Loading...

Ilustrasi Foto: Pixabay

Kalau bahas travelling, yang diingat pertama kali adalah kisah 4 hari 3 malam di Sawarna, 17 April 2014. Disamping tujuannya untuk surprise ulang tahun doi, perjalanan ini adalah backpacker pertama yang kukonsepkan sendiri. Dan tahun ini, aku berencana untuk memberinya hadiah “sunset”.Aku mulai berselancar didunia maya 1 bulan sebelum acara. Mencari tahu transportasi yang harus digunakan, barang yang harus dibawa dan riset biaya se-minim mungkin. Maklum, masih anak kuliahan. Dan pencarian itu membutuhkan waktu yang lama karena segala detail harus kuperhatikan.

Mendekati hari-H, aku semakin panik karena teman-teman yang kuajak banyak yang membatalkan diri untuk ikut, mulai dari masalah izin, budget sampai perjalanan yang masih abu-abu. Sedih rasanya kalau tiba-tiba semua rencana yang sudah kukonsepkan dengan sematang ini harus berakhir. Tapi hal ini tidak boleh batal!

Disisi lain, dua hari sebelum keberangkatan, aku memberanikan diri untuk izin ke calon mama mertua agar perjalanan kami berjalan lancar. Karena sudah terbiasa setiap tahunnya meminta tolong, Alhamdulillah rencanaku direstui selancar jalan tol. Tak lupa, sebelum pulang aku menitipkan sedotan, yang akan diberikan pada tanggal 17 malam, yang didalamnya ada sepucuk kertas yang berisi petunjuk tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk ke Sawarna. Sesuai rencana, doi harus pergi sendiri dihari ulang tahunnya, menyusulku yang sudah berangkat duluan.

Akhirnya berangkatlah aku dan ketiga temanku, yang semuanya laki-laki, dari kampus pukul setengah 11 siang, menuju stasiun Kebayoran. Untuk perjalanan low budget ini aku memilih kereta dari jalur Rangkasbitung. Sesampainya disana, kami langsung ke Terminal Mandala menuju pangkalan bus yang akan kami tumpangi sampai Kecamatan Bayah.

Ternyata, jalanan menuju Bayah bukan main rusaknya. Banyak jalanan berlubang, tidak rata dan penuh dengan gundukan. Debu jalanan dan mual pun menemani kami selama perjalanan. Dengan pemandangan hutan dikiri-kanan jalan, membuat kami makin tidak sabar untuk sampai tujuan. Beberapa kecamatan sudah kami lewati dan ternyata Bayah masih jauh didepan. Saking jauhnya, dari setengah bus kursi penumpang yang tadinya terisi, sekarang hanya sisa kami berempat ditambah supir dan dua kernet. Dan perjalanan ini memakan waktu hingga hampir 6 jam! Terbayang kan bagaimana capek dan lengketnya badan ini?

Sesampainya di Bayah, kami langsung disambut hangat oleh abang ojek yang cukup memaksa kami untuk menggunakan jasanya. Karena sudah pukul 20.31, kami memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari.

Kami mulai menyusuri jalan sekitar dan mencari tempat untuk singgah. Masjid, pom bensin dan warung yang sudah jadi incaran kami menginap malam itu, ternyata tutup semua. Saking putus asanya, kami memilih untuk istirahat di kantor polisi yang masih terang benderang. Aku, yang ditumbalkan oleh ketiga temanku, meminta izin kepada polisi jaga agar bisa menempati gazebo yang ada di depan polsek. Beruntung kami diijinkan dan dipersilahkan menggunakan mushola untuk beristirahat. Beralaskan karpet mushola dan ransel sebagai bantal, membuat kami pulas tertidur ditemani gigitan nyamuk malam itu.

Mushola Polsek Bayah (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Keesokan harinya, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Sawarna dengan ojek. Disamping itu, pacarku baru memulai perjalanannya dari Jakarta. Beruntung dia mau berangkat sendiri dan mengikuti apapun arahan yang kuberikan.

Sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Sawarna. Lelah kami terbayar sudah. Pemandangan karang, ombak dan wangi lautnya membuat kami tenang dan bahagia. Tak henti-hentinya kulihat wajah teman-temanku tersenyum lebar dan puas. Walaupun teriknya matahari, tak menghalangi kami yang langsung berlari menuju pantai. Kondisi saat itu cukup sepi, sehingga seperti pantai milik pribadi.

