Loading...

Awal tahun 2016 adalah masa ketika aku memutuskan menjadi solo traveler yang bertekad mengurus segalanya sendiri (dari pemesanan pesawat, akomodasi, paspor hingga visa), hasilnya sudah 13 negara asia dikunjungi, bahkan beberapa negara telah disinggahi beberapa kali. Aku bertekad untuk menjadi traveler selayaknya penduduk lokal. Sejauh ini tidak ada kendala apa pun. Kalaupun ada kesulitan, semua itu bisa diatasi, entah dengan bantuan alat, pengetahuan informasi, kemampuan bahasa Inggris, juga bantuan orang-orang di lokasi tujuan. Bagaimana dengan biaya? Tentunya dengan menabung, mencari penghasilan tambahan, dan mencari promo-promo (baik tiket pesawat maupun akomodasi).

Sejatinya porsi biaya pesawat adalah yang paling besar dalam sejarah perjalananku, meski menggunakan pesawat tipe LCC (Low Cost Carrier) dan mendapat promo sekalipun, itu hanya meringankan sedikit saja, maklum, tipe traveler kantong tipis, karena tidak mau rugi, ketika tiba saatnya libur kerja, maka aku akan menghabisakan semua waktu liburku di negara tujuan, semakin lama tinggal, semakin menguntungkan menurutku, itu seperti mengimbangi biaya tiket pesawat bolak-balik. Lalu bagaimana dengan biaya akomodasi? Selalu tersedia pilihan penginapan dengan harga kisaran 10-20 dolar per malam di negara manapun, biasanya tipe dorm atau sharing bed.

Seminggu itu sama sekali tidak terasa lama, mengingat setiap hari di negara tujuan, selalu ada rute yang dijelajahi, tempat yang dieksplorasi, termasuk juga mall-mall hingga pasar tradisional yang dikunjungi untuk mengganjal perut yang lapar, meski tentu saya juga mengirit dengan membawa bekal dari Indonesia, seperti mie instan, sambal, dan kopi instan. 

Setiap malam sekembalinya dari keluyuran, tempat tidur adalah kemewahan tersendiri untuk memanjakan kaki yang bengkak. Di penginapanlah satu-satunya tempat yang bisa diandalkan untuk kembali terkoneksi dengan internet dan orang-orang di negara asal, ya benar, sejauh ini aku tidak pernah membeli kartu perdana atau menyewa pocket wifi, untuk kebutuhan rute menuju suatu lokasi biasanya mengandalkan peta  baik yang aku cetak saat di Indonesaia, maupun dari tempat penginapan, untuk lokasi di luar peta yang ada di booklet-booklet yang didapatkan dari bandara atau penginapan, biasanya aku mencarinya lewat internet sehari sebelum ke lokasi, lalu di-screenshot untuk digunakan esok harinya, mengingat akses internet hanya bisa didapatkan saat di penginapan, maka di malam itulah aku merencanakan perjalanan untuk keesokan harinya. Peta MRT itu sangat penting untuk dicetak atau disimpan untuk dibawa, sebab ruang publik favorit biasanya mudah diakses dan dekat dengan stasiun-stasiun MRT terdekat.

Dari tiga belas negara Asia yang telah dijejaki, selama prosesnya tidak semuanya berjalan lancar, seperti pengalaman dideportasi, itu adalah pengalaman pertama yang kudapatkan di awal pertama kalinya ke luar negeri, Jepang di tahun 2016, setelah ada e-passport yang memberikan visa gratis ke Jepang yang berlaku selama tiga tahun, maka akhir tahun 2015 saya putuskan memperpanjang paport lama yang memang sudah habis masa berlakunya, paspor lama dibuat saat masih kuliah untuk keperluan student exchange tetapi tidak pernah digunakan karena gagal lolos seleksi. 

Pemantik itu, menyalakan kembali api tekad ke luar negeri, ketika ada kesempatan ke Jepang hanya dengan memiliki e-passport, tanpa perlu mengurus visa, cukup dengan me-registrasikannya saja di kedubes Jepang. Maka pergilah ke imigrasi Jakarta Selatan, waktu itu e-passport memang hanya bisa dibuat di beberapa imigrasi saja. 

