Loading...

Menjadi kecil diantara yang besar (Sumber foto: dokumentasi pribadi)

"Gunakanlah matamu untuk melihat lebih sering, maka kamu akan menemukan dua kali lipat hal lebih banyak dari sekedar satu hal yang kamu tuju." Kira-kira begitulah yang bisa saya simpulkan sepulang menyambangi Gunung Ijen pada waktu itu.

Juli, 2017, merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di Gunung Ijen, yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur. Ketika itu, saya berkesempatan mendaki Gunung Ijen bersama seorang kawan dari Jakarta, serta tiga orang kawan yang baru saya jumpai di Banyuwangi. Sekitar tengah malam, kami mengendarai mobil pribadi dari pusat kota Banyuwangi menuju Paltuding, start pendakian Gunung Ijen.

Usai memarkirkan kendaraan kami, waktu masih menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Namun aktivitas di sekitar pos pendakian terlihat sudah mulai menggeliat. Wara-wiri pengunjung yang sibuk, ditambah suara-suara teriakan pemandu wisata yang sedang mengatur anggotanya, terdengar riuh di telinga saya. Seolah menjadi penanda bahwa pos pendakian Gunung Ijen akan segera dibuka. Meskipun sudah mengenakan atribut mendaki gunung seperti biasanya, rupanya udara dingin Ijen masih berani menusuk sampai ke tulang. Jika bukan karena rasa penasaran saya ingin menyaksikkan langsung fenomena api biru yang tersohor itu, rasanya enggan mendaki Ijen di waktu ini, pikir saya.

Tepat pukul dua dini hari, pos pendakian dibuka. Selesai mengurus surat izin mendaki, kaki saya mulai melangkah menanjak menyusuri jalur setapak yang sudah sangat jelas. Tapi tidak sampai lima menit, nafas mulai berhembus tidak beraturan. Hentakan kaki yang terdengar seperti diburu waktu satu per satu mendahului kami.

“Pantas saja langkahnya cepat, kaki mereka panjang-panjang,” celetuk seorang kawan yang seketika membuyarkan lamunan saya, yang masih berusaha mengatur nafas.

Saya melihat sekitar, fokus “wajib” melihat api biru seketika bergeser. Banyak hal baru yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Saya cukup terkejut menyadari rombongan wisatawan lokal yang hanya bisa dihitung dengan jari. Dan rombongan saya adalah salah satunya. Sisanya, tentu saja dari berbagai belahan dunia lainnya, seperti Cina, Malaysia, Jerman, Belanda, Rusia, dan yang paling banyak adalah Perancis. Pantas saja, saya mendengar banyak bahasa yang tidak tidak akrab di telinga saya sehari-sehari. Bangga sekali menyadari bahwa pesona Ijen ternyata benar-benar mendunia.

Punggungan Gunung Ijen (Sumber foto: dokumentasi pribadi)

Sudah cukup menstabilkan nafas, kami kembali beranjak menyusuri medan yang masih berupa tanah berpasir pada waktu itu, dengan kemiringan sekitar 40 derajat. Durasi mendaki untuk sampai di kawah Gunung Ijen sekitar tiga-empat jam atau mungkin bisa lebih singkat, tergantung kekuatan fisik pendaki. Setelah sampai di punggungan gunung di sebelum puncak, kami harus menuruni bebatuan terjal untuk sampai di kawah Gunung Ijen.

Antusiasme pengunjung sangat besar, terlihat dari mereka yang rela berdesak-desakan diantara kepulan asap belerang demi menyaksikan pertunjukan api biru yang kabarnya hanya ada dua di dunia, yaitu di Islandia dan di Indonesia, tepatnya di Kawah Gunung Ijen, Banyuwangi. Pertunjukkan api biru dapat disaksikan dari pukul 01.00 – 04.00 dini hari. Jadi selama mendaki, kami ditemani langit gelap yang bertaburan bintang. Indah sekali.

Namun sangat disayangkan, membidik momen pertunjukan si api biru dengan lensa kamera menjadi tantangan sendiri bagi saya. Walau hasil fotonya kurang memuaskan, setidaknya keegoisan mata saya sudah berhasil merekam keindahannya dan mengabadikannya di memori kepala.

Bapak penambang belerang (Sumber foto: dokumentasi pribadi)

Matahari mulai meninggi, kemegahan kawah Ijen yang mendapat predikat sebagai danau asam terbesar di dunia mulai tampak. Beberapa lelaki paruh baya yang mengenakan sepatu boots, lengkap dengan keranjang kayu di pundak mereka, juga mulai terlihat. Mereka adalah penambang belerang Ijen yang juga tidak kalah terkenalnya. Derap langkah para penambang berjibaku dengan langkah para wisatawan. Tidak jarang kami berpapasan dan sedikit bersenda gurau dengan mereka.

“Hampir setiap hari begini, sudah biasa. Lihat nih pundak bapak!” Cerita seorang bapak penambang belerang, sembari ‘memamerkan’ pundaknya yang terdapat benjolan-benjolan tidak seperti pundak kami pada umumnya. Namun sangat disayangkan saya sudah tidak ingat nama bapak penambang itu.

Bapak bisa mengisi keranjangnya dengan bongkahan belerang sebanyak 60-100 kilogram beratnya. Tidak sebanding memang dengan harga yang akan bapak dapat dari pengepul belerang. Namun bapak tetap bersyukur menjalaninya. Jika tidak mengumpulkan bongkahan belerang, bapak akan beralih profesi menjadi pengemudi ‘taksi’.

Eits, taksi yang kami jumpai di sini tentu saja bukan kendaraan beroda empat seperti yang biasa kami temui di Jakarta. Taksi di Ijen merupakan gerobak yang dialih-fungsikan untuk mengangkut wisatawan yang lelah mendaki Gunung Ijen. Taksi dihargai Rp150 ribu- Rp 200 ribu sekali jalan. Harganya memang lumayan tinggi jika dibandingkan dengan harga sebongkah belerang, namun tetap saja tenaga yang bapak keluarkan untuk ‘mengemudi’ taksi, tentu tidak kalah berat.

Kunjungan saya ke Gunung Ijen menjadi sebuah pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Banyak cerita yang bisa saya dapat di sana. Ternyata dibalik pesona Gunung Ijen yang sudah melegenda hingga ke berbagai belahan dunia, di dalamnya terselip kisah tentang perjuangan dan pengorbanan para penambang belerang, seperti bapak, demi menyambung hidup mereka. Terima kasih Ijen, terima kasih bapak, karena sudah mengingatkan saya untuk lebih ‘peka’ melihat sekitar.

Sedikit tips jika ingin mendaki Gunung Ijen, sebaiknya tidak lewat dari pukul sepuluh pagi. Tebalnya kepulan asap belerang yang akan kita hirup sangat berbahaya bagi pernapasan. Selain itu, demi keamanan dan kenyamanan sebaiknya kondisi fisik dalam keadaan baik. Perlengkapan untuk trekking juga disiapkan dengan teliti. Tidak lupa alat penerangan seperti senter atau headlamp, dan masker untuk melindungi hidung kita dari asap belerang. Patuhi peraturan yang sudah dibuat. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab dengan turut menjaga keindahan alam Gunung Ijen.

 

Penulis: Dionesia Ika

Instagram: @_dionesia

Twitter: @_dionesia

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×