Loading...

 

 

  

(Sumber : Pixabay.com)

Terbang adalah salah satu impian terbesar saya. Sejak kecil, saya selalu merasa takjub ketika melihat pesawat terbang melintas di atas atap rumah saya. Apalagi saat mendengar suara desingannya saat mengudara. Membuat saya semakin ingin merasakan rasanya terbang melintasi langit biru nan luas. 

Dan tak disangka-sangka, do’a saya terkabul saat saya duduk di bangku SMA. Kesempatan untuk terbang datang setelah saya berhasil mendapatkan juara pada kompetisi debat tingkat SMA se-Jawa Barat. Saya dan dua orang teman saya diberikan kesempatan untuk terbang ke Aceh untuk mengikuti kompetisi debat tingkat nasional. Aceh? Seriously? Saya yang mendengar kalimat undangan itu seperti mendapat rejeki nomplok. Bagaimana tidak? Aceh adalah salah satu destinasi impian saya. Dan yang paling membuat saya bahagia adalah lokasi Aceh yang sangat jauh dari tempat saya tinggal. Daratan paling ujung di bagian Barat Indonesia. Itu artinya mengharuskan saya naik pesawat untuk sampai di sana. Unbelieveable! Akhirnya kesempatan terbang ini datang juga. Impian saya sejak kecil akhirnya terwujud.  

Singkat cerita, ada sebuah tragedi dalam perjalanan saya kali ini. Jujur, dari sejak awal keberangkatan, tujuan saya dan kedua teman saya pergi ke Aceh adalah untuk menjuarai kompetisi debat tingkat nasional. Namun ternyata takdir berkata lain. Di hari pertama babak penyisihan, kami sudah mengalami kekalahan. Kami bertiga sempat merasa kecewa dan sangat terpukul. Bagaimana tidak, ini baru hari pertama di Aceh dan kami sudah mengalami kekalahan. Sementara, waktu kami di Aceh masih tersisa lima hari lagi. Apa yang harus kami lakukan? Menonton peserta lain yang masih berlomba? Tidak! Itu terlalu menyakitkan. Kami membutuhkan suasana baru yang bisa menyembuhkan rasa kecewa kami. Dan dari situlah, ide traveling muncul dari salah satu partner debat saya.  

Sehari setelah pengumuman kekalahan, kami langsung memutuskan untuk pergi traveling, mengeksplorasi Kota Banda Aceh. Hanya kami bertiga. Tiga orang anak SMA yang sama-sama baru pertama kali melakukan perjalanan tanpa pengawasan pembimbing ataupun orang tua di kota terasing. Dan inilah awal petualangan kami.

Memulai Hari dengan Nasi Lemak

(Sumber Foto: Pixabay.com)

Pagi itu, saya dan dua orang teman saya berencana untuk memulai petualangan dari dalam Kota. Namun karena bangun kesiangan, kami pun tidak sempat menikmati sarapan di hotel. Karena tak ingin jadwal kami terganggu, kami memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar tempat tujuan kami yang pertama, yaitu Masjid Baiturrahman. 

Bus kota berwarna biru cerah yang kami tumpangi menurunkan kami tepat di depan pelataran masjid Baiturrahman. Ada hal membahagiakan yang kami alami pagi itu. Kami tidak perlu membayar ongkos bus kota, alias gratis. Wow! Siapa yang tidak senang mendapatkan kebaikan di pagi hari seperti ini. Walaupun saya sempat pesimis dengan perjalanan kali ini karena diawali oleh tragedi bangun kesiangan, namun tragedi tarif bus gratis telah berhasil mengembalikan pikiran positif saya. Meskipun saya tidak tahu apakah memang pemerintah kota Banda Aceh menetapkan tarif gratis untuk bus kota setiap harinya, atau hanya karena pekan ini sedang diadakan lomba tingkat nasional. Tapi saya pikir, mungkin karena opsi yang kedua.

