Loading...

"Kita akan praktik ke sebuah suku di Banten. Suku Baduy!” Seru, dosenku di kelas malam. Sejenak aku berpikir, benarkah? Ah! Pasti mudah dan seru. Semenjak itu, aku tidak mencari tahu tentang apa pun yang terkait dengan Suku Baduy, agar bisa menjadi kejutan untuk diriku sendiri. 

Lalu pada esok hari, salah satu dosenku yang biasa mengawasi KKN di Suku Baduy, Pak Dadang bercerita betapa uniknya suku itu. Ah! Membuatku semakin penasaran untuk berkunjung ke sana. “Di sana serba alami, semua bahan untuk mandi sangatlah murni. Ingat! Jangan bawa bahan-bahan yang mengandung detergen ya! Atau alat mandi yang akan mengeluarkan busa, itu akan mencemari sungainya di sana.” 

Bayanganku sudah berwisata ke Suku Baduy saat Pak Dadang menceritakan hal tersebut. Membayangkan betapa bersihnya lingkungan di sana atau betapa jernihnya sungai di sana. Aku ingin merendamkan kakiku di sungai itu dan menikmati alam yang tepat berada di depan mataku.

Hari sebelum berangkat, aku segera menyiapkan barang-barang yang sekiranya akan aku gunakan di sana. Ini pengalaman pertamaku berkunjung ke sebuah suku. Aku bertanya kepada dosen dan temanku “Apa yang harus aku bawa?”. Mereka bilang harus membawa sleeping bag, karena di sana dingin jika malam hari hingga subuh. Selintas aku berpikir, apa itu sleeping bag? Aku ingat bahwa aku memiliki selimut yang bisa dijadikan bantal dan memiliki celah untuk digenggam dipinggirnya. 

baduy

(Photo source: Unsplash.com)

 

Saat ku foto dan ku kirim ke temanku, mereka mengatakan “benar itu.” Namun aku sempat ragu untuk membawanya karena ukurannya yang aku pikir cukup besar. Ah biar saja, siapa tahu memang bermanfaat.

Pada pukul 05.25 aku berangkat ke Taman Gajah Tunggal, karena titik kumpul yang berlokasi di area taman tersebut. Sontak temanku berkata.

“Loh, ras? Tas yang kamu bawa berwarna kuning biru itu apa?” Tanya temanku dengan ekspresi wajah yang heran.
“Hmmm, sleeping bag katamu.” Jawabku dengan datar.
“Duh, aku kira tidak sebesar ini loh. Hahaha, yasudah bawa saja siapa tau sangat berguna sekali.”
Aku menunduk malu sambil tertawa kecil. Lalu aku bertanya pada dosenku “Miss, apakah bisnya belum datang?” tanyaku pada Miss Rella sambil celingukan ke kanan dank ke kiri.

Dosenku menunjuk kearah mobil berukuran besar “Kita akan naik mobil itu, Laras.”, ternyata kendaraan yang akan kita pakai berupa mobil truk Marinir. Aku hanya menatap mobil itu lalu tertawa kecil “Tidak apalah”, gumamku. Aku langsung menaruh tas ke dalam mobil tersebut dan bergabung dengan teman-temanku.

Selama perjalanan, kami semua terdiam. Lalu salah satu temanku ada yang bisa memecahkan suasana. “Kita kayak ditangkap Satpol PP hahaha.” Aku hanya tertawa dan berpikir, mungkin ini adalah bagian serunya. Hingga akhirnya kita sampai di sebuah Musholla untuk sholat Zuhur dan menjamak sholat Ashar, setelah itu kami makan bersama. Lalu kita menuju ke Ciboleger. Ternyata kita mulai menanjak dari Ciboleger. Aku tidak bertanya berapa jarak dan waktu yang kita tempuh untuk sampai ke Baduy Dalam. Sang Tour Guide hanya mengingatkan kembali, saat berada di Baduy dalam, tidak ada yang boleh memotret atau merekam video. Mereka tidak suka terekspos.” Kami pun mematuhi perintah tersebut.

Aku hanya berfikir, mungkin dekat untuk menuju Baduy dalam. Kami sudah menanjak selama 1 jam setengah lamanya, namun tak kunjung sampai. Aku melihat rumah-rumah yang berada di tengah hutan, mungkin sudah mau sampai. Lalu ku tanya dosenku, “Bu, kira-kira kita akan sampai jam berapa untuk menuju ke Baduy dalam?” Dosenku, Bu Asri menghela nafas dan menjawab “Kira-kira jam 10 atau 11 malam.” Sontak aku terdiam dan menatap jauh. 

