Loading...

gunung bromo

Pengalaman Wisata ke Gunung Bromo (source: dokumentasi pribadi)

Kita patut bersyukur karena Indonesia memiliki begitu banyak tempat wisata alam yang sungguh memesona. Salah satunya adalah Gunung Bromo yang merupakan gunung berapi di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Akhir Juli tahun lalu adalah pertama kalinya saya berkunjung dan melihat langsung indahnya salah satu gunung yang masuk dalam daftar prestisius 'Wonderful Indonesia'. Meskipun tempat wisata ini sudah dibuka sejak lama, tapi menurut saya belum terlambat untuk menjelajahinya bagi kamu yang belum pernah kesana.

Tiba di Malang untuk Mengunjungi Gunung Bromo

Menurut sumber yang saya baca, Gunung Bromo ini memiliki tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut. Hal yang menarik adalah saking luasnya, Gunung Bromo masuk dalam wilayah empat kabupaten sekaligus, yaitu Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang.

Hingga saat ini Bromo termasuk gunung berapi aktif dan kerap mengeluarkan asap sepanjang tahun. Bahkan, ketika saya mengunjunginya saat itu Bromo baru saja erupsi. Kenyataan ini membuat saya was-was tapi juga penasaran ingin melihatnya secara langsung.

Saat itu saya mengikuti program open trip untuk empat orang, dari Jakarta saya bersama teman pergi ke Malang dengan menaiki kereta api. Ini juga kali pertama bagi saya bepergian jauh dengan kereta. Pengalaman yang tak mudah saya lupakan!
Pagi hari sesampai di Malang, saya lekas bertandang ke rumah makan terkenal untuk menikmati kuliner khasnya. Yaps! Rawon, lagi-lagi ini kali pertama saya mencicipi kuliner khas di kota asalnya.

Saat itu saya masih punya waktu 15 jam sebelum pihak tour and travel menjemput kami di titik lokasi yang sudah dijanjikan. Jadi, saya dan teman berkeliling ke beberapa destinasi wisata di sana.

Meskipun belum tiba di Gunung Bromo, tapi saya sudah bisa merasakan atmosfer yang menggoda saya untuk segera menjumpainya. Jujur, saya cukup exited karena ini pengalaman pertama berwisata ke gunung. Sebab, kota asal saya yakni Lampung lebih kaya akan wisata laut.

Perjalanan Menikmati Pesona Gunung Bromo

Akhirnya jam menunjukkan pukul 12 malam, jadwal kami dijemput oleh pihak tour and travel. Dengan menggunakan mobil Jeep, saya memilih duduk di bagian belakang mobil. Sang sopir bilang perjalanan ini butuh waktu kurang lebih dua jam. Tak masalah bagi saya, dua jam akan terasa berjalan cepat karena saya sudah tidak sabar melihat matahari terbit di wilayah Gunung Bromo. Mengingat, saya butuh duduk di kereta selama kurang lebih 15 jam untuk bisa tiba di Malang.

Seharian berkeliling mengunjungi tempat wisata cukup membuat badan saya lelah dan ngantuk. Separuh perjalanan akhirnya saya tertidur, meskipun tidak bisa sepulas rebahan di kasur karena jalanan yang cukup terjal membuat mobil bergoyang cukup dahsyat.

Sekitar pukul 2 pagi, akhirnya kami sampai di pintu masuk wilayah wisata Gunung Bromo. Setelah mobil terparkir dengan baik, kami turun dan berjalan masuk ke area wisata. Saat itu, sungguh dingin udaranya, sebagai orang yang berdomisili di Jakarta saya cukup kaget dengan dingin yang terasa seperti menusuk tulang.

Ternyata memakai baju double dan jaket tidak cukup menghangatkan badan, topi kupluk juga tidak berfungsi dengan baik mengusir dingin yang terus menempel di telinga. Saya akhirnya membeli sarung tangan tebal dan berharap bisa membantu untuk membuat badan lebih hangat.

Malangnya, sarung tangan juga tidak cukup berguna memberi rasa hangat. Ya sudah, saya pasrah dan terus berjalan masuk ke area mencari kedai kopi untuk singgah sementara.

Sambil menggigil, saya dan teman memesan kopi instan panas. Duduk bersandingan dengan bule-bule asal London kami sedikit berbincang-bincang. Menunggu jam 5 terasa begitu lama ternyata jika hanya digunakan untuk duduk diam sambil menggigil. Setelah kopi kami habis, saya dan teman memutuskan untuk naik lagi ke area yang lebih tinggi untuk mencapai lokasi dimana kami bisa menyaksikkan matahari terbit. Ternyata, semakin tinggi semakin dingin saja ya. Saya sangat tidak kuat menahan rasa dingin ini.

Melihat Matahari Terbit di Gunung Bromo

gunung bromo

Indahnya melihat langsung matahari terbit (source: dokumentasi pribadi)

Momen ini tidak akan pernah saya lupakan, bahkan hingga saat ini memori saya masih merekam jelas betapa indahnya sang mentari muncul dengan perlahan. Garis fajar yang sungguh memesona itu seperti memisahkan antara bumi dan langit. Warna oranye yang mendominan ditambah beberapa garis biru dan ungu membuat langit nampak tiada tanding. Seperti yang kamu duga, hampir semua orang di lokasi tersebut tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen.