Karena perut kami sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi, akhirnya kami pun mendatangi satu-satunya rumah makan yang sudah buka pagi itu. Nasi lemak dengan lauk pindang ikan marlin. Tahukah kalian apa yang saya pikirkan ketika mendengar kata “nasi lemak”? Yup! Serial animasi Malaysia, Upin dan Ipin. Nasi lemak menjadi salah satu kuliner khas yang seringkali ditayangkan dalam serial tersebut. Ternyata, nasi lemak ini juga menjadi kuliner khas dari daerah Sumatera, salah satunya Banda Aceh. Wajar, Indonesia dan Malaysia memang berasal dari rumpun yang sama, maka jangan heran jika kita memiliki beberapa budaya dan keragaman yang hampir sama.

Jika dilihat sekilas, penampilannya mirip sekali dengan nasi uduk. Hanya saja tidak ada potongan telur dadar atau orek tempe di atasnya. Dan ketika saya coba, barulah saya sadar bahwa nasi lemak ini sama sekali berbeda dengan nasi uduk. Nasi lemak identik dengan sambal teri kacangnya yang khas dengan telur balado. Ditambah lagi dengan potongan mentimun dan lauk pauk yang bebas kita pilih. Saya memilih ikan marlin. Karena saya penasaran sekali dengan rasa ikan yang satu ini. Awal mencoba, teksturnya mirip sekali dengan daging ayam, padat dan berserat. Tapi secara keseluruhan, saya sangat menyukai nasi lemak ini. Bahkan saya sudah jatuh cinta sejak suapan pertama. Sampai-sampai saya ingin membeli lagi satu bungkus untuk dibawa pulang. Saya jadi bersyukur pagi ini tidak sarapan di hotel, karena belum tentu saya bisa makan nasi lemak seenak ini.

Pesona Masjid Baiturrahman, Kebanggaan Negeri Serambi Mekah (Sumber: Pixabay.com)

Salah satu tempat yang menjadi ikon dari Banda Aceh ialah Masjid Baiturrahman. Masjid agung nan megah ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi oleh siapapun yang berkunjung ke Aceh. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di pelataran masjid, entah kenapa tubuh saya bergetar seketika. Saya sampai-sampai tak bisa menahan haru ketika mendapati diri saya berdiri di hadapan bangunan masjid yang megah ini. Bukan hanya karena pelatarannya yang luas, pintu masuknya yang begitu besar, atau kubah hitamnya yang megah, tapi juga karena pemandangan pilar-pilar payung otomatis yang tinggi dan tersusun rapi membentuk sebuah formasi, mengingatkan saya pada sebuah masjid di Madinah. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Jiwa spiritual saya seakan bergetar dibuatnya. Saya benar-benar tidak menyangka pelatarannya akan seindah ini. Dulu, terakhir kali saya melihat foto masjid Baiturrahman di internet, penampilannya belum secantik dan semegah ini, namun sepertinya telah banyak mengalami renovasi selama beberapa tahun terakhir.

Masjid ini tampaknya tak pernah sepi pengunjung. Layaknya Masjidil Haram di Negeri Mekkah. Tak salah jika kemudian kota ini dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Setiap hari selalu ramai orang-orang datang untuk sekedar berburu foto, ataupun mengikuti kajian rutin hingga solat berjamaah. Hari itu, saya dan dua rekan saya memutuskan untuk solat magrib dan isya disana. Setelahnya, kami hanya duduk-duduk santai di bawah salah satu pilar payung otomatis. Sebetulnya saya tidak tahu apa namanya, jadi saya sebut saja pilar payung otomatis ya, hihi. 

Malam itu bertepatan dengan malam kajian rutin. Sambil menikmati camilan ringan, saya dan dua rekan saya duduk bersandar menatap ke arah kubah hitam besar yang nampak megah, dihiasi lampu sorot di sekelilingnya. Dan entah darimana datangnya, tiba-tiba kawanan burung berterbangan di atasnya, hilir mudik seperti mengelilingi kubah tersebut. Masya Allah, sungguh pemandangan yang mendebarkan hati, apalagi malam itu diiringi dengan lantunan solawat para jamaah dari dalam masjid. Membuat tentram setiap hati yang mendengarkannya.

