Loading...

Berawal dari sebuah agenda tanpa rencana, tanpa perlu ba-bi-bu saya langsung menyambut ajakan seorang teman yang ingin melakukan penelitian dan membuat film dokumenter tentang kehidupan Gajah Sumatera di habitatnya. Jujur, saya excited. Belum berangkat saja saya sudah bisa membayangkan keseruannya.

Palembang. Sebut Saja Ini Gerbang Sebelum Memulai Petualangan

Pagi buta, saat mentari belum muncul menerangi bumi Sriwijaya, saya sudah menjejakkan kaki di tanah Wong Kito. Duduk di pinggiran jalan dibalut udara subuh yang masih dingin sambil menunggu orderan taksi online saya datang. Sejenak saya meluruskan kaki di trotoar sambil menggeliat untuk memulihkan otot-otot tubuh yang lumayan kaku setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 35 jam dari Surabaya ke Palembang.

Memang kali ini saya sengaja memilih jalur darat agar feel and sense of adventure-nya benar-benar terasa. Mulai berangkat dari Surabaya menuju Jakarta dengan menaiki kereta api kelas ekonomi, menunggu terbitnya mentari dan jadwal keberangkatan bus di Terminal Bantar Gebang, mencicipi ngebutnya bus trayek Jawa - Sumatera, menjadi rangkaian menu pembuka perjalanan saya kali ini.

Mentari pagi sudah mulai menunjukkan bias rona merahnya di langit, taksi online pun telah membawa saya menyusuri jalanan kota Palembang yang masih belum ramai. Tujuan saya kali ini adalah nyamperin teman-teman seperjalanan yang ngumpul di markas para pecinta alam di salah satu universitas di Palembang. Maklum, kali ini saya datang sebagai satu-satunya pemain asing dari luar pulau, plus sebagai satu-satunya personil wanita.

Rasa lelah setelah melewati perjalanan panjang seketika sirna, manakala saya sampai tujuan dan bertemu dengan teman-teman di basecamp. Apalagi timing saya datang sangat tepat disaat mereka sedang mempersiapkan sarapan pagi. Apalagi kalau menu sarapan paginya adalah sejajaran piring berisi aneka ragam pempek khas Palembang yang sudah menghantui bayangan saya sebelum menjejakkan kaki di sini. Gak rugi jauh-jauh datang kalau kayak gini. Ini baru namanya rejeki musafir. *grin..

Dua Jam Menyusuri Sungai Musi Hingga Ke Pedalamannya

Perut dan selera sudah terpuaskan oleh sedapnya pempek. Semua personil tim pun sudah siap dengan segala perlengkapannya. Selagi masih pagi kami harus segera berangkat. Saya pun sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan para gajah. Tanpa perlu berlama-lama segera kami menuju dermaga Jembatan Ampera.

Sampai di bawah kolong Jembatan Ampera yang berdiri megah sebagai ikon kota Pelembang. Mata saya disuguhi pemandangan aktivitas masyarakat sungai yang khas. Warna-warni perahu speedboat, kegiatan loading penumpang dan barang naik turun perahu, hingga riuhnya suara awak perahu yang mencari penumpang. Sebuah pemandangan human interest yang sangat menarik untuk saya abadikan lewat lensa kamera.

Tak menunggu lama, akhirnya rombongan kami pun sudah berada di atas speedboat yang kami sewa untuk mengantar kami ke tujuan. Begitu mesin perahu dihidupkan, speedboat yang kami naiki pun langsung melesat laju meninggalkan dermaga. Jujur, ini merupakan pengalaman pertama saya naik speed river bus menyusuri sungai. Gilak ternyata kenceng banget laju perahunya sampai kami serasa terbang-terbang di atas air. Dan makin gila karena saya dan teman-teman memilih duduk di atas atap perahu.

Wooooww! Semua penat seolah sirna tersapu kencangnya angin plus cipratan air sungai yang membuat sekujur tubuh saya basah kuyup. Belum lagi hamparan pemandangan sepanjang Sungai Musi, mulai dari lalu lintas kapal besar dan kecil, kehidupan masyarakat tepian sungai lengkap dengan sorak sorai bocah-bocah yang menceburkan diri mandi di sungai, hingga belantara pedalaman di sisi sungai yang masih terlihat asli, semua tersaji selama kurang lebih dua jam perjalanan, berasa banget adventure-nya.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan - Rumah Lockdown Bagi Gajah Sumatera.

Setelah sekitar dua jam menyeruak belantara Sungai Musi, mata saya mulai melihat beberapa ekor gajah yang sedang berjalan merumput dan minum air di tepi sungai. Saya girang bukan kepalang, karena ini artinya saya sudah hampir tiba di tempat yang kami tuju. Benar saja tak berapa lama, perahu mulai menepi dan menambatkan talinya di sebuah dermaga kecil selebar tak lebih dari dua meter yang terbuat dari kayu. Terpampang jelas di hadapan saya sebuah gapura bertuliskan "Pusat Latihan Gajah Suaka Margasatwa Padang Sugihan".

