Loading...

Pernah nggak teman-teman ditanya mengenai impian?

Dulu kita seringkali ditanya perihal impian, apalagi sewaktu SMA. Sebab setelah masa inilah kita akan benar-benar memulai kehidupan. Aku pernah ditanya, “apa mimpimu?”, “Ingin menjadi apa kamu kelak?”. Pertanyaan seperti ini terasa menghantui kita, terlebih saat kita benar-benar belum memikirkannya. Aku sendiri dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu cenderung seadanya, karena memang aku belum memikirkan, mau menjadi apa aku?

Saat itu aku menjawab, aku ingin ke Pulau Jawa. Kuliah dan menamatkan S1 di sana. Aku ingin menginjakkan kakiku di kota-kota besar ternama yang selalu muncul di TV. Benar-benar menakjubkan melihat kota-kota besar itu melalui tayangan televisi, terlebih bagiku yang hanya berlatar belakang tempat tinggal di kampung. Aku bukannya tidak bersyukur tinggal di kampungku, hanya saja aku ingin mencoba bagaimana hidup di kota besar kenamaan Negeri ini.

Selang 3 tahun masa SMA ku berlalu, akhirnya aku kuliah di salah satu Universitas yang berada di provinsi tempat aku tinggal, Sumatera Barat. Aku tidak diizinkan kuliah di luar provinsi. Menurut orang tuaku itu sangat jauh, apalagi di Jawa. Mau pergi dengan apa aku ke sana? Naik pesawat? Bayar pakai apa? Ya, saat itu, harapanku pupus untuk menginjakkan kakiku di pulau Jawa. Masalah yang cukup serius bagi keluargaku, biaya.

Aku kemudian kuliah dan menempuh pendidikan dengan jurusan yang dahulu cenderung dianggap sebelah mata oleh orang lain, PG-PAUD. Ya, itu jurusanku. Jujur, aku sendiri dulu menganggap jurusan itu biasa saja, karena aku berpikir, ah aku akan menjadi guru anak-anak kecil saja. Beragam pandangan dari teman-temanku yang saat itu terkejut aku kuliah di jurusan tersebut. Mereka mengira aku akan kuliah di jurusan Biologi atau Kimia, karena memang sewaktu SMA aku cenderung dengan dua pilihan tersebut.

Semester pertama, aku hanya menjalani pendidikanku seandanya, mengikuti alur sebagaimana mestinya. Namun setelah menerima hasil semesteran pertamaku, aku terkejut dengan nilai yang aku peroleh. Ditambah lagi, selama 1 semester itu aku mendengar dan melihat kakak-kakak tingkatku berangkat keluar provinsi dengan mengikuti berbagai macam lomba dan acara nasional. Dan terlebih lagi itu tidak mengeluarkan biaya pribadi, ada universitas dan jurusan yang akan mendukung dan memberi motivasi kepada mahasiswa-mahasiswa yang mau mengikuti acara tersebut.

Dari sinilah aku mulai membuka mata dan pikiranku, tidak peduli apa pun program pendidikan yang aku jalani aku bisa ke manapun. Tentu dengan kemauan, kerjas keras, dan prestasi serta do’a dan harapan yang tidak berhenti.

Semester ketigaku, November 2018 qadarullah Allah memang tidak pernah lupa atas impian setiap hambanya. Aku bisa bergabung dengan kakak tingkat membentuk satu tim untuk mengikuti perlombaan debat nasional setelah melalui latihan dan seleksi yang cukup membuatku berada di kampus hingga larut malam.

