Loading...

Foto: Pixabay

Menyusun itinerary? Sudah biasa. Menyusun OOTD secara rinci untuk dipakai selama 4 hari baru luar biasa! Prinsip saya ketika berlibur maupun jalan-jalan, sekalipun dalam 1 hari, bila beda tempat yang dikunjungi (untuk foto-foto) harus beda baju. Bukan untuk gaya-gayaan kebutuhan konten semata, kenyamanan juga menjadi pertimbangan mengingat saya cenderung aktif beraktivitas walaupun sedang liburan.

Hal ini juga saya lakukan tahun lalu, beberapa hari menjelang keberangkatan saya ke Singapura untuk pertama kalinya pada 15 Agustus 2019. Meskipun yang dibawa cukup banyak, dengan cara melipat dan menggulung yang tepat, semua (termasuk ransel dan sandal) masuk dalam 1 koper.

­

(Airport fashion ala-ala dengan drapped asymetrical skirt, white blouse, bolero dan ankle boots. Bolero edgy bergambar ikan hasil berburu ini di salah satu flea market di Bandung yang baru sekali saya pakai itu lalu ketinggalan di taksi online Singapura. Cerobohnya diriku… Second dan cuma Rp. 30.000 sih harganya, tapi tetap saja sedih. Foto: Dokumentasi pribadi)

Dari bandara Husein Sastranegara, saya berangkat bersama dua sahabat gym yaitu Andrian dan Puja. Andrian bermaksud untuk mengikuti Workshop Salsation Fitness (dance workout Latin baru dari Venezuela) yang dipimpin langsung oleh pendirinya. Sedangkan saya dan Puja sebatas untuk berlibur saja. Kendati dari Bandung hanya bertiga, di Singapura kami menginap bersama beberapa pecinta Salsation. Bungalow tempat kami menginap terletak persis di seberang Pasir Ris Beach Park & Playground yang rindang. Jaraknya kira-kira 20 menit dari Changi Airport. Berbekal SIM Card 4G 100GB ber-nomor Singapura yang kami beli di bandara, kami yang landing malam hari pukul 19.30 pesan taksi online langsung menuju bungalow. Ya benar, taksi ini lah TKP hilangnya bolero saya, haha. Sesampainya di bungalow, saya mendapati bahwa mereka yang sudah sampai duluan sedang berlatih menari sambil BBQ-an di halaman belakang. Dasar anak dance, malam-malam masih joged aja, wkwk. Lalu kami berkenalan dengan sang founder, Alejandro Angulo, serta beberapa Salsation Master Trainer (SMT) dari mancanegara. Saya tercengang dengan keramahan mereka yang luar biasa. Serasa bertemu brothers and sisters from another mother, and they’re all oh so humble.

Sebelum mandi dan tidur kami unpack dan mempersiapkan bawaan untuk keesokan harinya ke Universal Studio Singapore (USS). Kami pastikan ransel kecil kami cukup memuat kaos ganti, kamera, jas hujan plastik (jenis sekali pakai yang di pasar harganya Rp. 8000 – Rp.10.000) dan botol minum. Jas hujan? Bukannya Singapore panas terus? Botol minum buat apa? Eits ada alasannya Guys.

Keesokan paginya, saya dan Puja top up dulu EZ Link Card kami di Pasir Ris Station. Andrian dan yang lainnya tidak ikut karena workshop.  Kartu ini semacam e-money untuk naik MRT dan bis, top up 12S$ cukup untuk kemana-mana selama 4D3N. Wajib punya kalau ke Singapura! Lalu kami menaiki MRT yang bertujuan akhir di HarbourFront, stasiun bawah tanah yang terhubung dengan Vivo City Mall, titik pemberhentian terdekat ke Sentosa Island tempat di mana USS berada dan sambung dengan monorail khusus. Setelah scan tiket (beli duluan di aplikasi online, harganya saat itu Rp. 670.000/orang), kami langsung mengantre berbagai permainan dan berfoto ria.

