Loading...

Foto: Pixabay

Perjalanan ini dimulai ketika ada event perlombaan call for papper pada salah satu kampus swasta di Jawa Barat, tepatnya berada di daerah Bandung Barat. Persiapan lomba sudah dilaksanakan sejak akhir tahun 2018, dan Alhamdulilah pada tanggal 18 Februari 2019 karya tulis ilmiah yang kami buat diumumkan lolos seleksi, yang artinya saya bersama rekan satu tim saya lolos menjadi finalis dan diundang untuk datang langsung ke Universitas penyelenggara untuk dapat mempresentasikan karya ilmiah yang telah kami buat. Kabar baiknya lagi perjalanan kami dibiayai oleh pihak kampus, memang tidak banyak tapi cukup untuk biaya transportasi dengan menggunakan bus, serta biaya makan dan penginapan. Meskipun biaya tersebut ngepress banget (dicukup-cukupin), tapi alamdulilah cukup sampai kami pulang kembali ke Bandar Lampung, hehehehh.

Oh iya, perkenalkan nama saya Rosidah Amini, saya adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Provinsi Lampung. Bersama rekan saya Annisa Rahman, kami melakukan perjalanan ke Bandung, untuk mengikuti event perlombaan call for papper. Rencananya kami akan berada di Bandung paling lama adalah 3 hari, namun karena ada sesuatu hal yang menyedihkan tapi cukup menyenangkan untuk dikenang atau lebih tepatnya menggelikan sebenarnya, kami akhirnya berada di Bandung selama 4 hari, wkwkwk. Untuk cerita lebih lanjutnya, yuk disimak

1. Hari pertama

Kami berangkat dari Bandar Lampung dengan menggunakan transportasi bus, pada malam hari sekitar pukul 19.30 WIB. Karena sudah mendapatkan uang transport dari kampus, masing-masing dari kami hanya membawa uang saku kurang lebih Rp. 300.000 untuk membeli oleh-oleh, hehehhh low budget sekaliiii.

Berbekal doa dari orang tua, kami berangkat dengan hati berbunga-bunga, awokawokawokk.

(Foto rekan saya Annisa yang sedang memakan roti di kapal, kami sengaja membawa makanan ringan sendiri untuk mengganjal perut ketika berada di kapal laut, karena kalau beli di kapal harga makanannya bisa jadi dua kali lipat. Foto: Dokumentasi Pribadi)

Oh iya, awalnya kami duduk di dalam, malah tadinya mau tiduran di tempat yang ada kasurnya, terus aku bilang “Nisa, kalau kita tidur disitu, nanti disuruh bayar tau”, Annisa kaget “iyatahh?” kata dia. Jadi sudah dipastikan kita langsung pergi dari situ, mencari ruangan lain, saya sudah mengajak Annisa untuk ke luar, mencari tempat duduk di pinggiran kapal supaya tidak membayar, tapi Dia masih ngeyel, “udah duduk sini aja Ros, gak bayar kok” kata dia sok tau. Tidak berselang lama, ketika barisan kursi-kursi mulai penuh oleh penumpang, dari barisan kursi paling depan, para penumpang mulai diminta untuk membayar oleh petugas. Akupun langsung bilang, “Nahkan, gak percaya sihh”. Nisa langsung jawab “Ayo Ros kita pergi”, sambil permisi kepada penumpang lain, kami pergi dari tempat tersebut. Ada Bapak-bapak yang bertanya, “kok pergi Mbak?”, “Mau ke toilet Pak” Jawab Annisa. Padahal mah mau kabur karena gak mau bayar, wkwkwk, dan lucunya lagi, penumpang yang duduk di samping kami ikut pergi karena gak mau bayar juga, hahahahahaa. Beruntungnya kami duduk dibarisan belakang, jadi masih sempet kabur, hehehhh. Dan tadaaa, seperti yang anda lihat pada Gambar 1, kami duduk ngemper dibagian pinggiran kapal, makan bekal seadanya, sambil menikmati suasana pemandangan laut malam, diiringi hembusan angin yang setia terus menemani tiada henti. Jarang-jarangkan malem-malem bisa melihat lautan luas, huhuhuuu.

