Loading...

(photo source: pixabay.com)

Lombok, siapa sih yang tidak kenal dengan pulau Lombok? Salah satu pulau dengan sejuta budaya, adat, tradisi dan keindahan alam yang luar biasa. Pulau Lombok juga merupakan daerah pembangunan sirkuit motoGp di Indonesia, tepatnya di Kuta Mandalika. Ini adalah ceritaku tentang kunjungan ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perjalananku dimulai dari bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Pada pukul 07.00 aku berangkat menuju ke Praya Lombok dengan menggunakan pesawat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya aku sampai. Kedatanganku telah ditunggu oleh tour guide yang sudah kupesan untuk mengantarkanku berkeliling di Pulau Lombok ini. Setelah disambut dengan kain tenun khas Lombok, aku langsung menggunakan bis untuk menuju ke Gili Trawangan. Di sini ceritaku dimulai.

Pertama, perjalananku ke Gili Trawangan kurang lebih 1 jam 30 menit dari Bandara Internasional Lombok menuju ke Teluk Kode Pemenang untuk menuju ke Gili Trawangan. Selama perjalanan, aku melihat begitu banyak pemandangan untuk, pertama disambut dengan gapura yang berwarna warni, lalu juga banyak sekali masjid, mungkin benar bahwa Lombok ini merupakan pulau 1000 masjid. Setelah menikmati pemandangan kota, mulai dari beragam masjid, pertokoan dan jalan raya. Aku menuju ke jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan pingggiran pantai yang sangat indah. Banyak spot-sopt foto sehingga wisatawan atau masyarakat yang melewati jalan tersebut berhenti sejenak untuk berfoto atau sekedar melihat-lihat.

Akhirnya, setelah sampai di pelabuhan aku segera menaiki spead boat untuk menyebrang ke Gili Trawangan. Dengan hembusan angin dan juga suara sepad boat yang membelah ombak aku tertegun sembari berharap perjalananku kali ini memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Tidak lama kemudian setelah menikmati percikan-percikan air, aku menginjakan kaki di pasir putih Gili Trawangan, banyak sekali wisatawan mancanegara di pulau ini, bahkan hampir tidak ada wisatawan domestik. Lalu, aku menuju ke sebuah tempat makan untuk menyimpan barang-barang bawaanku dan juga berganti pakaian. Aku segera bersiap untuk snorkeling. Pasti sangat menyenangkan.

Setelah menunggu perahu yang aku tumpangi untuk menuju ke area snorkeling, aku segera masuk dan duduk dengan sangat antusias. Di tengah perahu ini terdapat kaca besar, sehingga kita bisa menikmati dan melihat banyak ikan-ikan dan trumbu karang yang cantik di bawah laut tanpa terjun ke lautan. Sekitar 15 menit sampailah aku di area dangkal namun tetap bisa menikmati snorkeling. Aku langsung terjun dari atas perahu untuk menikmati berbagai ikan-ikan kecil dan trumbu karang yang indah.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah asik di satu area ini, aku dan perahu yang kutumpangi pindah ke area selanjutnya, sebenarnya aku ingin menyelam untuk melihat patung-patung bentuk melingkar di bawah sana, namun arus yang tiba-tiba keras membuatku mengurungkan niat untuk berhenti dan menyelam di sana. Akhirnya perahu yang kutumpangi mencari tempat lain untuk snorkeling, tak kalah indah di tempat ini juga sangat apik. Ikan yang berwarna-warni, trumbu karang, dan ombak yang tidak keras, membuatku asik menikmati pemandanagan bawah laut yang indah. Setelah hampir 2 jam berpindah-pindah tempat untuk snorkeling dan melintasi lautan yang begitu luas, aku kembali ke Gili Trawangan untuk makan siang.

Di tempat makan tersebut, aku makan siang dengan menu ikan laut, sayur dan juga sambal tak lupa kerupuk, sangat nikmat saat lelah setelah berenang langsung menyantap hidangan makan siang.

Tidak lama setelah makan siang, aku berganti pakaian, mandi dan membersihkan diri lalu beristirahat sejenak. Tak terasa hari sudah semakin petang, semakin sore arus akan semakin keras, aku harus segera kembali ke kota untuk beristirahat di hotel yang sudah ku pesan. Setelah menyebrang dari Gili Trawangan menuju ke pelabuhan, aku segera naik bis menuju ke hotel di daerah Senggigi. Hotel ini sangat nyaman, kasur king size dengan pemandangan dari balkon yang langsung melihat pemandangan laut. Setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak di hotel, aku mencari santapan untuk makan malamku. Dan aku memutuskan untuk makan ayam taliwang, yang merupakan makanan khas Lombok yang sangat terkenal.

(photo source: detik.com)

Setelah keluar menemukan tempat yang menjual ayam taliwang, aku langsung menyantap hidangan makan malamku. Rasa ayam yang pedas namun tetap gurih dan juga ditemani dengan pelengkap yaitu pelecing kangkung tak lupa juga dengan sambalnya, sangat menggodaku. Setelah beberapa saat aku menikamti hidangan tersebut, aku segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Setelah sampai, beberapa saat kemudian, aku mulai terlelap setelah capek berkeliling di pulau Lombok ini.

