Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Long Weekend Agustus lalu tentu menjadi tanggal yang ditunggu-tunggu para traveler. Ya, rencana traveling tahunan pasti sudah direncanakan sejak jauh hari. Dan jujur saja di tengah pandemi seperti ini terselip rasa khawatir saat bepergian. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, inilah pengalaman pertama saya traveling di tengah pandemi Covid-19.

Destinasi traveling untuk tahun ini adalah Kalimantan Timur. Dikarenakan Kalimantan Timur sangat luas sedangkan waktu berlibur cuma 5 hari, maka destinasi wisata yang akan dituju dibatasi di sekitar Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara terlebih dahulu. Itinerary sudah disusun, jadilah saya berangkat ke Balikpapan tanggal 20 Agustus 2020. Dan kali ini saya berangkat bersama travel buddy paling heboh yang pernah saya jumpai.

Terbang dari Yogyakarta International Airport pukul 09.40 WIB dan tiba di Balikpapan sekitar pukul 12.30 WITA. Wow, tiba-tiba merasa lebih tua satu jam dari biasanya. Setiba di Balikpapan, kami dijemput oleh teman lama yang kini bekerja di Samarinda. Kami mampir ke tempat sepupu dulu. Jadi, bisa dibilang ini adalah traveling sekaligus silaturahmi. Lumayan ya, traveling-nya bisa sekaligus diniatkan ibadah.

Pukul 16.00 WITA kami bertolak ke Samarinda dari rumah sepupu yang terletak di sekitar Kecamatan Balikpapan Kota. Menuju Samarinda, kami sempatkan berhenti sejenak di Pantai Melawai kemudian melewati Pelabuhan Semayang. Dalam perjalanan menuju Samarinda, kami sengaja memilih rute melewati Taman Hutan Raya Bukit Soeharto daripada menggunakan jalan tol. Menikmati matahari terbenam di Bukit Soeharto jelas memberikan pengalaman yang tak terlupakan terlebih sempat melihat Lutung Merah di salah puncak pohon di sepanjang jalan raya.

Setibanya di Samarinda, tepat sebelum menyeberangi Sungai Mahakam, kami menikmati makan malam ditemani oleh tiga porsi sambal gami hangat yang begitu khas. Saking istimewanya, aroma masakan sambal gami terus melekat di pakaian hingga kami tiba di hotel.

Hari kedua, kami meluncur ke Tenggarong. Pulau Kumala adalah tujuan utama kami. Pulau Kumala yang terletak tepat di tengah-tengah Sungai Mahakam ini memiliki pemandangan yang spektakuler. Tiket masuk yang terbilang sangat murah dan hanya perlu membayar Rp50 ribu untuk sewa sepeda yang bisa dibawa keliling pulau sepuasnya.

Dari pulau ini kita bisa melihat Jembatan Kutai Kartanegara yang membentang dengan megah dan terlihat juga Stadion Aji Imbut dari kejauhan. Sayang sekali banyak bangunan dan wahana yang sudah tidak terawat. Jika saja pengelolaan dilakukan secara lebih maksimal, Pulau Kumala akan menjadi jauh lebih cantik.

Kembali menuju Samarinda, kami memilih jalan pulang dengan menyusuri sepanjang Sungai Mahakam sambal menikmati matahari terbenam. Hari ketiga, sebelum bertolak kembali ke Balikpapan, kami menghabiskan waktu pagi di Masjid Islamic Center Samarinda. Sayang sekali Menara 99 Asmaul Husna masih belum buka sehingga rencana menikmati pemandangan Kota Samarinda dari ketinggian 99 meter pupus. Selepas sholat dhuhur, barulah kami berangkat menuju Balikpapan.

Perjalanan ke Balikpapan, kami sengaja melewati Sanga-Sanga untuk melihat-lihat lahan bekas tambang yang sebagian besar sudah menjadi danau. Sangat disayangkan lubang-lubang bekas tambang tidak direklamasi ataupun direvegetasi. Tentu ini menjadi pengalaman tersendiri melihat langsung lubang galian bekas tambang yang dibiarkan begitu saja.