Keesokan paginya, kami sampai di terminal bus Bandung, dari situ kami naik taksi online menuju daerah Bandung Barat. Sesampainya di daerah Parongpong, kami langsung nyaman dengan suasana pegunungan yang ada di sana, dingin dan sejuk.

Foto: Dokumentasi Penulis.

Setelah beres-beres, mandi dan istirahan sejenak, kami memutuskan untuk jalan-jalan di lingkungan sekitar hotel sekalian mencari sarapan. Gambar 2, adalah lokasi yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, disitu kami memesan mi ayam keliling, yang kebetulan lewat. Sarapan mi ayam dengan menikmati pemandangan yang indah dan suasana yang sejuk, adalah sebuah kenikmatan yang wajib untuk disyukuri, hehehee. Satu porsi mi ayam habis, tidak terasa karena kami terpukau dengan suasana pegunungan di daerah Parongpong tersebut, padahal mahh emang laper jugaaa, wkwkwk.

Mi ayam habis, kami lanjut berjalan-jalan menikmati pemandangan alam sekitar. Pohon-pohon pinus membuatku merasa seperti berada di Korea, hahahahaha. Becanda gaiss, hehehee. Tapi jujur disini terasa nyaman sekali, pemandangan yang indah, udara yang sejuk, orang-orang yang ramah, membuat kami  merasa betah dan ingin terus singgah.

Lanjuuut, kami menghubungi LO kami, memberi kabar bahwa kami sudah berada di Parongpong, dan siap untuk mempresentasikan papper kami besok. Sebagai informasi, LO dalam perlombaan adalah sebutan untuk salah satu panitia yang bertugas untuk menangani segala kebutuhan peserta lomba yang berada dibawah tanggung jawabnya, jadi satu LO biasanya dapat menangani satu kelompok peserta lomba atau lebih. Kami diajak LO kami untuk berkeliling di kampusnya, tempat kami melaksanakan perlombaan untuk besok.

Foto: Dokumentasi pribadi

disamping, merupakan foto kami ketika berada di depan perpustakaan kampus tempat kami lomba. Satu hal yang membuat saya takjub adalah, lingkungan kampusnya yang bersih, dan semua pekerja yang saya temui di kampus adalah mahasiswa, mulai dari tukang sapu (bersih-bersih), tukang potong rumput, sampai penjaga di perpustakaan adalah mahasiswa, yaa meskipun saya menemui satu dosen pengawas di perpustakaan tersebut sih. LO kami menjawab rasa penasaran kami, ia mengatakan bahwa, hampir semua mahasiswa di kampusnya bekerja, mengelola lingkungan kampus. Jadi semua pekerjaan kampus dikerjakan oleh mahasiswanya, mereka mendapatkan pendapatan dari pekerjaan tersebut, jadi tidak ada tukang kebun dari luar yang sengaja didatangkan untuk mengurusi halaman kampus. Memang tidak semua mahasiswanya bekerja, karena ada yang sudah penuh dengan jadwal berorganisasi, seperti LO kami contohnya. Namun tetap saja rata-rata mereka semua bekerja, mengisi waktu luang disela-sela jam kosong perkuliahan. WOW KEREN. Lumayanlah, ada penghasilan, wkwkwk. Kemudian saya bertanya, “pekerjaan tersebut ditentukan oleh pihak kampus atau bagaimana?” Dia menjawab “Tidak Kak, pihak kampus akan memberikan informasi mengenai lowongan mana saja yang membutuhkan tenaga kerja, kemudian mahasiswa dapat memilih lowongan yang ia minati, kemudian mendaftar dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Jadi mahasiswanya yang memilih ingin bekerja dibagian apa”.

Ohh begitu, dalam hati aku membatin, woww, gak ada kaum rebahan dong disini, wkwkwk. Karena mereka akan malu sendiri dengan lingkungan, melihat semua kawan-kawan memiliki kesibukan masing-masing. Uwuww dehh… salutt.

