Loading...

 

Dokumentasi Pribadi Nindya Ayu Pertiwi

 

 “A journey is best measured in friends, rather than miles," Tim Cahill.

Berbicara tentang travelling, aku yakin setiap orang memiliki definisi dan tujuan masing-masing. Ada yang murni refreshing ada pula yang hanya penasaran dengan hal yang sedang booming. Ada yang sedang ingin terasing ada pula yang sekedar mencari konten untuk di-posting. Apa pun itu, selama mereka tidak menyebabkan kepala orang lain pening, saya rasa tidak ada yang perlu dibuat pusing. Sebab, cerita dan makna di balik sebuah perjalanan lah yang kataku paling penting. 

Seperti halnya cerita perjalananku di penghujung 2018 lalu. Jauh sebelum pandemi datang dan menjadi benalu. Aku belajar banyak hal dan bertemu orang-orang baru. 

Sudah sejak awal semester tujuh kujadwalkan. Berulangkali gagal dan meleset jauh dari perkiraan. Namun, positif thinking tetap kuterapkan. Akhirya di penghujung tahun Tuhan mengabulkan. 

Tepat tiga hari setelah melakukan booking online, yakni 13 Desember 2018 izin pendakian kami resmi keluar. Kami dijadwalkan mendaki pada tanggal 16, namun menuju tanggal 16 ada-ada saja ujiannya. Mulai dari diare berkepanjangan, tiba-tiba sinus datang, badan meriang, dan pikiran yang terus-terusan tidak tenang. Pertanyaan "jadi berangkat nggak ya" pun mulai lalu-lalang di pikiran. Padahal logistik pendakian sudah disiapkan, tiket kereta sudah dipesan, tempat bermalam pun juga sudah ada tumpangan.  

H-1 menjelang keberangkatan sakit perutku belum juga reda. Badanku lemas tak ada daya. Sembari memandangi carrier yang sudah tinggal angkat aku bertanya-tanya, “apa penyebabnya dan bagaimana cara menanganinya”. 

Beberapa detik setelah terngiang dengan pertanyaan apa dan bagaimana tiba-tiba ponselku berdering. Ibuku telpon, menanyakan keberangkatanku esok hari. Oh ya, ibuku tidak tahu jika aku akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Beliau hanya tahu aku akan pergi ke Surabaya. Aku takut Ibu khawatir karena pendakian kulakukan pada bulan Desember. Bulan yang kata orang Jawa adalah “wulan gede-gedening sumber”. 

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. 15 Desember 2018. Aku bangun pagi. Kubaca kembali daftar logistik yang harus kubawa. Karena pendakian minim logistik adalah hal yang berbahaya, makanya aku sangat menghindarinya. Beres ! Semua sudah tertata rapi di dalam carrier. Tinggal surat keterangan sehat dari dokter. Aku bersih diri, kemudian menghubungi Vita. Selanjutnya  kami cari Surat keterangan sehat ke klinik. 

Mendaki Gunung Semeru memang tidak seperti mendaki gunug-gunung lain. Dibutuhkan surat keterangan sehat dari dokter yang masa berlakunya adalah H-1 pendakian. Oleh karena itu kami carinya dadakan, yaitu satu hari sebelum pendakian kami lakukan. Bagi kalian yang ingin melakukan pendakian ke Semeru jangan lupa perhatikan masa berlaku surat kesehatan yang kalian bawa ya ! 

Surat keterangan sehat beres. Bekal makan untuk makan siang di kereta beres. Logistik beres. Mulesnya aja yang tidak beres-beres. Nekat ! Kami berangkat dari kosan ke stasiun menggunakan BRT (Bus Rapid Trans) Semarang. Maklum saat itu kami masih berstatus sebagai mahasiswa, jadi kalau jalan maunya yang irit-irit. Kami hanya perlu mengeluarkan uang Rp 1000 dan menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa untuk bisa sampai di halte Stasiun Tawang, Semarang. Untuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Semarang, fasilitas ini wajib dimanfaatkan.

