Loading...

Kalau saya sebutkan negara “China” apa yang ada dipikiran kita? Pusat wabah COVID 19? Oh tentu atau tempat asal dimsum yang akhir-akhir ini resepnya menjamur dijagad internet? Atau terbayang megahnya tembok raksasa atau The Great Wall? Mungkin banyak persepsi liar lainya yang mengisi kepala kita tentang negara yang satu ini. Keragaman persepsi ini lah yang membuat saya usil bertanya-tanya jika keturunan China atau Tionghoa bisa hidup berdampingan di Indonesia bagaimana cara negara ini menerima turis asing dengan cinta? Asik.

Sebetulnya perjalanan saya pada November 2018 tidak sepenuhnya travelling, namun kunjungan saya ke negara ini adalah turning point paling tidak pernah saya lupakan sepanjang hidup saya bertumbuh menjadi manusia dewasa. Karena bagi saya saat kita ke negara lain kita mewakili negara, agama dan keluarga lagipula ini perjalanan perdana saya ke luar negeri.

Saya membawa misi diplomasi budaya dan kemanusiaan saat itu namun terlepas dari tugas, bonus nya adalah saya mempunyai waktu untuk jalan-jalan keliling Provinsi Guangzhou! Yippi ….eh nanti dulu, perjalanan tidak akan seru tanpa perjuangan iyakan? Let’s go to eat obstacle!!!

Mengurus Visa yang Tiada Habisnya

“Kalau kamu tidak ikuti arahan dan ketentuan terserah” kalimat itu jelas-jelas menampar saya dengan mata membara dari jarak hanya satu jengkal di meja loket pelayanan. Petugas di Kedutaan Besar China itu sungguh membuat mata saya berkaca-kaca lalu mundur teratur ke tempat duduk dibelakang saya. Memangnya salah saya apa?

Iyasih karena terlalu percaya internet dan kata agensi saya menurut saja setidaknya setelah pikiran saya jernih saya bisa berdamai dengan teguran dari petugas itu. Ini kali pertama saya mengurus visa ke luar negeri pun sendiri niat awal sok tahu ingin melakukan apa-apa sendiri dan lihatlah kenyataan yang harus dihadapi. Tapi saya tahu saya tidak akan menyerah.

Tidak seperti negara ASEAN yang membebaskan kunjungan turis selama 30 hari, sayangnya negara ini belum mempunyai kesepakatan diplomatik untuk membebaskan kunjungan WNI termasuk untuk mahasiswi kere seperti saya ini. Sepanjang berjalan keluar dari kedutaan memikirkan perjuangan menuju kesini dengan izin dari dosen belum lagi maps yang membuat saya kesasar di kedutaan Hongkong dan harus memutar jalan lagi membuat saya mengelus dada.

Entah ini keajaiban atau tidak, ketidaksengajaan mendengar lebih tepatnya menguping sih percakapan sepasang suami istri yang persyaratan visa nya masih salah seperti saya membuka pencerahan di kondisi ini. Saya mendekat “Maaf bu, tadi saya dengar kalau untuk memperbaiki formulir dan foto bisa dilakukan di fotokopi dekat sini?” Keduanya sedikit kaget melihat saya yang tiba-tiba mendekat dengan sedikit ragu ibu dan suaminya itu mengangguk.

Menuju fotokopi ditengah gedung perkantoran Kuningan Jakarta Selatan dengan membuntuti sepasang suami istri ini adalah jalan ninjaku! Setelah berdesakan di ruangan fotokopi dan membuka computer panas-panasan di tempat sempit ini saya seperti bergabung dengan sekumpulan manusia-manusia hampir putus asa yang ditolak aplikasinya dan entah kenapa ini membuat saya bersemangat.

Saya kembali! Teriak ku dalam hati sambil menatap gedung The East tempat kedutaan China ini berada kemudian berdesakan masuk dengan karyawan NET TV. Setibanya di pintu masuk saya melakukan pemeriksaan lagi pun mendaftar lagi untuk antre membuat aplikasi visa dan syukurnya saya tidak berhadapan dengan petugas yang tadi.

Petugas kali ini memang tegas tapi tidak membuat saya gentar karena saya percaya diri aplikasi saya pasti kali ini benar. Saya harus menunggu selama 3 hari dengan membayarkan uang sejumlah Rp540 ribu dan kembalilah saya ke rumah dengan lelah sedikit cemas lalu setiap ingin tidur terbayang “Nasib visa gimana ya?”

Drama mencekam di Bandara Guangzhou

“Start to finger print over there” seorang petugas mengatakan itu berulang kali pertama dengan nada santun kedua dia meneriaki saya dan ketiga kalinya sudah pasti saya dicurigai. Bukan saya tidak mengerti bahasa Inggris tentu saya paham kalau tidak, mana mungkin saya bisa sampai di di Gungzhou, China. Masalahnya adalah saya tidak memperhitungkan setelah sampai di Bandara Baiyun International Guangzhou ini harus memeriksa sidik jari.

