Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Aku sebagai mahasiswa yang sedang praktek pengalaman lapangan (PPL) bisa dibilang magang di kota Bandar Lampung tepatnya di daerah Pahoman, seharian penuh aku berkeliling mencari berita sebagai kegiatan magang di media pemberitaan, seharian penuh mencari berita bukanlah hal yang ringan sob, selalu ada rasa capek dan lelahnya, nah untuk menghilangkan rasa penat lelah, capek ini, aku mengisi waktu di hari minggu dengan jalan-jalan mengelilingi kota Bandar Lampung, dan mengunjungi setiap wisata yang ada di Bandar lampung sobat.

Sobat sekalian harus mengetahui nih, kalo kota Bandar Lampung nggak cuma gajahnya aja yang terkenal nih sob, di Bandar Lampung ada banyak wisata yang harus kalian kunjungi nih, Jadi selama aku magang di Banda Lampung, ada beberapa tempat tongkronggan dan wisata yang sobat wajib kunjungi apalagi bagi yang suka sama traveling nih, harus sobat kunjungi tempat ini, bahkan tempat-tempat yang aku kunjungi ini benar-benar meberikan kesan tersendiri, ok sobat harus simak ulasan ini sampai finis.

Di hari Minggu pertama setelah seharian penuh mencari dan membuat berita aku melepas rasa lelah dengan nongkrong di kafe Phan Phan, kafe ini lokasinya nggak jauh dari tempat aku magang sob, tempatnya yang minimalis dengan ruangan yang berdekor nuansa estetik sederhana memberikan aura nyaman, tenang. Pokoknya cocok untuk melepas rasa penat nih sob,  untuk wisata alamnya aku pun nggak mau ketinggalan dong sob, aku dan ke tujuh temanku, kami sepakat untuk mengunjungi pantai Mahitam atau pulai Mahitam, hemm kenapa bisa disebut pulau nih?

Jadi gini sob, disebut pulau karena untuk menuju pantai Mahitam kita haru menyebrang dengan menggunakan perhau kecil yang membawa kita menuju pulau mahitam, jadi ketika kita sudah tiba di pantainya kita harus menyebrang dulu untuk melihat keindahan dari pulau Mahitam atau pantai Mahitam sob.

Sumber: www.nativeindonesia.com

Jiwa berpetualang pun keluar, saat itu air laut lagi pasang sob jadi perahu  lebih mudah saat menyebrangi laut kalo sudah siang antara jam 2 siang, air laut mulai surut sob dan hal itu membuat susah perahu berlayar, ketika sesampainya di pulau Mahitam aku sangat takjub dengan keindahannya dengan air laut yang bening. Jadi kita bisa melihat biota laut dan tanamn laut dengan jelas, saat berenang aku sempat melihat ikan kecil yang berenang kesan kemari dan ada banyak sekali bintang lautnya. Saat di pulau Mahitam aku dan teman-temanku harus pulang karena jam sudah menunjukan waktu sudah sore, akhirnya kami pun pulang.

Sumber: www.travelingyuk.com

Setelah ke pulau Mahitam, aku traveling ke air terjun yang berada di gunung Raja Basa,. Yaps nama air terjunnya yaitu Way Tayas yang berada di gunung Raja Basa Lampung selatan yang memang memiliki paket wisata yang cukup lengkap. Air terjun Way Tayas yang masih terjaga ke alamiannya sob, wiasta kali ini benar-benar memberikan kesan yang tidak terlupakan karena waktu aku dan ketiga temanku. Kali ini aku pergi bersama tiga teman dan mereka semua cewek termasuk aku sob, lets go, kami berangkat dari pahoman jam setengah 10 pagi, menggunakan kendaraan bermotor kami kira lokasi air terjun dekat dari pahoman dan ternyata lokasi berada di Lampung Selatan yang berada lumayan jauh dari ibu kota bandar Lampung.

Waktu yang kami tempuh dalam perjalan yaitu tiga zaman sob, itupun kami ngebut setelah sampai di kabupaten Lampung Selatan tepatnya berada di bawah gunung Raja Basa. Ternyata sob, kami harus menaiki gunung Raja Basanya dengan mengendarai motor karena memang sudah ada jalan sendiri untuk kendaraan bermotor, saat di sinilah kami mulai diuji antara menyerah atau tetap melanjutkan perjalanan. Karena saat menaiki tanjakan yang penuh dengan batu kerikil membuat motor kami mengeluarkan asap bahkan untuk mengendarai motornya harus mengeluarkan tenaga dan harus bisa menyeimbangkan kalo nggak bisa seimbang bisa-bisa motor tergelincir dan jatuh ke bawah, jalan pendakiannya lumayan terjang sob, di sinilah tenaga kami dikeluarkan.

