Loading...

Foto: unsplash.com

“Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu” begitu kira kira salah satu lirik lagu Kla Project yang bertajuk Yogyakarta. Walaupun sudah empat tahun berganti namun Yogyakarta selalu menjadi alasan bagiku untuk pulang. Hingga pada pertengahan tahun timbul rencana nekat untuk berlibur kesana, ya paling tidak pergi ditengah libur semester 4 agar tidak ada situasi ujian akhir di kejar deadline.

Akhirnya setelah seluruh ujian akhir semester selesai, pada akhir bulan Juli pun aku bersama teman dekatku, sebut saja Fariz, bersiap berangkat di malam minggu. Kami memang satu kelas di kampus, wajar saja jika kami cukup dekat. Dengan berbekal satu ransel malam itu kami berangkat naik bus menuju Kota Tegal. Kenapa kita ke Tegal bukannya ke Yogyakarta? Nah, kebetulan Fariz ang berasal dari Kota Tegal memiliki tempat singgah disana, ya rumah tempat biasa ia singgahi untuk pulang kampung. Kita berangkat dari Jakarta sekitar pukul 10 malam, bisa dibilang ini merupakan pengalaman pertama ku berpergian jauh dengan bus.

Perjalanan tidak begitu terasa lama mungkin karena kita berangkat di malam hari sehingga tidak begitu banyak pemandangan yang dapat terlihat melalui jendela. Hingga akhirnya pukul 2 malam kita pun tiba di Kota Tegal dan bus pun menepi untuk menurunkan beberapa penumpang yang turun di sekitar pemberhentian itu. Setelah berjalan sekitar 100 meter kita sampai di rumahnya.

Sesampainya di rumah tak banyak hal yang kita lakukan selain bersiap untuk pergi tidur. Kita tertidur kelewat pulas sampai terbangun menjelang adzan dzuhur di hari Minggu. Saat sore hari Fariz mengajak ku untuk keluar rumah. Dengan menggunakan motornya kita pun pergi ke Polder Bayeman Waduk Kaligangsa yang berada tak jauh dari rumahnya. Kita menikmati pemandangan sembari duduk dikelilingi persawahan, sungguh pemandangan yang jarang dapat kita nikmati di tengah penatnya ibu kota. Setelah menikmati matahari terbenam bersama langit orange, kita pun pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Yogyakarta pada hari Senin.

Keesokan harinya kita pun bersiap untuk berangkat menuju Yogyakarta, butuh persiapan fisik yang kuat karena kita akan menghabiskan sekitar 5 jam perjalanan dengan mengendarai motor. Benar saja, setelah berangkat sekitar pukul 2 siang kita tiba di penginapan menjelang Isya yang terletak di daerah Monjali. Kita istirahat sebentar untuk meregangkan badan dan langsung berangkat lagi menuju angkringan yang tepat berada di dekat perempatan Tugu Pal Putih Jogja atau yang biasa disebut juga Tugu Golong Gilig. Suasana kota Jogja pada malam hari terasa menyuguhkan kesejukan.

Tak lama pun kita kembali ke penginapan dan bersiap untuk berkelana keesokan harinya. Selasa siang kita tiba di tujuan pertama yaitu Seribu Batu Songgo Langit Rumah Hobbit Mangunan. Mungkin karena situasi saat ini sedang pandemi jadi tidak begitu banyak pengunjung yang datang, bahkan tempat wisata ini serasa milik sendiri. Hanya terlihat beberapa wisatawan beserta salah satu stasiun televisi yang sedang syuting berita.

Seribu Batu Mangunan

Saat tengah asyik berphoto ria bersama hobbit, salah satu karyawan yang bekerja di stasiun televise tersebut memanggilku dan Fariz untuk masuk ke dalam frame beritanya. Terlihat ia mengarahkan kameranya untuk merekam kami layaknya wisatawan menikmati pemandangan disana dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Walaupun sedang berlibur kita tetap mematuhi protokol kesehatan seperti selalu menggunakan masker serta handsanitizer.

Sekitar pukul 3 sore kita kembali berangkat menuju salah satu pantai di daerah Kabupaten Bantul yaitu pantai Goa Cemara. Letaknya berdampingan dengan pantai Samas dan Pandansari. Kita tiba menjelang sore sehingga matahari tidak begitu terik ditambah dengan pohon cemara yang meneduhi sekitar pantai. Aku dan Fariz berjalan menuju pesisir pantai dan menikmati air ombak yang sesekali menghampiri kaki.

Pantai Goa Cemara

Setelah kita merasa cukup puas menikmati ketenangan Pantai Goa Cemara pada sore hari itu, kita kembali berangkat dan tiba di Bukit Paralayang Parangtritis untuk menikmati matahari terbenam Tak terlalu banyak anak tangga yang perlu dilewati hingga tiba di puncak bukit hingga kami pun tiba tepat matahari akan terbenam dan kembali menikmati nuansa langit orange. Hingga akhirnya adzan maghrib tiba disusul dengan langit yang semakin gelap, kami pun turun menuju parkiran motor dan berencana untuk makan malam.

