Loading...

(photo source: pixabay.com) 

Detik terus berdetak saat laju kereta mulai terasa. Siulnya berbunyi beberapa waktu lalu tidak terdengar, karena telingaku penuh dengan melodi yang melagu. Banyak yang berubah dari keadaan kereta. Tak lagi banyak pedagang asongan dan penawar jasa sapu lantai, meski pun tak ada yang menerima tawarannya karena akan berujung meminta rupiah sebagai imbalan. Lima tahun berlalu sejak terakhir kali menginjakkan kaki di Jawa Timur. Seri di raut wajahku pasti tergambar jelas. Tapi siapa yang akan peduli? Dua orang yang duduk di hadapanku asyik saling bersandar, mereka sepasang kekasih yang sepertinya terus merasakan kuntum bunga merekah. Aku tersenyum simpul. Satu orang lagi di sampingku tetap terlelap, hanya membuka mata saat aku meminta izin melewatinya. Mungkin perjalanan panjang dari ibu kota memaksanya untuk menyerah pada lelah. Kota Solo semakin tertinggal di belakang.

Jika tak ada halangan, perjalanan dari Stasiun Purwosari Solo sampai Stasiun Gubeng Surabaya tidak akan memakan waktu lebih dari sembilan jam. Untung lah perkiraan waktu tiba di Surabaya tepat. Jam dua pagi lebih beberapa menit. Surabaya tidak banyak berubah, masih tetap seperti dalam cerita yang pernah didongengkan teman sekamarku lima tahun silam, ramai sedari langit masih hitam pekat. Ponsel yang tetap berada dalam genggamanku bergetar.  “Tunggu aku, sebentar lagi sampai.” sekilas pesan yang masuk terbaca. Ternyata begini suasana Surabaya pagi hari, lebih tepatnya dini hari.

Akan berapa hari perjalanan ini? Pertanyaan itu tak pernah melintas bahkan sampai beberapa menit yang lalu saat badan terlempar di atas ranjang dengan kasur yang sangat empuk. Tidak pernah ada jawaban untuk pertanyaan itu. Akan kemana setelah ini? Jawabannya singkat, akan diputuskan mendadak. Karena prinsipku, melakukan perjalanan ke mana pun kaki ingin melangkah. Betul, itu kubuktikan sendiri akhir tahun 2017 kemarin. Surabaya panas sekali hari itu. Mungkin karena tempat di mana aku bermalam daerah tepi pantai. Ya, begitu asumsiku sampai berpamitan dengan keluarga baru melanjutkan perjalanan selanjutnya ke wilayah lain di Jawa Timur. 

Angin yang berembus tak begitu memberikan kesegaran, kipas angin yang menempel di dinding kamar, yang berdiri sedikit miring ke kiri juga tidak banyak bekerja. Hawa panas tetap membakar tubuh siang hingga malam. Anak-anak kecil di dalam rumah akan tertidur dengan kaos terbuka. Culture Shock kembali kurasakan. Keadaan seperti ini pernah kurasakan juga lima tahun lalu, saat untuk pertama kalinya hidup di Jawa Timur. Berita tentang kemacetan terdengar dari radio mobil yang terus berganti. Semua penumpang menghela napas. Waktu berjalan dua jam dengan sia-sia. Tol Surabaya-Madura arah Surabaya macet total. Kegembiraan menginjakkan kaki di tanah Madura sedikit memudar, bercampur rasa tak enak hati karena mengajak mereka terjebak dalam waktu yang sangat membosankan ini. Ibu jariku mengetuk pelan layar ponsel, mencari folder bertulis galeri dan mendorong layar memilah foto untuk kemudian dinikmati. “Ini sebagian kecil keindahan di tanah Madua, bukit kapur Arosbaya,” aku menggumam pelan.

