Loading...

 

(photo source: dokumentasi pribadi)

Perjalanan ke Thailand bukanlah pengalaman pertama bagiku. Sebelumnya, aku memang pernah beberapa kali mengunjungi Bangkok, Hatyai dan Phuket bersama beberapa teman.

Namun, untuk pertama kalinya, aku dan mama berencana untuk melakukan perjalanan dalam rangka berlibur ke luar negeri tepatnya ke Phuket, Thailand. Pertimbangannya adalah sesekali berkunjung ke negara tetangga yang tidak berbahasa Inggris ataupun melayu dan bisa bersantai dengan menikmati pantainya. Liburan tersebut pun terealisasi sekitar bulan Februari 2019 lalu. Pada saat itu, aku mengambil cuti kerja tahunan sekitar 4 hari dengan estimasi kami akan menginap sekitar 3 malam.

Demi menghemat biaya, aku memesan tiket pesawat transit di Kuala Lumpur International Airport dengan durasi terbang sekaligus juga transit memakan waktu sekitar 5 jam. Jauh sebelum hari keberangkatan, aku juga sudah memesan penginapan yang kami diami selama 3 malam, uang baht tunai yang dikonversikan sebanyak Rp5 juta, beserta sim card yang sudah aku beli sebelumnya melalui platform online.

Awal perjalanan dimulai saat kami menginjakkan kaki di Phuket International Airport pada siang hari. Aku bergegas menukarkan code QR sim card provider DTAC di salah satu counter di area kedatangan bandara dan meminta petugas untuk mengaktifkan paket data handphone.

Setelahnya, kami mulai mencari bus travel yang akan membawa kami ke penginapan di area pantai Patong, salah satu pusat destinasi yang paling ramai dikunjungi wisatawan di Phuket, Thailand. Perjalanan yang kami tempuh sekitar 1 jam melewati perkotaan hingga sampai ke area pantai.

Oh iya, sama seperti masyarakat di Indonesia, orang-orang di area destinasi wisata Thailand juga cukup mengerti bahasa inggris. Meskipun cara bicara mereka sedikit lucu karena dicampur dengan aksen Thailand, namun komunikasi dalam bahasa inggris bisa menjadi andalan ketika berbicara dengan warga setempat.

Nah, karena sebelumnya aku juga sudah pernah ke Phuket, aku memiliki catatan bagaimana bisa menikmati salah satu pulau tercantik di Thailand tersebut dengan waktu yang lumayan singkat seperti yang aku dan mamaku lakukan, yaitu:

1. Menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi

Tak lama setelah sampai di penginapan, sekitar satu jam kami beristirahat di hotel sembari mengisi perut dengan makanan yang tersedia di convenience store yakni seven eleven.

Nah, hotel yang kami inapi juga menyediakan fasilitas rental sepeda motor yang dilengkapi dengan 2 helm dan bensin yang diisikan setengah penuh dengan harga yang cukup terjangkau sekitar Rp250 ribu untuk empat hari jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah. Sebenarnya, transportasi umum di Phuket seperti tuktuk dan angkot juga cukup banyak dan nyaman. Namun, kami lebih memilih untuk menggunakan sepeda motor demi kenyamanan dan fleksibilitas waktu.

Oh ya, tempat rental sepeda motor di Thailand juga cukup banyak tersedia di pusat wisata terutama di area pantai Patong. Aku juga bukan satu-satunya orang asing yang berkendara dengan sepeda motor di Phuket karena ada banyak sekali bule-bule yang aku amati juga menyewa sepeda motor di kawasan tersebut. Aku sendiri memiliki driving license internasional, sehingga kami tidak perlu khawatir jika dicegat oleh polisi. Berkendara di sekitar Phuket juga cukup nyaman karena kondisi jalannya yang mulus meski sedikit mendaki mengingat kontur wilayahnya yang merupakan dataran tinggi. Kami juga tidak dikenakan uang parkir selama singgah di banyak tempat, asalkan sepeda motor diparkirkan di tempat yang seharusnya.

