Loading...

Foto: unsplash.com

HEIYOO!

Pertama-tama, aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu sebab gak afdol aja gitu kalau belum kenalan.

Oke, jadi perkenalkan namaku Erita. Sedari aku berumur 6 tahun, diriku benar-benar menyukai yang namanya traveling pakai BANGET! *Caps lock jebol

Kalau ada yang tanya, “Kenapa suka traveling?”

Aku pasti jawabnya, “Gak tahu.”

Ya emang gak tahu. Tiba-tiba muncul aja gitu, serius!

Kalau lihat nama-nama negara di media sosial atau televisi atau waktu pelajaran IPS pas SD dulu terus materinya menyangkut tentang negara dunia, bawaannya semangat terus … apalagi kalau ada negara TURKI!

Aku suka banget sama negara Turki dan punya impian menjelajahi negara yang diapit oleh dua benua itu. Dan ya, Alhamdulillah impianku tersampaikan ketika aku lulus SD dan orang tuaku memberiku hadiah kelulusan, yaitu JALAN-JALAN KE TURKI!!!

Mantap, kan? Mau tahu bagaimana cerita pengalamanku jalan-jalan ke sana?

Skuy-lah dibaca. Semoga pengalaman liburanku ini dapat menghibur dan menambah wawasan kalian, ya!

Hari Pertama (6 Juni 2015): Keberangkatan Menuju Istanbul via Abu Dhabi

Kisaran pukul 19.55, aku beserta keluargaku langsung berangkat  menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk melakukan penerbangan ke Istanbul, Turki. Akan tetapi, karena kami menggunakan maskapai yang tidak melakukan penerbangan non-stop ke Istanbul. Maka, kami terlebih dahulu akan transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Di saat itu, aku benar-benar senang parah, gak paham lagi. Akhirnya,  diriku refreshing dari penatnya otakku atas ujian inilah, itulah, tryout segala macam dan jenisnya … demi lulus. Yang awalnya stres karena banyaknya materi ujian yang harus dipelajari sampai bergadang tiap harinya dan pada akhirnya, aku dapat menyelesaikan itu semua. Aku sangat berterima kasih kepada keluargaku karena telah memotivasiku dan memberikan kejutan tidak terduga ini. Love y’all and goodbye stress!

Oke, kembali lagi ke laptop!

Setibanya di bandara, tepatnya di bagian terminal keberangkatan internasional, jujur aku agak terkejut, sih karena tumben sekali bandara lumayan ramai. Padahal bukan musim liburan, lho! Atau mungkin karena mendekati bulan puasa jadi pada pulang kampung(?)

Kami langsung bertemu dan berkumpul dengan rombongan tour kami untuk didata nama-nama orang yang akan ikutserta berangkat ke Turki malam ini. Lalu, setiap orang dalam rombongan pun diberikan secarik boarding pass yang diselipkan di dalam masing-masing paspor oleh tour guide kami. Nah, boarding pass tidak boleh hilang, lho guys! Benda penting tersebut adalah sebagai bukti nyata setiap orang untuk melakukan penerbangan dengan pesawat yang dituju. Paspor juga jangan sampai hilang karena benda menyerupai buku kecil itu sangat penting sebagai identitas kita selama di luar negeri dan paling fatal!

So, be careful!

Kemudian setelah diyakini sudah lengkap semua, akhirnya tour guide kami menyuruh kami semua untuk menuju ke tempat check-in, kemudian menuju tempat imigrasi sambil membawa koper kecil dan paspor yang diselipkan boarding pass.

Di sana, masing-masing orang yang akan melakukan perjalanan keluar negeri, akan diperiksa identitas diri, paspor, serta boarding pass oleh petugas imigrasi. Sekitar beberapa menit mengantre mendapat giliran karena saking ramainya di sana.

Beberapa dari kami pun sudah melewati pemeriksaan itu dan langsung menuju ke ruang tunggu sesuai nomor yang tertera di boarding pass kami.

Setibanya di ruang tunggu, kami harus menunggu hingga pukul 01.00 pagi untuk menanti waktu boarding sampai aku tertidur saking gak kuatnya menahan kedua mata yang tinggal lima watt ini ….

Berdasarkan pengamatan atas pengalamanku, rata-rata penerbangan luar negeri selain Asia Tenggara selalu pada malam hari bahkan sampai tengah malam seperti ini. Jujur saja, penerbangan malam hari justru lebih tenang dibanding siang, sore, ataupun pagi. Itulah keuntungannya. Juga, enaknya kalau malam hari bisa menikmati indahnya pemandangan bintang yang berhamburan di atas langit!

Perjalanan jauh pada malam hari selama 8 jam pun dimulai.

***

Setelah 8 jam perjalanan, kami pun tiba di Bandara Internasional Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada pagi hari yang terik dan panas. Ya, panas! Lebih dari Indonesia panasnya!

Sewaktu aku mencoba cek cuaca di ponsel pintarku. Sekitar 34 - 35C dan ITU MASIH PAGI BANGET SEKITAR PUKUL 06.30!!

Kaget, kan? Sama!

Seketika tenggorokanku langsung dehidrasi dan hal pertama yang kucari adalah air mineral.

Untung saja tour guide kami memperbolehkan kami untuk membeli minum di salah satu gerai toko di dalam bandara. Karena kami tidak memiliki pecahan mata uang Dirham Uni Emirat Arab, akhirnya kami menukar sejumlah uang di money changer di sebelah gerai toko yang menjual minuman dan makanan ringan tersebut.

Setelah membeli minum dan meneguknya sampai habis, aku dan keluargaku langsung menyusul pergerakkan tour guide dan rombongan kami menuju ruang tunggu untuk menunggu penerbangan selanjutnya menuju Istanbul.

Ramai sekali akan turis-turis dari mancanegara di bandara ini. Bermacam warna kulit dan ras pun saling bercampur aduk di sini dengan masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Sekitar setengah jam menunggu, waktu boarding pun tiba.

Turkey, i’m coming!!

Hari kedua (7 Juni 2015): Tiba di Istanbul

Merhaba Türkiye!

Setelah 4-5 jam perjalanan, kami pun tiba di Bandara Internasional Atatürk. Kami disambut dengan langit Istanbul yang berawan dan kata guide lokal kami pun mengatakan bahwa Istanbul dilanda hujan pada waktu pagi tadi.

Pantas aja. Anginnya lumayan kencang juga ….

Pada saat masih di pesawat dalam keadaan mau mendarat pun sempat  mengalami turbulensi kecil karena terpaan angin kencang dan awan tebal di atas kota ini. Juga, yang menurutku “ngeri-ngeri sedap” adalah bahwa di Turki banyak sekali burung merpati berterbangan di langit. Kan, gawat, lho kalau sampai menganggu penerbangan dan aktivitas udara lainnya.

Benar-benar salut, deh sama keberanian seluruh pilot yang melakukan destinasi di negara unik ini.

Oke-oke balik lagi ke pembahasan!

Kalau ditotalkan, aku sudah menempuh waktu sekitar 12-an jam berada di udara. Dan ya, jetlag pun mulai menghantuiku!

Perbedaan jam antara Indonesia dengan Turki adalah 4 jam lebih lambat daripada Indonesia. Jadi, apabila di Turki sore, di Indonesia sudah malam, di mana sudah waktunya beristirahat dan tidur.