Klakson dari bus-bus yang bersautan terus mendengung di telinga. Hari ketiga dan terakhir menginjakkan kaki di Surabaya. Kakiku terus melangkah, mencari tempat bus arah pantai utara berhenti. Kota yang dekat dengan pesisir pantai utara menjadi tujuan selanjutnya. Rem mendadak diinjak oleh pengemudi, aku mengaduh kesakitan, beberapa ibu-ibu paruh baya berteriak, “Sudah lama sejak lima tahun lalu, akhirnya merasakan lagi sensasi bus Jawa Timur.” Batinku berucap. Ponsel terus berdering.

“Pasti temanku, kekhawatiran dia terlalu terlihat.” Aku terkekeh membaca pesannya yang berulang dia kirimkan. Tepat saat matahari berada tepat di atas kepala, aku melangkah meninggalkan bus yang melaju pelan. Tidak ada bedanya dengan Surabaya, imajinasi tentang kesejukan masih tetap imajinasi. Lamongan, kota dengan soto dan sea food-nya yang melegenda menjadi tujuan kedua. Sebenarnya rencana untuk menginjakkan kaki di tanahnya baru diputuskan kemarin.

(photo source: kompas.com)

Sebenarnya kota kedua, Lamongan, hanya tempat singgah. Karena malam ini aku bersama keluarga kedua dalam perjalanan menyusuri Jawa Timur sedang dalam perjalanan menuju pantai Selatan, Malang. Hawa sejuk mulai terasa, dingin wilayah Malang sudah bisa dirasakan. Malang sebenarnya tidak benar-benar ada dalam rencana perjalanan. Jalanan menuju Pantai Selatan Malang terlihat ramai, karena hari ini hari terakhir sebelum pergantian tahun. 2018 segera menyapa, senyumku mengembang.

Debur ombak terdengar keras menghantam karang. Volume air laut malam hari terus bertambah bertambah. Mengikis pantai yang semakin menipis. Momok pantai selatan selalu mengerikan di dalam pikiranku. Menghilangkan senyum simpul yang merekah beberapa detik yang lalu. Membayangkan tokoh legenda akan muncul dengan kereta kencananya. Padahal cerita itu ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kan siapa tahu, laut menyatu bukan? Jadi selatan Malang juga akan menyatu dengan laut selatan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pikiran itu datang bersama kalimat ibu-ibu penjual ikan segar di penampungan ikan di dekat pantai, kemarin ada sekelompok orang yang terbawa arus dan nyawanya terombang ambing air laut selatan yang tak tenang. Aku menggelengkan kepala, tak akan terjadi hal yang seperti itu seandainya kamu baik dengan alam. Untung lah, jarak tenda tempat bermalam jauh dari garis pantai.

Dingin angin pagi mengelitik, malam sudah berlalu dan tahun sudah berganti. Apa yang akan kulakukan setelah ini? Mungkin tak melakukan perjalanan lagi. Baik, perjalanan tahun lalu berakhir hari ini. Beberapa kawan mengirim pesan, menanyakan kabar juga bagaimana perjalanan. Berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Dan mengapa aku tak seperti mereka, berani bepergian seorang diri, apa tidak takut seseorang menjahati.

Aku hanya tersenyum. Simpul. Kemudian membalas satu persatu pertanyaan mereka. “Baik tidaknya seseorang berawal dari dalam pikiran kita, waspada perlu saat kita dalam perjalanan, tapi berpikir positif itu akan mempengaruhi lingkunganmu.” Juga, “tidak perlu memikirkan rupiah yang akan kau keluarkan, akan banyak kemurahan yang kau dapatkan dalam perjalanan, asal kau tak perlu menolak rejeki yang mereka tawarkan, makan, penginapan, dan kehangatan keluarga.” Aku menutup lembaran kertas, halaman terakhir dalam buku sebelum akhirnya berganti.

 

Penulis: Izna Rizki Ashvia

Instagram: @iznaaaaaaaaaash

Facebook: Izna Ashvia

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×