Loading...

Foto: unsplash.com

Halo temen-temen, ini adalah pertama kalinya aku membuat artikel untuk lomba lho, hehe. Pada artikel ini aku akan menceritakan pengalamanku jalan-jalan ke pantai Balangan. Itu juga pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah dengan mengendarai motorku sendiri. Biasanya kalau pergi jauh-jauh begitu bareng sama keluarga. Nah, itu kenapa pengalaman ini yang akan kubahas pada artikel ini.

Pantai Balangan adalah salah satu pantai berpasir putih dengan pemandangan sunset yang mempesona di Bali. Tepatnya di kecamatan Kuta Selatan. Masih tetanggaan nih sama pantai Kuta yang terkenal itu lho. Untuk mencapai pantai Balangan diperlukan waktu sekitar satu jam dari pusat kota Denpasar.

Akses menuju pantai Balangan menurutku sudah cukup baik. Hanya saja jika pulang dari pantai Balangan pada malam hari akan sedikit tampak menyeramkan. Itu dikarenakan jalan menuju lokasi pantai terbilang cukup kecil dan jarang penduduk. Terdapat pepohonan rimbun di sekitar jalannya.

Aku pergi jalan-jalan ke pantai Balangan bersama pacarku. "Ehemm, pancaran aja nih kerjaannya!" Hehehe, maklum lah ya anak muda. Sebenarnya kami merencakan pergi ke pantai Balangan pada tanggal 17 Agustus 2020. Si doi ngebet banget fotoan sambil bawa bendera Merah Putih. Katanya, "Sudah kebiasaan nih fotoan bawa bendera setiap tujuh belasan."

Namun, karena ada kendala pada hari itu yang tidak memungkinkan untuk pergi ke pantai Balangan. Kami memutuskan pergi di lain hari saja. Satu minggu setelah itu, kami pergi ke pantai Balangan, tepatnya pada hari Sabtu.

Aku termasuk orang yang introvert. Jarang pergi keluar. Jangankan pergi keluar, keluar rumah aja jarang. Aku pergi kalau diajak keluarga aja atau diajakin si doi. Kalau pergi sendiri belum pernah jauh-jauh.

Langsung aja nih ke perjalanannya ya, udah pada gak sabar kan? Jadi, aku tinggal di kota Denpasar. Untuk mencapai pantai butuh satu jam dari rumahku seperti yang sudah aku katakan tadi. Maka dari itu kami memutuskan berangkat pada pukul empat sore.

Saat perjalanan menuju lokasi, tidak terjadi masalah. Hanya saja ketika sudah hampir sampai di pantai, si doi kebingungan membaca Google Maps. Aku sih ngikut aja apa katanya. Kalau belok ya belok, lurus ya lurus.

Kami melewatkan satu belokan. Namun Google menyarankan jalur lain untuk ditempuh. Ya..., sudahlah, sudah terlanjur jauh lewatnya. Aku juga enggan memutar balik.

Kami diarahkan ke suatu tempat yang belum sama sekali pernah kami lihat. Seperti perumahan tapi masih sedikit terdapat rumah. Jalannya pun luas dan di pinggiran jalan tampak berbaris ratusan tanaman hijau yang menyejukkan mata.

Wah, gak sia-sia juga nih nyasar. Eh, ketemu tempat yang indah begini. Kami sangat menikmati perjalanan di jalanan tersebut.

Tinggal sekitar dua kilo lagi untuk sampai di pantai. Tiba-tiba kami teringat dengan bensin. Aku kaget melihat jarum bensin sudah menunjuk pada Huruf E merah. Sebentar lagi motor ini akan mati. Di saat itu aku sangat ketakutan.

Kami berada di daerah jarang penduduk. Tidak terlihat warung atau semacamnya di dekat sana. Si doi mencoba menenangkan dengan mengatakan pasti ada penjual bensin di dekat sini. Wah, benar saja. Beberapa saat setelah ia mengatakan itu, terdapat penjual bensin eceran di pengkolan jalan.

Untung aja. Setelah mengisi bensin, kami melanjutkan perjalanan. Sedikit lagi sampai. Dari belakang banyak motor-motor menyalip kami. Sepertinya mereka akan ke pantai juga.

Google mengatakan seidikit lagi sampai. Sudah terlihat motor dan mobil yang mengantre untuk membayar pakir di ujung jalan. Beberapa menit kemudian kami sudah di pantai.

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Ternyata melebihi perkiraan. Mungkin karena kami terlalu lambat di jalan karena masih asing dengan jalanan sekitar sini.

Sebentar lagi sunset, si doi sudah gak sabaran banget. Kami pergi mengikuti orang-orang yang berjalan di dekat kami. Kami sama sekali tidak melihat pasir. Ternyata kami berjalan menuju tebing di atas pantai.