Kaki saya gemetar mengikuti arahan dari petugas ini yang makin mendekat memeriksa kelengkapan paspor dan visa saya. Bukan saya buronan internasional tapi nahasnya saya mempunyai permasalahan dengan sidik jari, ini terjadi sejak lama dan makin trauma ketika dulu akan membuat KTP pun masalahnya sama. Sidik jari. Sehingga pemeriksaan waktu itu membuat jari-jari saya yang terluka ditekan sangat keras dan berdarah begitu juga ketika sedang membuat paspor.

Saya mempunyai penyakit psoriasis di mana membuat telapak tangan dan kulit kepala saya bermasalah sehingga sidik jari saya sulit dideteksi. Jika di Indonesia saya tidak terlalu cemas tapi ini bukan di negara saya. Ini China dengan sistem negara yang berbeda. Saya harus bagaimana? Keringat dingin mengucur sebesar biji jagung dari dahi ketika menghadapi mesin pendeteksi dan benar saja 3 kali gagal petugas itu memantau saya dari belakang sementara teman-teman satu team saya yang lancar saja melihat cemas dari kejauhan.

Aduh! Saya menarik nafas dalam dan mencoba memberikan penjelasan kepada petugas bandara tersebut sepertinya ia dari keimigrasian bahwa saya punya penyakit ini. Ia tentunya tidak langsung percaya dan mengarahkan saya untuk diperiksa lebih detail lagi kali ini mengajak teman nya yang berseragam biru muda kemudian saya ditanyai mulai dari berapa hari akan di Guangzhou, punya uang berapa, apa kepentingan saya di sini, dicek badan saya termasuk ikat rambut saya yang tertutup hijab hingga dokumen-dokumen lainya.

Keadaan ini mencekam sejujurnya saya takut sekali tapi saya tetap berusaha untuk tenang. Saya sudah melalui drama ketika mengurus visa, kali ini saya melalui rintangan lagi seharusnya lebih kuat. Mereka yang mengintrogasi saya nampak berdiskusi dan syukurnya saya bisa diloloskan lalu lari ngibrit menuju teman-teman saya yang sedari tadi menunggu cemas.

Welcome to Guangzhou!

“No pork madam please” sambil saya tunjukkan gambar babi dengan tanda silangnya. Tidak semua pemilik restoran menguasai bahasa Inggris dan ini tantangan sekali bagi turis untuk jeli membaca situasi. Soal mencari makanan halal cukup sulit di Guangzhou tidak seperti di Indonesia keluar rumah beli nasi goreng pun tidak pikir panjang tapi inilah pentingnya hidup menjadi minoritas di negara lain (Apalagi saya terbiasa hidup menjadi mayoritas).

Adaptasi dan penerimaan diri yang terpenting. Baru esoknya berbekal informasi di internet akhirnya menemukan restoran halal dengan menu beragam dan pemilik nya lucu sekali satu hal yang terlintas oleh saya adalah. Pipinya merah. Mengingatkan ku pada filter-filter media sosial menakjubkan sekali dan kabar baiknya adalah mereka ramah.

Sehingga restoran ini yang letaknya pun tidak terlalu jauh dari hotel menjadi tempat langganan saya dan teman-teman untuk mencari makan di pinggiran kota, yang masih jadi catatan sih untuk makanan di sekitar tempat wisata tidak semuanya ramah untuk muslim. Semoga pemerintah China bisa perbanyak restoran halal, lumayan meningkatkan devisa negara.

Tugas utama saya sebagai delegasi dan rangkaian formal semuanya telah selesai, saatnya jalan-jalan pagi-pagi sekali menaiki MRT saya dan teman-teman ke Yuexiu Park semacam taman kota yang luas sekali (kurang lebih 15.000 meter persegi) tempat beragam aktivitas masyarakat dilakukan mulai dari olahraga, seni musik, ibu-ibu senam dan anak-anak berlatih kungfu.

Ada satu lagi hal yang jarang dilihat oleh kita di Indonesia kalau biasanya kita lari maju tidak dengan orang-orang di sini, mereka lari-lari mundur seperti adegan flashback di film-film. Meskipun saya datang dimusim gugur, namun bunga di taman ini masih bermekaran indah, paling nyaman untuk berkeliling taman ketika pagi hari jadi bisa melihat pantulan sinar fajar di danau nya dan udaranya masih sejuk.  

Tempat iconic dari Yuexiu Park adalah patung 5 kambing banyak wisatawan yang berfoto ria di patung ini saya juga tidak mau ketinggalan dong, namun untuk ke sana kita harus menaiki tangga yang lumayan. Namun di sekitar banyak yang berjualan souvenir atau boleh saja kita melihat-lihat isi toko sambil mengabadikan gambar dan patung-patung di dalamnya tidak membeli seperti saya ngaku deh kalian juga sering kayak gini kan?

