Loading...

warung kopi klotok

Kurang lengkap rasanya bila liburan ke luar kota tanpa berburu kuliner di kota tersebut. Yang paling menarik adalah mencoba menikmati makanan tradisionalnya yang jarang atau bahkan tidak ada di Kota tempat kita tinggal. Saat ini para pemburu kuliner tak hanya mencari makanan khasnya saja, tapi juga tempat dan suasananya. Hal tersebut membuat para pebisnis kuliner merancang tempat makan sedemikian rupa yang mencerminkan ke khas-an Kota tersebut untuk menarik pelancong datang. 

Tak terkecuali di Jogjakarta, kota yang selalu terdepan dalam menjaga kelestarian budayanya. Ciri khasnya inilah yang selalu menarik saya untuk datang kembali ke sana. Awal tahun 2020 kemarin saya dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke sana lagi. Hanya untuk sekedar melepas rindu berjalan-jalan di antara para pedagang kaki lima di sepanjang jalan Malioboro dan mencoba mitos berjalan melewati dua pohon beringin di Alun-alun kidul dengan menutup mata pakai kain. 

warung kopi klotok

Namun kali ini kami juga akan mencoba beberapa kuliner khasnya. Salah satunya adalah warung kopi klotok. Warung ini berada di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem, Kaliurang, Jogjakarta. Meski tempatnya sedikit masuk gang kecil, namun tak susah untuk mencarinya, karena sudah ada papan petunjuk jalan menuju warung tradisional ini. Warung ini buka dari pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB. Kami datang sekitar pukul 09.00 WIB untuk sarapan dan saat sampai di sana ternyata warung sudah ramai sekali. Kami harus rela mengantre untuk mengambil makanan.

Di sini konsep pelayanannya adalah prasmanan, jadi pengunjung mengambil sendiri makanan yang mereka inginkan. Nanti setelah selesai makan baru membayar ke kasir. Meski bernama Kopi Klotok, namun menu yang disajikan beragam.  Makanan dan minuman yang disuguhkan sungguh menggiurkan. Semua adalah makanan rumahan tradisional khas Jogja. Menu istimewanya adalah Sayur Lodeh. Ada lodeh kates (pepaya muda), lodeh terong, lodeh kluwih (bentuknya seperti nangka muda), lodeh tempe lombok ijo.

Bila kalian tak suka masakan bersantan, disediakan sayur sop. Untuk lauknya ada tempe, Pindang dan telur dadar, semuanya digoreng garing sehingga bila dimakan rasanya kress kress enak sekali di lidah. Untuk minumannya ada teh, minuman jeruk peras dan yang teristimewa adalah wedhang kopinya ada kopi tubruk gula batu dan kopi klotok.

warung kopi klotok

Bila kalian datang saat sore atau malam hari dan hanya ingin bersantai, mengobrol dan menikmati suasana saja, kalian bisa memesan minuman hangat dan camilan ndesonya yang tak kalah enaknya. Ada pisang goreng dan jadah goreng yang disajikan panas-panas. Sangat cocok sebagai teman nongkrong kala senja.

Yang membuat warung ini lebih menarik dari warung-warung lainnya adalah suasana warung yang ditata layaknya rumah tempo dulu. Bangunannya berupa rumah Joglo beratap genteng dan dinding kayu dan gedek bambu. Dapurnya luas dan kompornya masih berupa pawonan (kompor tungku dengan bahan bakar kayu). Peralatan masaknya juga masih tradisional, beberapa peralatan masih terbuat dari tanah liat. 

Di bagian belakang warung terdapat halaman luas dengan sawah di sebelahnya yang membentang. Beberapa pengunjung memilih untuk membeber tikar dan duduk di halaman belakang. Kamipun demikian, selain karena tempat duduk di dalam sudah penuh alasan kami memilih duduk di halaman adalah agar bisa menikmati suasanya pedesaan yang jarang sekali kami rasakan di Kota. Makan beralas tikar dibawah pohon dengan semilir angin dan pemandangan hijau di depan, sangat menentramkan. Suasana kekeluargaanpun dengan cepat tercipta. Tak salah memang bila akhirnya banyak sekali orang yang menyempatkan diri untuk ke sini meski jaraknya lumayan jauh dari pusat jogja. 

Jadi buat kalian yang sedang atau akan ke Jogja, kalian bisa coba ke sini untuk bisa merasakan bagaimana nikmatnya hidup dalam kesederhanaan Jogja tempo dulu. 


Penulis: Laily Masruro Octavia

Instagram: lelyelated

Press Enter To Begin Your Search
×