Loading...

Uluwau, Bali (photo source: dokumentasi pribadi)

Backpacker-an ke Bali sudah lama saya rencanakan. Akhirnya bulan Januari awal tahun kemarin, saya memutuskan untuk backpacker-an ke Bali dengan menggunakan kereta api. Tiket kereta api jurusan Jakarta - Surabaya dan Surabaya – Banyuwangi sudah saya pesan sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan. Tujuannya adalah agar saya mendapat tiket kereta api yang murah dan bisa mengatur waktu perjalanan.

Perjalanan dari Jakarta menuju Banyuwangi sangat lancar. Tidak ada kendala apapun dan suatu hal yang saya khawatirkan. Begitu pun ketika saya menyeberang dari Pelabuhan Ketapang - Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk – Bali. Semuanya lancar. Bahkan, saya merasa sangat enjoy berada di kapal laut dan sangat menikmati pemandangan lautan.

Tapi, ketika saya turun di Pelabuhan Gilimanuk, ada hal yang nggak sesuai dengan ekspektasi saya. Ternyata pelabuhannya tampak sepi. Tidak ada bus-bus yang berjajar dengan jurusannya masing-masing seperti di Pelabuhan Merak. Entah karena hari itu sedang turun hujan, atau memang seperti ini situasinya

Awalnya, rencana saya, ketika turun dari kapal laut saya akan langsung menuju bus dengan Jurusan Pelabuhan Gilimanuk – Terminal Ubung  atau Pelabuhan Gilimanuk - Terminal Mengwi. Tapi ternyata diluar dugaan, busnya tidak terlihat. Akhirnya, saya bertanya ke salah satu pegawai pelabuhan transportasi apa yang harus saya gunakan untuk menuju Kuta - Legian, dan dia hanya menjawab “pakai ojek aja”. 

Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi (photo source: dokumentasi pribadi)

Masa iya ya, google maps salah. Dari Pelabuhan Gilimanuk ke Terminal Ubung yang jaraknya sekitar 125 km, dan saya harus pakai ojek ??? Posisi saya saat itu masih berada di dalam ruangan pelabuhan. Akhirnya, mau nggak mau saya harus keluar menghadapi gencaran calo-calo yang tanya saya mau kemana. 

Sambil berjalan, telinga saya coba mendengar kata-kata dari calo yang menawarkan ke Terminal Ubung atau Mengwi. Tapi, nggak ada satupun calo yang menyebut dua tempat iru. Yang saya dengar hanya kata “Denpasar”.

Akhirnya nggak ada pilihan, saya harus naik bus tiga perempat yang mereka tawarkan dengan jurusan Denpasar. Bus ini adalah satu-satunya bus yang saya lihat dan terparkir di pinggir pelabuhan. Walaupun saya nggak terlalu yakin. Nanya balik pun percuma, karena mereka nggak menjawab jurusan bus yang saya minta, hanya menyuruh naik bus yang satu ini. Pasrah!

Pikir saya, walaupun nanti nyasar atau salah jurusan. Setidaknya saya nyasar ke pusat kota. Saya bisa beristirahat dulu semalam dan besoknya lanjut  ke tujuan awal saya, yaitu ke Legian atau Kuta. 

Bus sudah melaju sekitar satu jam. Dan, saya merasa lega karena Pak Sopir menjalankan busnya dengan baik, nggak ugal-ugalan. Pengalaman saya di Jakarta, biasanya mobil dengan jenis seperti metromini ini sopirnya kasar dan nge-gas terus. Saya juga lega, karena di bus ada segerombolan backpacker bule yang badannya gede-gede. Kalau di jalan ada apa-apa, ya ada pertolongan lah mungkin dari mereka. 