Bukit Paralayang Parangtritis

Kita memutuskan untuk makan malam di Sate Klathak Pak Bari yang terletak di Pasar Wonokromo, suasananya tidak begitu ramai pada malam hari itu. Aku bercerita pada Fariz bahwa Sate Klathak Pak Bari ini mengingatkanku dengan film AADC 2 dimana Cinta dan Rangga menikmati makan malamnya disana. Setelah selesai makan, kita belum merasa kenyang dan langsung menuju Warung Kopi Klotok, kata Fariz pisang goreng disana enak.

Setelah tiba kita pun langsung memesan Kopi Klotok dan pisang goreng yang Fariz inginkan tadi. Berbeda dengan tempat makan sebelumnya, Warung Kopi Klotok cukup ramai malam itu hingga kita kesulitan mencari tempat duduk. Namun tak lama berselang pesanan tiba, kita harus segera pulang karena ternyata selama pandemi Warung Kopi Klotok tutup lebih awal. Akhirnya terpaksa kita harus menghabiskan kopi dan menikmati pisang goreng di penginapan.

Keesokan harinya kita tidak kemana mana dan menghabiskan waktu di penginapan seharian dikarenakan aku yang mendadak tidak enak badan, walaupun hanya sedikit pegal–pegal dan pusing Fariz bersikeras untuk berdiam di penginapan hari ini. Ya memang ketika berpergian di kondisi seperti ini penting untuk tetap memperhatikan kesehatan.

Akhirnya di hari Kamis setelah kondisi badan sudah cukup fit kita lanjut berkelana Jogja. Sebelum berpergian kita mampir ke Tempo Gelato yang terletak di jalan Kaliurang. Selanjutnya kita menuju Stonehenge Merapi Cangkringan. Lagi-lagi kita disuguhkan dengan sepi nya pengunjung hingga membuat kita leluasa untuk mengabadikan moment bersama. Setelah itu kita mampir ke Warung Kopi Merapi yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Kita memesan kopi dan teh serta sepiring kentang goreng untuk kita nikmati berdua.

Selanjutnya kita berangkat menuju Bunker Kaliadem Merapi. Setibanya disana kita duduk-duduk dan menikmati suhu disekitar yang cukup dingin. Kami menghabiskan waktu disana sembari mengobrol hingga matahari sore hari. Namun sebelum matahari terbenam kita sudah bersiap untuk pulang karena akses jalanan yang sedikit sulit dilalui jika sudah gelap.

Sebelum kembali ke penginapan kita menghabiskan malam takbiran menyusuri jalan Malioboro sambil mencari penjual gelang karena salah satu teman Fariz nitip oleh-oleh makanan enting-enting, ya semacam permen biji wijen. Mungkin karena malam takbiran sehingga suasana jalan Malioboro cukup ramai pada malam itu. Setelah cukup lelah kita pun kembali ke penginapan dan mulai siap-siap packing karena Jumat sudah harus checkout.

Pada hari Jumat kita checkout sekitar pukul 12 siang dan bersiap untuk pulang menuju Tegal. Namun sebelum pulang kita mampir untuk membeli buah tangan Bakpia Pathok untuk beberapa teman kampus kita. Setelah segala urusan selesai akhirnya kita pun langsung pulang menuju Kota Tegal dan menghabiskan waktu sekitar 5 jam lamanya. Agak melelahkan memang berpergian jauh dengan menggunakan motor namun cukup meminimalisis biaya yang harus kita keluarkan dibandingkan dengan menyewa motor.

Kita tiba di Kota Tegal kira-kira menjelang Isya dan langsung istirahat karena kita berencana untuk pulang ke Jakarta di Sabtu sore. Seperti saat berangkat, kita pulang dengan naik bus dari Terminal Bus Kota Tegal. Perjalanan pulang terasa begitu cepat hingga akhirnya kami pun tiba di Jakarta jam 2 pagi dan kembali di ibu kota dengan selamat.

Perjalanan ini terasa begitu singkat dan melegakan. Namun sangat disayangkan beberapa tempat wisata menjadi sepi pengunjung karena pandemi. Beberapa tempat makan setempat jadi ikut terdampak. Rasanya waktu liburan akan begitu terasa jika bersamaan dengan wisatawan lain. Aku hanya berharap pandemi ini dapat segera berakhir agar masyarakat dapat beraktivitas normal dan perekonomian masyarakat setempat kembali stabil. Sampai bertemu tahun depan Jogja. Aku dan Fariz pasti akan kembali.

 

Nama Penulis: Amanatal Hayyi

Press Enter To Begin Your Search
×