2. Hari Ke-dua

Tidak ada yang spesial dihari ke-dua, karena pada hari tersebut adalah pelaksanaan lomba. Gerogi tegang, kurang percaya diri, kelu, panas dingin, itulah yang saya rasakan, ketika mengikuti suatu perlombaan. Suasana seperti itulah yang amat sangat saya benci, wkwkwk. Rasanya seperti demam mendadak ketika lomba dilaksanakan, apalagi ketika menunggu giliran untuk tampil ke depan. Rasa ini tidak hanya sekali saya rasakan, hampir disetiap perlombaan yang pernah saya ikuti, dari masih kecil hingga sekarang perasaan itu terus muncul ketika lomba dilaksanakan, meskipun ketika sudah tampil di depan untuk beberapa menit, ternyata tidak semengerikan seperti apa yang saya bayangkan (lebay emang, tapi gimana dong? Huhuhuuuu).

Nahh, menariknya lagi, setelah lomba dilaksanakan, kami diarahkan oleh panitia untuk istirahat dan makan siang. Ketika berjalan menuju tempat makan, LO kami bercerita kalau semua yang ada di kampusnya itu vegetarian, jadi makannya sayur terus. Wow, sehat sekaliii, wkwkwk. Dan benar saja, makanan yang disuguhkan semuanya sayuran, hehehee. Padahal biasanya kalau saya ikut lomba, kemudian istirahat dan makan siang, menu yang disajikan pasti tidak jauh-jauh dari daging ayam. Disini kami mendapatkan hal yang berbeda, uwuww.

Menariknya lagi, jika kami ingin minum, maka air minum dapat didapatkan langsung dari kran. Kata LO kami, air tersebut sudah melalui tahap penyaringan sehingga baik untuk dikonsumsi. Lagi-lagi WOW, mungkin karena memang letak kampusnya yang berada di daerah pegunungan yang menjaga kualitas air tetap bersih dan asli, maka airnya dapat diminum langsung melalui kran setelah dilakukan proses penyaringan tentunya.

Agak aneh memang rasanya, mengisi botol air minum kami melalui kran-kran yang tersedia, wkwkwk. Tapi percaya dehh, aman kok, hehehee. Airnya dingin gaiss, segerrr.

Dann, lagi lagi semua koki yang kami jumpai, sampai orang-orang yang membagikan piring dan nasi serta lauk, semuanya adalah mahasiswa universitas tersebut. Uhhh bener-bener uwuww, ditambah lagi sikapnya yang ramah, haduhh betah, wkwkwk.

Dihari ke-dua, acaranya tidak hanya pelaksanaan perlombaan saja, melainkan juga ada kegiatan seminar nasional, sehingga acara pada hari itu selesai ketika sore datang menjelang maghrib. Capek, lelah, letih, lesu, lunglai gaiss, wkwkwk. Ditambah lagi langsung diumunkan para juara lombanya, dan kami tidak termasuk salah satunya, huhuhuuuu.

3. Hari ke-tiga

Setelah melalui perlombaan yang cukup melelahkan, saya bersama rekan bermaksud ingin mengistirahatkan badan dan merefreshkan pikiran (eeaaaa). Hari ini adalah jadwal kami pulang ke Bandar Lampung, rencana kami pulang akan menggunakan transpotasi bus lagi, dan ketika kami melihat jadwal bus yang jalan ke Bandar Lampung, waktunya dijadwalkan sekitar pukul 19.00 WIB untuk berangkat, oleh karena itu kami berencana untuk jalan-jalan sebentar di Parongpong, dan akan menuju terminal bus sekitar tengah hari. Darisinilah awal mula permasalahan muncul, heheheheee.

Sebelumnya kami telah melihat-lihat di internet objek wisata yang ada di sekitar hotel tempat kami tinggal, jadi ketika pagi hari kami sudah ada keputusan untuk pergi kemana. Kebetulan salah satu objek wisata yang kami temukan adalah perkebunan teh, WOW… saya merasa senang sekali, karena memang sudah dari kecil saya ingin ke kebun teh, dan hari ini keinginan itu terwujud. Gak senagaja gaisss…. Asli, senang sekali rasanya waktu itu.

Foto: Dokumentasi Penulis.