Akan tetapi, dibalik semua kelelahan yang kurasakan ini, dapat terkalahkan dengan perasaan excited yang menggebu-gebu ini. Akhirnya, diriku bisa menginjakkan kaki di kota Istanbul dan dalam detik ini aku akan melihat isi kota indah itu serta menjelajahi kota-kota indah lainnya di Turki dengan mata kepalaku sendiri. *Eaakk

***

Oke, setelah kami selesai mengambil bagasi, kami pun dituntun oleh tour guide kami menuju bus untuk melanjutkan perjalanan menyusuri kota Istanbul. Di situlah kami bertemu dengan guide lokal dan beruntungnya dia bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan sangat lancar. Ya, walaupun aksennya masih kental Turki banget, tapi ya gak apa-apalah malah enak gak perlu pusing-pusing ngomong Bahasa Inggris, hehe.

Dia akan memandu kami semua selama di Turki.

Mantap gak, tuh?

Nah, lanjut lagi!

Perjalanan dari bandara menuju pusat kota cukup memakan sekitar setengah jam lamanya. Kebetulan selama perjalanan, kondisi jalan sedang tidak macet. Selama perjalanan, banyak sekali bendera Turki dan bendera-bendera kecil berwarna-warni berjejer di pinggir jalan. Karena kami begitu penasaran, maka salah satu dari rombongan kami bertanya kepada tour guide lokal tersebut. Ya, seingatku seperti inilah percakapannya,

Mister, kenapa di setiap sisi jalan banyak sekali bendera Turki serta bendera bermacam-macam warna?” tanya salah seorang bapak dari rombongan kami sewaktu di bus kepada guide lokal kami itu.

“Dalam beberapa hari ke depan, Turki akan mengadakan pemilu, Pak,” jawabnya.

Oh ternyata mau ada pemilu, toh. Pantas aja banyak bendera Turki dan bendera kecil berwarna-warni di jalanan.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Tapi keren, lho jatuhnya. Jadi berwarna gitu kotanya ….

By the way, ternyata kita akan menuju ke Ayasofya (atau biasa dikenal dengan nama Hagia Sophia) sekarang, setelah guide lokal kami memberitahu kami semua melalui pengeras suara di bus. Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu apa itu Ayasofya atau Hagia Sophia tentunya.

Tempat itu adalah tempat sangat bersejarah dan menjadi icon negara Turki karena keindahan bentuk kubah dan bangunannya yang megah sekali, selain Sultanahmet Camii (atau yang biasa kita kenal dengan nama Blue Mosque).

Akan tetapi, orang-orang Turki tidak mengenal Blue Mosque. Kalau kita bertanya tentang Blue Mosque, mereka pasti kebingungan. Jadi, kalau kalian ingin bertanya mengenai Blue Mosque dengan orang-orang lokal. Maka dari itu, kalian harus menyebutnya Sultanahmet Camii.

Aku hampir keliru dengan bangunan keduanya karena emang benar-benar mirip. Hanya saja dibedakan oleh warnanya. Kalau Sultanahmet Camii atau Blue Mosque, bangunannya berwarna kebiruan, sedangkan Ayasofya atau Hagia Sophia, bangunannya berwarna jingga kemerahan.

Kedua bangunan tersebut saling berdekatan, lho! Akan tetapi, lumayan jauh kalau berjalan kaki ….

Namun hari ini, kami akan mengunjungi Hagia Sophia terlebih dahulu.

Untuk menuju ke sana, rasanya seperti naik gunung karena jalannya yang berbukit-bukit dan penuh dengan bangunan-bangunan ruko yang berjejer di sekitar sana.

Ya, emang butuh perjuangan, sih. Yang semangat Pak Supir, hehe ….

Setibanya di tempat yang telah ditentukan, akhirnya kami semua turun dari bus. Hanya beberapa menit berjalan kaki menuju Hagia Sophia. Hitung-hitung, bakar kalori berjalan kaki seperti ini.

Banyak sekali turis, baik lokal maupun mancanegara yang sedang bersantai di bangku taman sekitar sini. Banyak juga gerai suvenir dan jajanan kaki lima Turki dengan harga yang terjangkau bagi dompet para wisatawan.

Untuk masuk ke Hagia Sophia, kalian harus membeli tiket seharga TL 100 per orang dewasa. Sedangkan, untuk anak kecil di bawah 8 tahun gratis. Akan tetapi, kemungkinan besar setiap tahunnya tarif tiket akan berubah.

Sepanjang perjalanan menuju Hagia Sophia, terdapat sebuah bangunan menyerupai tugu yang bersejarah, yaitu Hippodrome of Constantinople yang dibangun oleh Kaisar Konstantin dan merupakan pusat hiburan utama di Istanbul selama era Romawi dan Byzantium. Hipodrom tersebut bersebelahan dengan Blue Mosque, lho guys!

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba di Hagia Sophia. Kami pun disambut oleh pemandangan arsitekturnya yang megah sekali!

Awalnya, Hagia Sophia ini adalah Gereja Ortodoks yang dibangun pada tahun 537 M. kemudian setelah meletusnya Perang Salib IV tahun 1204 – 1261, tempat ini beralih fungsi menjadi Gereja Katolik Roma. Lalu, pada tahun 1453 – 1931 pada masa Kesultanan Utsmani, bangunan ini beralih fungsi menjadi masjid. Pada masa pemerintahannya Mustafa Kemal Atatürk, Hagia Sophia pun beralih fungsi menjadi museum, lalu kemudian diakui sebagai salah satu warisan dunia UNESCO yang disebut “Area Bersejarah Istanbul” sejak tahun 1985.

Paduan unsur-unsur Islami dan Kristiani menghiasi seisi bangunan ini. Mulai dari banyaknya ukiran, lukisan dinding, serta perabotan-perabotan. Tulisan-tulisan dengan huruf Arab yang bertuliskan “Allah” dan “Muhammad SAW” terpampang besar di langit. Tidak hanya itu, di sampingnya terdapat lukisan mozaik yang bergambar “Yesus” dan “Bunda Maria”.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Unik sekali, kan? Benar-benar luar biasa, deh. Gak bisa berkata-kata lagi!

Setelah tour guide dan guide lokal kami memberikan waktu yang cukup lama untuk mengambil foto dan video di Hagia Sophia, kami semua pun meninggalkan bangunan megah tersebut. Lalu, kami langsung menuju sebuah restoran untuk makan malam.

Sebenarnya hari masih sore sekitar pukul 16.00-an. Namun, karena kami semua sudah terlalu lelah sehabis menempuh perjalanan jauh. Maka dari itu, kami melaksanakan makan malam di awal waktu agar secepatnya menuju hotel untuk beristirahat.

Karena di Turki saat ini sedang musim panas. Maka, waktu terbenamnya matahari pun lebih lambat. Sekitar pada pukul 20.00 matahari barulah terbenam. Nah, sedangkan untuk waktu terbit matahari jauh lebih awal. Pukul 05.00 saja matahari sudah mulai tampak di sana. Sebaliknya kalau musim dingin, matahari lebih sedikit waktu penerangannya.  Jadi, jangan kaget bila hari sudah pukul 18.00, tapi langit masih terang benderang. Omong-omong, fenomena tersebut selalu terjadi di negara-negara yang yang memiliki empat musim, ya, guys!

Dan ya, inilah makan malam kami.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Lalu setelah kami selesai menikmati makan malam, kami semua langsung diantar menuju sebuah hotel yang katanya berdekatan dengan lokasi bandara untuk bermalam (emang berdekatan, sih karena sering muncul pesawat melintas di langit setiap jamnya dan jelas banget suaranya kayak deket gitu jaraknya).