Kami mulai naik pada pukul 1 siang. Lalu sampai disana jam 10 malam? Kaki ku lemas namun temanku bilang “Ayo semangat.” Ada yang langkahnya lincah, seperti Elisa, Dillah, Bayu, namun yang di belakang ada Maulana, Abdul, dan Rizky. Aku dan sahabatku Mayang melangkah pelan-pelan dan yakin akan sampai ke sana.

Kami sempat beristirahat di daerah Baduy Luar, dan penduduknya pun ramah-ramah. Mereka memberikan seteko air, dan airnya sangat dingin. Seperti air dari pegunungan. Pemandangan di daerah Baduy Luar pun tak kalah menakjubkan. Penduduknya kebanyakan memakai baju hitam dan kain batik biru tua. Pakaian itu adalah pakaian khas mereka. Bahkan di sepanjang jalan sebelum tiba di area rumah warga Baduy Luar, banyak yang menjual kain tenun mereka.

Banyak hal yang terjadi, seperti perutku keram, Mayang yang kambuh maagnya. Dan Ijul yang mengalami keram kaki hingga tidak sanggup untuk berjalan menuju ke atas sana. Aku hanya berdoa dan apa yang aku impikan tentang Suku Baduy terwujud. Aku sangat ingin melihat keindahannya. Banyak sekali yang aku rasakan, seperti lagi-lagi keram perut, kaki yang mulai memar hingga punggung yang sudah tidak sanggup menopang tas ranselku. Akhirnya ada teman dan tour guide yang baik hati untuk membawa tasku dan juga tas sahabatku Mayang. Jalan yang kami tempuh benar-benar seperti pegunungan. Terkadang ada batu besar atau jalan yang licin karena aliran air.
 
Pada pukul 9 malam, kami beristirahat sebentar di salah satu rumah warga. Merebahkan tubuh sejenak dan mendengarkan suara jangkrik di kesunyian malam. Banyak hal yang ingin aku ketahui tentang suku ini. Aku tidak akan putus asa untuk sampai ke daerah Baduy dalam. Sudah tidak ada sinyal di sini. Dan mulai dari sini, aku sudah tidak menyalakan ponsel, aku mengikuti peraturan yang telah disampaikan oleh Tour Guide tersebut. Hingga akhirnya kami lanjut berjalan menuju Baduy dalam dan sampai sekitar pukul 9.30 malam. 

Meski di malam hari, mataku sangat terpana melihat jejeran rumah warga Baduy dalam. Bahkan mereka sangat ramah kepada kami. Kami menginap selama 2 hari 1 malam di sini, besok siang setelah wawancara kami harus pulang. Bahkan untuk menginap harus terpisah, ada rumah khusus menginap  untuk laki-laki dan di depannya rumah menginap untuk perempuan.

Di pagi hari, aku mencoba ke sungai untuk mencuci wajahku. Dingin sekali airnya. Sangat bersih. Aku tidak membawa sabun atau shampoo. Aku hanya mencuci wajahku dan membersihkan kaki dan tanganku. Sambil menunggu temanku, aku melihat sekeliling. Banyak anak kecil yang bermain bola, hingga ibu yang mencuci dan mengurus anaknya. Sungguh indah sekali. Aku sangat mengidamkan wisata yang seperti ini. 

Di daerah yang tenang, cocok sekali untuk istirahat dari hiruk pikuk perkotaan yang penuh polusi. Setelah bersih-bersih, aku segera menuju ke tempat menginap untuk merias wajah dan membereskan barang-barangku. Kita akan melakukan wawancara dengan Tetua masyarakat Baduy Dalam Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, yaitu Ayah Mursyid. Banyak ilmu yang aku dapatkan dari beliau. Menurutnya, masyarakat Baduy juga bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Masyarakatnya mendapatkan hasil dari berkebun, kebun yang mereka miliki bernama Huma. Hingga saat ini, yang masih membekas adalah, masyarakat Baduy tidak mengenal perceraian dan poligami dalam bahtera rumah tangga. Masyarakat Baduy akan menikah lagi ketika dipisahkan oleh ajal atau maut. Penduduk Baduy Dalam pun memang dikenal memiliki sikap baik, namun agak pemalu. 

Jadi, jika disapa dan mereka tidak menjawab, bukan berarti mereka tidak ingin bertegur sapa. Mereka hanya malu karena tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang luar. Dan perjalanan wisata ini, semakin menguatkan solidaritas pertemanan. Saling menguatkan dan saling membantu. Mereka teman yang baik, dan dosen-dosen yang terbaik. Hiduplah dengan sederhana dan saling membantu sama lain. Terima kasih.

Penulis: Larasati Pristi Arumdani

Instagram: @arasseuu

Facebook: Larasati Pristi

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×