Yuexiu Park

Patung Lima Kambing di Yuexiu Park

Siangnya saya mengunjungi pusara sahabat nabi Muhammad yaitu masjid Sa`ad Bin Abi Waqash yang menjadi salah satu masjid tertua di China. Hari itu dilaksanakan sholat Jum`at dan menariknya adalah, di kawasan masjid ini arsitekturnya bergaya oriental, akulturasi budaya lokal dan banyak makam juga di dalamnya.

Perjalanan ini bukan hanya mengunjungi tempat saja tapi bagi saya secara spiritual berdesir melihat keragaman dapat bersanding dan senang sekali bisa mendengar adzan di sini. Lokasi masjid ini cukup strategis dekat dengan jalan raya banyak juga taman-taman yang meneduhkan. Setidaknya bisa membuat diri ini berkontemplasi untuk memaknai toleransi dan rahmat kebaikan dari yang maha pengasih.

Pusara makam-makam di Masjid Sa`ad Bin Abi Waqash

Esok harinya saya melanjutkan sesi jalan-jalan dengan teman-teman di Guangzhou masih dengan MRT menuju ke Canton Tower icon kota ini bentuknya menara di tengah-tengah kota dan dikelilingi taman beragam bunga. Memang untuk transportasi jarak jauh MRT bisa jadi pilihan yang efektif. Tentu saja kita harus siap berdesakan, tapi karena jadwalnya selalu berdekatan dan on time ini bisa jadi alternatif transportasi bagi wisatawan dan untuk ke tempat wisata saya lebih proper dari stasiun jalan kaki sekalian grounding di negeri orang.

Jika kita datang siang hari kita dapat melihat taman ini penuh warna namun ketika malam hari Canton Tower dapat bercahaya warna-warni dan lebih indah ketika senja cahaya berpendar kemerah-merahan di langit dipadukan dengan pergantian warna pada menara setiap beberapa detik. Lokasinya strategis di dekat stadion kota dan bagi para muda-mudi yang berkeinginan untuk melamar kekasihnya jangan cemas di sana banyak penjual bunga mawar merah sebuah jurus jitu agar cinta Anda diterima! 

Canton Tower Pada Siang Hari

Cantont Tower Pada Malam Hari

Sepulangnya, saya merasa energi kaki saya untuk melangkah tidak surut untuk berburu barang murah di Beijing Lu. Sebuah pasar tradisional yang terkenal menjual beragam barang dengan harga miring. Tentunya saya tidak ingin ketinggalan kesempatan untuk ke sana. Dari mulai sepatu, baju sampai kaos kaki dijual diberbagai gerai. Hal pertama yang ingin saya beli yaitu syal karena pada malam hari dimusim gugur kala itu suhu mencapai 13 derajat celcius saya harus menyelamatkan diri saya sendiri terlebih dahulu baru saya membeli barang secukupnya untuk keluarga dan teman-teman di Indonesia.

Meski ini di China saya tetap mempraktikan jurus khas ibu-ibu Indonesia ketika menawar barang dan pura-pura pergi jika harganya tidak cocok dan ternyata berhasil. Sebagai turis saya tetap tidak mau diberikan harga tinggi yang tidak masuk akal dan ini prinsip saya ketika saya ingin membeli ternyata berfaedah dimana-mana tapi tidak juga nawar gila-gilaan itu sih pelit namanya.

Beijing Lu

Saya kira sepulangnya saya tidak ada drama lagi dan ternyata kejutan tiba ketika harus transit di Kuala Lumpur saya harus menginap di sana semalam karena tiket yang saya pesan tanggalnya salah ditambah lagi pesawat delay selama 4 jam! Apa yang saya lakukan di bandara sementara uang mulai menipis?

Karena ini Malaysia, saya harus sok tahu bertutur Melayu walaupun terkesan mirip Susanti temannya Upin Ipin. Tapi saya nekat untuk berbahasa Melayu agar diberi kemudahan berkomunikasi. Tapi ternyata kali ini tidak berhasil. Saya malah diminta menjaga anak seorang penumpang!

Memang perjalanan ini tidak hanya yang senang-senang saja. Kesan selama di sana untuk travelling juga banyak hal-hal baru dan tidak menyenangkan juga seperti fasilitas toilet yang belum sepenuhnya baik (Karena saya dideklarasikan sebagai duta sanitasi yang layak oleh keluarga saya sendiri). Tapi dari beragam cerita teman, fasilitas ini lebih baik setelah olimpiade Beijing yah mungkin saya saja yang apes kali ya harus membawa air sendiri.

Banyak rintangan dan hambatan untuk bisa mengunjungi negara ini tentunya dengan beragam kecemasan dan overthinking abis tapi ini pembelajaran besar bagi saya untuk mendewasakan diri dan berani mengambil pilihan kemudian bisa membagikan pengalaman setelah kepulangan ke Indonesia bahwa toleransi itu indah dan mensyukuri tiap kaki berpijak di bumi kita bersama.

 

Nama Penulis: Fabya Budi Luthfiana

Instagram: fabyabudi

Twitter: fabyabudi

Facebook: fabyabudi

Press Enter To Begin Your Search
×