Well, terima kasih Tuhan. Akhirnya hamba bisa rebahan, hehe.

Hari Ketiga (8 Juni 2015): Menjelajahi Kota Istanbul serta Perjalanan Menuju Çanakkale

Keesokan paginya, aku dan keluargaku melaksanakan sarapan bersama dengan rombongan lain serta bersama tour guide dan guide lokal kami. Ya seperti makanan sarapan pagi di hotel pada umumnya.

Akan tetapi, kalian jangan kaget bahwa hotel-hotel di Turki tidak menyediakan nasi putih untuk sarapan pagi. Mereka akan menyediakan nasi putih ketika pada waktu jam makan siang dan makan malam (itu berlaku di luar hotel juga, di restoran di luar jangkauan hotel maksudnya).

Apabila ada nasi putih, tapi rata-rata dimasak menggunakan mentega atau minyak yang dicampur dengan rempah-rempah dan kaldu daging. Nasi tersebut dikenal dengan nama Nasi Pilaf.

Sebagai pengganti nasi, kalian bisa makan roti dan atau kentang sebagai karbohidrat yang cukup mengenyangkan di pagi hari.

Setelah selesai sarapan pagi, kami semua langsung bersiap-siap meninggalkan hotel untuk melanjutkan destinasi wisata kami menuju Topkapı Sarayı atau dikenal sebagai Topkapi Palace.

Omong-omong, lokasi Istana Topkapi ini berdekatan dengan Hagia Sophia, lho guys! Dan untuk masuk ke sana, setiap orang harus membeli tiket seharga TL 30 per orang dewasa. Sedangkan, untuk anak-anak di bawah 12 tahun gratis. Akan tetapi, setiap tahunnya tidak selalu sama tarif tiketnya dan kemungkinan besar dapat berubah.

Setengah jam kemudian, akhirnya kami tiba di tempat yang telah ditentukan dan perlu berjalan kaki untuk masuk ke area Topkapi Palace. Namun sebelum itu, terdapat bangunan kecil dengan ukiran kaligrafi yang terpampang jelas di sana, yaitu Fountain of Ahmed III atau dalam Bahasa Turki adalah III. Ahmet Sebili ve Çeşmesi.

Sebuah air mancur dengan struktur Rococo Turki yang dibangun pada tahun 1728 atas perintah dari Ahmed III.

Setelah kami berfoto di depan bangunan kecil tersebut, kami semua langsung memasuki area Topkapi Palace dengan melewati sebuah gerbang luas dengan ukiran kaligrafi di atas pintunya.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Topkapi Palace merupakan salah satu bukti peninggalan Turki Utsmani serta tempat tinggal Sultan Utsmaniyah sejak Sultan Mehmet II berhasil menaklukkan Konstantinopel sebelum pindah ke Dolmabahce Sarayı atau biasa dikenal dengan nama Dolmabahçe Palace.

Istana ini dikelilingi oleh tembok besar, di mana di dalam masing-masing tembok tersebut terdapat bangunan-bangunan tempat raja, keluarga, serta seluruh pembantunya. Halaman Topkapi Palace pun memiliki luas dengan total 700.000 m2 dan dikelilingi benteng sepanjang sekitar 5 km.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Kebayang gak, sih itu luas banget!!

Saking luasnya, kedua kakiku pegal karena berjalan kaki terlalu lama. Akan tetapi, itu semua hanya sebentar saja sebab keindahan alam akan pohon dan dedaunan hijau serta bunga-bunga berwarna merah merona menyejukkan diriku.

Untuk beristirahat sesaat dari berjalan kaki yang lumayan jauh ini, aku dan keluargaku memutuskan untuk duduk selama beberapa menit di dekat air mancur yang dikelilingi bunga tulip berwarna merah yang indah di dalam area luasnya Topkapi Palace ini. Harum alam serta gemercik dari air mancur di hadapanku sungguh membuat diriku tenang. Ditambah lagi, banyak burung merpati yang cantik yang beterbangan dan kadang bertengger di sisi bangku di sini.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Sultanahmet Camii atau biasa dikenal dengan nama Blue Mosque.

Masjid megah yang menjadi icon negara Turki selain Hagia Sophia, dibangun antara 1609 – 1617 dan juga dikenal sebagai Masjid Biru atau Blue Mosque dikarenakan ubin biru yang digunakan untuk menghiasi dinding-dinding interiornya. Pembangunan masjid ini atas perintah Sultan Ahmet I yang bertujuan untuk membangun sebuah monumen yang diduga tidak hanya akan menyaingi Hagia Sophia, tetapi juga melampauinya. Sultanahmet Camii adalah satu-satunya masjid di Turki yang memiliki enam menara.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

 

Keren banget!

Oh ya, untuk masuk ke Sultanahmet Camii gratis, guys!

Jadi, gak semua objek wisata di Turki yang berbayar, seperti Sultanahmet Camii ini.

Di sana, kalian juga berkesempatan untuk menunaikan ibadah shalat sesuai jam nya dan atau hanya sekedar melihat-lihat arsitektur dalam masjid itu juga boleh, selama tidak mengganggu orang-orang yang sedang menunaikan ibadah sholat.

Dan untuk masuk ke sana, kalian diwajibkan untuk melepas sepatu kalian dan masukkan ke dalam kantong plastik yang sudah disediakan oleh pihak masjid di depan pintu masuk. Juga bagi perempuan, diwajibkan untuk memakai hijab atau selendang yang dililitkan di kepala. Apabila kalian lupa membawa hijab atau kain selendang, pihak masjid sudah menyediakan kain khusus untuk hijab, kok dan gratis! Jadi, kalian tidak perlu cemas bila lupa membawa benda tersebut.

Kebetulan waktu saat itu menunjukkan sudah waktu Dzuhur. Maka dari itu, lingkungan di sekitar masjid pun menjadi ramai, di mana orang-orang langsung berbondong-bondong untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur di dalam masjid megah ini.

Kami tidak berlama-lama di Sultanahmet Camii sebab setelah melaksanakan makan siang sehabis mengunjungi masjid tersebut, kami langsung menuju kota Çanakkale dengan melewati Selat Dardanella dengan menggunakan kapal ferry yang memakan waktu kisaran 30 menit.

30 menit pun berlalu. Kami semua pun tiba di Çanakkale. Kota yang berada di bagian Asia-nya Turki sekaligus kota penuh sejarah, lho guys!

Penasaran, kan? Eittss tidak sekarang!

Karena kami sudah merasa lelah dengan perjalanan lumayan jauh ini, akhirnya kami memutuskan untuk melaksanakan makan malam di sebuah hotel yang akan menjadi tempat bermalam kami.

Lumayan jauh jarak hotel tersebut dari lokasi pelabuhan Çanakkale ini. Sekitar memakan waktu 2 jam menggunakan bus.

Hari sudah semakin sore. Suhu di sini pun langsung menurun seiring bertambah jam sehingga terpaan angin dingin langsung membuat diriku menggigil walau sudah memakai jaket tebal.

Hari Keempat (9 Juni 2015): Mengunjungi Tempat Bersejarah di Çanakkale Sekaligus Mengunjungi İzmir

Pagi hari yang berawan, setelah kami melaksanakan sarapan pagi, kami semua langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Hisarlik yang berada dalam satu Provinsi Çanakkale dan hanya menempuh kisaran 5 menit dari hotel.