Setelah transit dua kali, yakni di Halte BRT Setia Budi dan Halte BRT Kagok akhirnya aku dan Vita sampai di Stasiun Tawang. Sesampainya di Stasiun Tawang aku memutuskan untuk menghubungi Ibuku dan bilang kalau sebenarnya aku tidak main ke Surabaya melainkan akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Aku takut kualat, jadi kuputuskan untuk terus terang. Percaya atau tidak, setelah berkata jujur dan berpamitan dengan baik, mules di perut tidak lagi kuraskan. Rupanya doa Ibu adalah kunci. Tips untuk kalian yang ingin bepergian, jangan lupa minta restu kepada orang tua. Agar jalan kalian dipermudah oleh yang Maha Kuasa. Ehem !  

Kereta yang kami tumpangi dijadwalkan berangkat pukul 12.02 WIB dan sampai di Surabaya pukul 16.25 WIB. Kami memilih kereta ke Surabaya karena kami pikir harga tiketnya lebih murah daripada kereta yang langsung ke Malang, yakni Rp. 49.000. Lumayan bisa ngirit. Setelah sampai di Surabaya kami berencana naik kereta lokal untuk bisa sampai di Malang.

Perihal kereta, bagi kalian yang dari Semarang jika tidak ada tujuan di Surabaya dan tidak suka ribet, alangkah lebih baik langsung membeli tiket Semarang-Malang. Agak mahal sedikit tetapi praktis. Tidak kerja dua kali seperti yang aku dan Vita lakukan. Namun jika memang ingin jalan-jalan dulu ke Surabaya, cara yang kami lakukan boleh dicoba.

Tepat 16.25 WIB. Kereta kami sampai di Surabaya. Setelah turun dari kereta, kami bergegas menuju loket dengan tujuan membeli tiket kereta lokal yang menuju ke Malang. Namun sayang, rencana kami tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata kereta yang kami harapkan tidak diberangkatkan melalui stasiun di mana kereta dari Semarang berhenti, yakni stasiun Pasar Turi. Mau tidak mau kami harus segera keluar dari stasiun Pasar Turi dan menuju stasiun Gubeng. Untuk menghemat waktu kami memutuskan menggunakan layanan ojek online (mobil). Waktu itu kami dikenai tarif Rp 27.000. 

Sesampainya di stasiun Gubeng, aku langsung berlari menuju loket, sedangkan Vita menjaga carrier di dekat pintu masuk. Kulihat tulisan “tiket kereta ke Malang habis” namun, aku tetap nekat. Aku pura-pura tidak melihat tulisan yang terpampang dan lanjut bertanya kepada petugas loket. 

“Mbak, kereta ke Malang masih ada?”, tanyaku pada petugas loket.

“Jam tujuh, berdiri”

Syukurlah. Walaupun tidak dapat kursi kami masih bisa berangkat ke Malang malam ini. Rp 24.000 dua tiket.

Saat itu sekitar pukul 18.00 WIB. Sembari menunggu kereta aku memutuskan menghubungi salah seoarang kerabat yang tinggal di Surabaya. Kami bertemu dan memutuskan bincang sejenak di Sebuah kedai kopi yang letakya tidak jauh dari stasiun Gubeng. Salah perkiraan ada hikmahya juga. Aku bisa temu kangen dengan rekanku yang terakhir kujumpai tahun 2016. Dengan carrier di punggung, kami berjalan kaki menyeberangi jembatan Kali Mas. Butuh waktu lebih kurang lima menit untuk bisa sampai di kedai yang kami tuju. Kami ngobrol kurang lebih selama 30 menit. Setelah waktu menunjukkan pukul 18.50 aku dan Vita memutuskan segera kembali ke stasiun Gubeng.

