Loading...

Foto: Unsplash

Saat pandemi seperti sekarang ini, niat untuk travelling maupun pergi ke tempat wisata favorit kayanya harus ditunda dahulu atau harus masuk " waiting list " dulu dech... Walaupun sudah banyak tempat wisata yang sudah mulai beroperasi pada masa " New Normal " ini, tapi tetap saja untuk melakukan travelling ke tempat yang jauh sepertinya belum memungkinkan.

Masih ada sih perasaan was-was dan khawatir jika bepergian ke tempat jauh, takut ini lah.. takut itu lah.. belum lagi kita kadang tidak tahu pasti apakah tempat yang kita tuju itu masuk zona merah penyebaran covid 19 atau tidak.

Tapi bicara tentang travelling memang tak akan pernah membuat bosan. Apalagi jika lawan bicara kita adalah seorang " traveller sejati ", yang notabenenya sering melakukan travelling ke tempat-tempat yang hanya kita tahu via internet atau televisi misalnya, lebih jauh lagi yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri, dan kita yang mendengarnya hanya bisa diam, sambil sesekali terlintas di pikiran, " kapan ya bisa kaya mereka ? "

Tenang gaes, yang belum pernah travelling ke luar negeri bukan satu-dua orang saja, masih banyak kok yang malah lebih tertarik melakukan travelling di negeri kita sendiri, Indonesia.

Bukan mustahil, jika orang yang sering bepergian ke luar negeri itu adalah orang yang belum sempat menjelajahi keindahan alam negara kita. Kenapa tidak kita coba travelling ke tempat-tempat yang dekat dengan tempat tinggal kita saja dulu ? Baru kemudian beralih ke tempat wisata yang lebih jauh lagi ?

Seperti pengalaman saya pribadi, beberapa waktu lalu, tepatnya beberapa bulan sebelum pandemi. Saat itu, saya dan keluarga kecilku melakukan travelling tak jauh dari kota tempat saya tinggal, Bandung. Tapi sebelum saya menceritakan semua pengalaman travelling tersebut, ada baiknya kita tahu lebih jauh apa itu travelling, manfaat travelling, dsb.

Apa itu travelling

Travelling berasal dari kata " travel ", yang berarti bepergian. Jadi " travelling " adalah bepergian ke suatu tempat untuk tujuan wisata. Sedangkan " traveller " adalah orang yang melakukan travelling.

Travelling mulai ada pada akhir abad 20, walaupun tujuan awalnya hanyalah sebagai penjelajah atau untuk tujuan ekspedisi. Dimana seseorang pergi ke tempat lain untuk tujuan mengenal dan menjelajahi suatu wilayah, baik itu berupa pengenalan budaya dan adat setempat, perburuan hasil bumi warga setempat, atau untuk sekedar penelitian.

Baru pada awal abad 21 istilah travelling benar-benar ditujukan untuk lingkup wisata. Yang mana seseorang bepergian ke suatu tempat bukan sekedar tujuan dinas, pekerjaan atau penelitian saja, namun mengarah kepada kegiatan untuk melepas kepenatan, kejenuhan hingga untuk sekedar " mood booster ".

Manfaat Travelling.

Seperti telah disebutkan diawal, jika manfaat travelling salah satunya untuk melepas kepenatan. Namun untuk lebih jelasnya, bisa dirunutkan ke dalam poin-poin seperti dibawah ini,

  • Meredakan stress.

Stress adalah suatu problematika yang sering dialami oleh orang-orang yang hidup di perkotaan, dengan rutinitas yang sama setiap harinya, dengan seabrek pekerjaan, terjebak dengan kemacetan jalan raya, hingga masalah-masalah lainnya. Dengan travelling, diharapkan bisa meredakan stress, apalagi jika kita melakukan travelling ke tempat-tempat yang masih asri, dengan pemandangan alam yang belum terkontaminasi oleh polusi dan masih lestari, jauh dari kebisingan kota.

  • Melepaskan kepenatan dan kejenuhan

Tentang ini sudah pernah disebutkan sebelumnya. Karena dengan travelling, sejenak kita akan terbawa oleh suasana yang berbeda dari semua yang sering kita lakukan setiap hari. Misalnya jika biasanya kita bekerja secara indoor, dengan travelling, kita bisa merasakan suasana outdoor yang jauh berbeda dengan yang biasanya kita lakukan setiap hari.

