Loading...

(photo source: pixabay.com)

Pertengahan tahun 2019 lalu, saya bersama lima rekan berencana melakukan perjalanan atau travelling ke Gunung Kembang. Pertama kali mendengar nama Gunung Kembang, saya merasa asing dan tak pernah tahu sebelumnya. Mentok-mentok yang saya tahu gunung di daerah Jawa Tengah ya paling Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, Slamet, Lawu, Ungaran, dan Andong.

Rencana muncak tersebut bisa dibilang berdasarkan keputusan yang buru-buru. Tak ada rencana, atau obrolan sebelumnya. Teman saya sehari sebelum berangkat hanya memberitahu sekaligus mengajak bahwa esok akan muncak. Saya tak langsung mengiyakan ajakan itu, bahkan di antara kami sempat berdebat kecil mengenai rencana yang buru-buru tersebut.

Saya sangat senang jika ada teman mengajak travelling, karena memang itu hobi saya. Tapi dalam kasus ini saya sedikit dibuat berpikir lantaran kondisi yang kurang menentu. Kami dari Semarang, dan cuaca di sini sedang labil. Beberapa minggu terakhir kerap terjadi hujan meskipun tidak terlalu sering.

Pikiran saya selalu tertuju pada pendakian. Bagaimana jadinya jika saat mendaki kami kehujanan tanpa atap dan tanpa kamar bilas. Itu cukup mengerikan. Tetapi teman saya ini pintar merayu, dan selalu berkata "Kan cuma di Semarang cuaca lagi kayak gini. Di Wonosobo mah nggak," begitu bujuknya.

Gunung Kembang berlokasi di Wonosobo, tepatnya di Dukuh Blembem, Kaliurip, Kertek Wonosobo, Jawa Tengah. Mendengar rayuan teman saya yang sedikit intimidatif itu, dipikir-pikir benar juga. Jarak antara Semarang dengan Wonosobo lumayan jauh, pastinya dari segi cuaca pun berbeda. Akhirnya saya pun mengiyakan ajakan mereka dan mulai mempersiapkan segala kebutuhan mendaki.

Kami berkemas seperti para pendaki pada umumnya. Cuaca hari itu cukup terik, tidak ada tanda-tanda hujan bakal turun. Kami mulai melaju dari Semarang tengah hari, dan sampai di basecamp sore hari. Cuaca dingin di basecamp mulai menyelimuti tubuh kami. Tidak heran, karena memang demikianlah Wonosobo, daerah yang berada di ketinggian dengan suhu rendah yang selalu membuat tubuh siapapun ingin terus menarik selimut.

Kami memutuskan beristirahat sejenak di basecamp pendakian Gunung Kembang, sekaligus laporan juga checking barang bawaan kepada para penjaga di sana. Saat sedang asik menikmati istirahat, tiba-tiba langit berubah menjadi gelap (mendung). Saya bisa menebak dengan nalar manusia bahwa mendung kali ini bukan mendung biasa, tapi mendung yang seperti tanda munculnya malam, padahal baru jam empat sore.

Kami memastikan dengan keluar di depan basecamp dan mengamati angin mulai bertiup kencang menyapu pepohonan, spanduk, juga tubuh kami. Sepertinya memang akan turun hujan lebat sore itu. Mendaki dikala hujan bukanlah jalan ninja kami, dan bukan jalan ninja siapapun karena itu berbahaya. Tak lama, hujan pun turun dengan volume yang besar.

Perlengkapan mendaki kami sangat lengkap. Kebutuhan logistik, serta peralatan memasak, juga air minum sudah sedia dalam tas. Tapi itu semua sudah sesuai perhitungan, hanya pas dipakai saat mendaki. Perut kami mulai lapar bersama derasnya hujan sore itu. Kami sepakat membayangkan enaknya memakan mie instan kala hujan. Kemudian kami keluar dan mencari warung.

Kami memesan enam mangkuk mie instan bertoping telur dengan kerupuk di atasnya. Beberapa teman juga membersamai santapan itu dengan nasi yang diminta dari penjual. Hujan di luar masih deras, seakan tak mau berhenti. Kami mulai khawatir jika pendakian kali ini berujung gagal.

Selesai kami makan, kami mengumpulkan uang untuk membayar. Saat membayarkan kepada pemilik warung, lah dalah ko dia tidak punya kembalian. Salah satu teman, yang kami anggap juga sebagai ketua timnya langsung berujar untuk membeli jajanan dari sisa kembalian itu. Akhirnya beberapa jajanan kami bawa, yang sebenarnya itu tidak perlu-perlu amat.

Waktu sudah mau magrib, tapi hujan tak kunjung usai. Beberapa rombongan pendaki termasuk kami terpaksa menunggu lebih lama lagi untuk menyalurkan hasrat melihat pemandangan epik di puncak Gunung Kembang. Sepertinya Gunung Kembang tak mau buru-buru menerima kami, atau mungkin dia masih malu karena belum lama dikenal orang.

