Loading...

Ilustrasi: unsplash.com

Kenangan terakhir saya berada di Bandung. Situ Cileunca mengingatkan saya untuk mengenangnya di kemudian hari sebagai perpisahan terbaik dan agar saya bisa kembali ke Bandung. Segala yang ada di Bandung kadung membuat saya jatuh hati dengan segala isinya dan kenangannya.

Situ Cileunca adalah momen perpisahan dengan rekan kerja. Suatu tempat yang tidak terencana ke sana.

Seminggu sebelumnya saya berencana mengajak Mimi dan Bu Aya ke Lembang, salah satu tempat favorit di Bandung yang memang belum saya kunjungi. Keinginan saya diiyakan oleh Bu Aya yang memiliki mobil. Memang dengan beliau biasanya saya bisa bepergian jauh. Namun malam menjelang Minggu, Bu Aya mengatakan jika tidak mau ke Lembang, bakal macet di jalan di Hari Minggu.

Tidak bisa ke Lembang bukan berarti batal traveling. Dengan perasaan kecewa, saya pun tetap mengajak keduanya keluar besuk. Harus. Gapapa kalaupun tempatnya sederhana. Karena tempat tinggal kami berada di Banjaran, Soreang, Bandung Selatan, jadinya saya search aja di sekitar situ. Tapi masih bingung juga karena tempat-tempatnya kebanyakan kok kolam renang.

“Bagaimana kalau ke Pangalengan? Ada danau namanya Situ Cileunca. Dua jam perjalanan sih ke sananya.” Kata saya.

Tapi Bu Aya menyiakan saja, ya sudah deh saya nurut ikut, yang bawa mobil kan beliau, hehe. Oke deh lanjut ke Situ Cileunca.

Jalan ke sana lurus-lurus saja tanpa perlu tanya-tanya. Padahal kami tidak memantau lewat GPS maupun bertanya ke orang lain. Sampailah kami di Situ Cileunca, traveling yang tidak terencana. Satu jam perjalanan lebih cepat dari perkiraan. Eh, ternyata dua jam itu perjalanan dari pusat Kota Bandung, sedangkan lokasi keberangkatan kami dari Soreang yang jaraknya dari pusat Kota Bandung ya sejam. Nggak ada kemacetan ke sini.

Sampai di lokasi, kami mampir ke warung makan untuk sarapan dahulu maklum tadi belum makan apapun. Setelahnya kami bersantai mengelar tikar di atas rumput menghadap danau biru. Seger banget merasakan angin yang bertiup.

Ibu penyewa tikar mengatakan jika di sini bisa naik perahu yang mengelilingi danau, lalu diantar mengunjungi spot-spot seperti jembatan cinta dan kebun strawberry. Tapi kami tidak terlalu tertarik, lebih tertarik pada rombongan mengenakan pelampung orange yang bersiap di atas perahu karet. Kami menanyakan kepada ibu penyewa tikar tersebut, kalau main arum jeram berapa ya. Katanya 100 ribu. Oke deh mau. Lagipula ini pengalaman saya pertama kali. Kapan lagi kan.

Main arum jeram jelas akan membasahi tubuh dan kami tidak membawa baju ganti, ya karena tidak terpikir akan melakukan permainan air, si ibu penyewa tikar sudah tahu makanya menawarkan untuk dibelikan baju. Tanpa kami harus ke toko, si ibu tersebut yang membawakan kaos bertuliskan Bandung untuk kami. Hanya aku dan Mimi membeli, sedangkan Bu Aya tidak karena memiliki satu kaos di dalam mobil. Walau tidak membeli oleh-oleh apapun dari Situ Cileunca, ini kaos sudah jadi oleh-oleh secara tidak sengaja.

