Loading...

Pantai Sanur, Bali. dok. pribadi

Jadi, karena saya memilih traveling dengan cara backpacker-an, makanya saya lebih sering menginap di hotel yang cukup murah. Pengalaman saya saat backpacker-an ke Bali, saya memilih kamar hotel dengan budget sekitar Rp. 125 ribuan per malam. Agak cukup mahal sih bagi kantong seorang backpacker. Karena, banyak kamar hotel yang lebih murah dari itu. Bahkan ada kamar hotel yang harganya cuma Rp. 50 ribu per malam. Murah dan hemat, kan?

Cuma nggak tau kenapa, saya feeling aja pengen nginep di hotel yang ada di Jalan Legian ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju hotel yang jaraknya sekitar 300 meter dari Tugu Peringatan Bom Bali.

Nah, kenapa hiperakusis nggak cocok untuk menginap di sekitar Legian atau Kuta? Kalau pagi, suasana di Legian atau pun Kuta benar-benar lengang, tenang, dan  adem, seperti bukan tempat wisata. Berjalan-jalan di kedua daerah ini nggak terlalu direpotkan dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Juga langkah saya nggak terhalang oleh banyaknya wisatawan yang mondar mandir.

Tapi, kalau malam, di kedua daerah ini luar biasa rame dan brisiknya. Suara live musik di bar atau kafe bisa jelas terdengar sampai ke toilet kamar walaupun letaknya agak ke belakang. Jadi, kalau lagi tiduran di kamar atau pun duduk-duduk di balkon hotel-nya, saya seperti lagi duduk pas di depan panggung musiknya, suaranya jelas terdengar. Setiap malam kaya gini.  

Jalan Legian, dok. pribadi

Pas hari pertama menginap, mungkin karena capek setelah backpacker-an selama dua hari satu malam dari Jakarta ke Bali, saya masih bisa tidur. Musik yang begitu kerasnya, yang saling bersahut-sahutan antara satu kafe dengan kafe lainnya nggak terlalu mengganggu, saya masih bisa tidur dengan nyenyak.

Btw, saya mungkin termasuk penderita hiperakusis juga. Karena, seringnya saya merasa terganggu dan nggak bisa tidur dengan suara jam dinding yang berdetak di suasana malam yang sunyi atau suara ‘bip bip’ dari token listrik.

Makanya, pas keesokan harinya, saya merasa khawatir kalau nanti malam saya nggak bisa tidur. Karena mulai jam 6an sore di Legian atau Kuta pastinya udah kaya “weekend,” kan?! Rame banget walapun bukan peak season atau hari libur. Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk nggak pindah hotel dulu.

Kenapa saya masih stay di hotel ini dan nggak langsung pindah? Atau, cari hotel dengan harga yang lebih murah dan lokasinya jauh dari Legian? 

Saya sempet baca komen dan penilaian di beberapa aplikasi booking hotel, bahwa dengan harga penginapan yang sekitar Rp50 ribu – Rp100 ribuan, ternyata banyak keluhan dari para traveler yang sudah menginap di sana. Mulai dari airnya yang nggak lancar, wc-nya yang gak terlalu bersih, kamarnya yang lembab, dan terakhir karena suara berisik dari kafe di dekatnya. Ternyata ada kafe dan hotel yang benar-benar persis bersebelahan. Biasanya yang ada di daerah Kuta.

Lingkungan hotel di Jalan Legian, dok. pribadi

Makanya, daripada repot-repot pindah lagi, takutnya saya malah dapet hotel yang lebih mengecewakan. Walaupun dengan hotel yang saya pilih ternyata suara musik masih terdengar dengan jelas, cuma itu kekurangannya. Untuk lingkungan dan fasilitas yang lain-lainnya, saya acungin jempol untuk hotel ini. Air bersih,  kamar tidur besih, ada balkonnya, lingkungannya hijau, dan  terasa homey karena dekat dengan  lingkungan masyarakat.  

Dengan semua yang saya dapatkan itu, makanya saya juga males untuk pindah ke daerah lain, daerah Ubud misalnya. Walaupun Ubud terkenal dengan suasananya yang tenang dan alamnya yang sangat hijau. Tapi takutnya saya nggak dapet lingkungan yang senyaman ini dengan resepsionis hotel yang ramah dan nggak banyak omong ini.

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, yang paling utama untuk menginap di hotel adalah kenyamanan. Walaupun ada satu kekurangannya, tapi kayanya bisa terhapuskan  dengan banyak kelebihan lainnya. Makanya saya sampai 4 hari menginap di hotel yang saya pilih ini. Sepertinya suara keras musik bisa saya tahan beberapa saat dan akhirnya saya tertidur karena kecapean.

fyi, hiperakusis adalah istilah untuk orang yang peka terhadap bunyi atau suara. Pada setiap orang yang mengidap gangguan ini, bentuknya bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, ada orang yang terlampau peka terhadap suara tangisan anak kecil tapi bisa menerima suara musik yang keras.

Ada juga orang yang tidak tahan dengan suara dentingan alat makan tapi tidak begitu merasa terganggu dengan suara gergaji mesin. Namun, ada juga pengidap kondisi ini yang sama sekali tidak tahan dengan suara berisik, apa pun itu sumbernya (hellosehat.com).  

 

Nama Penulis: Yudi Rahmatullah

Instagram: www.instagram.com/yoedirahmatullah

Twitter: www.twitter.com/yudRayi

Facebook: Yudi Rahmatullah

Press Enter To Begin Your Search
×