Pemandangan dilihat dari atas tebing pantai Balangan

Foto: instagram.com/balanganbeachbali

Wow, rame banget disini. Kami berjalan ke ujung tebing. Melihat-lihat sebentar. Sangat keren pemandangan dari atas sini. Aku bisa melihat pantai di bawah sana. Tempat yang sangat cocok bagi kamu yang ingin mempercantik tampilan feed sosmedmu.

Kami tidak terlalu lama berada di atas. Karena sudah tidak terdapat tempat duduk lagi. Ditambah si doi maunya berfoto di dekat bibir pantai dengan latar belakang sunset.

Kami mencari jalan menuju ke bawah sana. Hanya perlu mengikuti jalan yang mengarah ke bawah di dekat parkiran motor. Menuruni anak tangga. Mulai terdengar deburan ombak menghantam bibir pantai. Aroma khas pantai tercium membuat tenang.

Seperti pantai pada umumnya, di pantai Balangan juga ada penjual jabung bakar dan pedagang lumpia. Pada saat kami ke pantai hari itu, air sedang surut sehingga bebatuan di bibir pantai muncul di permukaan.

Bebatuan dan karang di pantai Balangan

Foto: instagram.com/balanganbeachbali

Sesampainya di sana, kami langsung mencari tempat berfoto yang bagus. Doi mau berfoto di ujung bibir pantai, di dekat air. Untuk menuju kesana kami harus melewati bebatuan dan karang pantai yang masih basah tersebut. Aku melihat kepiting-kepiting kecil berlalu-lalang.

Aku memintanya cukup disini saja. Namun doi kekeh ingin berfoto di ujung sana. Ya sudah, aku turuti saja berjalan sedikit lagi. Tepat saat kami akan berfotoan, langit pun berubah warna. Warna jingga yang dipancarkan sangat indah.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat sunset secara langsung. Aku dapat melihat secara jelas lingkar matahari berwarna kuning itu. Perlahan-lahan tenggelam di lautan. Sungguh cantik pemandangan di kala itu. Aku sangat menikmati sore itu. Menunggu hingga mentari tenggelam sempurna.

Pemandangan sunset di pantai Balangan

Foto: instagram.com/balanganbeachbali​​​​​​​

Semakin larut, bukannya semakin sepi, pantai ini malah tampak lebih ramai. Banyak kulihat pasangan-pasangan ABG seperti kami, ada pula sekumpulan keluarga membentangkan alas untuk bersantai bersama, terlihat juga sekelompok pemuda-pemudi tertawa dengan riangnya.

Setelah selesai berswafoto, kami memutuskan untuk pulang agar tidak terlalu malam sampai di rumah. Hari sudah mulai gelap. Sialnya saat pulang tidak ada sinyal di daerah ini. Jadi, kami tidak bisa langsung menggunakan layanan google maps untuk pulang.

Aku memutuskan untuk mengikuti orang-orang di depanku. Mereka bergerombol membawa sepeda motor. Sepertinya mereka sama seperti kami. Mereka tidak dapat mengakses internet. Mereka berhenti di pinggir jalan. Aku hampir ikut berhenti. Mereka tampak kebingungan. Sepertinya mereka juga bukan orang lokal daerah Balangan.

Aku tetap memacu motorku melewati jalanan gelap. Warung-warung sudah tutup. Untung saja sudah membeli bensin tadi sore. Terlihat lampu belakang mobil jauh di depan. Aku mengikuti kemana arah mobil itu. Sesekali melihat spion, Aku melihat orang-orang tadi yang aku ikuti berbalik mengikutiku.

Aku harap mobil ini akan menuntun kami ke jalan raya yang lebih besar. Suasana di jalan itu sangat sepi dan gelap. Di depanku hanya ada mobil yang kuikuti, di belakang ada sekitar tiga motor mengikutiku. Kami saling ikut-mengikuti.

Kepercayaanku pada mobil di depan tidak salah. Ia menuntun kami keluar menuju jalan raya. Dan saat itu juga Maps dapat kembali digunakan. Akhirnya kami pulang dengan selamat walaupun sedikit memakan waktu dan tenaga di perjalanan. Keesokan harinya, aku terbangun kesiangan. Aku chat doi juga ternyata belum bangun.

Begitulah cerita pengalamanku berjalan-jalan ke pantai Balangan. Mungkin tidak begitu menarik ya hehe... Ini adalah serba pertama kalinya, maklum ya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca kisahku. Sampai jumpa di lain kesempatan.

 

Nama Penulis: I Putu Alit Prayoga

Instagram: www.instagram.com/alitprayogaa_

Facebook: Alit Prayoga

Press Enter To Begin Your Search
×