima yang aku dapatkan adalah jika aku ragu, maka aku harus mencari bukti atau fakta yang bisa lebih dipercaya, jangan sampai dikuasai oleh ego.

Sesampainya di Pulau Iboih, kami bersiap-siap melakukan snorkeling. Airnya begitu biru dan jernih. Ikan-ikan di dalamnya dapat terlihat dengan jelas. Aku benar-benar takjub atas keindahan Pulau Iboih. Aku tahu, aku takut kedalaman laut. Hanya aku yang tak bisa snorkeling. Menurutku bukan tidak bisa, melainkan tidak berani melawan ketakutan yang ada dalam diriku. Berkali-kali aku dipandu oleh bapak pemandu snorkeling, tapi aku tetap tidak bisa. Berkali-kali juga aku melawan ketakutanku. Namun, aku tak bisa melupakan pengalaman tenggelamku saat aku kecil. Ya, aku dua kali hampir tenggelam. Hal itu yang membuatku tak bisa melawan rasa takutku pada kedalaman air terutama laut. Pelajaran keenam yang aku dapatkan adalah kamu harus percaya pada dirimu sendiri, kamu pasti bisa. Jika kamu tidak percaya pada dirimu sendiri, bagaimana orang lain bisa mempercayaimu. Walaupun hal ini sangat berat, tapi harus.

Setelah kami snorkeling, kami melanjutkan perjalanan ke penginapan dan bersiap-siap untuk kembali ke Banda Aceh. Begitulah cerita tentang travelling-ku di Aceh. Banyak sekali pelajaran lainnya yang aku dapatkan selama di sana yang tak bisa aku ceritakan semuanya di sini karena akan terlalu panjang. Aku berharap bahwa ceritaku ini dapat menjadi bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Yuk travelling! Sebab travelling tak hanya sekadar jalan-jalan. Travelling is training.

Terima kasih.

 

Nama Penulis: Elvi Sundari

Instagram: www.instagram.com/elvisundari21

Facebook: Elvy Sundhari

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×