Sekitar pukul 19.05 kereta yang kami tunggu tiba. Larilah kami mencarikan tempat untuk carrier. Setelah carrier aman, kami cari tempat duduk. Kami duduk di sembarang tempat yang kosong. Jika pemiliknya datang kami mencari tempat lain. Hal itu kami lakukan beberapa kali. Sebuah perjuangan untuk menjumpai keindahan Tuhan. Bersyukurnya kami malam itu, karena penumpang dalam gerbong yang kami pilih adalah para calon pendaki Semeru semua. Tempat barang full carrier. Kami tak segan untuk bertegur sapa sampai pada akhirnya ditawari tempat duduk. Tidak jadi berdiri Surabaya-Malang. Aku dan Vita duduk manis dan dapat teman baru.

Tips saat kalian bertemu dengan para calon pendaik atau traveller lain yang kebetulan satu tujuan. Jangan sungkan untuk membuka obrolan dan bertegur sapa dengan cara yang sopan. Siapa tahu kalian akan saling membutuhkan dan memerlukan pertolongan. 

Sekitar pukul 23.10 WIB Kereta kami sampai di Stasiun Malang. Kami memutuskan untuk langsung menuju kosan salah seorang kerabat di Malang menggunakan ojek online. Sesampainya di kosan kami bersih diri. Menyadari bahwa besok pagi kami butuh tenaga ekstra juga kesehatan yang harus selalu dijaga, kami pun tidak begadang dan memutuskan untuk segera tidur.

***

16 Desember 2018. Pukul 05.30 Dimas sudah sampai di depan kosan. Batas minimal sebuah kelompok pendaki Gunung Semeru kala itu adalah tiga anggota. Apabila kurang dari tiga anggota, kelempok tersebut diwajibkan bergabung dengan kelompok lain dengan syarat surat keterangan ketersediaan dari kelompok lain atau bisa dengan cara lain, yaitu menggunakan jasa porter. Karena tidak mau ribet, sejak awal perencanaan kami sepakat melakukan pendakian dengan jumlah minimal. Sebelumnya Dimas pernah melakukan pendakian ke Semeru pada tahun 2017. Jadi, dia sudah berpengalaman dan tahu medan.

Kami menyewa dua sepeda motor dengan harga Rp 320.000 untuk dua hari dua malam. Setelah ambil motor kami sarapan agar terhindar hal-hal yang tidak diinginkan. Penting bagi pendaki atau traveller memerhatikan asupan nutrisi saat akan melakukan perjalanan. Jangan sampai kita tidak menikmati perjalanan hanya karena sakit akibat telat makan atau makan makanan yang tidak bergizi. Setelah cukup, bekal untuk makan siang serta sore beres, kami berangkat. Aku berboncengan dengan Vita, sementara Dimas berkendara seorang diri. Perjanalan menuju Ranu Pani kurang lebih dua jam dari pusat Kota Malang.

Sesampainya di daerah Tumpang kami melihat para pendaki dan beberapa jip berjejer rapi. Ada beberapa wajah yang pernah kami lihat di gerbong kereta. Bagi kalian yang tidak mau capek nyetir menuju Ranu Pani, kaian bisa bergabung dengan pendaki lain untuk menumpangi jip. Ongkosnya bisa jauh lebih murah jika dibandingkan dengan sewa jip sendiri. Namun, kalian harus sabat menanti hingga jip memenuhi kuota.

Di gapura selamat datang ada pengecekan tiket masuk pengunjung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena kami sudah melakukan pendftaran online maka kami hanya perlu menunjukkan bukti pendaftaran. Oh ya waktu itu harga tiket ke Semeru adalah Rp 19.000 untuk hari biasa dan Rp 24.000 untuk hari libur.

Semakin naik kami semakin sering berjumpa dengan jip yang baru turun dari Bromo. Carrier yang kami letakkan di bagian depan  motor sempat akan tejatuh di tikungan yang sekaligus tanjakan tajam. Karena jalan menuju Ranu Pani tidak cukup lebar, kami sempat berhenti dan mengalah pada jip yang melintas sekaligus membenarkan posisi carrier.  