Tsunami Aceh menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada tahun 2004 silam ini pun memberikan bekas yang sangat mendalam bagi Negara Indonesia terlebih lagi bagi masyarakat Aceh itu sendiri. Tak heran jika kemudian peristiwa tersebut diabadikan dalam sebuah Museum yang diberi nama Museum Tsunami Aceh. 

Sore itu saya bersama dua rekan saya pergi ke Museum Tsunami Aceh dengan menaiki taksi online. Perjalanan yang terasa singkat karena lokasinya yang tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap. Ditambah lagi dengan keramahan pak sopir taksi online yang sepanjang perjalanan menceritakan tentang seluk beluk daerah Aceh. Ia senang sekali mendapati penumpang yang banyak bertanya seperti kami. Tanpa keberatan ia mengisahkan bagaimana detik-detik terjadinya tsunami waktu itu, seakan ingin memberi kami bocoran tentang apa yang akan kami saksikan di museum nanti. 

Dan akhirnya sampailah kami di Museum Tsunami Aceh. Mata saya langsung terpana begitu melihat sebuah bangunan unik yang berbentuk seperti kapal itu. Bangunan ini ternyata memiliki dua makna, yaitu jika dilihat dari samping, akan nampak seperti sebuah kapal dengan geladak yang luas. Namun jika dilihat dari atas, akan nampak seperti gelombang tsunami. 

Ada sedikit kisah unik juga yang saya alami ketika hendak memasuki museum ini. Ketika rekan saya hendak membeli tiket untuk kami bertiga, petugas loket menolak uang kami dan mengatakan bahwa hari itu tiket masuk museum gratis. What?! Seriously? Ini yang kedua kalinya saya mendapatkan akses gratis. Saya jadi semakin yakin bahwa pemerintah kota Banda Aceh memang mengratiskan semua tempat wisata selama pelaksanaan lomba nasional ini. Syukurlah, walaupun tidak menang, setidaknya kami masih bisa berkeliling Aceh. 

Sumber : etudemagz.com

Begitu memasuki pintu utama, kami langsung disambut oleh sebuah terowongan gelap nan panjang. Kami berjalan di atas jembatan yang disekelilingnya dipenuhi oleh percikan manipulasi air yang terus merembes, mengalir deras dengan sorotan lampu remang-remang. Entah seberapa panjang terowongan dan jembatan ini namun selama melewatinya, saya merasakan atmosfer yang mendebarkan. Bukan hanya karena hawanya yang dingin, bidang lorong yang menurun dengan alurnya yang melengkung, atau suara gemericik air dari bawah lorong yang seolah menggambarkan detik-detik tsunami, melainkan karena suara-suara lantunan lafaz tahlil “Laa Ilaaha Ilallah” yang menggema di setiap jengkal langit-langit terowongan. Rupanya suara itu menjadi semacam backsound yang menyambut para pengunjung untuk mengingatkan mereka akan peristiwa 2004 silam.

Saat berada di bagian dalam museum, kami disambut oleh gambar, lukisan, serta foto-foto yang menggambarkan kondisi sebelum dan sesudah terjadinya tsunami. Selain foto, terdapat juga beberapa miniatur serta diorama berukuran besar yang turut menggambarkan betapa hebatnya bencana kala itu. 

Tapi menurut saya, bagian yang paling berkesan dari museum ini selain terowongan di depan pintu masuk tadi ialah sebuah ruangan yang bernama Space of Sorrow atau “sumur do’a”. Ruangan berbentuk silinder besar dan memanjang itu dipenuhi oleh nama-nama korban tsunami yang mencapai jumlah ratusan ribu jiwa. Hampir sama seperti terowongan di pintu masuk tadi, ruangan sumur do’a ini juga berhawa dingin dan gelap dengan beberapa lampu redup yang menempel di dinding membentuk formasi. Langit-langitnya tinggi sekali seperti cerobong asap dengan lafaz Allah yang diterangi cahaya putih di bagian ujungnya. 