Kami menggunakan, jasa transportasi ojek online (ojol) untuk menuju perkebunan teh. Waktu itu tarif ojol masih murah, dan banyak promonya, jadi transportasi bukanlah masalah bagi kami, heheheee. Anehnya beberapa kali memesan ojek, banyak driver yang menolak atau malah membatalkan pesanan kami, tapi Alhamdulilah akhirnya ada driver yang bersedia mengantarkan kami, ekwkwkwk. Ternyata beberapa dari mereka menolak karena memang akses menuju kebun teh yang masih sulit, jalan berbatu dan menanjak, karena pohon teh memang tumbuh dengan baik di tempat atau dataran yang tinggi. Taraaa, Alhamdulilah akhirnya saya bisa melihat langsung perkebunan teh yang indah, dengan suasana sejuk yang membuat nyaman.

Beruntungnya kami dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Driver ojol yang tadi kami tumpangi bersedia menunggu kami untuk menikmati suasana perkebunan teh, karena mereka berfikir kalau mereka pergi maka kami tidak bisa pulang tepat waktu, karena tidak ada driver yang mau menjemput kami di tengah-tengah perkebunan teh seperti itu, jangankan untuk mendapatkan driver ojol yang bersedia menjemput, sinyal untuk memesan jasa mereka pun tidak ada di tengah-tengah perkebunan seperti ini, hahahahaaa. Kami diberikan waktu sekitar satu jam lebih oleh mereka. Jadi untuk transportasi pulang, kami menggunakan jasa mereka kembali dan harganya sesuai dengan harga ketika kami berangkat. Alhamdulilah, terimakasih banyak Mamang ojol, tanpa kalian apalah kamiii, heheee.

Dalam perjalanan pulang, driver ojol kembali menawarkan apakah kami masih ingin mengunjungi tempat wisata lain, mereka tahu kami dari Lampung, jadi mumpung masih di Bandung kami dipersilahkan untuk menikmati keindahan alam yang ada di sini, duuuuhhh baiknyaaa.

Kami pun mampir di salah satu air terjun, dan lagi-lagi mereka mau menunggu kami untuk singgah sejenak di tempat wisata air tejun tersebut.

Duhh Mamang semoga dipermudah segala urusan, dan dilimpahkan rezekinya. Aamiiin.

Tempat wisata air terjun kalau di Lampung kebanyakan akan berada di daerah-daerah yang masih cukup alami, dengan akses yang masih sulit tentunya, biasanya letaknya berada di pedalaman dan jalannya naik turun. Nah air terjun yang kami temukan di Bandung ini juga sama, wkwkwk. Tapi aksesnya sudah cukup bagus, jadi tidak terlalu memerlukan usaha yang berlebih untuk menikmati keindahan air terjunnya.

Kalau saya pribadi tidak masalah dengan akses yang sulit, karena saya suka berada di perkebunan, wkwkwk. Jadi, ketika menuju air terjun dengan akses yang susah, saya tetap senang karena saya menikmati suasana alamnya, keteduhan pohonnya, sampai suara hewan-hewan hutan yang saling bersahutan. Semua itu membuat tenang hati dan fikiran. Nyaman, itulah yang saya rasakan, heheee. Gambar 8 adalah salah satu jalan menuju air terjun, jalannya sempit rasanya seperti mau masuk kedalam gua, tapi ketika sudah berada diujung jalan lorong ini, hmmmm suara air terjun mulai terdengar gaiss, dan pemandangan hutan (alam) di depan mata menyambut memanjakan, uwuwww. Jalan di air terjun ini sudah dipaping jadi tidak perlu takut lumpur atau tanah merah, sepatu aman gaiss, wkwkwk. Namun berada di tempat yang lembab seperti ini harus tetap hati-hati, karena kadang jalannya licin, dan permukaan tanahnya tentu naik turun, jadi kalau kepleset tetep bisa nggelundung, wkwkwk.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Mohon maaf karena penulis adalah orang yang tidak pandai berpose ketika difoto, hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 9, alangkah baiknya jika gambar tersebut hanya menunjukkan keindahan pemandangan alam air terjun, tanpa adanya seseorang yang berdiri gak jelas ditengah-tengahnya, wkwkwk. Mengganggu pemandangan saja (soalnya saya sudah mencari foto air terjun yang benar-benar hanya pemandangannya saja, tapi tidak ada. Semua ada sayanya, dan semua posenya gak ada yang bagus, hanya Gambar 9 inilah yang lumayan. Heran!!! Hahahaha).