 

Pantai Pandawa (photo source: dokumentasi pribadi)

Bus sudah melaju sekitar dua jam. Saya agak khawatir, karena semakin lama bus ini melaju saya nggak menemukan tanda-tanda jalan perkotaan yang penuh dengan bangunan dan gedung. Yang saya lihat sepanjang jalan hanya pesawahan dan pepohonan besar. Jalannya mirip seperti saat saya menuju ke Puncak Bogor, di kanan dan kiri jalan banyak pepohonan dan suasananya agak gelap. Mungkin karena cuaca mendung dan semakin sore juga.

Bus sudah melaju sekitar tiga jam. Saya belum sampai juga di Denpasar. Tapi, perasaan was-was saya perlahan hilang. Karena, selama di perjalanan saya banyak membaca petunjuk jalan dengan nama yang cukup familiar, yaitu Terminal Mengwi dan Denpasar.

Di jalan saya juga berdoa supaya bus ini nantinya nggak berhenti di Terminal Mengwi, tapi langsung ke Terminal Ubung. Karena, repot juga kalau saya harus ganti trasnportasi lagi. Ditambah, jarak dari Mengwi ke Legian masih cukup jauh. Takutnya, transportasi saat malam hari sudah nggak tersedia lagi.   

Fyi, yang saya baca dari artikel dan blog, memang mengwi ini terminal baru. Biasanya bus-bus langsung ke Terminal Ubung, tapi sekarang diarahkan ke Terminal Mengwi. Dan, Alhamdulillah, saat itu ternyata busnya tidak masuk Terminal Mengwi tapi Pak Sopir bilang bahwa bus akan langsung ke Ubung. Mungkin karena sudah malam, jadi bus yang saya tumpangi ini bisa langsung ke terminal lama.

 

Tugu Peringatan Bom Bali (photo source: dokumentasi pribadi)

Tiba lah saya di Terminal Ubung sekitar jam 7.30an malam. Di sini, saya nggak terlalu direpotkan dengan calo-calo terminal. Mereka hanya menawarkan angkot atau taksi tanpa paksaan walaupun ongkosnya sesuka mereka. Jarak dari Terminal Ubung ke Legian adalah sekitar 13 km, sekitar 30 menit perjalanan. Kalau di daerah saya, jarak sejauh ini ongkos angkotnya paling sekitar 15 ribu, tapi mereka mematok harga yang lebih dari itu.

Akhirnya saya terbebas dari mereka setelah saya bilang kalau saya mau makan malam dulu. Itu pun selama saya berjalan dari terminal sampai ke warung pecel ayam di depannya, banyak tukang ojek pangkalan yang menawarkan ke Legian dengan ongkos Rp50 ribu. Akhirnya, setelah makan, saya putuskan untuk naik ojek dan memilih tukang ojek yang pertama kali menawarkan jasanya kepada saya. 

Kenapa saya akhirnya memilih naik ojek pangkalan? Karena, selama saya berada di sekitar Terminal Ubung, saya nggak melihat ada tukang ojek online sedang mangkal. Saya juga nggak berani untuk memakai aplikasinya karena menurut berita-berita yang saya baca, terkadang ada ojek online yang nggak boleh membawa penumpang di suatu lokasi. Daripada cari masalah, makanya saya nggak pakai ojek online. Padahal setelah saya cek, harganya lebih murah, bahkan setengah harga.

Akhirnya, saya tiba juga di Jalan Legian sekitar pukul 8.30an malam. Saya sengaja turun di Tugu Peringatan Bom Bali agar mudah  mematok tempat berhenti. Suasana di sini sangat ramai. Baru pertama kali saya melihat tempat wisata semarai ini. Banyak wisatawan asing yang berlalu lalang. Musik di kafe dan bar saling bersahutan. Rasa capek setelah backpacker-an selama dua hari satu malam pun hilang dengan euphoria Bali yang saya rasakan.

 

Penulis: Yudi Rahmatullah

Instagram: @yoedirahmatullah

Twitter: @yudRayi

Facebook: Yudi Rahmatullah

Press Enter To Begin Your Search
×