Loading...

Foto: Pixabay

Jika biasanya orang akan mudik saat lebaran, namun berbeda dengan yang pernah saya lakukan saat dulu menjadi warga Batam.

Alasannya, karena biaya transportasi mudik ke Jawa malah lebih mahal dibandingkan ongkos ke Singapura. Jadilah waktu itu saya dan Tari, teman kerja sekaligus sahabat satu kamar rusun yang juga asal Jawa, memutuskan berlibur lebaran ke Singapura. Sebuah liburan lebaran yang tak akan saya lupakan!

Selain bersama Tari, ada juga Indra bersaudara yang juga ikut pergi. Indra yang besar adalah teman kerja kami. Sedangkan Indra yang adiknya masih SMA kelas 2 waktu itu. Meski mereka lahir dan besar di Batam, uniknya mereka sama sekali belum pernah ke Singapura yang kotanya saja tampak dari kejauhan Pulau Batam. Kami sepakat berangkat ke Singapura saat lebaran ke dua. Pagi-pagi sekali sebelum pukul tujuh, kami berkumpul di Pelabuhan Internasional Batam Center.

Perjalanan Batam-Singapura dengan feri ditempuh selama satu jam. Hal yang tak terduga terjadi saat sampai di bagian imigrasi. Antrean WNI yang ingin masuk ke Singapura begitu panjang mengular. Rupanya bukan kami saja yang memutuskan berlibur di Singapura saat lebaran. Ketika menghadap petugas imigrasi, kami mengatakan akan pulang hari itu juga. Kami tidak berniat menginap di Singapura.

Orang Tionghoanya Ternyata Asli Indonesia

Tujuan pertama kami waktu itu adalah Orchard Road. Bukan untuk berbelanja. Karena, siapa lah kami yang datang ke negara Merlion itu hanya membawa uang seadanya. Kami memang ingin jalan-jalan saja. Terutama saya dan Indra bersaudara, ingin memuaskan rasa ingin tahu kami yang sangat jarang bepergian ke Singapura. Singapura adalah negara dengan masyarakat multietnis yang kebanyakan berasal dari etnis Melayu, Tionghoa, dan India. Agak mirip dengan Batam yang kebanyakan berasal dari etnis Melayu dan Tionghoa.

Saat di Orchard Road, kemungkinan besar kita sulit membedakan mana yang memang asli orang Singapura dan bukan. Terutama mereka yang berpenampilan etnis Tionghoa. Misalnya pengalaman saya sewaktu berada di sebuah toko sepatu. Suatu ketika saya terlibat perbincangan dengan seorang wanita yang menurut saya asli Singapura. Saya dan ia bertanya tentang harga sepatu yang sama-sama kami suka, dalam bahasa Inggris.

Saat kami berposisi saling membelakangi, eh... ternyata wanita itu bicara dalam bahasa Indonesia logat Medan! Tari yang mendengar cerita saya tersebut hanya tertawa. Katanya, ia pun pernah berjumpa sekumpulan ibu-ibu Tionghoa yang terlihat begitu riuh saling bercanda. Waktu Tari berada di dekat mereka, ternyata logat bahasanya medok khas Suroboyoan. Yang menarik dari Orchard Road buat saya adalah keberadaan para pengamen jalanannya. Mereka benar-benar artis yang menunjukkan penampilan seni secara serius. Tidak asal-asalan demi mengais logam atau kertas dolar Singapura.

Mendapat Angpau karena Lajang

Setelah puas berjalan-jalan menyusuri Orchard Road, kami melanjutkan perjalanan menggunakan MRT ke Choa Chu Kang. Kami mengunjungi teman Tari yang dikenalnya saat sedang mereparasi kamera kantor. Mr Rudi namanya, adalah seorang Melayu Singapura yang konon katanya memiliki leluhur dari Jogjakarta. Ia sudah berkeluarga dan memiliki anak serta tinggal di sebuah apartemen di Choa Chu Kang. Sebelum ke sana, Tari memang sudah sempat mengabari jika akan mampir.

Meski juga merayakan lebaran, Mr Rudi tidak mendapat libur dari tempatnya kerja. Jadi kami sengaja ke rumahnya agak sore agar bisa bertemu dengannya usai ia pulang kerja. Tak disangka, kami disambut seperti laiknya tamu yang berkunjung lebaran. Istrinya memasakkan kami aneka masakan. Salah satunya yang paling saya suka adalah Ayam Masak Korma.

Dalam pikiran saya waktu itu, unik juga nih! Kok bisa ada ayam dimasak dengan kurma. Namun rupanya, itu hanya nama. Karena yang sebenarnya tidak ada sama sekali kurma dalam masakan tersebut. Ayam Masak Korma sendiri adalah masakan khas Melayu dengan kuah santan kental yang banyak dijumpai pada masyarakat Melayu di Singapura dan Malaysia.

Usai salat magrib, kami pun bergegas pamit. Target kami, bisa mendapatkan kapal feri terakhir menuju Batam.

Sebelum pulang, Mr Rudi memberikan setiap dari kami sebuah angpau. Katanya karena kami semua masih lajang, jadi kami pantas mendapat angpau. Meskipun kami bukan anak-anak lagi.