Sekitar pukul 11.00 WIB, kami memutuskan pulang ke penginapan, untuk mengambil barang bawaan dan langsung memesan jasa transportasi online untuk menuju terminal bus Bandung. Kami sudah ada perasaan was-was sebenarnya, kalau-kalau tidak kebagian tiket. Kalau bus gak mungkin ketinggalan gaiss, karena bus berangkat setelah maghrib sekitar pukul 19.00 WIB. Masalahnya adalah jika kehabisan tiket mah ya sama baeee.

Dan benar saja, ketika kami sampai di terminal tiketnya hanya tersisa satu, kata Bapak yang melayani pembelian tiket, bisa aja Mba berdua tapi yang satu nanti palingan di tempat tidur sopir. Kami langsung diam,”hah, yang bener aja Pak?”. Masalahnya ini bukan perjalanan yang sebentar. Huhuhuhuuu. Kami bingung, mulai takut. Bapak penjaga tiket menyarankan kami untuk membeli tiket buat besok saja, dan untuk malam ini mencari penginapan terlebih dahulu. Kami hanya terdiam, memikirkan sisa uang yang kami punya. Uangnya hanya tersisa sekitar Rp. 150.000, setelah dipotong diperkirakan untuk transportasi pulang. Huaaaa gupekk.

Untungnya di depan terminal bus adalah stasiun kereta api, jadi kami masih berharap dapat naik kereta sampai pelabuhan merak, dari situ kami minta untuk dijemput saudara yang ada di Lampung. Akhirnya kami berjalan menuju stasiun yang ada diseberang jalan, tas dan barang bawaan lainnya kami titipkan di terminal bus.

Di stasiun kami melihat antrian panjang orang-orang yang mau memesan tiket, kami langsung ikut antri dibelakangnya. Setelah sekian lama, alhamdulilah tiba giliran kami untuk memesan tiket. petugasnya langsung memberitahukan harga tiket yang harus kami bayar setelah kami menyebutkan stasiun tujuan, ternyata tiketnya mahal gaiss, wkwkwk, saya lupa berapa yang harus dibayar pada waktu itu, yang saya ingat setelah mendengar harga yang disebutkan, kami hanya diam, kemudian langsung mundur dari antrian tanpa sepatah katapun. Mungkin waktu itu Mbak-mbak yang melayani pembelian tiket KAI kebingungan karena kami langsung pergi begitu saja, maaf ya Mbak kami juga lagi shock soalnya, wkwkwkwk. Sebenarnya maluuuu gais, udah antri panjang-panjang, eh pas nyampek depan langsung mundur, hahahahahaa.

Kami kembali ke terminal, pengen nangis tapi maluuu, kami hanya duduk terdiam, capekk gaiss, hahahaa. Akhirnya kami mencoba menghubungi panitia lomba yang di Bandung Barat, gak enak sebenarnya tapi ya gimana dong ☹. Kami menghubungi LO kami, menceritakan bahwa kami ketinggalan bus, sedangkan untuk menyewa penginapan kami merasa uang kami kurang, padahal pas itu belum survey tempat juga sihh. LO kami langsung bersedia menawarkan bantuan menanggung biaya penginapan, setelah berdiskusi bersama panitia. Mereka langsung bertanya berapa kekurangan yang kami butuhkan, kami sangat malu sebenarnya, tapi karena memang kami membutuhkan, akhirnya kami meminta Rp. 100.000, maluuu gais, huhuuu. Tapi kata temenku, “udah gak papa Ros, setelah ini kan kita tidak ketemu mereka lagi” wkwkwk. Untuk itu kepada semua panitia lomba pada event yang kami ikuti saat itu, terimakasih banyak untuk segala keramahan, bantuan dan kebaikan kalian, terutama LO kami, hehehehh. Setelah uang ditransfer, kami kembali ke stasiun di seberang jalan untuk ke ATM, setelah itu kami langsung mencari penginapan di daerah belakang sekitar terminal bus.

