Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Halo, perkenalkan namaku Tiara, asal Depok.

Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman paling berkesan untuk saya bersama teman–teman saat traveling ke Bandung pada tahun 2018. Pagi itu, kami berangkat ke Stasiun Bekasi untuk sampai ke Stasiun Gambir. Kami memilih transportasi tersebut karena efektifitas melalui macetnya sangat minim sekali, dan ramah di kantong kami yang saat itu belum mendapatkan payroll dari perusahaan, a.k.a belum bekerja.

Perjalanan kami menuju Stasiun berjalan lancar, perkiraan kami datang tepat waktu bahkan datang sebelum waktu keberangkatan. Seingat saya, kami memiliki boarding pass jam 10.50, saat itu kami sampai sekitar jam 09.30. Karena dirasa masih memiliki cukup banyak waktu akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling disekitaran monas.

Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 10.30 kami bergegas menuju stasiun untuk melakukan check in. Saat boarding pass diperiksa oleh petugas, petugas tersebut bilang “Mba, maaf tiketnya udah gak berlaku."

Saya: “Loh kok bisa pak ? “.

Petugas: “Kereta tersebut sudah berangkat beberapa menit yang lalu mba, dan ini di boarding pass pukul 10.30, sekarang sudah pukul 10.50.”

Kami semua lemas, terutama saya karena memiliki tanggung jawab atas keberhasilan traveling kali ini, saya yang memesan semua tiket kereta tersebut namun saya salah mengira jadwal keberangkatan. Seharusnya pukul 10.50 adalah jadwal keberangkatan untuk ke Jogja saat itu. Ya kenangan dikota itu membuat saya selalu mengingat kisah perjalanannya termasuk jam keberangkatan nya, ditambah jam tujuan ke Bandung saat itu sangat beda tipis hanya berbeda beberapa menit.

Saya merasa bersalah dan ceroboh karna tidak mengecek ulang, lalu bagaimana reaksi teman–temanku? Ada yang berusaha menerima dan ada yang kesal, saya terima. Lalu kami harus tetap mengambil keputusan apakah perjalanan kami akan tetap dilakukan atau dibatalkan saja. Mengingat kami sudah mempunyai tiket kepulangan dan hotel yang sudah dibayarkan akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ya, kami langsung memesan kembali tiket ke Bandung, dan semakin membingungkan karena seat yang tersedia hanya pukul 22.00 malam karena saat itu sedang libur lebaran jadi sulit mendapatkan tiket. Akhirnya kami memilih tiket tersebut karena tidak terlintas dipikiran option untuk naik bis.

Setelah kami mendapatkan tiket baru, kebingungan menghampiri kami kembali. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 12.00 siang dan jam keberangkatan masih lama sekali yaitu malam hari. Kami berdiskusi kembali apakah kami pulang dulu ke rumah atau bertahan di sekitaran stasiun sampai jam itu tiba. Dengan pertimbangan jarak rumah yang sangat jauh dari stasiun akhirnya kami beranikan diri untuk bertahan di sekitaran stasiun, yaitu di Monas.

Beralaskan tiker yang entah punya siapa, karena kami menemukan di cabang pohon terdekat. Lumayan lah pikir kami karena kami sangat membutuhkan untuk waktu yang sangat panjang. Kami merebahkan tubuh yang lelah dan pikiran yang dipaksa harus membaik karena dana yang ‘belum memulai perjalanan sudah berkurang banyak’ setelah insiden ditinggal kereta di bawah pohon rindang. Riuh angin dan kebersamaan kami saat itu membuat waktu berjalan tidak terlalu berasa lamanya. Kami berkomunikasi tanpa ada Handphone rasanya asyik sekali, ya saat itu handphone kami low battery semua. Saling memberi beberapa hiburan agar tidak suntuk, makan bersama, lalu ada hal yang kami lewatkan begitu saja, yaitu mandi. Ya kami tidak mandi sore itu sampai waktu menunjukan pukul 21.30

Kami bergegas menuju stasiun untuk check in, dan memasuki kereta. Kami mencari gerbong masing – masing karena tentu saja seat yang kami dapat terpisah semua. Kereta itu melaju sampai akhirnya kami tiba di Bandung pukul 12.30 malam.

Sumber: www.tripadvisor.co.id

Tiba di Bandung dengan tubuh yang benar – benar membutuhkan kasur, kami on the way langsung ke hotel tempat kami menginap. Setelah tiba di tujuan, salah satu temanku merasakan tubuhnya seperti meriang (masuk angin) karena seharian berada di bawah pohon beralaskan tikar. Akhirnya kami menutup malam itu dengan tidur nyenyak di atas kasur. Alhamdulillah.

Pagi tiba, walau sudah tidak terlalu pagi. Kami bangun tidur sekitar pukul 10.00 setelah itu kami bergegas memulai liburan kami ke salah satu tempat wisata di Bandung. Kami memesan transportasi online untuk sampai ketujuan. Perjalanan lumayan macet banget sampai ke tempat tujuan, kami sampai juga akhirnya.

Setelah dirasa cukup keliling tempat wisata tersebut, kami memutuskan untuk kembali lagi kepenginapan, ujian kami nggak cukup sampai hari keberangkatan kemarin saja. Saat ingin memesan transportasi online rupanya sinyal kami tidak ada yang mendukung, tidak bisa mengakses internet, lalu kami putuskan untuk naik angkot. Dan tidak ada angkot yang terlihat karena jalanan tersebut sudah macet berkilo-kilo panjangnya. Kami memutuskan untuk sedikit berjalan yang tak terasa sudah berkilo-kilo baru menemukan angkot yang spacenya masih cukup untuk kami, lega rasanya diperjalanan kami habiskan untuk tidur karena terlalu lelah.

Sekitar pukul 20.30 kami tiba di hotel, dan sedikit mempersiapkan barang bawaan kami karena besok jam 03.30 pagi kami harus sampai di stasiun. Kok pagi sekali? Kami juga tidak ingin memilih tiket paling pagi tersebut, tapi karena kondisi libur lebaran kami hanya dapat kereta tambahan yang jadwal keberangkatannya subuh itu.

Hari kepulangan tiba, liburan kami terasa sangat padat karena banyak peristiwa terjadi dan kenangan itu masih terus di ingat oleh kami semua terutama pelajaran untuk saya lebih prepare sebelum melakukan perjalanan, termasuk mengecek ulang jam keberangkatan hehe.

Sekian cerita yang dapat saya kisahkan. Terima kasih.

 

Nama Penulis: Tiara Nur Sati

Instagram: www.instagram.com/tiaranursati/

Twitter: www.twitter.com/tnursati

Facebook: Tiara Nur Sati

Press Enter To Begin Your Search
×