Pada keesokan harinya, sekitar pukul 07.00 WITA aku segera bergegas mengemasi barang-barangku dan menuju bis untuk manjutkan perjalananku. Pertama aku mengunjungi Taman Narmada. Tempat tersebut diisi oleh beragam tempat-tempat permandian putri-putri kerajaan, tempat yang sangat besar. Taman tersebut juga dibangun karena sang raja merasa kesulitan apabila harus terus mendaki gunung rinjani untuk bersembayang, sehingga dibangunlah replika gunung tersebut, yaitu di Taman Narmada.  

Setelah melihat berbagai tempat permandian, terdapat satu pura yang terkenal dengan sumber mata airnya yang dipercaya dapat menjaga wajah atau kulit atau biasa disebut mata air awet muda. Banyak sekali orang-orang yang datang ke tempat tersebut untuk bersembayang dan juga mengambil air awet muda. Hanya pria dan juga wanita yang sedang tidak datang bulan yang dapat masuk. Sebelum masuk kita juga wajib melepaskan alas kaki. Tempat sembayang tersebut tidak begitu besar, namun sangat sakral. Terdapat pendeta yang membantu membacakan doa-doa kepada sang pencipta. Setelah doa selesai kita dipersilahkan untuk mengambil air tersebut dan diminum sebanyak 5 kali. Semua agama boleh mengikuti persembayangan di dalam pura tersebut.

Setelah selesai mengikuti ritual awet muda, aku menuju ke Desa Sasak Ende, desa ini merupakan desa adat asli khas Lombok, aku dipandu oleh masyarakat lokal untuk dijelaskan mengenai rumah-rumah tradisional khas Suku Sasak, yang mana rumah tersebut sangat unik. Rumah-rumah di Suku Sasak, tepatnya di Desa Sasak Ende dibersihkan atau dipel dengan menggunakan kotoran sapi, yang dipercaya dapat menguatkan struktur tanah dari rumah di desa dan juga dapat memberikan atmosfir udara yang hangat.

Rumah-rumah tradisionalnya juga sangat unik, karena atapnya terbuat dari jerami, dan dindingnya dari anyaman bambu. Tradisi unik di Desa Sasak Ende, adalah laki-laki akan tidur di luar rumah, tepatnya di teras sedangkan para wanita akan tidur di dalam rumah. Bahkan hal tersebut berlaku meskipun mereka telah menikah. Setelah puas mendengarkan cerita menegnai rumah-rumah di desa sasak ende, aku menikmati pertunjukan tari khas Lombok yaitu Tari Perang Tanding, yang mana penampilan kali ini sangat unik karena ditampilkan oleh anak-anak kecil. Kira-kira berumuran 5-7 tahun. Mereka sangat lihat menampilkan tarian tersebut

(photo source: dokumentasi pribadi)

Anak-anak di desa ini sangat ramah, mereka tidak menuntut lebih pada wisatawan yang datang, tidak meminta uang dan juga tidak memaksa untuk membeli barang-barang yang mereka jual. Setelah berfoto dan bercerita dengan anak-anak di desa tersebut aku melanjutkan perjalananku ke pantai Kuta Mandalika. Sedikit salah mengatur waktu karena sampai disini, matahari sedang di puncaknya, lumayan terik. Aku berjalan cukup jauh, karena pantai ini memiliki bibir pantai yang lumayan panjang. Air laut yang surut membuatku dapat bermain jauh menuju ke tengah. Setelah selesai berfoto dan menghirup udara pantai. Aku bergegas untuk kembali ke bis dan melanjutkan perjalanan untuk membeli buah tangan untuk teman-temanku di Bali.

Pergi ke sebuah toko souvenir yang cukup besar di Lombok, aku membeli selendang khas Lombok, tempelan kulkas dan juga gelang kain tenun Lombok. Harga-harga souvenir disini relatif, mulai dari harga yang laing murah, sekitar Rp3 ribu rupiah hingga ratusan ribu untuk kain tenun Lombok yang bagus. Tergantung barang apa yang hendak dibeli.

Akhirnya perjalananku kali ini akan berakhir, aku menuju ke Bandar Udara Internasional Lombok untuk menunggu penerbanganku pulang ke Bali. Setelah hampir 2 jam menunggu di ruang tunggu bandara, pesawat yang kutumpangi telah landing dan aku bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Bali. Kurang lebih 30 menit penerbangan, akhirnya aku sampai kembali ke Pulau dewata.

Aku sangat puas melakukan perjalanan kali ini di Lombok, cukup melelahkan namun memberikan pengalaman yang luar biasa. Mulai dari pesona alam bawah laut yang luar biasa, kuliner khas Lombok, rumah tradisional hingga ke oleh-oleh khas Lombok. Terima kasih Pulau Lombok, pesonamu memang tiada duanya semoga aku dapat kembali lagi ke pulau ini.  

 

Penulis: Elisabeth Yolanda Naingalis

Instagram: @elisanglis

Facebook: Elisabeth

Press Enter To Begin Your Search
×