Sekira pukul setengah 8 malam, hujan pun berhenti. Kami langsung bergegas menyiapkan diri untuk memulai pendakian. Saat semua siap dengan bawaannya masing-masing, kami menuju loket registrasi untuk simaksi. Kemudian kami pula diberikan peta pendakian sebagai petunjuk agar kami tidak salah jalur.

Untuk sampai puncak Gunung Kembang, kami harus melewati 7 pos. Pos pertama adalah Istana Katak, rute ini melewati kebun teh yang luas. Pos kedua adalah Kandang Celeng, pos ini menjadi batas antara kebun teh dengan hutan, pos ini juga biasa disebut pintu masuk ke hutan Gunung Kembang. Pos yang ketiga adalah pos Liliput. Selanjutnya pos keempat adalah pos Simpang Tiga, kemudian pos kelima adalah pos Akar, di pos ini banyak pohon yang akarnya bergelantungan.

Pos keenam adalah pos Sabana. Di pos Sabana ini para pendaki bisa mendirikan tenda apabila sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan, atau karena sudah kemalaman. Meski demikian, cukup sulit mencari posisi mendirikan tenda strategis di pos ini karena kondisi medan yang curam. Pos terakhir adalah pos Tanjakan Mesra, tak seperti namanya, pos Tanjakan Mesra ini tidak begitu mesra karena trek menanjaknya tidak rata juga konon kemiringannya mencapai 90°.

Sebelum memulai pendakian, kami berdiri melingkar sembari berpelukan dan merapalkan doa masing-masing. Mulailah kami berjalan dengan berbekal senter dan keberanian. Benar saja, di rute awal kami melewati kebun teh. Kami memacu kaki dengan penuh semangat meski suasana gelap dan dingin sisa hujan tadi masih menyelimuti.

Tapi nasib kurang baik mendatangi kami. Saat sudah berjalan 30 menitan dari basecamp, langit kembali meneteskan air ke bumi. Kali ini tidak besar, tapi lumayan bisa membuat kami basah kuyup. Kami yang berada di antara tanaman teh dan suara-suara hewan yang tak dikenali, memutuskan meneruskan pendakian dengan mengenakan jas hujan. Sebenarnya kami memiliki pilihan untuk kembali ke basecamp dan pulang, ketimbang meneruskan pendakian dan basah kuyup dan segala kemungkinan lain yang terjadi.

Tapi kami membulatkan tekad meneruskan travelling ini. Bagi seorang traveler macam kami, pantang pulang sebelum menggapai tujuan. Kami berharap bahwa hujan ini tak akan bertahan lama, namun perkiraan kami salah. Hujan ini menemani pendakian kami dari awal sampai pos Sabana.

Sebenarnya, kami sudah mulai merasakan gemetar di tubuh sejak berhasil masuk ke pos Kandang Celeng. Tapi kami tetap terus melanjutkan perjalanan dan berupaya mencari dataran yang bisa kami gunakan untuk mendirikan tenda. Dan sialnya, selama perjalanan dari pos ke pos kami tak menemukan tempat ideal untuk camp sampai akhirnya kami paksakan diri sampai pos Sabana.

Tubuh kami kedinginan, bibir kami gemetar, dan tenaga kami juga tinggal sedikit. Sampai akhirnya kami memutuskan mendirikan camp di pos Sabana. Kondisi di sana tidak cukup baik. Dataran yang strategis untuk mendirikan tenda telah digunakan oleh pendaki lain. Saat itu ada dua tenda yang membersamai kami di sana, tapi tak terlihat seorangpun beraktifitas di tenda itu, sepertinya mereka sudah tak kuat menahan hujan dan dingin.

Dengan terpaksa, kami pun mendirikan tenda di lahan yang cukup miring. Saya bahkan sempat terjatuh ketika berjalan di lahan itu, tapi apalah daya kami tak punya pilihan. Kami dibagi menjadi dua tim kala itu, masing-masing tim sama sibuknya untuk mendirikan tenda. Setelah tenda selesai didirikan, kami merasa lega dan syukur yang teramat dalam.

Kami tak langsung beristirahat di dalam tenda. Kami sibuk mengganti pakaian basah dengan yang kering untuk mengundang kehangatan. Belum lagi membereskan tenda yang lumayan basah lantaran jas hujan serta tas yang kami pakai.

Meski pakaian ganti kami pun sedikit basah, tapi berada dalam tenda adalah anugerah terbesar bagi kami. Berada di luar dengan hujan yang terus mengguyur, kami merasa seperti hendak bunuh diri. Akhirnya, setelah menghangatkan tubuh dengan membuat kopi dan coklat serta makan roti sekadarnya, kami rebahkan tubuh dengan berselimut sleeping bad.