Instruktur arum jeram kami ternyata suami dari ibu penyewa tikar. Bapak tersebut memberikan arahan safety kepada kami sebelum naik ke atas perahu karet. Seperti kalau beliau mengucapkan “kiri”, “kanan”, “belakang”, maka kami harus menguruti instruksi dengan menggerakkan badan kami. Dan “Dhoom” agar kami menunduk ketika ada jeram.

Selama main arum jeram nanti, ada yang bertugas bakal memotokan kami, jadi tidak khawatir jika momen ini tidak diabadikan. Harganya 50 ribu itupun meminjam smartphone kita, harganya beda jika kita menggunakan kamera mereka. Nah, orang yang memotokan kita itu, dia berlarian di sisi sungai mengikuti perahu karet.

Sempat bingung mau pakai handphone siapa nih. Punya saya, kameranya so bad. Punya Mimi, baterai Low. Akhirnya pakai punya Bu Mimi, meski harus hapus memory dulu.

Lalu kami pun naik ke atas perahu karet. Kami duduk berbaris. Depan Bu Aya, tengah saya, belakang Mimi. Duduknya tidak boleh berjajar, biar seimbang ada yang sisi kanan dan sisi kiri.

Kok arum jeramnya di danau? Bukannya di sungai ya yang arusnya deras. Mungkin kalian berpikir begitu.

Uniknya di sini, kami melewati danau Situ Cileunca dahulu kurang lebih sepanjang 2 km. Di sini kami dilatih praktik seperti arahan instruktur. Dari danau ke sungai kami jalan kaki naik menyeberang jalan raya, sedangkan perahu karet diangkat.

Setelah menuruni jalan raya, sampailah ke sungai. Mulailah kami melakukan arum jeram. Seru abis! Apalagi kalau menghadapi jeram, kami teriak kencang sekali. Heboh pokoknya tiga wanita ini. Karena sudah hapal dengan aba-aba sesuai kondisi sungai yang penuh bebatuan besar, sampai-sampai kami yang melakukan aba-aba sendiri tanpa bapak instruktur mengarahkan. Seru kalau bagian “Dhoom.”

Uniknya lagi, di tengah perjalanan bapak instruktur mengajak istirahat. Ada warung minuman loh! Ngopi sejenak. Karena saya nggak suka ngopi, saya bisanya foto-foto saja, hehehe, minjem dari mas nya yang bawa smartphone kami. Masnya juga capek lah ya lari-lari gitu butuh istirahat.

Sebenarnya kami turun dari perahu karet karena beberapa batang pohon yang melintang, jadi perahunya diangkat sama bapaknya. Nih batang pohonnya jadi saksi keseruan saya. Saya ajak foto.

Lanjut kembali deh. Saya tidak tahu berapa lama permainan arum jeram ini berlangsung. Kayaknya ada dua jam mungkin. Yang pasti seru, saya menikmatinya. Menyatu dengan alam rasanya tidak mau lepas dari sini.

Selesai main arum jeram, ada angkot yang menjemput kami. Jarak ke Situ Cileunca masih jauh, pantas saja mainnya lama, udah nggak tahu sekarang dimana posisinya ini. Kendaraan ini tidak hanya mengangkut kami, juga perahu karetnya, jelas dong ya.

Di tengah perjalanan kami melewati perkebunan teh. Kami ditawari bapak instruktur untuk turun menikmati hijaunya kebun teh.

Sumpah keren nih seakan paket lengkap berwisata alam di Situ Cileunca.

“April teriaknya yang paling kencang.” Ucap Bu Aya. Haha, mungkin solusi menghilangkan strees. Ya, saya senang banget berada di sini.

Pengalaman yang tidak terlupakan. Bila kalian ke sini, please siapin baju ganti ya dan pastin memory handphone muat menampung jepretan foto.  

Happy traveling!

 

Nama Penulis: Aprilia Fatmawati

Instagram: www.instagram.com/Caliandrarowana

Twitter: www.twitter.com/ApriliaFSantoso

Facebook: APRILIA FATMAWATI SANTOSO

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×