(Berfoto di depan mesin koran dan diner klasik khas Amerika. Sporty dan simple agar leluasa naik apa saja. Baju ganti wajib bawa karena ada wahana basah. Bawa ransel yang muat banyak dan tidak ribet. Foto: Dokumentasi pribadi)

Ada istilah baru yang kami temukan di antrean setiap wahana, yaitu Single Rider. Mereka yang datang sendiri ataupun tak keberatan menaiki wahana tanpa keluarga/pasangan/temannya bisa masuk lewat jalur ini. Antreannya jauh lebih pendek, bahkan bisa dikatakan langsung bisa naik, mengisi kekosongan kursi pada rombongan beranggota ganjil. Nanti lagi kalau ke USS saya mau beli tiket Single Rider saja haha. Revenge of the Mummy, Battlestar Galactica: Human vs Cyclone dan Transformer the Ride merupakan wahana yang pantang dilewatkan Anda penyuka permainan ekstrem. Sekali pun weekday, antrean di keempat (yup keempat, karena Human dan Cyclone antreannya terpisah) wahana tersebut sangat panjang.  Jangan khawatir, di tempat-tempat mengantre yang mengular itu tersedia beberapa drinking fountain yaitu keran air minum yang aman dikonsumi langsung. Nah inilah alasan kami membawa botol minum, selain karena harga air mineral di sini mahal.

Tak hanya drinking fountain, di sekitar wahana ini juga disediakan loker untuk menaruh semua bawaan kita. Wahana seru berbasah-basah ria seperti Arung Jeram Dufan juga ada di sini. Namanya Jurassic Park Rapid Adventure. Menakjubkan. Robot-robot dinosaurus seperti di film tersebar di berbagai titik di taman. Waktunya memanfaatkan jas hujan yang kami bawa, Guys! Di gerbang antrean wahana ini ada beberapa vending machine jas hujan, namun lagi-lagi harganya mahal sekali. Selepas berbasah-basahan kami yang akhirnya kelaparan memutuskan untuk makan siang kemudian menaiki wahana santai yang cocok untuk keluarga. Sudah ku duga, makanan di sini di luar nalar mahalnya.

Semua wahana berhenti beroperasi pukul 17.00. Selebihnya hanya ada pertunjukan kembang api dan karnaval yang menampilkan karakter-karakter dari film dan kartun besutan Universal. Beres bermain, dengan penuh drama karena pusing harus pindah-pindah MRT yang jarak jalurnya lumayan berjauhan satu sami lain kami sampai di Tampines Hub, GOR berfasilitas lengkap yang keren layaknya mall. Di ‘mall’ yang memiliki kolam renang, berbagai lapangan hingga arena bowling ini malam itu didirikan panggung untuk para pecinta Salsation berdansa merayakan Hari Kemerdekaan Singapura yang jatuh pada 9 Agustus. Pengunjung yang lewat pun pun boleh ikutan. Kaki kami yang luar biasa lelah karena jalan kesana-kemari hanya sanggup ikut menari 1 lagu. Seru!

Salsation di panggung Agustusan Singapura di Tampines Hub. Andrian (kaos putih tanpa lengan, foto kanan) terdepan di antara khalaya (Foto: Instagram @salsationindonesia)

Selepas acara, teman lama Puja yaitu April yang seorang pramugari di salah satu maskapai penerbangan Singapura bergabung dengan kami. Sebuah transformasi unik kami saksikan langsung. Secepat kilat panggung disulap menjadi ‘layar tancap’. Kursi-kursi disediakan di depan layar. April bilang bioskop umum gratis ini ada setiap malam. Ternyata di negara yang serba mahal ini hiburan bisa dengan mudah warga nikmati. Malam itu April mengajak sahabatnya yang sesama pramugari, Paulinette yang kocak dan ceria dari Thailand. Lalu kami makan malam di restoran Cina halal di daerah Kembangan.

Hari kedua dan sama sekali belum shopping walau singgah ke beberapa mall (sambil pindah MRT), saya dan Puja menaiki MRT ke stasiun yang berada di bawah mall elit, Marina Bay Sand (MBS). Berencana berwisata floral di Garden by the Bay, kami membeli tiket terusan seharga 46S$ (mahal tapi definitely worth to buy!) yang isinya Floral Fantasy & Dragonfly Adventure theatre, Flower Dome, Cloud Forrest dan shuttle service yang bebas boleh dinaiki berapa kali sesuka hati. Kalau jalan kaki jujur saja jauh sekali Guys, apalagi di siang hari, aduh. Sedangkan OCBC Sky Tower yang fenomenal harus tambah lagi sekitar 8S$. Kami berfoto-foto di semua area lalu memutuskan untuk makan siang dan berjalan-jalan di mall sambil menunggu malam hari di mana OCBC Sky Tower akan terlihat lebih indah. Setelah makan, kami lihat di sekitar mall ternyata ada ArtSciene Museum yang sedang hits. Di dalam musium, ada 3 konsep yang diusung Future World, Utopia, dan Wonderland. Kami membeli tiket terusan seharga 37$ agar bisa memasuki ketiganya. Isinya sungguh mindblowing! Gabungan antara seni instalasi dan science. Keren!