Jeprat... jepret.... semua ponsel dan kamera menangkap cahaya hingga menghasilkan foto yang menawan. Saya juga, bahkan tak sedikit video di ponsel yang masih saya simpan hingga sekarang.

Setelah puas melihat matahari terbit dengan mata kepala sendiri, dan mentari cukup gagah bersinar. Saya dan teman turun ke area parkir untuk melanjutkan perjalanan ke titik lokasi wisata lainnya di area Gunung Bromo ini.

Pesona Gunung Bromo Tak Lekang Oleh Waktu

gunung bromo

Mengabadikan indahnya Gunung Bromo (source: dokumentasi pribadi)

Hingga akhirnya kami tiba di Bukit Cinta, tempat paling tinggi dimana kami bisa melihat secara langsung dan sangat jelas Gunung Bromo yang beberapa hari sebelumnya sempat ‘ngambek’. Sejujurnya, keindahan Gunung Bromo tidak mudah untuk saya tuliskan dengan kata-kata. Karena mata saya saja sampai tak berkedip melihat pesonanya. Sangat indah! Sekilas seperti lukisan, tapi ini sungguh Gunung Bromo asli. 

Indahnya Gunung Bromo di pagi hari, ditambah udara yang dingin dan angin yang sesekali berhembus seketika membawa saya pada titik ternyaman dalam hidup. Segala macam tumpukan tugas kantor dan problematika hidup sekejap sirna dari pikiran. Jika sedari kecil saya hanya melihat Gunung Bromo dari layar televisi atau gambar di internet, saat ini saya melihatnya secara langsung dengan mata kepala. Memang benar adanya, pesona Gunung Bromo tak lekang oleh waktu.

Saya merasa sangat beruntung bisa berkunjung ke tempat wisata luar biasa indah ini, dan jika ada kesempatan lain. Saya belum bosan untuk datang lagi ke sana.

Tips Wisata ke Gunung Bromo ala Backpacker

Karena saat itu saya ke Gunung Bromo secara backpacker, saya sangat memahami jalan, biaya transport, dan juga berkomunikasi langsung dengan warga setempat. Berikut tips yang bisa kamu lakukan jika ingin berwisata ke Gunung Bromo ala backpacker.

Bawa Barang Secukupnya

Sebagai backpacker yang hanya mengandalkan transportasi umum, sebaiknya kamu cukup membawa barang yang diperlukan saja. Perhitungkan berapa hari kamu akan stay di sana, dan cukup membawa beberapa stel baju sesuai kebutuhan. Jika kamu hanya berencana mengunjungi Gunung Bromo tanpa menginap di Malang seperti yang saya lakukan, usahakan cukup membawa satu ransel saja. Mengingat kita naik transportasi umum, kebanyakan membawa barang mengkhawatirkan barang tertinggal di kendaraan ataupun di tempat lain.

Atur Waktu Sebaik Mungkin

Berwisata ke Gunung Bromo bisa kok tidak harus membayar penginapan, jadi pengeluaran dijamin lebih hemat. Contohnya seperti saya saat itu, jam 3 sore berangkat dari Jakarta dan tiba di Malang sekitar pukul 7 pagi.  Mobil Jeep jemput pukul 12 malam dan wisata Gunung Bromo berakhir pukul 10 siang. Saya masih ada waktu kurang lebih 6 jam untuk jalan-jalan sampai jadwal kereta pulang saya di jam 4 sore. Fyi, malam hari sebelum mobil Jeep jemput saya istirahat di Masjid sebrang Alun-Alun Malang. Gratis! 

Jangan Lupa Bawa Jaket Setebal-Tebalnya

Udara di sana sangat dingin, saat itu kalau tidak salah mencapai 14 derajat celcius. Bagi saya itu cukup membuat menggigil, sementara saya hanya bermodal dua kaos dan satu jaket yang tidak seberapa tebal. Usahakan kamu sudah menyiapkan jaket tebal supaya selama di perjalanan tidak menggigil ya! Dengan begitu, kamu bisa menikmati suasana dengan nyaman dan hangat. 

Sebenarnya di lokasi melihat matahari terbit ada penyedia sewa selimut dan tikar, saya menyewa selimut saat itu. Tapi sangat tidak berfungsi untuk menghangatkan tubuh. Percayalah dengan saya 

Bawa Kamera atau Ponsel

Pasti kamu tidak mau kan melewatkan keindahan Gunung Bromo begitu saja, maka dari itu jangan lupa bawa kamera profesional. Kalau tidak ada kamera ponsel pun juga jadi untuk mengabadikan momen. Karena sungguh pesona Gunung Bromo tiada tanding, indah sekali karena ini adalah salah satu lukisan Tuhan yang luar biasa. Sekali lagi, percayalah dengan saya bahwa pesona Gunung Bromo tak lekang oleh waktu. 

Baiklah, itu saja tips dari saya. Bagi kamu yang ingin mengunjungi Gunung Bromo dalam waktu dekat, tetap jaga kesehatan dan patuhi protokol Covid-19 dari pemerintah ya.

 

Penulis: Putri Kurniawati

Instagram: amazingputri_

Twitter: amazingputri_

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×