  • Sebagai mood booster/meningkatkan mood.

Tidak bisa dipungkiri, kadang kita mengalami sindrom penurunan semangat hingga menimbulkan penurunan kreativitas. Ada beberapa mood booster yang bisa sedikit membantu untuk memulihkan"mood " dan semangat kita kembali.

Baik itu yang bersumber dari jenis makanan yang dikonsumsi, melakukan olahraga, travelling, relaksasi dispa, ataupun merealisasikan hobi yang bisa kita lakukan di sela-sela pekerjaan, contohnya membaca, menonton film hingga bermain game. Dan beberapamood booster yang dipilih, tak sedikit orang yangmemilih travelling sebagai mood booster mereka.

Most Memorable Travelling.

Travelling yang paling berkesan buat saya pribadi adalah saat melakukan travelling ke pantai yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami sekeluarga. Tepatnya di Pameungpeuk, kota Garut. Sekitar 6 jam perjalanan jika ditempuh oleh kendaraan roda empat.

Kenapa disebut most memorable travelling ?

 Karena perjalanan wisata ini terkesan dadakan. Tanpa ada persiapan, tanpa bekal, tanpa ada rencana sebelumnya. Ceritanya waktu itu, sekitar setahun yang lalu, sebelum pandemi coronna mewabah, seperti biasa jika weekend, saya dan suami akan mengajak anak kami yang berumur 3 th saat itu jalan-jalan, minimal ke rumah nenek-kakeknya yang berjarak sekitar 20 km dari tempat tinggal kami.

Tak seperti biasanya, jalanan kota Bandung ( kota tempat tinggal kami ) mendadak macet parah, setiap tikungan dan perempatan lampu lintas mendadak penuh oleh kendaraan. Otomatis kami juga terjebak macet.

Pada akhirnya, ambyar lah rencana kami untuk mengunjungi orang tua hari itu. Kami berencana balik arah, dan pulang. Tapi tetap saja, jalan arah pulang juga macet parah. Kendaraan kami tidak bergerak sama sekali. Memang sih, saat itu hari sabtu, pas weekend, dimana banyak kendaraan berplat " B " masuk kota Bandung, untuk sekedar refreshing atau wisata. Tapi biasanya tidak separah ini.

Akhirnya, kita mengambil jalan yang lumayan kosong. Hampir setengah jam kami berputar-putar di tengah kota, mencari jalan yang bisa dilewati tanpa harus terjebak macet.

Dari kebingungan dan tanpa arah tujuan itu, tiba-tiba suami bilang, " Bunda, kayanya kita gak bisa pulang sekarang, dimana-mana macet, baiknya kita jalan-jalan kemana dulu yah yang gak akan kejebak macet ?" Tanya suamiku. Tanpa pikir lagi, aku langsung menyahut, " ke pantai pah.. udah lama kita gak ke pantai ", jawabku sekenanya.

Dibilang begitu, suamiku langsung balik bertanya, " Bunda bawa baju ganti gak ? Bawa bekal makanan buat di jalan ? ", aku cuman menggeleng, seraya berkata, " cuman bawa satu stel baju dia za, sama pampers dan susu ", kataku sambil menunjuk ke arah anakku yang duduk di jok belakang.

Nekad Traveller.

Setelah kami berembug berdua, akhirnya jadilah kami hari itu pergi ke pantai. Dengan uang seadanya, ( di dompetku hanya ada 150 ribu, sedangkan di tangan suami hanya ada 200 ribu ). Tapi kami berpikir positif saja, kalau uang segitu cukuplah untuk travelling ke pantai, dengan pertimbangan kami tidak akan menyewa penginapan, dan rencananya akan mampir ke rumah orangtuaku di Tasikmalaya, sepulangnya dari Pameungpeuk, Garut nanti. Juga tak lupa, menyiapkan kartu ATM kalau-kalau nanti kami benar-benar kekurangan bekal.

Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi saat kami memutuskan pergi lewat jalur Pangalengan. Sebelumnya kami masuk tol di gerbang tol Buahbatu, baru kemudian keluar di pintu tol Soroja, Soreang. Dari Soreang, kami bertolak ke arah Banjaran dan mengambil jalur Kamasan, sebelum akhirnya menuju Pangalengan hingga akhirnya ke Pameungpeuk, Garut.

Sebelum meneruskan perjalanan, tak lupa kami mengisi bensin terlebih dahulu di sekitar Pangalengan, sebagai jaga-jaga juga jika selama perjalanan nanti kita tak bisa menemukan SPBU. Saya ingat untuk bensin full tank, kami membayar sekitar 80 ribu.

Dan benar, kami tak menemukan SPBU lagi hingga masuk Pameungpeuk. Bukan SPBU saja, kami pun tidak bisa menemukan mesin atm di sepanjang Pangalengan-Pameungpeuk.

Pemandangan sekitar Pangalengan memang sangat indah, dengan hamparan perkebunan teh nya. Tak jauh berbeda juga jika kita melalui jalur Cileunyi- Nagrek-Garut Kota-Pameungpeuk, yang terlebih dahulu melewati perkebunan Cikajang. Hanya saja, jalan via Pangalengan lebih ekstrem dengan banyak kelokan.

Karena banyak kelokan itulah, anak kami mulai memperlihatkan mabuk kendaraan, dan mulai merasa pusing. Maka kami putuskan untuk berhenti dahulu di sebuah rumah makan, diantara perkebunan teh. Kebetulan saat itu sudah tiba waktu makan siang.

Walaupun di tempat sepi, tapi jangan salah, tempat ini sangat ramai pengunjung. Karena kebetulan saat itu sedang ada acara bersepeda. Tampak beberapa peseda memarkirkan sepedanya dan memilih untuk makan siang di tempat tersebut.

Makan di rumah makan itu terbilang murah juga. Kami membayar sekitar 80 ribu untuk dua porsi. Karena anak kami tidak ikut makan. Dia hanya ingin makan dengan ayam goreng tepung saja, dan berencana untuk membelinya jika sudah masuk Kabupaten Garut ( tapi hingga tempat tujuan, kami tak menemukan penjual ayam goreng tepung satupun ). Jadilah dia hanya memakan bubur cereal instan yang saya bawa dari rumah.

Tiba di kecamatan Cisewu, barulah kami menemukan sebuah minimarket. Itu satu-satunya minimarket di wilayah tersebut. Disana kami membeli sedikit makanan dan minuman, karena memang sepanjang perjalanan tadi kami tak menemukan tempat serupa.

Kami membayar belanjaan sekitar 50 ribu. Di dompet hanya tersisa sekitar 140 ribu lagi. Kami mulai panik karena di sekitar sana memang tidak ada mesin ATM, sedangkan perjalanan masih lumayan jauh. Dan jika putar balik pun sudah tidak memungkinkan.

Akhirnya kami meneruskan perjalanan, dan berencana untuk mampir dulu ke rumah orangtuaku disana untuk sekedar menginap. Dengan syarat, jangan sampai pulang dari Pameungpeuk nanti tidak boleh lewat magrib. Mengingat perjalanan Pameungpeuk-Sancang-Tasikmalaya sangat minim penerangan.

Memandang Ombak di atas Gua Kelelawar.

Kami tiba di Pameungpeuk sekitar pukul 3 sore. Tujuan utamanya adalah pantai RancaBuaya. Namun sebelum itu kami menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan laut dari atas Gua Kelelawar.

Gua Kelelawar atau orang sana menyebutnya " Goa Lalay " letaknya tidak jauh dari pantai RancaBuaya. Tepat di atas bukit di sekitar pantai tersebut. Hanya saja untuk pergi kesana, harus mengambil jalan yang lumayan jauh dari sekitar pantai.

Pemandangan dari atas bukit Gua Kelelawar memang sangat indah. Dengan deburan ombak yang bisa dilihat dari atas serta dengan bantuan teropong kita bisa melihat ke arah pantai RancaBuaya yang letaknya di bawah tempat kita berdiri.