Tak terasa kamipun tertidur dan terbangun pagi hari saat matahari masih malu-malu. Suasana terasa segar, meski dingin masih menyelimuti. Kami keluar tenda dan saling menatap satu sama lain, seperti tak percaya masih diberikan keselamatan dan kesehatan sehingga bisa menikmati suasana pagi di atas Gunung Kembang dengan pemandangan indah yang disuguhkan.

Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak dan melewati pos terakhir yakni Tanjakan Mesra. Betul saja bahwa Tanjakan Mesra ini tak begitu mesra-mesra amat karena trek berbatu dan terasa begitu miring. Seutas tali tersandar di salah satu pohon sebagai alat bantu untuk para pendaki melewati tanjakan ini.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Sesampainya di puncak, kami berselfie juga berswafoto di papan bertuliskan Mt. Kembang 2320 Mdpl dengan kesenangan yang luar biasa. Travelling yang sempat membuat pesimis ini akhirnya berujung manis. Entah di depan atau belakang, kami disuguhkan penampakan Gunung Sindoro yang tinggi menjulang dan menyuguhkan pemandangan yang sangat eksotis.

Tips Sebelum Travelling

Setelah teman-teman membaca sedikit kisah curhat colongan (curcol) di atas. Mungkin sedikitnya teman-teman sudah menyadari hal-hal yang penting diperhatikan saat akan travelling. Biar lebih jelasnya, berikut saya akan berikan ulasan mengenai beberapa hal yang penting kamu perhatikan saat akan travelling.

1. Rencanakan dengan Baik

Agar travellingmu penuh dengan kesiapan, kamu perlu merencanakannya dengan baik. Ajaklah teman-temanmu nongkrong dan mulailah berdiskusi dengan mereka perihal rencana liburan kalian. Jika kalian hendak merencanakan mendaki gunung, drama dalam film 5 CM bisa kalian contoh. Tapi ya tidak harus menghilang selama sebulan tanpa kabar lalu ketemuan terus langsung cus muncak. Contoh saja cara mereka dalam menyiapkan rencana misalnya menetapkan tanggal juga saling mengingatkan untuk sering-sering jogging agar ketika pendakian fisik bisa lebih kuat.

Kata orang, saat merencanakan sesuatu maka kita sebenarnya sudah melakukan rencana itu sebesar 50%. Artinya jika sudah ada rencana, kita bisa lebih siap ketimbang tidak direncanakan dan terkesan terburu-buru atau dadakan.

2. Perhatikan Cuaca

Saat akan travelling, kamu harus melihat situasi dan kondisi. Jika kamu hendak bepergian ke wisata alam, seperti gunung, pantai, atau curug, maka jangan bepergian saat musim hujan. Kamu bisa saja menyesuaikan kondisi dengan tujuan travelingmu. Kalau hanya berniat main mengunjungi taman kota, museum, tempat bersejarah, kamu bisa bepergian kapanpun tergantung kamu mau.

Jangan sampai kamu kecewa, saat mengunjungi suatu tempat lalu hujan. Kamu hanya memperoleh cape dan rugi. Rugi secara materi, tenaga, juga waktu. Maka perhatiin cuaca terus ya.

3. Siapkan Uang Kecil

Ini tidak kalah penting. Ketika kamu travelling ke mana pun tujuannya harus membawa uang pecahan kecil. Ini untuk menghindari tidak ada kembalian di tempat wisata yang kamu kunjungi. Hal tersebut tentu bisa membuatmu rugi, pertama kamu bisa rugi waktu karena harus menunggu penjual menukarkan uang ke orang lain terlebih dahulu. Kedua kamu bisa rugi materi karena biasanya penjual akan memberi penawaran agar kamu menghabiskan sisa uang kembalian itu untuk membeli barang lainnya. So, selalu bawa uang kecil ya.

4. Bawa Peralatan Lengkap

Kamu jangan nekat dengan membawa perlengkapan seadanya saat travelling. Karena itu bisa merepotkanmu jika terjadi sesuatu hal yang tak terduga. Misal, saat mendaki gunung kamu tidak membawa senter atau tak membawa jas hujan, maka hal itu adalah kesalahan fatal karena kamu pasti akan kesusahan jika tiba-tiba hujan atau pendakianmu ternyata sampai malam.

Pastikan semua barang dichecking terlebih dahulu sebelum kamu berangkat bepergian. Jika ada yang tertinggal, segera lengkapi dan jangan memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan tanpa perlengkapan yang memadai.

Nah, itu tadi cerita dan tips sederhana travelling yang bisa saya bagikan. Semoga teman-teman bisa mengambil pelajaran dan lebih memperhatikan persiapan dalam rencana melakukan travelling. Semoga bermanfaat dan happy your journey.

 

Penulis: Aditia Ardian

Instagram: myarise19

Twitter: AditiaArdian5

Facebook: Aditia Ardian

Press Enter To Begin Your Search
×