Bang Li dan Bang Adrian adalah dua orang kakak yang menjadi teman perjalanan mimpi pertamaku. Ini adalah pengalaman pertamaku, mengikuti lomba tingkat nasional.  Tentu aku sangat gugup namun dibalik kegugupan itu,  aku akhirnya melihat impian pertamaku sudah menemukan jalannya, Jawa Tengah menungguku. Hehe sedikit agak lebay sih…

Ini pertama kalinya bagiku, berangkat ke pulau Jawa, jauh dari orang tua, naik kuda besi (pesawat) yang merupakan hal terbaik lainnya dari perjalanan ini.  Setelah 3 jam pesawat delay akhirnya kami berangkat menuju Kota Yogyakarta, kota yang menjadi tempat persinggahan kami sebelum berangkat ke Surakarta.

Selama di dalam pesawat, aku benar-benar cemas, perasaan khawatir juga meliputi sehingga tubuh terasa sangat dingin, untunglah sebelum berangkat bang Li menyarankan untuk mengenakan jaket. Untuk menghilangkan kegugupan dan kecemasanku selama di pesawat, aku memilih menulis di buku catatan harianku agar kenangan ini kelak bisa dibaca oleh orang lain, setidaknya keluargaku.

Pagi di Yogyakarta, kami berkeliling kota Yogyakarta menaiki motor dan melihat-melihat kota tersebut dengan takjubnya. Ya, aku takjub dan aku merasa masih seperti mimpi bisa berada di kota itu. Keterbatasan waktu, kami tidak bisa berlama-lama di kota istimewa ini. Kami harus segera berangkat ke kota Surakarta tempat kami akan lomba menggunakan kereta api. Sebelum meninggalkan kota ini, kami sempat sarapan di sebuah warung makan serba ada.

Dan lagi, pertama kalinya aku mencoba rawon makanan khas Jawa yang terkenal sangat manis. Benar-benar selera yang berbeda dengan aku, orang Padang yang terkenal dengan makanan pedasnya. Inilah salah satu hal unik dari perjalananku, mencicipi berbagai makanan yang berbeda cita rasanya dengan yang ada di kotaku.

Sesampainya di kota Surakarta, selama 3 hari aku dan tim mengikuti perlombaan dengan antusias, terlebih ketika aku bertemu dan bercengkerama dengan teman-teman baru, walaupun dalam lomba kali ini timku belum berhasil meraih peringkat juaranya aku tetap sangat bersyukur telah diberikan kesempatan untuk datang dan bertemu dengan orang-orang hebat yang memberikan pengalaman dan pelajaran untukku.

Setelah perlombaan, Aku dan tim memutuskan untuk menikmati sebentar waktu yang tersisa sebelum kembali ke kota Padang. Aku dan tim sepakat untuk mengunjungi Kota Semarang dikarenakan di sana ada kenalan. Akhirnya, 3 kota sekaligus kami kunjungi dalam perjalanan ini.

Di Kota Semarang aku dan tim menghabiskan liburan selama 2 hari 2 malam. Selama di kota ini, aku juga berburu kuliner khas Semarang yang namanya Gongso. Ini adalah kuliner terenak yang aku nikmati selama berada di Pulau Jawa, karena ya tadi itu, rasanya tidak manis melainkan pedas.

Sebelum pulang, aku dan tim juga sempat berkunjung ke Candi Gedong Songo yang ada di Kota Semarang. Perjalanan menuju Candi-candi indah ini juga butuh perjuangan loh teman-teman. Karena jarak antara candi yang satu dengan candi yang lainnya lumayan jauh, jadi kalau teman-teman mau ke sini, jangan lupa bawa persediaan air minum, biar nggak dehidrasi.

Esok hari aku dan tim berangkat meninggalkan Kota Semarang menuju Kota Padang. Terimakasih teman-teman yang ada di Surakarta dan Semarang yang sudah bersedia direpotin, memberikan tempat untuk bermalam dan menjadi tour guide kami selama berada di kota ini.  Dan terimakasih untuk perjalanan 6 harinya Bang Ii dan Bang Adrian rekan tim yang jahilnya luar biasa.

 

Nama Penulis: Desi Nur Safitri

Instagram: www.instagram.com/desinursafitry

Press Enter To Begin Your Search
×