Hari sudah menjelang sore, ditambah lagi hujan gerimis, rasanya lengkap sekali kesedihan ini, wkwkwk. Kami berjalan dari hotel satu menuju hotel lainnya, menanyakan harga kamar untuk satu malam, akhirnya setelah mengunjungi beberapa hotel, kami menemukan harga yang cocok, yaitu Rp. 150.000 untuk satu malam. Alhamdulilah. Kami kembali ke terminal untuk mengambil tas dan barang-barang kami, lalu beristirahat di hotel, uhhuuuyyy, hahahahaa.

Setelah sholat maghrib, kami memutuskan untuk keluar mencari makan, kami makan bakso malang di dekat terminal bus, ketika makan rekanku berfikiran untuk jalan-jalan keluar sebentar, karena tarif jasa ojol waktu itu memang sedang murah-murahnya, banyak promo, wwkwk. Kami memutuskan untuk pergi ke alun-alun Bandung, karena jika kami lihat di google jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada.

Foto: Dokumentasi Penulis.

Seperti yang terlihat pada ambar  disamping, sebelum kami ke alun-alun, kami mampir ke jalan Asia-Afrika yang cukup hits dimedia sosial, hehehee. Banyak badut atau orang yang berdandan seperti hantu dan lain sebagainya, kami ingin berfoto bersama mereka, tapi takut disuruh membayar, wkwkwk. Akhirnya kami Cuma melihat-lihat, menikmati pemandangan di sekitar.

Sudah saya katakan sebelumya, saya memang tidak pandai bergaya dalam foto, wkwkwk. Apalagi foto pada Gambar 10, ihhh gak maksud banget, hahahahaa. Kan akan lebih bagus kalau gambar tersebut diambil tanpa ada saya didalamnya, hadeuhh.

Dari jalan Asia-Afrika kami berjalan menuju alun-alun masjid raya Bandung. Senang sekali rasanya berada disana, berjalan di lapangan yang berumput, melepas alas kaki, dan memandang indahnya masjid raya Bandung. Kami mengambil beberapa foto sebagai kenangan, hehee, salah satunya adalah foto pada Gambar 11 berikut, kami menggunakan timer karena sungkan untuk meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokan, lebih tepatnya gak berani sih, wkwkwk

Kami menikmati waktu kami selama berada di alun-alun. Berfoto meskipun tidak ahli kalu difoto, duduk santai memperhatikan aktifitas orang lain dan lain sebagainya. Alhamdulilah kami bahagia, hehehee.

Intinya selalu bersyukur disetiap keadaan gaiss, karena bersyukur akan membuat kita bahagia. Ketika kita dapat menerima dan menikmati apa yang kita miliki, kita akan hidup dengan tenang. Bukankah hidup tenang dan bahagia adalah impian semua orang?

Dan ketika mendapat kesulitan, percayalah Allah maha pengasih dan penyayang, Dia tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan setiap hamba-Nya. Akan ada hikmah dibalik semua musibah, tergantung bagaimana sesorang menyikapi semua permasalahan hidupnya.

Jadi, ini cerita pengalaman perjalananku yang paling berkesan saat berada di Bandung, heheee. Hal ini dikarenakan saya bersama rekan melakukan perjalanan secara mandiri, tanpa ada pendampingan dari orang tua ataupun guru, hehehee, jadi ketika ada permasalahan, kami harus bisa mengatasinya sendiri, huhuhuuu.

Kami bersyukur dan bahagia dapat melakukan perjalanan ini, sebenarnya masih banyak cerita menggelikan tapi lucu untuk dikenang selama kami berada di Bandung, wkwkwk.

Dan untuk Bandung, semoga kami dapat berkunjung kembali, menikmati beragam keindahan alam dan budaya yang engkau miliki.

See you.

Oh iya, sedikit lagi gaiss….