Perks of bawa baju ganti kemana-mana: bisa tampil beda ketika menemukan spot foto unik tak terduga. Sling bag pink muat dress, sisir, bedak, lipstick, sabun cair hingga botol minum, haha (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Menjelang sore kami berjalan kembali ke area Garden by the Bay dan dengan shuttle car tadi menuju OCBC Skywalk. Ternyata antreannya panjang sekali. Kalau tidak salah yang datang melebihi pukul 18.00 tidak boleh naik ke atas menara. Kami diberi nomor sesuai jam kedatangan. Semua pengunjung diminta duduk untuk menikmati lightshow yang memadukan penataan lampu menara dan musik dari speaker. Sungguh indah dan romantis untuk disaksikan bersama orang terkasih, Guys!

Lalu kami ke pusat oleh-oleh di Mustafa Centre. Kebetulan teman bungalow kami akan pulang besok, jadi malam itu adalah kesempatan terakhir untuk belanja. Beres belanja, kami makan malam sambal mencicipi Es Bandung. Sambil makan, kami bertukar cerita. Ternyata hampir semua merasa bahwa bungalow yang kami inapi selama 2 malam itu angker. Andrian bahkan melihat penampakan persis di samping tempat tidur saya. Hanya saya dan Puja yang tak merasakan/melihat apa-apa. Syukurlah haha.

Keesokan harinya, karena di bungalow sisa kami bertiga, kami checkout dan pindah ke hostel di daerah Bugis. Membawa koper dan ransel kami naik MRT dan berjalan cukup jauh ke hostel. Ternyata konsepnya adalah capsule backpacker hostel. Satu kamar berisi 16 orang, mix cwe-cwo dengan orang tak dikenal dari berbagai negara. Mau buka-tutup loker ambil bawaan pun harus pelan-pelan karena khawatir mengganggu yang lain. Seru!

Di hostel, kami tidur siang sejenak sebelum pergi berfoto-foto ke Haji Lane yang artsy dan berwarna-warni. Dari sana kami ke Merlion Park untuk melihat sunset sekaligus berfoto-foto di ikon Singapura. Setelah itu, kembali bersma April, kami jalan-jalan malam di daerah Orchard (iya, makan ice cream sandwich Orchard yang terkenal) dan bersantai di Design Orchard, tempat nongkong rooftop terbuka gratis yang bukan cafe, bukan longue, cuma teras gtu aja. Lalu pulangnya kami naik bis Double Deckers ala di Hongkong dan London, bahagianyaa.

Akhirnya, rekor kami yang tidak berbelanja apa-apa selama di Singapura kecuali oleh-oleh terpatahkan. Di mall yang kami lewati via MRT menuju bandara untuk pulang kami tergiur oleh sepatu diskon, yang memang jauh sekali harganya bila dibandingkan dengan di tanah air. Setelah masing-masing dapta 1 pasang sepatu, kami bergegas ke bandara (jauh sekali dari hostel). Di sana kami menyempatkan diri mencicipi paneer tikka khas India yang rasanya jauh lebih enak dari yanag ada di Bandung. Tak lupa kami mampir ke Rain Vortex, Jewel untuk menikmati air terjunnya yang fenomenal. Bila dihitung-hitung, Guys, pengeluaran kami selama 4D3N di Singapura ini dominan untuk makan dan pengalaman, khas millennials banget deh pokoknya. Menginap bersama teman-teman satu komunitas dari berbagai negara, berkenalan dengan teman baru, nyasar dan ngirit bersama di negara yang apa-apa mahal, hingga berjoged di Agustusan negara lain sungguh pengalaman baru buat saya. Nah, bekal uang Dollar Singapura kami pun masih tersisa, kira-kira S$15 per orang. Ga akan saya tukarkan dengan rupiah, jaga-jaga semoga tahun depan bisa kesana lagi untuk eksplor Singapura lebih jauh lagi. Ke restoran level Michelin Star mungkin? Kan belum ada di sini, aamiin.

 

Penulis: Siska Mardianti

Instagram: @mardiantisiska

Twitter: @siskamardianti

Facebook: siska.mardianti

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×