Kota Hisarlik sebenarnya merupakan situs kota kuno Troy yang ditemukan oleh seorang arkeolog bernama Charles MC. Lahren pada tahun 1822.  

Kota Troy adalah salah satu kota yang sangat bersejarah di Turki, di mana telah menjadi saksi terjadinya Perang Troya pada tahun 1260 SM – 1180 SM. Kota ini pernah hancur kemudian didirikan kembali di atas puing-puing kota yang telah hancur tersebut hingga memunculkan beberapa lapisan yang mengindikasikan perkembangan kota Troy dari masa ke masa.

Setibanya di Kota Hisarlik, kami menuju Ancient City of Troy. Sebuah tempat bersejarah yang menampilkan sebuah patung kuda raksasa legendaris yang terbuat dari kayu yang dikenal sebagai The Trojan Horse serta reruntuhan Kota Troy pada zaman dahulu. Bahkan, patung kuda raksasa tersebut pun menjadi icon Kota Çanakkale, lho guys!

(Photo source: dokumentasi pribadi)

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Kami semua menyusuri reruntuhan bangunan-bangunan di sana sambil dipandu oleh tour guide dan guide lokal kami. Akan tetapi, kami tidak bisa berlama-lama sebab langit semakin mendung ditambah lagi angin yang mulai berhembus kencang, akhirnya kami semua bergegas menuju bus. Tak lama kemudian pun hujan turun dengan lebat membasahi sekitar.

Memang lagi musim hujan di Turki saat ini.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, kami semua langsung menuju sebuah restoran untuk melaksanakan makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Kota İzmir yang menempuh waktu 4 jam dengan bus.

***

Akhirnya setelah menempuh berjam-jam, kami semua tiba di Kota İzmir, lalu kami menuju menara jam terkenal di sana atau dalam Bahasa Turki adalah İzmir Saat Kulesi.

Menara jam ini merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1901 yang dirancang oleh seorang arsitek dari Perancis bernama Levantine Raymond Charles Péré untuk memperingati ke-25 tahun Abdulhamit II naik takhta, sedangkan bagian jamnya sebagai hadiah dari seorang pemimpin Kaisar Jerman, Wilhelm II kepada Abdulhamit han untuk memperingati tahun pertama masa pemerintahannya.  

Menara jam ini terletak di alun-alun Konak, Distrik Konak, İzmir sehingga banyak sekali orang-orang lokal maupun wisatawan mancanegara yang bersantai di halaman dekat menara jam ini. Bahkan, di sekitar sini banyak semacam gerai-gerai makanan jalanan salah satunya seperti es krim khas Turki (Dondurma).

Tak hanya itu, burung merpati pun banyak yang menghinggap dan berjalan ke sana-kemari bersama gerombolannya di sekitar wilayah menara jam ini.

Gendut-gendut lagi.

Cukup lama kami bersantai di sekitar menara jam ini sambil menikmati es krim khas Turki yang bernama Dondurma. Teksturnya bahkan berbeda daripada es krim pada umumnya, di mana bertekstur lengket dan sedikit kenyal.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Akan tetapi, bila kalian ingin membeli es krim Dondurma, maka kalian harus persiapkan mental karena kalian akan dicandain sampai kelewatan oleh penjual es krim ini dengan membolak-balikkan es krim dan lain sebagainya di depan matamu. Intinya kalian harus sabar banget, deh!

Memang begitulah karakter para penjual es krim Dondurma. Humoris banget tapi nyebelin. Apalagi kalau sama wisatawan asing. Udah, deh. Dicandain mulu, hehe.

Tak lama kemudian, waktu sudah semakin malam walaupun matahari masih tampil ceria di langit, kami semua pun meninggalkan İzmir Saat Kulesi. Lalu, menuju sebuah restoran untuk melaksanakan makan malam bersama. Setelah itu, kami menuju sebuah hotel yang tidak jauh jaraknya dari pusat Kota İzmir untuk bermalam.

Hari Kelima (10 Juni 2015): Menjelajahi Kota İzmir dan Menuju Kota Pamukkale

Pagi hari yang cerah menyelimuti Kota İzmir, salah satu kota metropolitan dan terbesar di Turki selain Istanbul dan Ankara.

Agenda pagi kami ialah mengunjungi salah satu toko jaket kulit terkenal di Turki, yaitu bernama Emelda Leather & Fur. Ya! Sesuai namanya, toko ini menjual jaket kulit asli dengan harga yang lumayan.

Hanya menempuh beberapa menit dari hotel, kami semua pun tiba di Emelda Leather & Fur yang kemudian langsung disambut oleh beberapa model lokal di sana. Lalu, kami pun dituntun ke sebuah ruangan, di mana terdapat catwalk beserta kursi-kursi di samping kanan-kirinya.

Kami pun langsung menempati beberapa kursi di sana. Lalu, kami disuguhi teh hitam khas Turki atau Çay dengan 2 buah gula batu kecil. Memang itu sudah menjadi suatu tradisi di Turki bahwa ketika sedang bertamu ke suatu tempat, sang tuan rumah selalu memberikan segelas Çay dengan bentuk gelas yang khas sebagai bentuk penyambutan.

Nah, aku ada pengalaman yang tak terlupakan pada waktu itu, di mana tiba-tiba aku ditunjuk menjadi model oleh salah satu perempuan untuk berjalan di atas catwalk.

MASALAHNYA DIRIKU LAGI NGANTUK TERUS LAGI NYANTAI SAMBIL NGETEH, GUYS!!! KAGET PARAH MAU NANGIS!!

Dengan wajah melongo karena otakku masih loading, okelah aku pun pada akhirnya meng-iyakan ajakan perempuan itu. Lalu, kami langsung menuju ke ruang belakang tempat para model bertata-rias. Untung saja beberapa orang dari rombongan ini juga ditunjuk menjadi model dadakan. Coba  kalau aku sendiri? *Nangis di pojokkan

Semalam mimpi apa aku? Huhuhu ….

Oke balik lagi!

Beginilah rasanya jadi seorang model. Berjalan ke sana-kemari sambil bergaya dengan iringan musik “ajep-ajep”. Akan tetapi, jiwa introvert-ku meronta-ronta alias mau nangis rasanya. MALU BANGET!!!

Salut banget sama seluruh model di dunia atas tampil percaya diri mereka di depan para penonton. Ya itu juga karena mereka menghabiskan waktu dengan banyaknya latihan keras untuk menjadi seorang model profesional dan totalitas.

Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan, deh selama di Emelda Leather & Fur. Makasih, lho!

Setelah menjadi dan menyaksikan para model dadakan tampil di catwalk, kami semua diberi waktu untuk membeli jaket kulit dengan beraneka ragam style jaket terpampang di setiap sudut toko ini. Menurutku, harganya lumayan “wow”, sih untuk standar wisatawan asing. Juga, pembayarannya menggunakan mata uang US$D maupun TL.

Setelah berlama-lama di sini, kami semua pun langsung meninggalkan tempat ini untuk melanjutkan perjalanan menuju Ephesus, sebuah situs kota zaman Romawi kuno yang terletak di Selçuk, Provinsi İzmir. Di sana banyak sekali peninggalan sejak zaman kegelapan Yunani menuju abad pertengahan akhir (sekitar abad ke-10 SM).

Untuk memasuki Ephesus, kalian harus meronggoh kocek sebesar 20 TL setiap orang dewasa untuk mendapatkan sebuah tiket masuk. Namun, tarif segitu tidak selalu sama setiap tahunnya.