 

Dokumentasi Pribadi Nindya Ayu Pertiwi

Tidak lama setelah insiden carrier yang hampir jatuh, kami sampai pada titik yang membuat air mata kami tiba-tiba menetes. Di sebelah kiri kami terlihat Bromo yang sedang hijau-hijaunya. Di sebelah kanan kami terlihat puncak Mahameru yang gagah dan memesona. Indah sekali. Kami memutuskan berhenti sejenak dan menikmati pemandangan yang tidak setiap hari bisa kami saksikan. 

Setelah puas kami lanjut jalan. Sekitar pukul 11.00 WIB kami sampai di Ranu Pani. Desa terakhir yang sekaligus menjadi basecamp untuk para pendaki Gunung Semeru. Kami berhenti di sebuah penitipan motor. Untuk penitipan di area Ranu Pani biayanya adalah Rp 5.000 per hari per motor. Selanjutnya kami berjalan menuju basecamp untuk melakukan registrasi ulang.

Perihal Registrasi Aku dan Vita menyerahkannya kepada Dimas. Surat keterangan sehat, bukti transfer, bukti cetak pendaftaran, surat pernyataan, daftar perlengkapan dan perbekalan, serta fotocopy kartu identitas masing-masing anggota sudah kami siapkan. Dimas pun langsung menuju loket regsitrasi.

Saat menunggu Dimas melakukan registrasi ulang Aku dan Vita bertemu dengan teman-teman yang kami kenal di gerbong kereta. Mereka hadir jauh lebih awal dari kami, tetapi karena syaratnya tidak lengkap keberangkatan mereka jadi tertunda. Aturan pendakian di Gunung Semeru kala itu memang paling beda dan paling ketat di antara gunung-gunung lain di Indonesia. Jika syarat-syarat tersebut tidak lengkap, maka calon pendaki tidak bisa melanjutkan pendakian dan harus melengkapinya terlebih dahulu. Hal ini dilakukan demi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan para pendaki.

30 menit kemudian Dimas datang menghampiri kami. Namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 kami tidak langsung berangkat dan memilih untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Setelah beribadah kami memasuki sebuah ruangan untuk melakukan briefing. Dalam sesi ini semua calon pendaki diberi tahu apa saja yang boleh dibawa dan boleh dilakukan selama berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sungguh ini pengalaman pertama saya di-briefing sebelum mendaki. Sistem yang sangat baik dan patut dicontoh oleh gunung-gunung lain. Selesai briefing Dimas memimpin doa dan kami berangkat tepat pukul 13.00 WIB. Tak lupa, untuk menyokong energi  madu kami keluarkan dari kotak P3K.

Estimasi waktu dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo adalah empat sampai dengan lima jam. Mulai dari start menuju POS 1 jalur dapat terbilang landai dan tidak terlalu menguras tenaga. Normalnya untuk sampai di POS 1 dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Saat menuju POS 1 kami masih sering berpapasan dengan pendaki yang baru saja turun. Seperti biasa, salam semangat selalu terucap dari mereka. 

Satu jam kemudian kami sampai di POS 1. Karena hanya bertiga dan keadaan badan masih pada fit, kami tidak berhenti dan memutuskan langsung menuju POS 2. Jarak antara POS 1 dan POS 2 adalah jarak antar POS yang paling dekat. Namun, karena sudah mulai sedikit menanjak saya merasa cukup lama untuk sampai di POS 2.

Sesampainya di POS 2 kami bertemu dengan seorang pendaki asal Ambon, Mas Zul sapaannya. Kami beristirahat dan makan semangak bersama. Setelah dirasa cukup kami pun melanjutkan perjalanan. Mas Zul bergabung dengan kami. 