Sebenarnya letak Gua Kelelawar sendiri berada diantara tebing, tak bisa dihangkau oleh orang kebanyakan. Hanya nelayan lokal sana yang biasanya mengambil sarang walet ataupun sekedar mencari lobster yang terkenal banyak diekspor ke luar negeri.

Dengan tebing yang curam serta resiko yang besar, boleh dikatakan nelayan lokal sana bisa disebut nelayan yang tangguh dan berani menantang maut. Bagaimana tidak, jika kurang hati-hati dan sedikit saja tergelincir, bisa fatal akibatnya.

Travelling dan Cerita tentang Nekad Traveller

Berbeda dengan pantai-pantai lainnya yang ada di Pameungpeuk, yaitu Pantai Santolo yang banyak dikunjungi wisatawan, ataupun pantai Sayang Helang yang terdapat aliran sungai air tawar yang memisahkan pantai serta lautan, pantai RancaBuaya terdiri dari karang-karang yang besar dan tidak bisa direkomendasikan untuk berenang. Ombaknya pun besar dan terkadangbisa membahayakan pengunjung jika kebetulan air laut pasang.

Namun pemandangannya tak jauh berbeda dengan 2 pantai tetangganya, Santolo dan Sayang Helang. Dengan pemandangan yang ekstosis, dan tidak terkesan ramai membuat kita betah berlama-lama berada diantara karang-karang, untuk sekedar bermain-main atau untuk mrncari ikan hias yang sesekali terlihat diantara bebatuan dan karang-karang.

Bahkan anak kami seolah hanyut dengan suasana pantai yang eksotis ini, hingga tak mau beranjak dari sana. Padahal kami hanya punya satu ganti untuk dia saja, sedangkan kami sendiri sebisa mungkin jangan sampai baju kami basah, karena memang kami tak membawa baju ganti.

Jauh dari tempat kami berada, terlihat beberapa perahu kecil nelayan tertambat di bibir pantai. Serta beberapa anak muda yang sepertinya penduduk sekitar sedang menghabiskan weekend disana.

Walaupun pantai ini cenderung sepi, tapi jangan khawatir tak menemuksn penginapan. Tepat di depan pantai, terdapat sebuah penginapan kecil yang view nya langsung mengarah ke pantai. Jika kami membawa bekal uang cukup, mungkin kami pun akan menginap disana. Namun apa daya, budget kami tak cukup untuk menyewa penginapan.

Karena itu pula, kami berencana untuk pulang dari Pameungpeuk sebelum magrib dan terpaksa memupus keinginan untuk mengunjungi 2 pantai lainnya, yaitu Santolo dan Sayang Helang.

Foto: dokumentasi pribadi

Dan benar saja perkiraan kami, sepanjang jalan melewati Sancang, tak ada satupun PJU ( Penerangan Jalan Umum ) yang terpancang di pinggir jalan. Padahal kawasan sekitar yang terdiri dari hutan dan perkebunan sawit. Kebayang dong gimana suasananya jika menjelang malam..

Menjelang pukul 11 malam, kami akhirnya tiba di rumah orangtuaku. Walaupun kami sudah melewati Sancang sebelum malam, tapi tetap saja kami terjebak dengan gelap karena tak ada penerangan umum di kawasan perbatasan Garut-Tasik. Jadilah suamiku membawa kendaraan dengan sangat hati-hati dan mrngandalkan penerangan dari lampu kendaraan yang ada di depan kami.

Foto: Dokumentasi pribadi

Travelling Wish

Selain melakukan travelling ke tempat yang biasanya kita kunjungi, pastinya kita mempunyai daftar travelling yang menjadi impian, atau yang biasa disebut " travelling wish ".

Tak terkecuali dengan saya pribadi. Sebenarnya ada banyak travelling wish yang sudah saya masukkan dalam memori saya. Namun ada beberapa yang benar-benar menjadi " most travelling wish ", diantaranya yaitu tentu saja Pulau Dewata Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bali, Travelling wish setiap orang.

Hampir setiap traveller Indonesia pernah menuliskan Bali sebagai travelling wish mereka. Ada yang sudah merealisasikan impian tersebut, ada juga yang hanya sebatas angan-angan saja.