Setibanya di Ephesus, kami harus berjalan kaki jauh di bawah teriknya matahari untuk menikmati beragam reruntuhan peninggalan bersejarah itu.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Jadi, Ephesus itu awalnya adalah kota Yunani Kuno, kemudian direbut dan mengalami kejayaannya pada masa kerajaan Romawi.  Sejarahnya kota ini pernah hilang akibat gempa bumi. Namun, kemudian dibangun kembali, lalu menjadi salah satu “Must Visit Place” jika sedang berkunjung ke Turki.

Arsitektur-arsitektur bangunannya juga keren. Orang-orang zaman dulu emang udah hebat-hebat! Serasa masuk ke dunia zaman Romawi Kuno seperti di film-film …. *Mulai, deh ngehalu, haha

Oke, guys! Setelah berlama-lama menyusuri kota kuno Ephesus, kami pun langsung melanjutkan destinasi wisata kami selanjutnya, yaitu ke Kota Pamukkale yang memakan waktu sekitar 2 jam lebih perjalanan menggunakan transportasi darat. Namun, sebelum itu kami melaksanakan makan siang di salah satu restoran buffet.

***

2 jam kemudian, kami semua tiba di Pamukkale. Hari sudah sore. Hawa panas pun tidak terlalu menyengat seperti pada saat siang hari. Kami pun menuju Pamukkale National Park Pool atau Taman Kolam Nasional Pamukkale.

Tentu untuk masuk ke sana, kalian harus membeli tiket terlebih dahulu seharga kisaran 15 TL (tidak selalu sama setiap tahunnya, ya).

Pamukkale memiliki arti “Istana Kapas”, di mana wilayahnya terkenal dengan kolam air panasnya yang bersuhu 36C serta mengandung zat-zat baik yang menyehatkan tubuh. Tak hanya itu, kami pun disuguhi pemandangan kawah serba putih. Warna putih tersebut berasal dari hidrogen karbonat dan kalsium yang terkandung dalam air panas.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Maka tak heran, banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi lokasi ini.

Omong-omong, pas banget habis perjalanan jauh langsung nyantai sambil berendam kaki di kolam air panas dan menikmati pemandangan kota Pamukkale yang indah di bawah sana.

Benar sekali! Setelah aku berendam kaki cukup lama di sini, seketika seluruh pegal-pegal di badanku langsung menghilang. Ya, walau masih terasa sedikit. Akan tetapi, sudah jauh lebih segar, guys!

Kalau kalian ada rencana liburan ke Turki, kalian wajib banget kunjungi tempat ini. Serius. Cozy banget!!

Nah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.30, kami semua langsung kembali ke bus untuk perjalanan menuju hotel untuk beristirahat. Namun sebelum itu, kami melaksanakan makan malam di hotel tersebut terlebih dahulu.

Hari Keenam (11 Juni 2015): Menuju Konya dan Cappadocia

Pada hari ini, kami akan melangsungkan perjalanan jauh dari Pamukkale menuju Kota Konya yang sampai memakan waktu hampir 8 jam menggunakan transportasi darat alias bus.

Maka dari itu, tidak banyak tempat-tempat yang kami kunjungi hari ini.

Akan tetapi, di tengah perjalanan jauh tersebut, kami juga melewati Kota Konya, di mana kami pun akan mengunjungi salah satu museum terkenal di sana bernama Mevlana Müzesi atau Mevlana Museum.

Untuk masuk ke dalam museum, diharapkan untuk membeli tiket masuk seharga 5 TL. Namun, sepertinya tidak selalu sama harganya setiap tahunnya, bisa saja berubah.

Setibanya di Mevlana Museum, banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi museum bersejarah itu.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Museum ini juga dikenal dengan nama “Rose Garden” atau “Istana Kebun Mawar” karena banyak sekali bunga mawar bermekaran di halaman museum ini. Awalnya, museum ini adalah sebuah pondok untuk para darwis (para darwis yang menari berputar atau disebut penari Sufi) yang dibangun oleh Jalaludin Rumi, seorang filsuf dan penyair dari Persia. Tempat ini sebagai saksi tempat beliau dimakamkan.

Di dalam museum ini terdapat makam kuburan Jalaludin Rumi beserta murid-murid dan putranya. Selain itu juga terdapat barang-barang peninggalan Jalaludin Rumi beserta Al-Qur’an, sajadah, dan lain sebagainya.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Sebelum masuk, setiap pengunjung harus melepaskan sepatunya, lalu menutupi kedua kakinya dengan kantung plastik yang sudah disediakan. Banyak peziarah dari lokal maupun mancanegara yang berdoa untuk Jalaludin Rumi beserta murid-muridnya dan putranya itu. Maka dari itu, seluruh pengunjung yang berada di dalam museum ini diwajibkan untuk tidak berisik. Bahkan, untuk mengambil gambar diharuskan untuk tidak menggunakan blitz karena dapat mengganggu sekitar.

Karena kondisi di dalam sungguh padat dan panas. Akhirnya aku dan keluargaku langsung cepat keluar dari sana. Lalu, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar museum karena waktu bebas yang diberikan oleh tour guide kami masih tersisa banyak.

Kemudian setelah waktu habis, kami semua bergegas ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Cappadocia.

Makan siang sudah kami lakukan di salah satu tempat rest area sebelum tiba di Konya.

***

3 jam kemudian, kami tiba di Cappadocia. Namun kerena hari sudah sore menjelang malam, akhirnya kami melaksanakan makan malam bersama di hotel yang akan menjadi tempat kami semua bermalam.

Akhirnya, ketemu kasur juga setelah 8 jam lebih. Pegel euy ….

Hari Ketujuh (12 Juni 2015): Menyusuri Tempat-Tempat Keren di Cappadocia

Langit pagi yang cerah menyelimuti Kota Cappadocia. Ya, kami semua akan menyusuri kota unik ini. Kenapa aku bilang unik?

Karena Kota Cappadocia adalah salah satu kota di Turki yang dikelilingi bebatuan besar nan unik. Bebatuan sedimen yang terbentuk dari material vulkanik sekitar tiga sampai jutaan tahun yang lalu, lalu terkikis oleh angin dan hujan sehingga membentuk seperti menara dan pilar. Bebatuan tersebut sudah diukir dan dijadikan tempat tinggal warga sejak zaman Kekaisaran Romawi, lho guys!

Unik banget gak, sih? Omong-omong, jadi keingat salah satu kartun, tapi lupa namanya.

Bahkan, Cappadocia juga masuk ke dalam jajaran UNESCO sebagai “World Heritage Site” pada tahun 1984!

Oke, kembali lagi ke lap … top!

Jadi, hari ini kami akan mengunjungi Göreme Open Air Museum atau dalam Bahasa Turki-nya adalah Göreme Açık Hava Müzesi.

Biaya tiket masuk ke museum ini seharga 25 TL per-orang. Namun, bisa jadi setiap tahunnya berbeda.

Museum ini merupakan kompleks biara yang luas, di mana bentuk bangunannya menyerupai batu. Namun, aku dan keluargaku tidak memasuki gereja-gereja batu tersebut sebab dipadati oleh wisatawan mancanegara sehingga harus mengantre lama. Jadi, kami cukup menyusuri dan berjalan-jalan di luar sambil menikmati keindahan alam di sekitar kami.

Kayak di dalam dongeng-dongeng gitu pemandangannya ….