Kami berjalan menyusuri pantai sembari mencari penginapan. Kami bertanya sana sini tapi belum menemukan harga yang cocok. Sampailah di warung Kang Uday, tepat di Pantai Ciantir, yang mau memberikan kami harga 100.000/malam. Agak berat saat itu, sampai kami menawar 80.000/malam, dengan alasan kami membawa tenda. Dengan kebaikan hati, mereka mengiyakan karena melihat wajah kami yang sudah lelah dan lusuh.

Sembari tiga laki-laki itu bermain dilaut, aku memilih istirahat sejenak dan berbincang dengan pemilik warung. Ternyata tak butuh waktu lama untuk bisa dekat dengan Teh Reni, istri kang Uday, dan ibunya yang sedang berjaga diwarung itu. Kami mulai bertukar cerita, dan disaat itulah aku merasa tidak salah memilih tempat peristirahatan.

Aku menunggu pacarku yang tak kunjung sampai, karena ternyata ban bus yang dikendarainya pecah sampai 2 kali. Sembari menunggu, kami menghabiskan waktu saat itu dengan menikmati laut, melupakan sejenak tumpukan tugas yang menanti kami di hari Senin. Dari pagi sampai sore kami terus bermain, tak peduli walaupun tangan kami sudah jelas berubah warna.

Akhirnya, doi pun datang menjelang maghrib dengan kondisi berantakan. Ia mengaku lelah dengan perjalanan hari ini. DItemani dengan matahari yang hampir sepenuhnya tenggelam dan es kelapa muda sebagai pengganti kue, aku sangat bangga bisa memberikan hadiah sesuai dengan harapan. Disitu aku belajar, segala sesuatu yang indah, tantangannya pasti berat.

Suasana Pantai Ciantir, Sawarna (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Hari selanjutnya kami masih tinggal diwarung yang sama dan seharian bermain di pantai. Kami menyusuri dari ujung ke ujung. Bermain ombak, pasir, kepiting, sampai melewati arus laut deras yang mengerikan. Karangnya kokoh, pasirnya bersih, ombaknya bagus untuk berselancar, ditambah dengan langitnya yang mendukung kami untuk menikmati pantai. Satu kata untuk suasana disana, “sempurna”.

Sampai tibalah malam hari, dimana kami mulai sedih harus kembali ke kehidupan nyata esok pagi. Tapi malam itu sangat berbeda, bintang bertaburan diseluruh penjuru langit. Suara ombak lebih menggema dari sebelumnya dan angin yang bertiup kencang sembari menemani kami menyantap indomie rebus telur.

Suasana depan Warung Kang Uday (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kami akhirnya pulang melalui rute Pelabuhan Ratu. Sengaja kuatur demikian agar kami bisa merasakan sensasi pulang-pergi yang berbeda. Walaupun kami pergi dari Kamis, tapi perjalanan itu terasa sangat sebentar.

Tahun 2017, aku kesana dan mengunjungi warung Kang Uday. Kondisinya masih ramai dengan pengunjung lain. Aku lihat ada Teh Reni didalam sedang membuat nasi goreng. Aku hanya diam dan duduk disalah satu bangku yang menghadap langsung kelaut. Lalu Teh Reni menghampiriku. Aku memesan 2 es kelapa muda dan setelahnya aku iseng bertanya, “Teh Reni ya?”.

Wajahnya kaget dan langsung bilang dengan yakin, “Teh Munti?”. Seketika aku terkejut karena saat itu aku yakin kalau mereka lupa denganku. Teh Reni langsung menggandeng tanganku menuju dapur menemui ibu. Dan ibu pun langsung memelukku. Ternyata, walaupun sudah 3 tahun tidak berkabar, tapi aku tetap merasa warung sederhana itu seperti rumah, sangat nyaman dan hangat.

Sampai saat ini, aku dan Teh Reni masih suka bertukar pesan. Ia mengatakan bahwa warungnya harus digusur, sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Perih rasanya mendengar itu. Bahkan saat aku menulis ini pun sedihnya masih terasa. Tempat itu bisa saja hilang, tapi kenangan dan pelajarannya tetap abadi.

 

Penulis: Muntiyara Anindita

Instagram: muntimonti

Twitter: @muntimonti

Facebook: Muntiyara Anindita

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×