2. Mencoba makanan lokal

(photo source: dokumentasi pribadi)

Selama perjalanan kami 4 hari di Phuket, mama dan aku setuju untuk lebih banyak menyantap kuliner makanan lokal. Mamaku termasuk orang yang cocok dengan makanan lokal Thailand. Salah satu makanan favoritnya adalah som tam yakni salad pepaya dan mie tom yam. Sedangkan, aku lebih suka menyantap phad thai.

Pada hari pertama kedatangan kami, mama dan aku langsung bergegas ke area night market yang tempatnya berada tepat di depan Hard Rock Café Patong. Night market di area Patong kebanyakan juga mengusung konsep terbuka. Namun memang perlu hati-hati memilih makanan yang halal di area tersebut karena bahkan McDonald’s di wilayah Thailand juga menyajikan daging babi.

Banyak sekali tempat makan yang menarik yang ada di Phuket. Pada hari kedua, kami sempat melipir untuk menyantap makanan fusion dengan cita rasa khas Thailand di salah satu kafe salad di area pusat kota dengan nama WeCafe Choafa. Kafe ini termasuk destinasi utama aku melihat dari review pengunjung yang bagus-bagus di situs Tripadvisor. Disana, kami memesan tom yum kung pizza, mango sticky rice hingga coconut banana ice cream.

Beberapa kali kami juga singgah di kedai makan terbuka di area pantai bebas hanya untuk menyantap kai yang atau grilled chicken dan mangga muda yang menjadi kesukaan mamaku. Aku juga sempat menyicip americano dengan kudapan thai tea cake di Greyhound Café di area Phuket Old Town. Konsep kafe yang kami singgahi tak sengaja ini cukup nyentrik karena bersatu dengan dealer sepeda motor Honda sehingga aksesoris di dalam kafe ini juga serba Honda, lho.

3. Memperbanyak kunjungan ke situs wisata lokal

(photo source: dokumentasi pribadi)

Ada alasan mengapa Patong adalah wilayah pantai di Phuket yang paling banyak dikunjungi turis mancanegara. Pertama, Patong memiliki banyak hotel, café, franchise makanan cepat saji, hingga mall dengan akses yang lumayan dekat kemana saja. Kedua, patong juga terkenal dengan area red light-nya yakni Bangla Road. Di sana pengunjung bisa menemui penari striptis perempuan tulen hingga transgender. Sanking banyaknya orang yang mabuk di sekitar area tersebut, traffic sign di sekitar Bangla Road bertuliskan ‘drunken people crossing’. Dengan alasan itu pula, kawasan pantai Patong termasuk wilayah bagian Phuket dengan perkiraan biaya hidup yang cukup terjangkau dibanding area pantai-pantai lainnya.

Untuk menebus kunjungan terakhirku yang belum secara keseluruhan mengelilingi Phuket, selama dua hari terakhir kami banyak mengunjungi situs wisata lokal dengan mayoritas daerah pantai. Salah satu pantai favoritku di Phuket adalah pantai Kata. Area pantai bebas di Kata tidak seramai Patong. Pantai Kata tidak memiliki banyak restoran di sekitarnya, namun suasana kekeluargaan di area pantai tersebut sangat lekat sekali. Hampir dua jam, aku dan mamaku berjemur di area pasir putih di pantai Kata hanya untuk mencium aroma pantai, melihat anak-anak bule yang sedang menerbangkan parasut sambil menikmati es kelapa muda di tangan kami masing-masing.

Selain pantai, kami juga menyempatkan diri ke tempat wisata lokal Big Buddha. Medan perjalanan yang ditunjukkan Google Map, tak kami perkirakan akan jadi cukup menantang. Awalnya kami harus masuk area perkampungan kecil, hingga lama kelamaan jalan yang kami tempuh tak ada lagi perumahan penduduk di area sekitarnya. Sempat ragu untuk meneruskan perjalanan karena posisinya yang terus mendaki ke atas gunung untuk mencapai lokasi tersebut, mamaku akhirnya bilang kalau memang perjalanan menuju Tuhan tidak pernah gampang. Sampai akhirnya kami menemukan sekelompok gajah, binatang yang paling dihormati di sana, aku langsung yakin bahwa jalan yang kami lalui adalah benar menuju Big Buddha.