Saya masih terkesima seakan tak percaya melihat hamparan lahan gambut dan belantara sejauh mata memandang di hadapan saya, ketika tiba-tiba saya dapati tangan seseorang yang terjulur untuk membantu saya turun dari perahu. Ternyata sudah ada banyak petugas yang menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah yang bersahabat. Mereka pun mengajak kami masuk ke dalam sebuah rumah dan satu-satunya bangunan rumah yang ada di tempat ini. Rumah yang juga merangkap fungsi sebagai kantor home base bagi para petugas Suaka Margasatwa Padang Sugihan.

Sembari menikmati makan siang, kami pun diberikan briefing sembari saling memperkenalkan diri dengan segenap petugas dalam suasana penuh keakraban. Mulai dari pimpinan, para pawang gajah, hingga para dokter hewan yang mengabdikan diri bertugas menjaga tempat ini.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan adalah sebuah area hutan terisolasi seluas 750 Kilometer persegi atau sekitar 87 ribu hektar yang terbentang di wilayah kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Didirikan pada tahun 1983, suaka margasatwa ini menjadi tempat konservasi bagi gajah sumatera untuk menghindari konflik antara gajah dengan manusia yang mengancam kelestarian populasi gajah sumatera. Terdapat kurang lebih seratusan gajah yang mendiami kawasan konservasi ini yang terdiri dari 30 ekor gajah jinak dan sisanya adalah gajah liar.

Enam Hari Tinggal Bersama Gajah

Setelah sehari sebelumnya tim kami mendapatkan brief secara detail tentang seluk beluk kawasan SM. Padang Sugihan serta pengenalan teoritis dan karakteristik gajah sumatera beserta habitatnya. Pagi ini tiba saat kami mulai bekerja untuk melakukan penelitian sekaligus membuat film dokumenter.

Begitu matahari terbit, kami harus sudah beranjak untuk masuk ke dalam hutan. Sekilas, hutan di tempat ini terlihat seperti hamparan padang rumput luas yang tak bertepi. Bayangan pohon-pohon besar pun nampak sangat jauh sekali dari pandangan mata. Akan tetapi jangan dianggap mudah untuk menjelajahi ‘padang rumput’ ini. Karena sejatinya area ini adalah kawasan hutan gambut basah. Jadi berjalan di atasnya sama rasanya dengan berjalan di rawa-rawa yang digenangi air. Oleh karenanya sepatu boots karet jadi hal yang wajib untuk kita kenakan.

Selama enam hari hidup di habitat gajah, seolah saya terlibat langsung dengan kehidupan mereka. Mengamati dari dekat dengan mata kepala sendiri, bagaimana gajah-gajah itu hidup, dari mulai makan, bersosial dengan koloninya, hingga gajah itu tidur di malam hari. Termasuk juga merasakan bagaimana para pawang di sini yang dengan sepenuh hati merawat gajah-gajah yang sudah jinak, melatihnya, menggembalanya ke dalam hutan, memandikannya di sungai, hingga melakukan penanganan medis dan mengobati gajah yang sakit. Sampai-sampai saya baru tahu kalau gajah sakit dan harus diberikan infus, maka jarum infusnya akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang ada di telinganya. Dan sang pawang harus berdiri pada posisi yang lebih tinggi dari tubuh gajah dan dengan sabar terus memegangi kantong infus hingga cairannya habis.

Tak terasa, tiba juga hari terakhir kami berada di Padang Sugihan. Hati ini rasanya enggan pergi dan masih ingin terus berada di tempat ini. Menyatu dengan alamnya, melihat indahnya mentari yang terbit dan tenggelam tanpa penghalang, menghirup segarnya udara pagi tanpa polusi dan kebisingan, bermain bersama anak-anak gajah yang imut dan lucu, menikmati keheningan malam tanpa tetangga berhias nyanyian serangga dan angin di tengah belantara rimba, berkumpul bersama orang-orang baik yang hatinya dipenuhi rasa kasih sayang, kepedulian serta tanggung jawab terhadap kelestarian alam dengan satu alasan yang sama yaitu ‘demi anak cucu kita kelak’.

Siang itu perahu speed yang menjemput tim kami untuk kembali ke Palembang pun tiba. Kehadirannya bak pemutus segala kenikmatan dan keindahan hidup yang kami rasakan di ‘alam gajah’ ini. Jerit deru mesinnya kala membawa kami pergi pun seolah meneriakkan kesangsian hati "bilakah kami dapat kembali ke sini lagi?".

Hari ini, ketika saya menuliskan tulisan ini di dalam kamar rumah yang berbalut suasana lockdown pandemi COVID-19, kerinduan pada kehidupan di ‘alam gajah’ terasa sangat membekas di hati. Mengiringi doa agar ‘teman-teman besar berbelalai panjang’ di sana tetap gendut dan baik-baik saja.

Satu yang pasti dan teramat saya syukuri, bahwa Tuhan telah berbaik hati memberi saya kesempatan untuk melakukan perjalanan dan berpetualang menyaksikan kebesaran-Nya dalam mencipta alam semesta ini. Sebuah perjalanan yang tak akan mungkin terlupa sepanjang hidup saya, dan kelak akan menjadi cerita bagi anak cucu saya.

 

Nama Penulis: Dian Radiata

Instagram: www.instagram.com/adventurose

Twitter: www.twitter.com/adventurose_

Facebook: Dian Radiata

Press Enter To Begin Your Search
×