Setelah kisaran dua jam berlalu, kami semua kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan kami ke tempat wisata selanjutnya. Namun sebelum itu, kami sempat singgah tepat di atas bukit, di mana di sana menampilkan pemandangan Kota Cappadocia dari atas.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Cantik pakai banget! Beneran kayak di dunia dongeng!

Di sana juga terdapat sebuah pohon yang menggantung banyak sekali benda yang kerap dijadikan sebagai jimatnya orang Turki, yaitu Nazar Boncuğu atau Evil Eye. Benda itu diyakini sebagai perlindungan dari kejahatan. Maka dari itu, tak heran jika banyak sekali orang-orang lokal di sini menggunakan benda itu sebagai hiasan di kendaraan mereka, liontin gelang maupun kalung, dan lain sebagainya.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Nazar Boncuğu justru sebagai salah satu suvenir yang wajib dibeli bagi tiap wisatawan karena bentuknya yang unik itu, bermata satu yang berwarna biru.

Setelah puas berfoto-foto, kami pun melanjutkan kembali perjalanan kami menuju ke salah satu rumah batu sebuah keluarga lokal di sini. Ya penduduk di sini mengalih fungsikan bebatuan tersebut menjadi tempat tinggal mereka!

Beda dari yang lain. Unik tanpa batas!

Setibanya di dalam rumah batu itu, kami semua disuguhkan Çay seperti biasanya selama di Turki. Awalnya, aku tidak menyukai rasa teh ini karena rasanya yang pahit (ya namanya juga teh hitam, haha). Akan tetapi, lama kelamaan diriku mulai menyukainya.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Lalu setelah itu, kami pun mengobrol bersama-sama dengan seorang pria tua pemilik rumah batu ini. Karena bapak ini tidak bisa Bahasa Inggris, maka dari itu, guide lokal kami lah yang menerjemahkan apa yang dikatakan bapak itu mengenai rumahnya.

Jujur saja, awalnya kukira tinggal di rumah batu ini sungguh panas dan gerah. Akan tetapi ketika aku berada di dalamnya, justru berbanding terbalik dari ekspetasiku. Adem banget malah!

Menurutku, sih itu karena kandungan batunya yang membuat suasana jadi adem gini. Well, gak ada pendingin ruangan padahal, tapi  ini rasanya benar-benar kayak dipasang AC sejuknya! Berbanding terbalik dari luar yang panasnya emang gak main, demi.

Jadi gini, toh sensasi tinggal di dalam rumah batu. Menarik juga.

Nah, kami semua juga berfoto bersama-sama bapak pemilik rumah ini, lho. Ini dia!

Sehat terus bapak sekeluarga. Terima kasih sudah mengizinkan kami mengunjungi rumah bapak. Teşekkür ederim!

Tak lama kemudian setelah berpamitan dengan pemilik rumah batu itu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami menyusuri Cappadocia. Akan tetapi sebelum itu, kami harus melaksanakan makan siang karena waktu sudah menunjukkan kisaran pukul 13.30-an.

***

Sekitar pukul 20.00 malam, kami semua akan menonton pertunjukkan tarian khas Turki. Maka dari itu, kami diminta untuk melaksanakan makan malam terlebih dahulu di hotel. Lalu, kami kembali bepergian menuju tempat lokasi.

By the way, tempat ini sebenarnya restoran, tapi hanya menawarkan minuman dan roti-roti khas Turki saja. Lalu, kami akan menonton pertunjukkan tari khas Turki di sini!

(Sebelumnya, mohon maaf bahwa beberapa tarian tidak boleh diabadikan melalui kamera sehingga para pengunjung hanya diperbolehkan untuk menonton saja. Ya mungkin tujuannya agar seluruh pengunjung dapat menikmati pertunjukkan sekaligus mendapatkan feel yang berbeda …. )

Nah ini dia, Tarian Sufi!

Singkat sejarah, Tarian Sufi atau yang dikenal sebagai “Whirling Dervishes” pertama kali dipertunjukkan di wilayah Anatolia, Turki sejak abad ke-13. Tarian ini diciptakan oleh Jalaludin Rumi.

Pasti kalian masih bertanya-tanya, kan, mengapa penari Sufi bisa terus berputar tanpa mengalami pusing?

Kunci utamanya adalah ketenangan dan juga harus menghayati makna dari filosofi tarian ini. Agar tidak pusing, maka pandangan mata harus tetap fokus dan tidak terpejam sedikitpun serta kepala juga tidak bergerak. Memang tidak mudah karena semua ini butuh proses yang ekstra untuk menjadi seorang penari Sufi yang profesional.

Intinya, kalian jangan coba muter-muter, deh. Pusing, lho nanti!

Balik lagi.

Kami juga sempat berfoto dengan penari perut Turki. Cantik banget doi!

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah beberapa jam menyaksikan tarian khas Turki, akhirnya kami pulang ke hotel sebab waktu sudah menunjukkan tengah malam tanpa kusadari.

Malam hari di Cappadocia lumayan dingin, bahkan suhunya bisa anjlok tiba-tiba. Berbeda sekali dengan siangnya yang terik itu.

Hari Kedelapan (13 Juni 2015): Menuju Bolu dengan Melewati Ankara

Pada pagi ini sebenarnya kami semua ingin melanjutkan destinasi kami untuk naik balon udara di Hot Air Balloon Cappadocia, salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Cappadocia. Akan tetapi, karena angin kencang melanda Cappadocia serta cuaca mendung membuat kami semua terpaksa harus membatalkannya.

Kecewa? Pasti, pakai banget malah. Tapi mau gimana lagi, ini semua demi keselamatan.

Baiklah, aku pun terima dengan perasaan kecewa. Maka dari itu, kami pun langsung beranjak dari Cappadocia untuk menuju ke Kota Bolu yang akan memakan waktu 6 jam lebih beberapa menit. Seperti biasa, menggunakan transportasi darat alias bus, hehe.

Namun selama perjalanan ke sana, kami pun sempat singgah ke salah satu tempat bersejarah di Kota Aksaray di Cappadocia sembari melewatinya, yaitu Saratlı Kirkgöz Yeratlı Şehri atau Saratli Underground City.

Kota bawah tanah ini ada sejak zaman Byzantium. Nah, pada waktu itu banyak sekali peristiwa seperti Perang Salib dan Invasi Arab. Maka dari itu, para petani membangun kota-kota bawah tanah ini untuk melindungi diri mereka dari perang yang terjadi pada masa itu.

Tempat ini dibuka sebagai tempat wisata setelah dilakukan renovasi pada tahun sekitar 1950-an.

Bangunan bawah tanah ini memiliki 7 lantai serta terdapat 40 kamar di sana. Kebayang gak, sih bisa ada kamar dan lantai sebanyak itu di ruang bawah tanah yang tampak sempit ini?

Ya, itu semua dilakukan demi mereka (para petani) untuk bertahan hidup dari perang-perang yang dapat membahayakan nyawa mereka, guys!

Nah, selanjutnya setelah kami selesai menyusuri ruang bawah tanah ini, kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju Bolu sekalian melewati Ankara yang juga menjadi salah satu destinasi wisata kami di sana.

Oh iya, selama perjalanan jauh ini, kami juga sempat melewati sebuah danau air asin, yaitu Tuz Gölü yang terletak di bagian Selatan Ankara. Danau unik ini kerap dijuluki sebagai “Danau Darah” karena warnanya yang berwarna pink-kemerahan itu. Warna tersebut diyakini berasal dari alga Dunaliella Salinas yang mengubah warna danau ini menjadi pink-kemerahan ketika berada di tingkat intensitas cahaya tertinggi.

