Loading...

Ilustrasi Foto: Pixabay

Gawat. Air mineral yang kuselipkan dijok mobil, kini tinggal satu tegukan. Sudah tak ada lagi stok. Sejak 1 jam lalu, panorama keindahan Danau Poso yang menawan tergantikan dengan deretan pohon dan bukit dengan jalan aspal berkelok, khas pegunungan. Hingga kendaraan roda empat yang ku tumpangi berhenti. Stuck. Antri bersama kendaraan lain.

Pak, ada apa? Kenapa semua mobil berhenti dan antre di sisi kiri?”

Oh. Paling ada longsor di depan sana. Musim hujan begini, memang sudah biasa” jawaban singkat dari supir mobil yang aku tumpangi.

Wajar saja. Sedari tadi, tidak ada kendaraan yang lewat, berpapasan dari arah berlawanan. Semua kendaraan, tertahan akibat longsor. Sekarang, sudah sejam berlalu, penanganan longsor menggunakan alat berat masih saja belum selesai.

Aku memutuskan untuk turun dari mobil, berjalan mendekat menuju area longsor seraya mencari pedagang atau warung di sekitar yang mungkin menjual air minum dalam kemasan. Tetapi, hasilnya nihil, yang ada hanyalah sungai dengan warna air coklat-kemerahan dari ketinggian tempatku berdiri. Di pinggiran sungai, sudah tampak beberapa orang. Memasukkan air tersebut ke dalam botol plastik bekas minum yang kosong. Warna airnya semakin jelas terlihat, coklat-kemerahan bukan bening. Aku juga segera menyusul mereka ke bawah dan mengisi botol kosong.

Benar saja, aku tidak salah melihat. Airnya jernih, tetapi berwarna coklat-kemerahan. Rasanya segar karena efek dari dinginnya pegunungan dan tidak berbeda dengan air minum dalam kemasan yang aku beli di kota Tentena”.

Pertemuan Dengan Sang Maestro di Ranta Lore

Sekitar pukul 4 sore, akhirnya mobil yang aku tumpangi berhasil tiba di salah satu penginapan desa Bomba. Setelah hampir 3 jam lamanya menunggu jalur lintas Tentena-lembah Bada bisa dilewati akibat longsor. Di salah satu dinding penginapan, tergantung peta lembah Bada. Warna, bentuk dan teksturnya jelas. Ini bukan peta cetakan mesin, seperti peta yang ada di kota-kota pada umumnya. Tetapi, ternyata peta ini dibuat dari kulit kayu. Pemilik penginapan menginformasikan hal itu. Bahkan beliau menyarankan untuk langsung berkunjung ke tempat pembuatannya.

Gayung bersambut, pemilik penginapan memberikan nama dan arah menuju rumah beliau. Akhirnya selepas menerima kunci kamar dan membersihkan badan setelah perjalanan darat, aku memutuskan untuk bertemu dengan pembuatnya.

Foto Sang Maestro, Bapak Antonius Taula dengan baju dari kulit kayu (foto: dokumen pribadi)

Di rumah budaya “Ranta Lore” sekaligus galeri beliau sang pembuat peta dari kulit kayu ini bisa ditemui, namanya Antonius Taula. Beliau ternyata seorang Maestro, peraih penghargaan Maestro Seni Tradisi 2018 sebagai pelestari kulit kayu.

“Ah, sebuah pengalaman berharga bisa bertemu secara langsung dengan sang Maestro”

Dari diskusi hangat dengan beliau, aku mendapatkan pengetahuan baru bagaimana sebuah maha karya berupa peta, lukisan hingga baju dari kulit kayu tercipta melalui proses panjang dan sarat akan nilai budaya dan tradisi dengan tetap menjaga kelestarian alam. Bahkan sebelum pamit, beliau mengundang untuk menghadiri acara mondulu dulu malam harinya.

Aku tak kuasa menolak ajakan ini, selain karena memang tidak memiliki agenda di malam hari. Aku juga penasaran. Dari namanya saja, sangat asing didengar. Tak ada sinyal internet yang bisa digunakan untuk berselancar di laman pencarian untuk mengetahui arti dari kata ini. Tetapi, aku yakin pasti acara ini akan berkesan.

Membaur Dengan Warga dalam Tradisi Mondulu Dulu

Kerlip bintang di langit benar-benar tampak. Meskipun musim hujan, tetapi entah mengapa malam ini begitu cerah. Tak ada awan yang menutupi langit, apalagi polusi asap. Ini lah yang membuat bintang tampak bertaburan. Sebuah pemandangan sederhana tetapi jarang sekali aku temui. Tepat pukul 7 malam, satu per satu warga datang dengan membawa keranjang berisikan sesuatu dan tikar plastik memenuhi Balai Desa, tempat penyelenggaraan acara mondulu dulu. Tanpa perlu diatur, setiap warga yang datang selalu mengisi bagian kosong. Hingga sesaat sebelum acara dimulai.