Setelah sampai di atas gunung ada sebuah parkir motor untuk menaruh motor para pengunjung, dan ternyata sob, air terjunnya masih jauh, dan kami diharuskan memarkirkan motor karena jalan menuju air terjun sangat licin, terjal dan jalannya berbentuk turunan. Pokoknya jalannya mengerikan deh, saat dalam perjalanan menurun jalanan terjal kami mendengarkan suara monyet siamang saling sahut menyahut satu sama lainnya. Aroma alam tercium dihidung, kesegaran alami terasa dikulit, sepanjang jalan ada banyak pohon durian yang tumbuh tinggi menjulang yang menutupi sinar matahari agar tak masuk, setelah setengah perjalanan salah satu temanku menangis ia tak tahan dengan rasa capek dan lelah bahkan ia sempat ingin pulang, tapi aku bersih keras untuk menyemangatinya, akhirnya ia pun kembali semangat lagi.

Berjalan menaiki tanjakan dan butuh waktu 2 jam untuk sampai di air terjunnya memang benar-benar melelahkan, bayangkan saja kami berangkat dari kosan jam 10 pagi hampir 3 jaman dalam perjalan dan harus mendaki gunung selama 1 jam lebih kemudian dilanjut mendaki lagi untuk menuju air terjun selama 2 jam lebih, tak terbayangkan lelahnya begitu lelah.

Pertolongan pun tiba ada abang-abang yang sedang mengendarai motor mereka pergi ke ladang durian, kami pun meminta untuk diantarkan ke lokasi air terjun berada, rasa takut  masih tetap menghantui karena kami melewati jalan yang berada di pinggir tebing yang curam, tapi untuk saja si abang sudah ahli membawa motor di jalanan sepeti ini, syukur Alhamdulillah kami selamat sampai pada tempat pintu masuk ke air terjunnya.

Ardrenalin tak henti-hentinya menguji mental kami, jalanan menuju di titik air terjun benar-benar mengerikan, tempat pijakan kaki atau  jalannya hanya  setapak, tidak ada alat pengaman dan tidak ada pembatas antara jalan dan pinggir tebing, hanya ada seutas tali tambang yang menempel di dinding tebing sebagai tempat berpegangan, tidak berhati-hati bisa terpeleset dan tergelinjir ke jurang yang begitu dalam dan megerikan, bagi orang yang tidak memili mental kuat akan menyerah, tapi tidak dengan kami berempat, kami yakin dan Bismillah sampai tujuan. 

Kami harus naik lalu turun mengikuti arah jalan, kakiku bergetar karena lelah sepanjang perjalanan menuju air terjuan hewan liar siamang ini menguki kami radi atas pohon, sungguh pemandangan ini luar  biasa sob, kami bisa melihat hewan liar dengan sangat dekat, tapi untungnya ia tak menganggu kami, mungkin ia tahu dan merasakan bahwa kehadiran kami tidak membuatnya  merasakan bahaya.

Dan pada akhirnya kami sampai di air terjun yang terkenal dengan keasriannya keindahan dan kemisteriusannya karena air terjun ini tidak banyak orang yang tau masih tersembunyi sob. Bahkan saat kami mengunjungi air terjun Way Tayas hampir tidak ada pengunjung hanya kami berempat.

Kami benar-benar bersyukur bisa menikmati wisata alam yang masih benar-benar alami, kesegaran dari aroma air terjun memancing kami untuk segera berenang, airnya terasa dingin dan sangat segar, airnya begitu jernih sangking bersih dan jernihnya bisa diminum loh sob.

Rasanya segar asli air pegunungan dan anehnya selama kami berenang dan bermain-main air terjun, monyet siamang itu memperhatikan kami dan menunggu kami hingga selesai. Hingga ia juga mengikuti kami ketika perjalanan pulang menuruni gunung, seperti ia sedang menjaga kami. Pokoknya rasa lelah ini terbayarkan akan keindahan air terjun way tayas yang disebur sebagai air terjun yang  tersembunyi.

Dari perjalanan wisata ari terjun Way Tayas momen yang tidak bisa dilupakan susah senang perjuangan kami menuju lokasi tak terlupakan bahkan bertemu langsung dengan hewan liar, sungguh perjalana yang berkesan, cocok untuk yang suka dengan tantangan, dan pulau mahitam cocok untuk menikmati hembusan angin dan suara laut. Dari perjalanan ini aku dan teman-temanku mendapatkan cerita dan pengalaman baru seputar traveling versi kami.

 

Nama Penulis: Isna Yufita Hamdalah

Instagram: isnayufi

Twitter: Isnayufita

Facebook: Isna yufita iza

Press Enter To Begin Your Search
×