Ada satu tempat lagi yang tak kalah berkesan bagi saya, yaitu Ruang Teater Audio Visual. Di sana saya dan dua rekan saya menyaksikan film dokumenter yang menceritakan tentang pemaparan daerah Aceh, hingga terjadinya bencana tsunami. Sepanjang penayangan, jantung saya berdebar-debar, sesekali hati saya juga dibuat terenyuh ketika ditampilkan foto-foto korban dan kondisi sesaat setelah tsunami. Seolah-olah saya sedang berada di sana, menyaksikan detik-detik peristiwa tahun 2004 silam itu. Tak salah jika Museum Tsunami Aceh menjadi destinasi yang saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin mengenang peristiwa tak terlupakan itu. 

Siang itu saya dan dua rekan saya kedatangan tamu dari Bandung. Kepala sekolah SMA kami datang berkunjung. Beliau mengajak kami mencicipi kuliner khas Banda Aceh di salah satu restoran di tengah kota. Mie Aceh menjadi hidangan pembukanya. Seporsi mie kuning dengan campuran bumbu-bumbu rempah berwarna merah khas Aceh langsung memanjakan mata. Potongan daging sapi serta acar dan beberapa keping emping di atasnya menambah cantik penampilan mie Aceh ini. Soal rasa tak perlu ditanya. Sudah pasti enak! Rasa pedas dan hangatnya menggetarkan lidah. Paduan bumbu rempah pedas dengan rasa asam dari potongan acar serta kriuknya emping menyatu di mulut. Membuat siapapun ketagihan ketika pertama kali mencobanya.

Menu kedua ialah sate matang. Jangan heran jika meja kalian akan dipenuhi piring ketika memesan menu yang satu ini. Untuk setiap satu porsinya saja menggunakan 3-4 piring. Satu piring untuk sate, satu piring untuk bumbu kacang, satu piring untuk kuah kari, dan satu piring lagi untuk nasi. Bayangkan jika kalian makan beramai-ramai, butuh berapa meja tambahan untuk menampung semua piring yang disajikan. Tapi soal rasa tak kalah enaknya dengan mie Aceh. Perpaduan rasa antara potongan daging kambing yang empuk, kuah kari yang gurih serta manisnya bumbu kacang benar-benar menggoyang lidah. Apalagi jika ditambah nasi putih, benar-benar nikmat. 

Menjelajah Pulau Weh, Titik Nol Kilometer Indonesia (Sumber : wego.co.id)

Tititk nol kilometer Indonesia. Pernah mendengar tempat itu? Atau, tahukah kamu apa itu titik nol kilometer? Kilometer nol atau titik nol kilometer adalah sebuah titik di mana hitungan jarak berawal. Lalu di manakah titik awal perhitungan jarak di Indonesia? Yup! Pulau Weh. 

Pagi itu tragedi bangun kesiangan terulang lagi. Alhasil, saya dan dua rekan saya tiba di pelabuhan Ulee Lheue saat matahari sudah mulai terik. Antrian yang sangat panjang mengharuskan kami menunggu selama kurang lebih satu jam. Dan ketika kami sudah mulai hampir putus asa menunggu antrian yang hanya memperlihatkan kemajuan beberapa senti, salah satu rekan saya datang dengan wajah lesu. “Kita kehabisan tiket.” Ucapnya dengan nada kecewa. What?! Satu jam lebih kami menunggu dan tidak mendapatkan apa-apa? Baiklah, ini menjadi tamparan keras untuk kami. Siapa suruh bangun kesiangan?!

“Kita kehabisan tiket kelas ekonomi, tapi saya dapat tiket VIP!” ucap rekan saya lagi sambil mengacungkan tiga lembar tiket VIP. Seriously? Okay, it doesn’t matter. Meskipun kami harus merogoh saku lebih dalam, namun tak jadi masalah. Yang terpenting, kami bisa menyebrang ke Pulau Weh, dan menginjakkan kaki di titik kilometer nol Indonesia.