Kenapa orang lebih memilih Bali dibandingkan tempat wisata lain di Indonesia ?

Hal ini mungkin berkaitan dengan predikat Bali sendiri sebagai salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara. Bahkan ada istilah, orang luar negeri mengenal Indonesia karena Bali, atau Bali terletak di Indonesia.

Sehingga banyak traveller Indonesia yang takutnya jika suatu saat pergi keluar negeri, mereka akan ditanya " apa orang Indonesia sendiri sudah pergi ke Bali ?." Begitu pemikiran saya. Padahal sejatinya ada banyak tempat wisata di Nusantara yang jauh lebih indah dari Bali, hanya saja belum dikelola dengan baik.

Namun bagi saya pribadi adalah karena Bali mempunyai kultur budaya yang tidak lekang waktu. Walaupun disekitarnya sudah banyak tersentuh modernisasi, tapi penduduknya masih menjaga warisan budaya para leluhurnya.

Selain dari itu tentu saja karena pantainya. Ada banyak pantai di Bali yang bisa dijadikan pilihan untuk travelling. Hal ini jauh berbeda dengan kota tempat tinggal saya sekarang, Bandung yang notabene-nya dikelilingi pegunungan.

Budaya Yogyakarta yang mempesona.

Ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi jika saya nanti pergi ke DI.Yogyakarta. Diantaranya,

1. Keraton Yogyakarta.

Dengan mengunjungi keraton Yogyakarta, kita akan lebih menhenal tentang budaya Yogyakarta yang mempesona, hingga tak heran jika pemerintah Indonesia memberikan sebutan " Daerah Istimewa "  di depan nama " Yogyakarta."

2. Malioboro serta tempat kuliner lesehannya

Ada banyak cerita tentang Malioboro yang terkenal sebagai salah satu ikon DI.Yogyakarta, juga mengenai tempat-tempat kuliner lesehan yang patut disinggahi selama di Yogyakarta.

3. Kota Gede

Kota Gede terkenal dengan kerajinan peraknya. Ini bisa sekedar mengenang masa dimana saya dulu bekerja di bidang perhiasan dan aksesoris berbahan dasar perak.

Tips Melakukan Traveling

Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk melakukan travelling, diantaranya :

  • Menyiapkan bekal, baik berupa uang, makanan maupun baju ganti.

Walaupun sebagai " naked traveller ", setidaknya kita perlu membawa setidaknya 1 baju ganti, alat mandi, sedikit makanan dan minuman serta sejumlah uang. Karena tidak setiap toko/tempat penjualan menyediakan transaksi non tunai dan kartu kredit.

  • Menjaga stamina dan kesehatan.

Ini jelas diperlukan, karena jika tubuh kita kurang fit, otomatis acara travelling akan terganggu.

  • Mengenal tempat yang kita kunjungi lebih mendalam.

Hal ini menyangkut peraturan daerah, adat istiadat berikut kehidupan sosial masyarakatnya. Ini penting, mengingat mungkin kebiasaan yang sering kita lakukan berbeda dengan keseharian penduduk lokal disana, atau bisa saja yang menurut kita biasa saja, tetapi bagi mereka itu tidak diperbolehkan, dsb.

Tips travelling saat Pandemi

Walaupun kita sudah memasuki era " New Normal ", serta banyak tempat wisata yang sudah mulai dibuka, namun tetap saja kita harus mematuhi protokol kesehatan. Selain tips diatas, ada beberapa tips tambahan yang harus kita persiapkan selama pandemi coronna seperti sekarang ini, diantaranya :

  • Tetap memakai masker. Usahakan untuk membawa 2-3 masker cadangan.
  • Selalu membawa handsanitizer dan sarung tangan kemanapun pergi.
  • Selalu membiasakan untuk mencuci tangan dimanapun kita berada.
  • Hindari kerumunan.
  • Yang paling baik, melakukan rapid test atau SWAB terlebih dahulu sebelum melakukan travelling. Selain agar tidak was-was juga sebagai jaga-jaga jika tempat yang kita kunjungi memerlukan dokumen atau surat keterangan bebas Covid 19.

Penulis: Lia Sukriati

Instagram: @Sukriati.Iy

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×