Menuju POS 3 kami mulai diingatkan oleh sebuah poster agar berjalan hati-hati dan tidak saling mendahului karena jalur menuju POS 3 licin dan rawan longsor. Tidak ada pendaki turun yang kami jumpai. Selama kurang lebih 1,5 jam hanya ada kami berempat di jalur itu. Bukan riang hati kami ketika mulai terlihat gerombolan manusia yang tengah asyik menyantap kudapan di POS 3. Kami pun semakin Semangat. 

Merasa masih aman dan masih bertenaga kami tidak beristirat dan hanya numpang lewat di POS 3, padahal setelahnya ada tanjakan curam yang harus kami lalui. Kami berjalan perlahan, sebab perjalanan mulai terasa sangat berat. Aku dan Vita berulang kali berhenti di tengah tanjakan. Mas Zul yang berada di urutan paling depan dan Dimas yang berada di urutan paling belakang sangat sabar menunggu kami yang sadang kelelahan.

Aku berpikir tanjakan curam tadi adalah satu-satunya tanjakan yang akan kami lalui, namun ternyata di depan masih banyak tanjakan yang harus kami lalui. Dimas selalu menyemangati aku dan Vita dengan bilang, “Ayo ! Ranu Kumbolo dua belokan lagi”. 

Menuju Ranu Kumbolo kami sering berhenti dan minum air putih. Aku yang awalnya biasa saja jadi banyak tanya, “apakah Ranu Kumbolo masih jauh?”. Saran saya untuk kalian yang akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru, beristirahatlah saat kailan sampai di POS 3. Sebab tanjakan setelah POS 3 cukup menguras tenaga.

Setelah belokan dan tanjakan yang ke sekian. Terlihat hijaunya air Ranu Kumbolo yang menyegarkan mata. Berulang kali kami mengucap syukur. Ranu Kumbolo terlihat sangat indah dan menawan. Aku jadi teringat perkataan Cak Yo yang tadi memberikan arahan sebelum kami melakukan pendakian,"kurang lebih 35 menit setelah tanjakan POS 3 sudah terlihat keindahan Ranu Kumbolo. Bentang luasnya kurang lebih sekitar 15 hektare. Terbayar sudah rasa capek kita, rasa lelah kita dengan keindahan Ranu Kumbolo. "

Keindahan yang selama ini hanya dapat kulihat melalui layar gawai sekarang ada di depan mata. Warna-warni tenda yang berdiri menambah keindahan alam Gunung Semeru. Benar-benar indah. Kami semakin bersemangat dan tanpa disadari langkah kami semakin cepat.

Untuk menuju camp area kami harus menuruni bukit berpasir kemudian menanjak dan turun lagi. Kami sampai sekitar pukul 16.35 WIB. Lebih cepat dari perkiraan awal. Begitu sampai kami langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, tak lupa kami melakukan ibadah. Selesai melaksanakan Ibadah bekal makan yang telah kami siapkan dari Malang tadi kami santap berempat. Nikmat sekali rasanya, makan bersama sembari menikmati keindahan Ranu Kumbolo.

Di camp area kami saling tegur sapa dengan pendaki lain. Kami juga akrab dengan tetangga depan tenda, yakni rombongan pendaki dari Palembang yang baru saja turun dari puncak Mahameru. Sapran dan kawan-kawannya. 

Tidak terasa hari semakin petang. Ibadah Magrib dan Isya pun kami lakukan. Sempat bincang malam dan menikmati kudapan. Namun sayang malam itu mendung, tidak terlihat bintang bertaburan di langit. Menyadari bahwa besok pagi Mas Zul harus melanjutkan perjalanan menuju puncak Mahameru kami pun tidur tidak terlalu malam. Aku dan Vita tidur satu tenda, sedangkan Dimas tidur di tenda Mas Zul.

Tak lama setelah memejamkan mata, aku merasakan adanya rintik hujan. Rupanya malam itu gerimis sebentar.  Hawa dingin semakin terasa. Jaket dan sleeping bag pun sampai tak kuat menahannya. Untungnya kami sedia emergency blanket. Hawa dingin pun dapat segera teratasi.

