Loading...

sikunir

(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Ketika mendengar kata Dieng, hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah puncak Sikunir, ya bagaimana tidak puncak Sikunir telah dinobatkan sebagai salah satu lokasi terbaik di Asia untuk menikmati sunrise atau sering disebut Golden Sunrise. Dan saya sangat senang karena berkesempatan melakukan trip ke Dieng atau biasa dikenal sebagai negeri di atas awan. 

Perjalanan ini saya mulai ketika liburan akhir tahun lalu, cukup lama saya dan teman merencanakan trip menuju Dieng dan Sikunir adalah target kami, sebagai penikmat sunrise kami melakukan research untuk menuju kesana dan juga mempersiapkan beberapa hal seperti penginapan, tiket bus dan juga kendaraan untuk berkeliling Dieng. Sekitar satu minggu sebelum hari H semua persiapan sudah beres dan inilah awal perjalanan kami.

Jujur saja trip ini adalah salah satu trip saya yang paling berkesan, bagaimana tidak mulai dari kami hampir ketinggalan bus sampai kami tidak berani mandi karena air di Dieng sangat dingin, dan lagi pula ini adalah pendakian pertama saya walau saya tau ini mungkin bukan pendakian seperti mendaki ke gunung sungguhan tapi jujur ini menjadi awal ketertarikan saya untuk mencintai gunung dan pendakian. 

Dan perjalanan kami berawal dari terminal bus Kalideres menuju Wonosobo, bus kami jika sesuai jadwal harus nya akan berangkat pukul 16.00 namun karena kemacetan Jakarta sekitar pukul 15.50 saya dan teman masih terjebak dalam busway menuju terminal Kalideres, rasanya hati ini semakin khawatir takut jika kami akan ketinggalan bus, sampai beberapa kali kami harus menelepon pihak bus untuk menanyakan apakah bus nya sudah berangkat atau belum bahkan kami sempat meminta jika saja kami terlambat agar mereka mau menunggu kami, jujur saja jika waktu itu kami ketinggalan bus mungkin saya akan menangis karena gagal trip ke Dieng.

Tapi syukur karena sesuatu hal bus yang harus nya berangkat pukul 16.00 ngaret dan berangkat pukul 17.00 karena kami juga baru tiba di terminal sekitar pukul 16.10, syukurlah kami tidak ketinggalan bus. Perjalan malam menuju Wonosobo membuat saya tidak bisa tidur semalaman di dalam bus padahal perjalanan ini memakan waktu hampir 12 jam lamanya, sampai akhirnya sekitar pukul 05.00 pagi kami tiba di terminal akhir yaitu terminal Wonosobo dan kami langsung di sambut dengan hawa dingin mengingat ini masih pukul 05.00 pagi, karena masih sepi kami memutuskan untuk sejenak istirahat di sebuah minimarket sembari kami membeli sedikit perbekalan takut takut kami kelaparan, sampai akhirnya matahari sudah mulai naik dan saya lihat jam sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, saya dan teman memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu sambil sesekali kami bertanya bagaimana dan naik apa untuk menuju ke Dieng karena kami sempat kebingungan juga bagaimana cara menuju Dieng dari Wonosobo.

Dan ketika kami selesai sarapan serta mendapat sedikit petunjuk dari warga sekitar mengenai akses ke Dieng kami bertemu 2 orang backpacker lainnya yang juga ingin menuju ke Dieng dan tanpa basa basi kami langsung memulai percakapan dengan mereka agar kami bisa bersama sama ke Dieng dan sharing ongkos untuk naik angkutan umum menuju Dieng. Seperti yang sudah saya bayangkan bahwa akses dari Wonosobo ke Dieng memanglah menanjak rasanya seperti mendaki hanya saja kami menggunakan angkutan umum jadi tidak melelahkan. 

sikunir

(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Tepat pukul 09.00 akhirnya kami sampai di Dieng dan dari sini kami berpisah dengan 2 orang backpacker yang sebelumnya bersama kami karena katanya mereka akan langsung menuju ke penginapan. Sedangkan kami akan mengambil sepeda motor terlebih dahulu yang sebelumnya sudah saya sewa dari jauh-jauh hari untuk berkeliling Dieng nantinya, sebelum menuju penginapan kami menyempatkan berkililing Dieng dan berhenti sejenak di candi arjuna sambil sesekali kami mencari spot foto untuk di upload ke sosial media kami tentunya hehehe. 

Selesai berkeliling dan hunting beberapa foto akhirnya kami menuju penginapan untuk merapikan barang-barang dan istirahat karena tujuan utama kami adalah mendaki ke Sikunir dini hari nanti. Sesampainya di penginapan karena sudah hampir seharian tidak mandi awalnya saya ingin langsung bersih bersih apa lagi mengingat di sini pasti airnya sejuk, tapi ternyata saya salah karena air disini sangat dingin mungkin hampir sedingin air es dari kulkas bahkan menginjak lantai kamar mandi saja telapak kaki saya sudah ngilu duluan sampai akhirnya saya hanya cuci muka saja karena takut kedinginan hehe. 