Kapal cepat berkapasitas 300 penumpang ini pun melesat cepat memecah ombak lautan. Saya dan dua rekan saya sudah duduk manis di dalam ruangan ber-AC dengan gelaran karpet merah di sepanjang lorong kursi penumpang. Sebuah televisi berlayar besar lengkap dengan microphone serta perangkat karaoke lainnya juga turut menghiasi bagian depan ruangan vip ini. Alunan musik instrument, pemandangan pulau-pulau kecil dari kejauhan, deburan ombak ganas yang sesekali terlihat dari balik jendela kapal menjadi kelebihan tersendiri dari ruangan vip ini. Siapa sangka, anak SMA yang kemarin kalah berlomba, hari ini sedang berpetualang menjelajahi pulau terasing, dan tanpa disangka-sangka mendapatkan akses vip pula. 

Satu jam terombang-ambing di atas kapal cepat, akhirnya tibalah saya di Pelabuhan Balohan. Ratusan orang keluar satu persatu dari pintu kapal, terlihat seperti gerombolan semut yang keluar dari sarangnya. Begitu menginjakkan kaki di atas papan pelabuhan, hawa panas khas pantai langsung menyeruak diikuti angin laut yang bertiup kencang. Ada pemandangan unik yang menarik perhatian saya di sepanjang jalan pelabuhan. Jembatan kayu yang dibuat seperti lorong beratap itu menghubungkan kapal-kapal cepat yang berlabuh dengan dermaga. Dan di sepanjang jembatan itulah anak-anak pesisir setempat menunjukkan aksinya. Dengan riang mereka melompat satu persatu dari atas pagar jembatan ke dalam laut yang jernih nan biru. Saking jernihnya, saya bisa melihat beberapa ikan dan bebatuan serta tumbuhan yang hidup di dalamnya. Jujur, ini pertama kalinya saya melihat air laut sejernih dan sebiru ini. Karena beberapa pantai yang pernah saya kunjungi sudah mulai tercemar dan tidak asri lagi. Maka dari itu saya merasa beruntung sekali bisa melihat air laut sebening dan sebiru ini. 

(Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)

Matahari sudah mulai meninggi, saya dan rekan saya langsung menuju ke tujuan utama kami yaitu titik nol kilometer Indonesia. Dengan menaiki mobil sewaan lengkap dengan sopir yang juga merangkap sebagai tour guide, kami melintasi jalanan yang berliku-liku di pulau Weh. Jangan membayangkan pulau Weh sebagai pulau terpencil dengan jalanan berbatu atau tempat yang belum terjamah manusia. Karena kenyataannya, Pulau Weh ini sudah dipadati penduduk. Bahkan akses jalannya pun sudah beraspal, mulus, terlihat seperti kota di pesisir pantai. Tapi, jangan khawatir. Karena meskipun penduduknya sudah banyak, jalanan di pulau Weh tetap sepi dan lengang. Jadi tidak perlu cemas dengan kemacetan yang akan menghambat petualanganmu di Pulau Weh. 

Pelabuhan Balohan sudah tertinggal sangat jauh di belakang, kini kami mulai memasuki daerah perbukitan. Jalan menurun dan menanjak menjadi medan yang kami hadapi setiap detiknya. Jalanan berkelok dan tikungan tajam sesekali membuat perut saya mual. Tapi saya benar-benar terhibur dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Di sepanjang jalan, di sebelah kiri dan kanan terlihat rerumputan liar yang tumbuh tinggi. Sesekali kami memasuki daerah hutan dengan pepohonan yang tumbuh tinggi hingga menutupi teriknya matahari. Sesekali juga kami memasuki daerah pemukiman yang hanya terdiri atas 3-5 rumah saja. Rumah-rumah di pesisir pantai memang tidak sebanyak di tengah pulau atau pusat kota. Setiap rumah didirikan saling berjauhan berjarak beberapa meter, dengan halaman yang ditanami oleh bermacam-macam tanaman dan sayuran di sekelilingnya. Dan yang paling indah adalah pemandangan birunya laut dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni yang memanjakan mata di sepanjang perjalanan. Gredasi sempurna antara birunya air laut dengan putihnya pasir pantai membuat siapapun tak ingin mengalihkan pandangan dari surga kecil di ujung Barat Indonesia ini.