Ngomoong-ngomomng tentang emergency blanketm, benda ini wajib kalian bawa ketika melakukan pendakian. Sebab, ini akan sanagt berfungsi terutama saat kalian merasa kediginan.

***

17 Desember 2018. Sekitar pukul 04.00 dini hari aku terbangun dan iseng melihat langit. Tidak menyangka banyak bintang bertaburan di langit Ranu Kumbolo. Nikmat Tuhan yang harus dinikmati bersama. Dimas, Mas Zul, dan Vita pun segera kubangunkan. Kami terjaga hingga Subuh tiba. 

Tidak lama setelah Subuh aku dan Vita pergi buang air ke toilet. Di Ranu Kumbolo kalian tidak perlu khawatir tidak bisa mandi atau buang air di tempat yang nyaman. Pengelola telah menyediakan kamar mandi dan toilet. Untuk buang air  saat itu dikenai biaya Rp 5000.

Dokumentasi Pribadi Nindya Ayu Pertiwi

Sekembalinya dari toilet Aku dan Vita menyiapkan peralatan masak. Dimas mengambil air di danau. Air di Ranu Kumbolo boleh diambil dengan catatan mengambilnya harus hati-hati. Kaki dan badan kita tidak boleh masuk ke dalam danau karena menurut masyarakat setempat Ranu Kumbolo adalah danau Sucinya orang-orang Tengger. Dengan menaati aturan tersebut berarti kita telah menghargai adat-istiadat yang berlaku di daerah setempat.

 

Dokumentasi Pribadi Nindya Ayu Pertiwi

Ketika matahari mulai terbit kegiatan memasak kami tinggalkan dan kompor kami matikan. Momen matahari terbit sangat sayang untuk dilewatkan. Kami turun mendekati danau untuk berfoto.

Setelah puas kami kembali dan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Mas Zul mengeluarkan dendeng ikan yang dibawanya dari Ambon. Dimas masak nasi, aku menumis sayur, dan Vita meyeduh kental manis. Setelah makanan siap kami santap bersama. Tak lupa Sapran dan teman-temannya juga kami panggil. Kami begitu akrab di waktu yang sangat singkat. Aku merasa seperti menemukan keluarga baru di Ranu Kumbolo. Keluarga yang sangat hangat dan penuh dengan kesederhanaan.

Setelah makan kami menikmati beberapa kudapan dan bincang bersama. Teringat bahwa Mas Zul harus segera berkemas dan melanjutkan perjalannya kami pun sigap. Sampah yang telah kami hasilkan kami kumpulkan untuk dibawa turun. Kalau naik gunung jangan lupa bawa turun sampahmu ya teman ! Usai membersihkan peralatan makan, dan membereskan logistik yang masih berceceran, tenda kami bongkar. 

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berpisah dengan Mas Zul. Sebelum berpisah tak lupa kami saling bertukar nomor ponsel. Kami ucapkan selamat jalan kepada Mas Zul dan Mas Zul ucapkan selamat jalan pula kepada kami. Aku, Dimas, dan Vita pun turun bersamaan dengan rombongan Sapran.

Tidak ingin rasanya meninggalkan Ranu Kumbolo. Namun, mau bagaimana lagi. Izin pendakian kami hanya sampai tanggal 17. Kami harus segera kembali dan lapor kepada petugas TNBTS. Sebab, jika lebih dari izin yang dikeluarkan kami kan dikenai sansi dan denda. Perjalanan yang sangat berkesan. Aku dapat pelajaran dan keluarga baru yang hingga saat ini masih terjaga silahturahminya. Semoga bisa kembali ke Semeru dan sampai di Puncak Mahameru pada suatu hari nanti.

 Penulis: Nindya Ayu Pertiwi

Instagram: @napertiwi

Facebook: Nindya Ayu Pertiwi

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×