Loading...

 

Klenteng di tepi sungai (Dok. Pribadi)

Perjalanan ini dimulai dari Jakarta. Usai mengarungi angkasa selama satu jam dua puluh menit, pesawat yang saya tumpangi mendarat sempurna di landasan Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Hujan di pengujung tahun mengiringi langkah saya di Kota Khatulistiwa ini. Aroma Bumi Borneo segera menyergap. Sungai Kapuas yang sedang berlimpah air terus mengintip sepanjang perjalanan menuju penginapan.

Meski hujan terus mengguyur, hawa panas tetap menyelimut. “Hampir sama dengan Jakarta, Mas” tutur penjaga penginapan. Ya, bahkan terasa lebih panas dibandingkan dengan suhu di Jakarta. Malam itu, saya menikmati Pontianak. Esok paginya, perjalanan saya lanjutkan menuju Kota Singkawang. Saya menyewa sebuah mobil untuk mengantar perjalanan ke Singkawang. Mentari hari itu sudah mulai meninggi. Mobil pun segera dipacu. Jembatan Sungai Kapuas seperti sudah menanti. Panorama Kapuas dari jembatan sepanjang 420 meter ini, sayang jika dilewatkan begitu saja. Kapuas adalah sungai terpanjang di Indonesia, dengan panjang 1.143 kilometer dan lebar sekitar 400 meter.

Selepas jembatan Kapuas, sekitar 30 menit perjalanan, tak sah jika tak singgah di Tugu Khatulistiwa. Tugu ini menjadi penanda garis imajiner yang membelah bumi selatan dan utara. Di tempat ini, saya bisa menginjakkan kaki di dua belahan bumi sekaligus. Satu kaki di bumi selatan, satu lagi di bumi utara. Perjalanan berlanjut. Aroma Borneo kian terasa. Di kanan kiri jalan berjajar rumah-rumah panggung berbahan kayu. Sesekali terlihat penduduk melakukan akvitas di tepi sungai, seperti mencuci, mandi, memancing, atau membenahi jala ikan.

Nah, untuk urusan perut, tak perlu khawatir. Lantaran, di sepanjang perjalanan dari Pontianak hingga Singkawang banyak ditemukan kedai-kedai kopi dan rumah makan. Jika ingin sedikit sensasi, bisa menikmati santapan di kedai makan yang terletak di bibir pantai Laut Cina Selatan. Seperti siang itu, saya makan dengan iringan nyanyian ombak dan kipasan angin Laut Cina Selatan. Sensasi yang sungguh luar biasa!

Tak jauh sebelum masuk Kota Singkawang, mobil berbelok ke kiri. Saya menuju Pantai Pasir Panjang. Hawa pantai segera menyergap. Serakan pasir berwarna kecoklatan mulai terlihat. Suasana pantai sepi, saya pun bisa menikmati Pantai Pasir Panjang dengan leluasa. Sang surya mulai agak condong ke ufuk barat. Saya segera beranjak dari Pantai Pasir Panjang menuju Kota Singkawang. Begitu masuk Singkawang, suasana terasa berubah.

Semerbak ganda hio mulai menyengat di indera penciuman. Hampir di setiap simpang gang terdapat kuil-kuil kecil yang didominasi warna merah menyala. Suasana Pecinan mulai hangat terasa.

Keramik yang ciamik

Pekerja di Tungku Naga Singkawang (Dok. Pribadi)

Sebelum masuk Kota Singkawang, saya singgah sejenak untuk melihat satu warisan kerajinan tangan penduduk Singkawang berbahan keramik. Uniknya, aneka kerajinan keramik itu dipanggang di sebuah tungku yang besar sekali. Penduduk lokal menyebut tempat ini dengan sebutan Tungku Naga. Saya sempat heran, mengapa diberi nama Tungku Naga? Belum sempat bertanya, jawaban sudah ada di depan mata.

Sebuah tungku, tempat membakar keramik-keramik terlihat memanjang dan mengeluarkan asap panas. Bak naga yang sedang berbaring dan mengeluarkan karya-karya keramik yang ciamik, seperti mangkok, piring, gelas, dan guci. Karena hari itu tidak ada proses pembakaran, saya pun diijinkan menikmati panasnya Sang Tungku Naga. Meski tak ada pembakaran, namun suhu di dalam tungku itu amat panas. Beberapa pekerja nampak sedang membersihkan bagian dalam tungku.

Harga karya keramik di sini beragam, mulai Rp 1.500 untuk mangkok atau piring berukuran kecil, hingga guci-guci yang mencapai jutaaan rupiah. Tak hanya untuk konsumen dalam negeri, kerajinan lokal ini juga telah melanglang buana ke mancanegara.

Seribu Pak Kung

Vihara Tri Dharma Bumi Raya (Dok. Pribadi)

Puas bercengkerama dengan Si Tungku Naga, perjalanan saya berlanjut. Semakin masuk dalam Kota Singkawang, suasana Pecinan kian menyengat. Bangunan-bangunan dengan arsitektur gaya Negeri Tirai Bambu masih banyak ditemukan di sudut-sudut kota.