Perjuangan Mencari Penginapan Backpacker

Malam itu, kami lupa jika banyak orang asal Batam yang juga sama dengan kami, berniat balik hari itu juga ke Batam. Sampai di pelabuhan, lagi-lagi kami menjumpai antrean orang yang berbaris panjang. Tiket feri terakhir sudah habis terjual. Mendapati hal itu, saya dan Indra bersaudara masih menunjukkan wajah tenang. Angpau yang ada di tangan kami rasanya cukup untuk dipakai menginap di penginapan a la backpacker. Tapi tidak dengan Tari. Sebagai orang yang paling hapal Singapura, ia kebingungan. Dalam pikirannya, harus dibawa ke mana ke tiga temannya yang tak paham Singapura sama sekali!

Awalnya Tari mengajak kami ke kawasan China Town. Ia sempat ingat ada sebuah penginapan backpacker di sana. Sampai di China Town dan setelah keliling berjalan kaki ke mana-mana, rupanya Tari lupa di mana tempat yang ingin ia tuju. Sempat saya dan Indra bersaudara usul agar mencari penginapan backpacker di sana saja. Tapi Tari menolak. Katanya harganya tetap mahal dan tak akan terjangkau dengan uang-uang angpau yang kami miliki.

Bergegas Tari mengajak kami ke kawasan Little India. Menyusuri ruas-ruas jalan di sana, mata kami dimanjakan oleh cantiknya aneka lampion yang ada di sepanjang jalan. Rupanya beberapa hari sebelumnya ada perayaan Deepavali yang memang jatuh setiap bulan November. Tari masih memasang wajah tidak tenang. Ia gusar karena masih tak kunjung menemukan penginapan untuk kami berempat. Sementara itu, saya dan Indra bersaudara justru asyik cuci mata dan sesekali berfoto dengan latar lampu-lampu hias Deepavali.

Sempat kami melewati Kuil Sri Veeramakaliamman. Pada malam hari, kuil tersebut makin tampak cantik dengan sorotan lampu di beberapa bagian kuil. Sayang, Tari tidak mau diajak sejenak untuk berfoto. Pikirannya betul-betul serius untuk mencari tempat menginap mengingat waktu yang makin mendekati tengah malam. Akhirnya kami menemukan tempat menginap di seberang Mustafa Center. Sebelum tidur, kami menyempatkan menyantap prata kuah kari yang dijual di lantai bawah penginapan.

Segala makanan yang sempat mengisi perut di rumah Mr Rudi sebelumnya sudah habis karena berubah menjadi energi yang kami pakai untuk menyusuri jalan-jalan di China Town dan Little India. Jadi saat menyantap prata kuah kari, semangat makan saya meninggi. Apalagi makanan bercita rasa kari adalah yang paling saya sukai. Malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak. Mungkin hanya beberapa jam saya bisa terlelap. Saat jam menunjukkan waktu salat subuh, saya memilih salat. Lalu mengamati ruas jalan di bawah penginapan dengan cahaya lampu yang tiap saat beranjak pergi terkalahkan oleh sinar matahari pagi.

Berkenalan dengan Merlion dan Raffles Garden

Hari ke dua di Singapura, Indra bersaudara mengajak saya dan Tari untuk menjelajahi bagian lain Singapura. Tapi Tari mengingatkan untuk kembali ke Batam menjelang sore. Ya, kami tidak ingin harus kembali menginap. Tak ada cukup dolar Singapura lagi di kantong kami masing-masing. Tujuan sasaran kami adalah patung Merlion, permintaan Indra bersaudara. Katanya sudah ke Singapura tapi kok belum foto sama ikon tersohornya Singapura.

Tari yang sejak awal menjadi penunjuk perjalanan kami lalu mengajak kami ke Raffles Garden. Saya sangat suka tempat ini. Baru kali itu saya melihat betapa luasnya area terbuka dengan pepohonan rindang di sela-sela gedung pencakar langit. Bagian yang paling saya suka ada di tepi sungai. Saya benar-benar terkesima melihat tempat yang bersih dan tenang. Terkadang ada burung-burung merpati yang beterbangan di sepanjang sungai.

Beranjak dari sana, kami lalu jalan menuju patung Merlion yang ikonik. Rupanya ada dua patung merlion di sana. Yang besar, kerap menjadi latar foto bagi siapapun yang ingin menunjukkan diri, saya sudah pernah ke Singapura, lho!

Tak jauh dari sana, ada juga patung merlion kecil. Di bawah patung ini terdapat kolam yang jika diamati bagian dasarnya, begitu banyak logam-logam sen dolar Singapura. Mungkin mereka yang melakukannya menuruti mitos agar bisa hoki atau beruntung. Di seberang patung Merlion, ada bangunan Esplanade yang tak kalah menjadi daya tarik wisatawan. Gedung ini memang berbentuk unik. Atapnya seperti lengkungan kulit durian. Banyak wisatawan yang juga berfoto dengan latar bangunan ini. Puas mengambil foto, kami akhirnya memutuskan pulang ke Batam. Sayangnya, itulah kunjungan ke dua sekaligus yang terakhir kalinya saya alami di tahun 2006.

Kini saya tidak lagi tinggal di Batam. Sesekali ingin rasanya saya ke sana lagi mengajak anak-anak, mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya di Singapura yang belum sempat saya singgahi.

 

Penulis: Ika Maya Susanti

Instagram: Ikamsusanti

Twitter: Imsusanti

Facebook: Ika Maya Susanti

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×