Untuk memasuki area kuil, kami harus berpakaian sopan. Mamaku yang sewaktu itu menggunakan celana pendek, dipinjamkan selendang oleh petugas untuk menutupi daerah kaki. Big Buddha yang kami kunjungi saat itu masih dalam tahap renovasi, namun sayup-sayup masih terdengar suara biksu yang sedang berdoa di beberapa area kuil. Tidak hanya sekedar tempat beribadah, Big Buddha menawarkan pemandangan yang spektakuler. Dari atas gedung pencakar langitnya, kami bisa melihat pulau Phuket secara keseluruhan dan birunya perairan di sekitarnya. Jadi, kunjungan kali ini ke Big Buddha bisa jadi sama worth-it nya dengan ke pantai Kata.

4. Menikmati Sejarah di Phuket Old Town

Pada hari terakhir sebelum kami benar-benar meninggalkan Phuket dan mengakhiri liburan berkesan ini, kami mengunjungi daerah pusat kota. Kawasan pusat kota Phuket seperti magis sehingga sampai sekarang aku pun masih memiliki rekaman bagaimana kota tersebut tergambar dalam ingatanku. 

Dipenuhi dengan area ruko tempat warganya banyak melakukan aktivitas jual beli, pusat kota Phuket tidak terlalu besar tapi memiliki sentuhan tradisional dan modern di saat yang bersamaan. Di beberapa jalan, kami bisa melihat lampion merah digantung bersilangan antara lampu jalanan. Ditambah dengan ruko-ruko dan daerah pemukiman warga yang dibangun dengan campuran bahan dasar batu bata dan kayu. Suasana kotanya tidak seramai pantai Patong, tapi entah kenapa aku bisa menemukan keramahan warga lokal di setiap sudut jalan yang menyejukkan hati.

Di tengah pusat kota Phuket ada area Old Town sebuah jalan yang disulap menjadi area dagang dengan konsep terbuka yang lagi-lagi dihiasi dengan lampion merah yang sangat cantik di kala senja. Karena mamaku hobi berbelanja, aku biarkan mamaku menawar segala jenis pernak-pernik yang ada disana. Meskipun pada akhirnya, ia hanya membawa pulang kacamata hitam, dua anting-anting kayu, dan sandal dengan tulisan Thailand untuk cucu kesayangannya. Daya pikat Phuket Old Town tak hanya bertahan pada arsitekturnya yang tak menua tapi juga mural dan lukisan hasil kreasi warganya.

Di satu titik aku menemukan lukisan mantan raja Thailand yang sudah meninggal yaitu Bhumibol Adulyadev yang dihias di dinding samping ruko perumahan warga dengan sangat cantiknya. Warga Thailand memang dikenal sangat mencintai rajanya tersebut. Bahkan, tingkat kecintaannya bisa setara dengan Dewa-nya, mengingat kebaikan yang selalu mengalir dari rajanya tersebut kepada rakyatnya.   

Nah, sampailah pada akhir perjalanan ini, aku dan mamaku akhirnya akan kembali ke rutinitas sehari-hari. Pada hari terakhir, kami mendapati perjalanan pulang jauh lebih singkat dibandingkan waktu yang kami habiskan untuk pergi dari Jakarta. Maklum, dengan berakhirnya perjalanan ini kami akan kembali dipisahkan oleh jarak mengingat aku akan kembali ke Jakarta dan mamaku akan kembali ke Medan.

Selama enam jam perjalanan darat dan udara dengan fasilitas transit, kami masih bisa bergurau mengingat kenangan yang kami habiskan di Phuket selama 4 hari lamanya tersebut. Oh iya, total pengeluaran dalam perjalanan kali ini semuanya didanai oleh uangku sendiri. Hitung-hitung membalas kasih sayang orangtua, karena semasa sekolah dulu pun, aku sering diajak liburan bersama almarhum bapak dan mama.

Ya, selama mama masih sehat, aku juga ingin memperlihatkan mama, dunia yang luas dan indah ini. Karenanya, aku terus berdoa akan ada travel dating edisi lainnya bersama mama. 

 

Penulis: Ria Theresia Situmorang

Instagram: riatheresia

Facebook: Ria Theresia Situmorang

Press Enter To Begin Your Search
×