Singkawang, pada mulanya adalah sebuah desa dari wilayah Kesultanan Sambas. Pada medio 1740, Singkawang menjadi tempat persinggahan paling favorit para pedagang dan penambang emas Monterado, yang mayoritas berasal dari Tiongkok. Orang-orang Tiongkok itu kerap menyebut tempat persinggahan ini dengan kata San Kheu Jong.

Singkawang kian ramai dan menjanjikan. Maka, para penambang dan pedagang dari Tiongkok memilih menetap di tempat ini. Sehingga, tak mengherankan jika hingga saat ini, Singkawang amat kental dengan budaya Tiongkok, Dan, tak heran pula jika tempat ini dijuluki sebagai Kota Seribu Klenteng. Ada lebih dari seribu klenteng yang tersebar di Singkawang.

Sore itu, saya sempat mengunjungi salah satu klenteng yang berdiri di tengah Singkawang. Suasana memang sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang sedang mempersiapkan hio.

Ganda hio yang sudah dibakar menusuk sela-sela lubang hidung. Temaram lilin-lilin menerangi sudut-sudut klenteng yang didominasi warna merah cerah. Dengan cukup leluasa, saya keluar masuk klenteng ini.

Masyarakat Singkawang menyebut klenteng-klenteng ini dengan sebutan Pak Kung (‘Pak’ berarti kakak laki-laki dari ayah; ‘kung’ berarti kakek). Jadi, Pak Kung bisa diartikan sebagai ‘sesepuh yang amat sangat dihormati atau yang menjadi sesembahan’. Biasanya, orang Hakka menambahkan kata ‘thai’ yang artinya besar, sehingga menjadi Thai Pak Kung (dialek Hokkien menyebutnya Toa Pe Kong).

Kehadiran Pak Kung ini tak hanya sebagai tempat memanjatkan doa. Kehadirannya juga menjadi tempat persinggahan bagi siapa pun. Pak Kung ini menyimpan beragam cerita, cinta, cita-cita, sejarah orang keturunan Tiongkok di Singkawang. 

Singkawang menyimpan destinasi budaya. Ada aneka festival budaya yang digelar rutin saban tahun. Perayaan Tahun Baru Imlek di bulan Januari atau Februari menjadi “festival budaya” yang paling ramai di Singkawang. Pada saat itu, Kota Singkawang bersolek menjadi merah menyala.

Perayaan Imlek ini mencapai puncak pada Cap Go Meh yang dirayakan 15 hari setelah Imlek. Pada perayaan ini, hampir semua toko, kantor, dan sekolah diliburkan. Jalan-jalan raya ditutup untuk karnaval budaya. Warga akan tumpah ruah di jalanan. 

Karnaval budaya ini menampilkan Barongsai, ular naga (liong), Choi Lam Shin atau keranjang jelangkung, dan yang paling mengundang decak kagum adalah atraksi Tatung.

Tatung merupakan atraksi sejenis debus atau kuda lumping di Jawa, di mana para pemainnya dalam kondisi in trance, dirasuki roh-roh dari dunia lain. Dalam atraksi ini pemain Tatung menampilkan kemampuan, seperti pipinya ditusuk dengan benda tajam, atau duduk di atas kursi berpaku tajam.

Namun, saya tidak datang ke Singkawang tepat pada waktunya. Sehingga, tak dapat menikmati sensasi peristiwa budaya itu. Tapi suatu saat, pasti saya akan datang kembali ke Singkawang untuk menikmati kelimpahan dan keluhuran budaya itu.

Seruput Kopi Nikmat

Jika ke Singkawang, tak nikmat tanpa menyeruput Kopi Nikmat. Kedai di tepi Jalan Sejahtera itu memang bernama “Kopi Nikmat”. Selain kopi, kedai ini juga menyajikan aneka kudapan. 

Kedai Kopi Nikmat amat legendaris di Singkawang. Menurut cerita warga lokal, warung kopi yang pernah menjasi lokasi syuting film “Aruna dan Lidahnya” ini berdiri medio 1930-an, artinya sudah hampir 90 tahun lalu.

Warung Kopi Nikmat menampilkan citarasa kopi robusta. Interior kedai kopi juga tetap dipertahankan sejak dulu. “Tidak pernah direnovasi, memang sudah seperti ini dari dulu bangunannya,” kisah Alang, pemilik Kopi Nikmat.

Menu favorit di sini adalah kopi susu pancong, kopi hitam pancong, dan teh tarik. Secangkir kopi dibanderol Rp 7.000 sampai Rp 9.000. Kedai buka 06.00 – 15.00.

Kedai kopi di Singkawang bukan sekadar menjual secangkir kopi dan aneka kudapan. Sama halnya Pak Kung, warung kopi di Singkawang juga menyimpan ragam cerita warga Singkawang.

Singkawang memang menyimpan sejuta kisah. Meskipun hanya dua malam berada di pelukan Negeri Pak Kung, saya menemukan aneka kisah, beragam cerita, dan tentu sejuta rindu untuk kembali ke sana. 

“Singkawang, ku ‘kan kembali...,” bisikku dalam hati.

Penulis: Yohanes Prayogo

Instagram: @yohanes_prayogo

Twitter: @yprayogo

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×