Mondulu dulu atau makan bersama merupakan salah satu tradisi warga lembah Bada sebagai bentuk perayaan hari raya besar dan rasa syukur sekaligus mempererat silaturahmi sesama warga. Acara dimulai dengan sambutan dan doa, hingga beberapa pengumuman yang memang ditujukan ke seluruh warga. Setelah itu semua selesai, dengan komando pemandu acara, maka sontak saja, semua warga membentuk lingkaran dan mengeluarkan isi dari keranjang plastik yang mereka bawa. Ternyata isinya adalah nasi beserta lauk-pauk. Semuanya dibungkus menggunakan daun aseli yang bentuknya menyerupai daun pisang tetapi lebih kecil.

Acara mondulu dulu (foto: dokumen pribadi)

Aku sendiri sudah tergabung di salah satu lingkaran. Kini nasi dan lauk-pauknya tersaji ‘menggunung’ di depan mata. Cara makannya sederhana, cukup mengambil suap demi suap dari tumpukan makanan tersebut hingga habis. Sambil makan, percakapan demi percakapan hangat terjadi, bahkan beberapa kali diselingi humor. Meskipun aku orang baru, tetapi tidak diperlakukan sebagai orang asing.

Hiburan tarian dero sesama muda-mudi menjadi penutup malam ini. Di bawah kerlipnya bintang dan iringan musik khas pamona membuat suasana meriah setiap detiknya. Sungguh malam yang indah dan penuh kesan. Seperti dugaanku sore tadi, selalu saja ada kejutan.

Pesona Masa Lalu di Negeri 1000 Megalitikum

Memang sangat terasa berbeda, bangun pagi di lembah Bada dengan di kota. Di lembah Bada, suara kokok ayam sahut-menyahut menjadi pertanda pagi segera tiba, tetapi jika di ibukota, yang ada malah deru suara mesin kendaraan berpacu dengan waktu agar tidak telat tiba di tempat kerja. Hari ini, tujuanku benar-benar jelas. Menyusuri pesona masa lalu dari puluhan hingga ratusan peninggalan megalit yang ada di lembah Bada. Kembali aku melihat peta kayu di dinding penginapan, untuk memastikan rute menuju Padang Sepe, dimana salah satu situs megalit terbesar.

Sebenarnya, jarak tempuh menuju Padang Sepe dari penginapan sangat dekat. Tetapi karena akses jalannya belum semua beraspal, maka mobil tidak bisa melaju kencang, meskipun memang cukup leluasa melaju di atas jalan tanah berkerikil. Sepanjang jalan, deretan ilalang dan rerumputan menghijau tumbuh dengan subur. Beberapa titik, malah tumbuh setinggi orang dewasa. Tidak perlu khawatir untuk tersesat, karena tanda penunjuk arah sangat jelas disetiap persimpangan jalan. Hingga tepat di ujung jalan, Padang Sepe dengan megalitik Palindo berdiri miring dengan gagahnya.

Aku terpana atas apa yang terlihat saat ini. Sebuah patung setinggi 4,5 meter di permukaan tanah dan entah berapa meter bagian dari patung yang tertimbun. Tampak nyata dari depan, ukiran berbentuk oval bermata bulat dan hidung besar. Ditambah lagi dengan pahatan mulut menyerupai senyuman.

Patung Palindo di Padang Sepe (dokumen pribadi)

Hampir tiga puluh detik, aku terdiam kagum sebelum akhirnya tergoda untuk menyentuh patung Palindo. Bahkan ketika jari-jemari tangan kanan meraba permukaan patung, aku bertanya dalam hati, “teknologi apa, di zaman dahulu yang mampu membuat ukiran halus di permukaan patung, seperti yang aku rasakan saat menyentuh patung Palindo?. Ah. Entahlah”.

Sekarang, malah rasa takjub akan pesona lembah Bada semakin membuncah. Lembah dengan 35 situs dan 186 buah peninggalan arkeologi yang berhasil diidentifikasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo dan masih banyak peninggalan lainnya yang mungkin masih tertanam dan belum teridentifikasi meyimpan banyak pesona. Melihat patung Palindo saja, aku sudah berdecak kagum. Apalagi jika melihat ratusan hingga ribuan peninggalan arkeolog lainnya.

Akhirnya, perjalanan penuh rintangan untuk menembus dan menyaksikan langsung akan kemegahan pesona masa lalu di negeri 1000 megalitikum berakhir. Pengalaman ini, membuatku benar-benar terkesan. Budaya, tradisi, kekayaan alam dan orang-orang di lembah Bada akan selalu teringat seakan menjadi kampung halaman kedua. Nyanyian Lembah Bada mengiringi langkahku sepanjang perjalanan pulang.

Ngamba i Bada

(Lembah Bada)

Ka’ara ana Wanua’ngku

(Tempat Keberadaan kampung halamanku)

 

Penulis: Taumy Alif Firman

Instagram: Taumy.alif

Twitter: Taumy_alif

Facebook: Taumy Alif Firman

Press Enter To Begin Your Search
×