Mengingat waktu kami memang terbatas untuk liburan kali ini tentu saya dan teman tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, sekitar sore menjelang malam kami sempat mengunjungi telaga warna, tempat yang menjadi favorit banyak orang jika ke Dieng selain puncak Sikunir tentunya dan jika berbicara tentang telaga warna yang menarik dari tempat ini adalah warna air telaganya yang bisa berubah-ubah seiring waktu, ketika kami datang warna air telaganya sangat hijau cerah tapi menurut beberapa warga di sini terkadang warna air telaga ini bisa menjadi kuning bahkan berubah seperti warna pelangi yang warna warni selain itu di dalam kawasan telaga warna ini juga ada beberapa tempat yang bisa di jadikan spot foto yang bagus juga seperti hamparan padang savana yang akan menguning ketika senja datang, kami juga menyempatkan diri ke Dieng Plateau dengan tujuan mencari spot foto terbaik agar bisa di upload ke sosial media supaya teman-teman tau kami sedang melakukan trip hehe, karena terlalu fokus hunting foto sampai-sampai tidak terasa waktu sudah semakin sore dan matahari juga sudah mulai terbenam artinya kami harus segera kembali ke penginapan. 

sikunir

(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Berbekal jaket, topi kupluk dan sarung tangan kami berharap ini cukup untuk mengarungi dinginnya malam di kota Dieng dan ternyata kami salah lagi karena udara malam disini benar-benar membuat kami kedinginan karena suhu disini bisa mencapai 11 sampai 12 derajat saja jika malam tiba, bahkan warga sekitar saja ketika malam datang jarang sekali ada yang keluar rumah, tapi karena ini Dieng tentu kami tidak ingin menghabiskan malam hanya di penginapan saja maka setelah selesai makan malam kami ingin menikmati malam di alun alun Dieng sambil ngopi-ngopi walaupun sebenarnya sangat dingin untuk keluar dari penginapan tapi tidak apa-apa karena kami pikir kapan lag bisa menikmati hal seperti ini, tapi sayang baru sekitar 1 jam kami nongkrong dan ngopi-ngopi, warung-warung disini sudah tutup padahal niat kami ingin sampai larut malam duduk disini tapi ya sudahlah kami akan kembali ke penginapan saja dan lagipula saya pikir kami harus istirahat agar ketika mendaki ke Sikunir nanti bisa lebih segar. Jadi kami putuskan untuk istirahat dan kembali ke penginapan.

Baru beberapa menit saya memejamkan mata rasanya selimut ini tidak kuat menahan hawa dingin sampai sampai untuk pertama kalinya saya harus tidur mengenakan jaket dan selimut sekaligus agar lebih hangat. 

Tepat pukul 03.00 alarm kami berbunyi berarti itu tandanya kami harus segera bergegas menuju Sikunir, saya mencoba untuk berjalan ke kamar mandi, lagi-lagi baru saja menginjak lantai kamar mandi telapak kaki ini sudah tidak kuat karena rasanya seperti menginjak es yang amat dingin, saya mencoba membangunkan teman saya namun sepertinya dia masih terlelap dan ketika saya cek beberapa kali kondisi tubuhnya ternyata dia kedinginan dan sempat menggigil sepertinya teman saya hipotermia karena takut semakin parah saya coba untuk memberinya selimut tambahan agar kondisinya lebih hangat, dan saya juga sempat membuatkan teh hangat untuk dia, karena kondisi teman saya juga rasanya tidak memungkinan untuk mendaki ke Sikunir dan saya juga tidak mungkin untuk meninggalkan dia sendiri di penginapan akhirnya saya putuskan untuk tetap stay di penginapan dan membatalkan rencana pendakian kami ke puncak Sikunir pagi ini, saya juga kembali melanjutkan tidur dan berharap pagi nanti kondisi teman saya sudah lebih membaik sampai pada akhirnya ketika pagi datang teman saya sudah lebih membaik dan lebih fit juga apalagi setelah kami sarapan. 

Mengingat besok kami sudah harus kembali ke Jakarta jadi kami putuskan untuk tetap mendaki ke Sikunir tepat pukul 09.00 dengan memastikan juga bahwa kondisi teman saya sudah benar-benar kuat dan fresh. Akhirnya kami keluar dari penginapan menuju desa Sembungan, ya itu adalah desa tertinggi di pulau Jawa dan satu satu nya akses menuju puncak Sikunir, sekitar pukul 09.15 kami sudah sampai di gerbang pendakian Sikunir lalu kami mulai berjalan menapaki langkah demi lengkah anak tangga yang masih tertata rapi di awal-awal perjalanan menuju puncak Sikunir sampai lama kelamaan kami mulai seperti mendaki karena semakin mendakati puncak akses nya semakin menanjak membuat kami cukup kelelahan, memang tidak butuh waktu lama untuk mencapai puncak Sikunir hanya sekitar 30 sampai 45 menit saja kami sudah mencapai puncak dan semua kelelahan ketika mendaki tadi terbayar lunas dengan pemandangan dari puncak Sikunir dan dari atas sini juga kami bisa melihat dengan jelas gunung Prau dan Merbabu tepat di depan kami gunung yang katanya juga punya keindahan yang tidak kalah dengan gunung lainnya di Indonesia.

Dan ini lah pesona negeri di atas awan yang sering orang bilang andai kami lebih pagi mungkin akan jauh lebih indah tapi untuk kami ini juga sudah sangat indah serta bisa menjajakan kaki di lokasi yang mungkin tidak semua orang berkesempatan punya waktu untuk berkunjung kesini maka dari itu kami sangat bersyukur bisa menjadi salah satu yang mendapatkan kesempatan ini. Kami juga berjanji akan kembali lagi kesini suatu hari kelak untuk menikmati sunrise nya. 
Sekian untuk cerita perjalanan saya ke negeri di atas awan (Dieng).
 

Penulis: Abdul Haris

Instagram : haris_abdulll

Twitter : haris_abdulll

Facebook : haris.abdulll

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×