Danau ini memiliki kadar garam sekitar 60% dari kebutuhan garam di seluruh wilayah di Turki, lho!

(Photo source: dokumentasi foto)

Cantik warna danaunya, ya, guys!

Nah, lanjut lagi. Setibanya di Ankara, kami mengunjungi salah satu restoran untuk makan siang terlebih dahulu.

Omong-omong, jika kalian ingin memakan roti khas Turki, pastikan gigi kalian kuat, ya, karena menurutku tekstur rotinya lumayan keras, jadi kalian harus memakannya secara perlahan agar tidak terjadi insiden gigi copot. *Pengalamanku karena salah satu gigiku pernah copot karena memakan roti khas Turki ini untuk pertama kalinya, haha.

Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke sebuah museum terkenal yang sungguh sayang sekali bila dilewatkan selama di Turki.

Apa itu?

Ya! Kami pun menuju Anıtkabir atau Mousoleum Mustafa Kemal Atatürk, yaitu museum sekaligus sebagai tempat makam Mustafa Kemal Atatürk (pendiri Republik Turki sekaligus presiden pertama Republik Turki).

Anıtkabir dibangun pada tanggal 9 Oktober 1944 serta lokasinya pun tidak jauh dari pusat kota.

Di sini terdapat empat bagian utama dari Anıtkabir, yaitu Aslanlı Yol atau Jalan Singa, lapangan terbuka Victory Square, The Hall of Honor atau Aula Kehormatan (lokasi makam Atatürk), dan taman perdamaian yang mengelilingi monumen.

Dikatakan “Jalan Singa” karena terdapat sepasang patung singa yang sedang terduduk dan mewakili Anatolia, menjadi simbol kekuatan dan kedamaian. Di ujung Jalan Singa pun terdapat lapangan terbuka Victory Square yang dirancang dapat menampung sekitar 40.000 orang pada acara-acara seremonial, sedangkan The Hall of Honor atau Aula Kehormatan merupakan simbol Anıtkabir sebab disanalah makam Atatürk berada. Terakhir, taman perdamaian adalah sebuah taman untuk menghormati Atatürk. Akan tetapi, sayang sekali aku dan keluargaku tidak mampir ke taman perdamaian dan Jalan Singa karena cuaca di Ankara saat itu mendung dan gerimis.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

 

Anıtkabir adalah museum yang menggambarkan perkembangan Turki setelah berakhirnya Perang Dunia I. Di dalam museum ini terdapat banyak sekali benda-benda bersejarah sebagai gambaran proses Republik Turki menjadi berkembang seperti saat ini.

Kebetulan, kami juga menyaksikan pergantian shift tentara di sini. Keren banget!

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah merasa puas dan juga langit sudah menunjukkan tanda-tanda hujan besar, maka kami semua bergegas menuju bus untuk melanjutkan perjalanan kami ke Kota Bolu yang menempuh waktu 2 jam.

***

2 jam pun berlalu. Langit pun sudah mulai menggelap. Kami pun tiba di Bolu. Kami akan bermalam di sebuah hotel di sini. Namun sebelum itu, kami melaksanakan makan malam bersama.

Hari Kesembilan (14 Juni 2015): Kembali Menjelajahi Istanbul

Pagi hari yang cerah ini, kami semua kembali menuju ke Istanbul yang memakan waktu kisaran 2 jam.

Untuk kembali ke Istanbul, kami juga melewati Selat Dardanella dengan kapal ferry.

Setibanya di sana, kami pun kembali menjelajahi Kota Istanbul lebih mendalam. Beruntungnya, cuaca di Istanbul saat itu sudah cerah ceria ketimbang kemarin sehingga hal tersebut mendukung agenda perjalanan kami hari ini.

Kami mengunjungi ke suatu tempat di atas bukit tentunya, di mana kita bisa melihat pemandangan sisi Eropa Istanbul dari sisi Asia Istanbul. Tampak jelas sekali di bagian Eropa banyak gedung-gedung tinggi di sana, sedangkan di bagian Asia, tidak ada gedung-gedung tinggi.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah puas berfoto-foto, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju Istanbul di bagian Eropa dengan melewati Jembatan Bosphorus.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Kemudian, kami menuju sebuah restoran, di mana letaknya cukup berada di dalam gang sehingga kami semua harus berjalan kaki sedikit.

Awalnya aku merasa heran atas penampilan setiap gerai restoran di samping kanan-kiriku yang gelap gulita. Ternyata setelah diberitahu oleh tour guide kami bahwa saat ini di sepanjang distrik ini sedang mati lampu.

Pantes hening banget. Biasanya ada suara TV atau radio mungkin. Well, ternyata mati lampu, toh ….

Setelah berjalan kaki cukup jauh, kami tiba di restoran yang dituju. Dan inilah rupa makan siang kami dengan daging ikan dari Laut Marmara!

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah mengisi tenaga untuk berjalan lebih jauh lagi nanti, kami pun mengunjungi pelabuhan untuk mengitari Selat Bosphorus dengan kapal boat yang sudah di-booking. Jadi, hanya kami semua saja yang menempati kapal boat ini sehingga menjadi lebih leluasa untuk menikmati pemandangan Kota Istanbul.

Selat Bosphorus adalah selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan Asia serta menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam.

Biasanya setiap wisatawan asing yang mengunjungi Istanbul wajib kudu menyusuri Selat Bosphorus, lho. Kayak udah jadi kewajiban gitu. Kalau ditinggalkan sayang banget karena ini benar-benar best moment untuk foto-foto. Keren banget pemandangannya! Kedua mataku auto-jadi segar lagi setelah sekian lama mengantuk.

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Langitnya juga biru banget ditambah warna airnya juga biru. Ya, seperti satu paket ekstra mantap lah, hehe.

Setelah sekitar dua putaran penuh, kami pun beranjak dari kapal boat yang telah menemani kami menyusuri Selat Bosphorus. Lalu, kami melanjutkan berjalan kaki di tengah teriknya matahari serta orang-orang yang berlalu-lalang. Kami menuju Stasiun Marmara atau Marmaray Üsküdar İstasyonu, yaitu sebuah stasiun kereta api bawah tanah untuk menuju ke Kapalı Çarşı atau biasa dikenal dengan nama Grand Bazaar.

Mungkin tempat ini sudah terdengar tidak asing di telinga kalian, dan Grand Bazaar ialah sebuah pasar tertutup yang sangat terkenal sekaligus tertua di dunia. Pasar ini dibangun pada tahun 1455 setelah penaklukkan Ottoman atas Konstantinopel.

Akan tetapi untuk menuju ke sana, kalian harus berjalan kaki dengan jarak yang panjang karena letaknya yang cukup berbukit-bukit serta jalanan untuk ke sana lumayan sempit sehingga bus tidak diperkenankan untuk melewati. Juga, di sepanjang jalan menuju Grand Bazaar penuh dengan aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang maupun bersantai di kursi taman di sekitar sana.

Jadi, siap-siap pegal, ya, haha. Udah berasa kayak lagi naik gunung, sih jalannya.

Tak lama kemudian, kami tiba di Grand Bazaar. Pasar tertutup ini sudah dipadati oleh orang-orang dari lokal maupun mancanegara untuk membeli suvenir-suvenir khas Turki maupun makanan atau jajanan Turki lainnya. Sungguh beragam sekali di sini.

Untuk harganya pun beragam. Ada yang mahal, ada pula yang murah.