4. Hari Ke-empat

Keesokan paginya, kami memutuskan untuk keluar hotel lagi, karena jadwal check outnya jam 13.00 WIB. Kami berniat pergi ke Pasar Raya Bandung, hanya ingin melihat-lihat dan menghabiskan sisa uang yang masih ada untuk membeli oleh-oleh, wkwkwk. Ketika melewati lobi hotel, kami langsung disambut oleh pelayan hotel dan ditanya “mau sarapan apa Mba?”, kami bengong, rekan saya langsung nyeplos “dapat sarapan Pak?”, pelayan hotel menjawab “iya Mbak, paket dari hotel. Mau nasi goreng atau roti bakar Mbak?”, (dalam hati ngucap, Alhamdulilah ya Allah dapat sarapan, wkwkwk) Annisa langsung bilang “Nasi goreng aja Ros, biar kita makan nasi, sekalian sarapan”, oke saya sih iya aja, meskipun awalnya saya mau milih roti bakar, tapi setelah dipikir-pikir, benar juga kata Annisa, sebaiknya kita makan nasi, biar kuat, wkwkkwk. Ketika sedang menikmati sarapan kami masing-masing, tiba-tiba Annisa bilang “ihh, coba tadi kamu pesan roti bakar aja ya Ros”, saya langsung bertanya “lah kenapa emang?”, “biar kita bisa saling icip-icip kalau menunya beda” jawab Nisa. Lahh, iya jugaaaaa, hahahahaa.

Setelah sarapan, kami langsung pamit sama Bapak pelayan hotel, dah berasa Bapak sendiri, wkwkwk. Kami menggunakan jasa transportasi angkot menuju Pasar Raya Bandung. Sesampainya di pasar…..

Kepagiaaaaaannnn, ya Allah, sampai di sana banyak blok-blok toko yang belum buka, hahahahaa. Akhirnya kami duduk aja, sambil menunggu pasarnya buka, rekan saya Annisa mengajak jalan ke lantai berikutnya, kata dia malu kalau duduk, pasarnya belum buka soalnya, nah terus tak jawab lantai atas juga sama ajaaa, belum buka juga. Kami hanya tertawa, menertawakan diri sendiri, hahahahaa. Tak berselang lama toko-toko mulai buka. Yaahhh namanya juga di pasar, rencana sebelum berangkat cuma mau melihat-lihat, tapi giliran sudah sampai di tempat, banyak sekali barang yang menarik untuk dibeli, namun karena kami memang tidak membawa banyak uang, ya akhirnya beneran cuma lihat-lihat doang, hahahahahaaa.

Ada satu barang yang pingiiiin banget saya beli, yaitu baju batik, baguuusss gais. Tapi apalah daya, harga diatas Rp. 100.000, jadi mikir-mikir lagi mau beli dengan uang yang… yahh, segitulah, wkwkwk. Kami berjalan lagi, kemudian membeli mukenah terusan dengan bahan parasut, tapi yang tebal / tidak nerawang, nah pas membeli mukenah saya mendapat kabar bahwa dana beasiswa saya baru saja cair. Uh senengnyaaa ya Allah, emang lagi butuh sekali duit, alhamdulilah beasiswanya cair, baju batik yang tadi langsung kebayang-bayang, wkwkwk. Setelah membayar mukenah kami langsung menuju ATM yang ada di pasar, sudah dua kali memasukkan PIN salah terus gaiss, duhhh deg-degkan nihh, satu kali lagi salah bakal keblokir, sedangkan lagi butuh sekali uangnya, huhuhuhuuuuu. Duhh diri ini, ada-ada aja sihhh, pakek lupa segala, hmmmmm.

Kami langsung kembali ke hotel, nah karena tadi pas berangkat naik angkot kami merasa jalan menuju pasar itu dekat, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki, muter-muter gaiss, namanya juga pasar di kota, banyak bangunan tinggi, jadi kami tidak menemukan jalan utama yang kami lalui tadi, hahahahaha. Ampun aing mah, udah tau baru pertama ke situ, sok-sok an mau pulang jalan kaki, hahahahaha. Tapi hebatnya kami tetep kekeh mau jalan kaki tau, saya berinisiatif membuka google maps, karena hotel kami berada di daerah terminal bus yang juga berseberangan letak dengan stasiun Bandung, akhirnya kami memutuskan pencarian Stasiun Bandung di maps sekalian mau ke ATM yang ada disana, karena sebenarnya     kami lupa nama hotel kami gaiss, wkwkwk.