Singkat kata, setelah e-passport didapat, lalu stiker visa waiver ke Jepang didapat, eh dana ke Jepang belum ada. Karena saking ngebet-nya ingin ke luar negeri, setelah mengecek agenda pameran atau expo di Singapura, didapatlah sebuah seminar untuk umum di salah satu kampus keren di Singapura yang pembahasannya tentang Cyber Security yang mana bukan bidangku, maka berangkatlah ke Singapura di akhir pekan dan mengambil satu hari cuti, jadi judulnya memang sengaja dibuat keliru agar banyak yang baca, memang Singapura itu mudah diakses oleh orang Indonesia karena tidak perlu visa dan tiket pesawatnya jauh lebih murah ketimbang tiket ke Bali atau pulau-pulau lainnya di Indonesia, karenanya aku tidak menyebutnya pengalaman ke luar negeri, meski kemewahan yang ditawarkan Singapura tak ada bandingannya dengan negara ASEAN lainnya, jadi begitulah salah satu pengalaman tak terlupakan lainnya selain dideportasi oleh imigrasi Jepang di Bandara Haneda tahun Juni 2016. 

Nah, waktu itu, setelah mampu beli tiket pesawat tipe LCC ke Jepang dan memesan penginapan di Jepang, maka berangkatlah menuju Tokyo saat libur kerja di bulan Juni. Sayangnya setelah sampai di bandara dan mengantri di imigrasi, aku malah terdampar di ruang isolasi dan menjadi pengunjung yang layak dipulangkan, setelah melakukan perdebatan dan wawancara yang cukup alot dengan petugas di sana, mereka juga menghubungi pihak kedubes Indonesia di Jepang, tetapi itu tidak cukup membantu. Setelah mencari informasi  dari internet tentang alasan mengapa dideportasi, maka ditemukanlah kasus-kasus serupa, yang mana visa waiver memang tidak menjamin pengunjung diijinkan masuk, perlu ada jaminan kemanan keuangan seperti membawa cukup dana yang dibuktikan dengan buku tabungan, kartu kredit, dan surat keterangan bekerja dari tempat kerja. Hal itu terjadi, karena banyaknya imigran gelap yang menggunakan visa waiver yang seharusnya untuk kunjungan sosial atau wisata malah digunakan untuk bekerja. Jadi, itulah alasan mereka mencurigai pengunjung yang datang sendirian dan memulangkannya kembali.

Semua analisa tadi cukup valid, mengingat setahun kemudian, karena penasaran, aku mencoba kembali pada tahun 2017 dan 2018, meski dipanggil di ruang petugas, aku sudah bersiap menyerahkan semua berkas seperti bukti pesan penginapan, tiket pesawat pulang, surat keterangan kerja, buku tabungan beserta cetakan isi terbaru di dalamnya, lalu ATM dan kartu kredit yang tentu lebih dari satu, syukurlah Jepang menerimaku dengan baik, bahkan dari semua berkas yang aku berikan, mereka hanya mengecek beberapa berkas saja. Setelah itu, munculah stiker baru yang tertempel di pasporku, tertanda bandara Haneda. 

Lalu pada tahun 2018, karena ada promo rute baru Jakarta-Narita, aku mendapat tiket ke Tokyo via Narita hanya sekitar dua juta saja pulang-pergi. Karena promo gilanya itu, mana mungkin aku melepasnya (belakangan rute ini sudah ditutup kembali). Jadi berangkatlah ke sana dengan visa waiver yang masih berlaku tentunya. Proses di imigrasinya pun sama, kali ini aku jadi lebih ramah meski masuk ke ruang petugas, sebab aku sudah siap dengan semua berkas yang diperlukan mereka. Syukurlah, stiker bandara Narita tertempel di passporku, yeay berhasil! Jika ditanya berapa lama pernah tinggal di Tokyo, mungkin aku akan menjawabnya selama sebulan, sebab sekalinya ke Tokyo, aku akan menghabiskan 2 minggu.

Pada dasarnya setiap negara memiliki keunikan masing-masing, banyak pengalaman dan momen tak terlupakan di setiap harinya. Sebab menjadi asing di negara orang, sendirian, lalu bertemu dengan orang-orang baru, bertemu sesama traveler dari berbagai negara, membuka jendela baru dan perspektif yang hanya bisa dipahami ketika berada di luar konteks negara asal, menghargai keunikan-keunikan dan tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai habitatnya, membangun proses pendewasaan yang bisa dirasakan oleh kelima indra. Juga perasaan cinta yang lebih menggebu pada negeri sendiri entah mengapa muncul lebih kuat ketika berada di negara orang.

Penulis: Khoerul Lana

Instagram: @kho_erul

Facebook: Kho Erul

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×