Setelah kami sudah merasa berbelanja cukup banyak, kami langsung mencari sebuah kedai untuk beristirahat sesaat. Kami pun mengunjungi kedai kebab Turki yang tampak membuat rasa laparku ini kembali muncul.

Tak lama kemudian, kegiatan belanja di Grand Bazaar pun usai. Kami semua harus berjalan kaki jauh untuk kembali ke bus. Untung saja Pak Supir tahu kalau kami semua sudah lelah sekali. Maka dari itu, kami tidak perlu menuju stasiun lagi karena Pak Supir sudah menunggu kami tepat di pinggir jalan dekat lokasi tempat keluarnya kami dari stasiun kereta api bawah tanah itu.

Lalu setelah itu, kami menuju ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Istanbul bernama Mall of Istanbul. Di sana, kami diberi waktu bebas sampai waktu yang telah ditentukan.

Tidak jauh jaraknya, ya sekitar beberapa menit lah dari lokasi kami saat ini menuju Mall of Istanbul.

Beberapa menit kemudian, kami semua tiba di Mall of Istanbul.

Karena waktu juga sudah mendekati malam hari, maka aku dan keluargaku memutuskan untuk makan malam di food court yang berada di dalamnya setelah berbelanja.

Turki memang terkenal dengan daging dombanya yang enak banget. Rata-rata makanan beratnya selalu menggunakan daging domba sebagai daging utamanya.

Akan tetapi, semua itu tergantung pada lidah masing-masing orang. Ada yang bilang kalau rasa daging domba khas Turki dan atau makanan khas Turki lainnya terasa hambar.

Berada di mall besar seperti ini, seketika mengingatkanku berada di salah satu mall di Jakarta. Bahkan arsitektur di dalamnya pun hampir sama. Hanya saja orang-orangnya doang yang berbeda. Bedanya di sini dominannya orang-orang Turki.

Kemudian, setelah kami semua sudah merasa puas sekali hari ini, kami pun diantarkan ke hotel untuk beristirahat dari perjalanan yang melelahkan ini. By the way, hotelnya sama seperti kemarin, hehe.

Hari Kesepuluh (15 Juni 2015): Kembali ke Tanah Air Melalui Abu Dhabi

Tak terasa bahwa hari ini adalah hari terakhirku berada di Turki, negara penuh sejarah yang unik.

Pagi ini kami bersiap-siap untuk menuju Bandara Internasional Atatürk dengan maskapai yang sama dengan keberangkatan kami kemarin. Karena hotel ini terletak dekat dengan bandara tersebut. Maka, waktu perjalanan kami tidak lama, hanya kisaran 20 menit saja.

Ya, seperti biasa. Setibanya kami di bandara, kami harus melewati check-in dan imigrasi sebelum ke ruang tunggu yang sudah tertera di boarding pass masing-masing. 

Karena waktu keberangkatan kami sekitar pukul 11.00. Maka dari itu, waktu boarding kami pun cepat. Dalam setengah jam ini, aku akan meninggalkan negara Turki.

Sampai jumpa Turki! Terima kasih sudah memberikan banyak kenangan yang begitu indah.

Terima kasih juga kepada Pak Supir yang senantiasa mengantar kami semua dari ujung ke ujung Turki tanpa kenal rasa lelah. Mantap betul buat Pak Supir!

 ***

4 jam kemudian, kami tiba di Abu Dhabi untuk transit terlebih dahulu sebelum menuju Jakarta, karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran kecil. Akan tetapi, sebelumnya kami harus menukar ke mata uang Dirham Uni Emirat Arab.

Kebetulan waktu boarding menuju Jakarta masih lama, yaitu pada subuh hari sehingga kami bisa lebih bersantai-santai.

Walau tidak ada nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia tentunya, tapi pasta saja sudah membuat kami cukup kenyang.

Seperti biasa, jetlag pun menghantuiku lagi.

Perbedaan waktu antara Uni Emirat Arab dengan Turki adalah satu jam lebih cepat dibandingkan Turki.

Karena waktu boarding menuju Jakarta masih sangat lama, kami memutuskan untuk bersantai di deretan kursi (bentuknya memanjang sehingga kita bisa tiduran di sana) untuk melepaskan kantuk dan penat serta bosan selama di bandara. Juga, akses jaringan Wi-Fi-nya malah lancar banget.

Enak buat nge-streaming YouTube!

Kami pun pergunakan waktu tersebut untuk bersantai.

***

Beberapa jam kemudian, suara wanita dari pengeras suara menyebutkan bahwa waktu boarding menuju Jakarta pun tiba.

Aku yang sudah tertidur nyenyak terpaksa harus bangun dengan menampilkan kedua mata yang merah menyeramkan (kata keluargaku, sih) untuk bergegas mengantre menuju pesawat untuk pulang ke Jakarta.

Setibanya di dalam pesawat, aku kembali tertidur sebab aku benar-benar tidak bisa menahan kantuk ini. Katanya, sewaktu diriku tertidur, bahwa telah terjadi turbulensi cukup kencang ketika posisi pesawat berada di atas India tepatnya. Namun, aku benar-benar tidak merasakan itu, malah aku sempat bermimpi, lho. Bayangkan ….

Ya, di sisi enaknya, aku beruntung bahwa jiwaku tertidur saat turbulensi. Akan tetapi di sisi tidak enaknya, AKU TIDAK MENDAPATKAN MAKAN MALAM!!!!!

Aku hanya diberikan sepotong roti sandwich yang tiba-tiba ada di hadapanku saat itu.

Kata abangku, aku sudah berapa kali dibangunkan. Namun, aku tetap tertidur seperti boneka. Ya gak apa-apalah. Setidaknya gak merasakan kencangnya turbulensi, haha.

Dan ya, perjalanan tiba di Jakarta masih sangat lama. Kuterus menunggu sambil merenungkan kesedihanku meninggalkan negara kesukaanku, Turki.

Hari Kesebelas (16 Juni 2015): Tiba di Jakarta

Hello, Jakarta! We meet again!

Setelah 8 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tepat pada sore hari yang cerah ini.

Setelah pesawat parkir dengan sempurna, kami bergegas keluar dari pesawat dengan menggunakan garbarata menuju dalam bandara.

Sebelum mengambil bagasi, kami semua harus melewati imigrasi untuk diperiksa paspor kami. Setelah itu, barulah kami diperbolehkan untuk mengambil bagasi kami masing-masing yang secara bertahap dikeluarkan oleh pihak bandara dari pesawat kargo. Setelah itu, aku dan keluarga langsung kembali ke rumah untuk beristirahat penuh dari perjalanan jauh ini.

OKE, LIBURANKU BERAKHIR. YAY!!

Omong-omong, terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti pengalamanku jalan-jalan ke Turki.

Kesanku terhadap perjalanan ke Turki benar-benar mengesankan. Mulai dari orang-orang lokalnya yang ramah sekali, pemandangannya asri dan keren, makanannya yang “wow”, serta banyak sejarah unik di setiap objek wisatanya di sana sehingga tidak sekedar liburan saja, melainkan wawasanku juga ikut bertambah.

Inilah yang membuat diriku menjadi sedih ketika meninggalkan negara Turki.

Well, I hope I can go to there again one day, as a tourist or a student ….

One day.

Teşekkür ederim Turkiye! Görüşürüz

 

Nama Penulis: Erita Angelia Oktaviyanti

Instagram: www.instagram.com/rii.alxee

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×