Tepat tengah hari, saat matahari berada di atas kepala, kami tiba di bagian paling ujung Pulau Weh. Yup! Tugu kilometer nol Indonesia. Rasa bangga dan haru membuncah seketika, disaat saya berdiri di ujung tebing tepat di depan tugu kilometer nol. Hamparan laut biru terpampang luas sejauh mata memandang. Tak ada pulau-pulau kecil yang menghalangi, inilah daratan paling ujung Indonesia di bagian barat. Suara deburan ombak yang menabrak karang dan tiupan angin laut yang berhembus kencang, seakan menyambut kehadiran saya. 

Ada hal unik lainnya yang saya temui di Pulau Weh. Setiap wisatawan yang berkunjung ke tugu kilometer nol ini akan mendapatkan sertifikat bertuliskan nama mereka beserta nomor urut pengunjung. Jadi, kita bisa tahu, kita adalah orang kesekian yang menginjakkan kaki di kilometer nol Indonesia. 

Sinar matahari semakin menyengat. Saya dan dua rekan saya beserta tour guide kami melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Pantai Iboih, salah satu pantai di Pulau Weh yang terkenal dengan spot divingnya. Hamparan pasir putih dengan ombak yang tenang seketika langsung memanjakan mata saya. Beningnya air laut dengan gredasi warna hijau ke biruan membentang luas, menjadi penghubung antara daratan yang saya pijak dengan pulau kecil tak berpenghuni di seberangnya, Pulau Rubiah. Sekilas Pulau Rubiah nampak dekat sekali dengan garis pantai, saking dekatnya sampai-sampai terlihat bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki atau berenang melintasi perairan dangkal. Meskipun dangkal, tapi tidak disarankan untuk sembarang menyeberang tanpa perahu atau kendaraan air lainnya. 

(Sumber foto : Dokumentasi Pribadi)

Pulau Weh, Pulau Rubiah dan pulau-pulau kecil di sekitarnya menjadi pusat spot diving yang diminati oleh wisatawan. Beragam biota laut dan terumbu karang yang indah nan cantik tersembunyi di dalamnya. Namun sayang, hari itu saya dan dua rekan saya tidak membawa persiapan baju ganti, karena kami sebelumnya tidak tahu ada banyak spot diving di Pulau Weh. Tujuan awal kami hanyalah menginjakkan kaki di titik kilometer nol. Tapi walaupun begitu, kami masih bisa menikmati keindahan Pantai Iboih dan keelokan Pulau Rubiah sebagai gantinya.

Hari beranjak sore, saya dan dua rekan saya harus kembali ke Banda Aceh. Sejujurnya saya masih ingin berlama-lama di Pulau Weh, mengingat masih ada puluhan tempat lainnya yang belum saya jelajahi. Tapi kami tetap harus pulang karena panitia lomba dan para pembimbing sudah menanti kami untuk mengikuti acara penutupan. Sedih sekali rasanya harus berpisah dengan surga kecil di ujung barat Indonesia ini. Tapi biarlah rasa sedih ini menjadi penyemangat dan motivasi bagi saya untuk melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lainnya di lain hari. 

Sejak hari itu saya bertekad untuk melanjutkan petualangan. Menapakkan kaki di berbagai pelosok negeri. Menemukan surga-surga kecil untuk ditelusuri. Mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang penuh arti. Menumbuhkan rasa syukur dan berserah pada Sang Ilahi. 

Itulah sepenggal kisah petualangan saya selama terbang ke Aceh. Ada banyak sekali hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan. Mungkin saya memang tidak memenangkan lomba, tapi justru saya mendapatkan perjalanan yang luar biasa. Maka jangan berkecil hati jika kenyataan tak sesuai harapan. Bukalah mata, lihatlah sekitar. Jelajahi tempat di sekelilingmu, dan temukan petualanganmu.

“Terkadang kamu tak harus selalu memiliki rencana. Yang perlu kamu lakukan hanyalah sebuah keyakinan dan lihatlah apa yang dunia tawarkan” (Anonim). 

Penulis : Sarifatul Amanah

Instagram: sarifatul_a

Facebook: Sarifatul Amanah

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×