Lanjuuut, akhirnya sampailah kami di stasiun Bandung berkat bantuan google maps, terimakasih google, heheheehh. Tapi masalahnya adalah kami malah menuju stasiun yang di belakang, ternyata stasiun Bandung itu ada yang di depan dan ada yang di belakang. Nah meskipun posisinya depan belakangan, orang biasa gak bisa lewat nembus dari belakang, harus jalan keluar dulu, muter baru bisa ke depan. Pas sampai di stasiun belakang dan baru tau kalau itu gak bisa tembus dilewati langsung ke depan, kami hanya duduk, terdiam, melepas penat untuk sementara. Astaghfirullah hal ‘adziiim, kesalahan apalagi iniii. Mau lanjut jalan lagi, di luar masih hujan, huhuhuu lengkap lagi penderitaan, wkwkwk.

Karena waktu terus berjalan, kami menerskan berjalan meskipun masih gerimis, yahh untungnya rekan saya adalah orang periang dan pandai bercanda jadi capeknya gak kerasa, heheheee. Ternyata menuju ke stasiun yang di depan juga gak langsung muter gitu aja gaiss, jalannya agak jauh dulu baru bisa ke depan, hmmmmm. Sesampainya pada stasiun yang di depan, kami langsung ke ATM yang ada di sana, dikiranya yang di pasar eror. Dan taraaaaa, salah untuk yang ke-tiga, ke-empat dan ke-lima kalinya, tentu saja keblokiiiiirrr, hahhahahaaa. Ya Allah, sudah keblokir baru sadar, oh ternyata saya lupa password, bukan ATM pasar yang eror, kataku ke rekanku, hahahahahaaa kami malah tertawa bareng. Memang belum rezeki kali yaa, rezekinya nanti pas pulang ke Lampung, wkwkwk.

Kami langsung kembali lagi ke hotel, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa kembali, jangan sampai ada yang tinggal gaiss, maklum kami berdua pelupa, heheee. Setelah sholat dzuhur kami langsung keluar dari hotel, sebelum diusir, hahahahaa. Kami langsung berjalan menuju ke terminal bus, kami sudah memesan tiketnya kemarin pas ketinggalan bus, hehehehh. Bus berangkat pukul 19.00 WIB, jadi dari habis dzuhur kami hanya duduk, mainan HP, dan tiduran menunggu bus berangkat. Alhamdulilah akhirnya sampai di Lampung dengan selamat gaiss, heheee.

Itu cerita perjalanan kami, menurutku itu yang paling berkesan, karena sebenarnya banyak kesulitan yang kami alami, hanya saja karena kami bawa santai dan banyak becanda jadi tidak terasa, lagipula saya tidak sendirian, jadi kesulitannya bisa dibagi dengan kawan, hasilnya jadi lebih ringan, hehehee. Pernah baca tulisan orang kurang lebihnya seperti ini, “ketika kamu ada masalah maka tertawakanlah masalah tersebut supaya ia malu kemudian pergi, seperti halnya kamu yang ditertawakan orang, kamu pasti akan pergi jauh-jauh”, yaahh, tergantung sudut pandang orang-orang mau mengartikannya seperti apalah yaa, tapi bagi saya pernyataan dalam tulisan tersebut ada benarnya, hahahahahaa.

Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari cerita perjalanan saya, kalau tidak ada manfaatnya, mohon dibaca kembali sampai anda menemukan manfaatnya, pokoknya harus ada, wkwkwk, maaf saya memaksa. Dan terakhir, mohon maaf jika ada kesalahan serta untuk semua salah kata dan kekurangan dalam penulisan cerita ini. Terimakasih.

 

Penulis: Rosidah Amini

Instagram: rosidah_amini

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×