Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Sinar mentari yang membangunkan ku hari ini terasa berbeda, mungkin karena rangkaian kegiatan selama dua minggu ini di Kalibo sini sudah berakhir, tak lupa hari ini merupakan waktunya jalan-jalan ke Boracay, suatu tempat yang menjadi alasanku ada di negara berbahasa Tagalog ini. Oh ya sebelum lanjut kenalan bentar kali, kenalin aku Clay, sekarang aku berumur 20 tahun dan kejadian yang aku ceritakan ini saat aku masih berumur sekitar 16 tahun. Gas lanjutt.

Setelah 2 jam perjalanan menuju Caticlan, tempat di mana terdapat sebuah pelabuhan yang dapat menghantarkan ku dan rombongan peserta kegiatan seminar dan pengabdian masyarakat di daerah kalibo ke pulau Boracay. Tak banyak yang bisa ku lakukan selain menunggu giliran kapal dan berbicara dengan teman-teman baru yang kutemui di sana.

(Photo source:mizzmunsoul.blogspot.com)

Sesampainya di pulau Boracay aku masih mengikuti rombongan yang tadi, entah karena rombonganku yang memang banyak mengingat kami berangkat menggunakan lebih dari 20an mobil dan beberapa bus atau pantainya yang memang penuh sehingga aku kurang menikmati hariku di sana.

Setelah menyewa kursi berjemur yang posisinya tidak terkena panasnya matahari, aku pun memilih untuk tiduran di situ saja sambil menikmati pemandangan dari kejauhan. Hiruk pikuk obrolan, candaan, dari bahasa yang tak ku mengerti membuat diri ini mengantuk.

(Photo source: www.globeguide.ca)

Sore hari tiba sekitar pukul 3, aku dikabari teman-teman ku jika rombongan ini akan segera berbalik ke tempat pertemuan di Kalibo. Apa-apaan, baru saja 3 jam di sini sudah mau balik. Aku pun memisahkan diri dari rombonganku. Aku membeli sebotol beer, dan mulai menunggu di tempat yang tak terlihat oleh teman-teman, rombongan, bahkan kaka ku sendiri. Terlihat dari wajah panik dari mereka, apalagi kakakku.

Tampaknya mereka tetap kembali sesuai jadwal daripada menunggu ku, akhirnya aku bisa menikmati tempat ini semauku. Ya, sepertinya tempat ini menjadi indah jika aku menjelajahinya seorang diri. Menyusuri pantai pada sore hari tanpa matahari yang menyilaukan. Entah mengapa hari ini menjadi jauh lebih baik, ku matikan handphone-ku yang dari tadi selalu berdering.

Setelah beberapa waktu berjalan tanpa arah, seketika langkah ini berhenti mencium aroma jajanan. Tempatnya seperti warung jajanan di pinggir pantai. Berbagai macam jajanan mulai dari kwek kwek, banana, tahoo telah kucoba selain dari satu jajanan yang menurut ku cukup ekstrem, jajanan itu ialah BALUT.

Balut merupakan jajanan khas Filipina, dari luar tampaknya seperti telur rebus biasa, namun saat dibuka telur ini berisi embrio bebek atau ayam yang sudah mulai berbentuk, ya kalian tidak salah dengar. Jadi bagi kalian yang ingin mencicipinya, kalian akan melihat kepala hingga bulu dari ayam atau bebek di dalamnya. Tak berani mencoba, aku hanya melihat para turis lainnya yang memakannya sambil disaksikan warga lokal atau teman-temannya. Ekspresi mereka yang lucu ditambah reaksi heboh dari penonton membuatku ingin tertawa bercampur dengan rasa ngeri.

(Photo source: food.detik.com)

Tak terasa matahari sudah mulai terbenam, aku pun bergegas menuju pelabuhan untuk menyebrang kembali ke caticlan sembari menikmati sunset dari kapal penyebrangan. Berbeda dengan yang tadi kini aku mencoba menaiki kapal kayu seperti gambar berikut.

(Photo source:www.klayapan.com)

Pemandangan yang sangat indah selama kurang lebih 20 menit penyebrangan ke pelabuhan di Caticlan. Selama tersesat di pulau Boracay dan penyebrangan tadi, saya baru menyadari tak ada satu foto pun yang kuabadikan. Alih-alih merasa sedih dan kecewa saya justru merasa senang karena saya dapat menikmati semua pengalaman indah tadi sendiri.

Seakan warga lokal dan bermodalkan dua kata tagalog “OO” (iya) dan “Saan ka...” (dimanakah...) aku mencari stasiun bus yang dapat mengantarkan saya kembali ke Kaliboo. Dengan modal itu, saya memberanikan langkah bertanya kepada satpam setempat.

“Excuse me… saan ka bus station, sir”

“Bla bla bla bla” sembari menunjukkan arah melalui jarinya

“Oo, thank you sir”

Aku yang tidak mengerti apa yang dikatakan, namun mendapatkan cukup petunjuk melalui bahasa tubuh dan arah yang diberikan oleh jemarinya. Oh ya, sepengamatan saya warga lokal di sana mereka terbiasa berbicara dengan mencampurkan bahasa tagalog dan bahasa Inggris.

Singkat cerita aku menemukan stasiun bis dan bis yang aku butuhkan, bis berstiker besar dengan jelas tertulis Caticlan - Kaliboo. Selama di perjalanan aku merasa sangat puas atas perjalanan kali ini, sebuah momen yang tetap menjadi sangat berharga walau tanpa tersimpan secara digital.

Sesampainya di tempat pertemuan, aku dikelilingi orang-orang di sana yang dari tadi menyangka aku tersesat. Mereka menanyakan keberadaaan ku selama ini, dan bagaimana aku bisa kembali dengan selamat. Semua pertanyaan yang ku balas dengan candaan dan senyuman, terlihat juga dari jauh kakaku yang berlarian menghampiriku.

Rupanya aku akan dilaporkan hilang jika tak kunjung ditemukan hingga besok, haha. Ya, aku sempat tersesat, namun tak ada yang lebih baik dari pengalaman tersesat kali ini.

Sejak itu aku tak jadi pulang, membiarkan diri ditinggal oleh kakaku yang harus pulang ke Indonesia. Aku tinggal di Quezon province sebuah daerah 3 jam perjalanan dari Manila, ibukota Filipina. Aku ingin tersesat lebih lama di negara ini, rupanya aku menjadi ketagihan melancong seorang diri ditempat yang tak ku ketahui. Antara nekat dan sok tahu menjadi awal mula tiap perjalanan baru di negri itu selama 11 bulan 25 hari. Pengalaman itu juga memberanikanku tuk bermimpi lebih luas dan menjelajah lebih jauh.

Sekarang perasaan bebas tersesat dan jalan-jalan itu hanya kutemui dalam khayalan, raga dan langkah bak dipasung oleh lingkungan perkuliahan, apalagi sekarang ditambah pandemi makin sempit langkah kaki ini. Semoga pandemi dan perkuliahan bisa cepat berlalu agar ku dapat melancong yang jauh lagi, bosen juga muter-muter di Jabodetabek. Sabang sampai Merauke nantikan deru langkah kaki ku.

 

Nama Penulis: Blue Matthew Clemens Herlambert Togas

Instagram: www.instagram.com/clayinside/

Twitter: www.twitter.com/bikinsipisipi

Press Enter To Begin Your Search
×