Perjalanan dilanjutkan melewati Jembatan Dondang yang merupakan salah satu jembatan terpanjang di Kalimantan Timur. Lumayan untuk dijadikan spot foto. Kala itu, kami disuguhi pemandangan langit biru dipadu dengan sinar matahari sore yang terpantulkan oleh aliran air Sungai Mahakam. Sebelum benar-benar memasuki Kota Balikpapan, kami habiskan petang pada hari itu di Pantai Tanah Merah di Samboja. Malam hari di Balikpapan, kami kembali bertemu dengan sepupu untuk menyusun rencana kegiatan esok hari.

Pagi buta di hari keempat, kami menjelajahi pasar; Pasar Terapung Kampung Baru Tengah, Pasar Pandansari, dan Pasar Kebun Sayur. Setelah berkeliling dan belanja buah tangan, kami pun bergegas menuju Bukit Bangkirai. Di sinilah rasa cinta kami terhadap hutan semakin bertumbuh. Setidaknya, Bukit Bangkirai memberikan gambaran tentang hutan hujan tropis Indonesia.

Bukit Bangkirai memiliki fasilitas yang cukup memadai dan paket wisata yang variatif. Tempat ini bahkan memiliki beberapa cottage yang bisa disewa untuk menginap dalam rangka rekreasi keluarga, sekadar membebaskan diri dari rutinitas kerja, atau honeymoon. Jangan lupa juga mencoba paket wisata jelajah hutan malam yang dijamin seru dan menegangkan. Jangan khawatir, pemandu selalu siap menemani dengan sangat ramah.

Salah satu wahana favorit di Bukit Bangkirai adalah “Canopy Bridge” dengan ketinggian 30 meter. Pada jam-jam tertentu seperti pagi hari, kita akan disajikan dengan pemandangan kawanan burung beterbangan. Jika beruntung, kita bisa melihat Burung Rangkong bertengger di atas pohon. Benar-benar sasaran utama para fotografer alam. Kami termasuk salah satu yang beruntung karena disuguhkan aksi burung elang terbang dari satu pohon ke pohon lain.

Jangan lupa, sebelum menginggalkan Bukit Bangkirai, pastikan kita mengadopsi tanaman atau pohon. Ide yang brilian, tempat ini mengajak kita supaya turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Selain mendapatkan plakat, kita juga berhak atas sertifikat. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami yang ikut serta mengadopsi tanaman. Tentu saja kegiatan ini kami kampanyekan ke keluarga, teman, serta kolega. Semakin banyak yang menanam pohon, semakin banyak yang sadar akan pentingnya menjaga alam, semakin baik pula untuk generasi penerus kita.

Tidak terasa kami menjelajah hutan seharian hingga matahari mulai terbenam. Tidak lupa kami mengambil foto dan video sebanyak-banyaknya sebagai kenangan. Di sisa hari keempat, lebih banyak dihabiskan untuk belanja oleh-oleh. Dan di hari terakhir kami di Kalimantan Timur, kami habiskan pagi hari untuk jogging di area hutan kota sekaligus santap kuliner bersama sepupu.

Berkeliling Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara dalam waktu 5 hari masih sangat kurang. Kami terpaksa melewatkan kunjungan ke Museum Mulawarman dan museum-museum lainnya. Kami belum sempat menyambangi Desa Budaya Pampang di Samarinda, Hutang Lindung Sungai Wain Balikpapan, Yayasan Penyelamatan Orang Utan (BOSF), Hutan Bakau, dan masih banyak lagi. Namun demikian, traveling tahun ini sangat berkesan terlebih kami telah memberikan sedikit warisan bagi anak cucu kelak. Kami ingin para traveler selalu meninggalkan jejak yang baik di setiap agenda liburannya. Menanam pohon merupakan salah satu cara bijak traveler untuk memberikan contoh baik bagi traveler lainnya.

 

Nama Penulis: Iqbal Ragha Herdani

Instagram: iqbalragha

Twitter: IqbalRagha

Facebook: Iqbal Ragha Herdani

Press Enter To Begin Your Search
×