Loading...

(photo source: pixabay.com)

Tahun 2019 merupakan masa-masa yang cukup berat, terlalu banyak masalah hidup yang harus dihadapi hingga saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Refreshing di suatu tempat memang satu-satunya hal yang saya butuhkan agar tidak menjadi gila. Karena sekedar jalan-jalan saja tidak cukup, maka saya mengatur jadwal untuk traveling sendirian, melakukan kerja sosial di suatu tempat selama dua minggu dan sisanya berkeliling.

India pun menjadi negara pilihan, sebab biaya hidup di negara tersebut sangat terjangkau bagi saya yang saldo tabungannya tak se-hijau saldo tetangga. Juga sudah sejak dulu saya memang ingin merasakan kehidupan masyarakat di sana. Durasi visa-nya berlaku selama satu bulan, tentu saja saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk tinggal berlama-lama.

Kena Bentak karena Lambat

(photo source: dokumentasi pribadi)

Destinasi pertama saya adalah Kota Jaipur. Kota yang dijuluki sebagai Pink City-nya Provinsi Rajashtan ini merupakan salah satu Golden Triangle selain kota Agra dan New Delhi. Jaipur memang sangat patut untuk dikunjungi karena memiliki banyak bangunan bersejarah serta istana-istana megah berukuran raksasa. Tentu saja Provinsi Rajashtan ini dulunya adalah tempat tinggal para raja.

Setibanya di sana, saya merasa jadi orang terpesek di negara tersebut, hidung mereka memang mancung alami tanpa bahan pengawet. Culture shock pun menyerang terlalu awal, dikejutkan dengan petugas imigrasi bandara yang dengan kencangnya melempar passport ke hadapan saya setelah melakukan stempel dan pemeriksaan. Seketika hati yang rapuh dan kesepian ini langsung menangis “kamu kok kasar banget sama aku?”.

Ternyata orang India memang memiliki kebiasaan yang terburu-buru. Ketika ditanya sesuatu, kita harus merespon dengan cepat, bahkan kita harus segera keluar dari antrian setelah pemeriksaan passport-nya selesai. Jika tidak, pasti akan kena bentak seperti yang saya alami pada saat itu. Buset, malunya...

Keramahan India

Hari kedua, saya langsung mengunjungi Aashray Care Home, sebuah panti asuhan di mana saya akan melakukan kegiatan relawan. Menurut informasi yang saya dapatkan dari internet sebelumnya, panti tersebut menampung anak-anak pengidap HIV yang tertular dari orang tua kandungnya.

Ada sekitar 80 anak yang orang tuanya meninggal karena Aids dan mereka tidak diterima lagi oleh masyarakat karena diskriminasi. Hal ini tentunya sangat menyayat hati, coba bayangkan bagaimana jika kita berada di posisi mereka? Maka dari itu saya memilih tempat istimewa tersebut untuk memberikan dukungan moral kepada mereka.

Ms.Sushila adalah wanita super-hebat yang mendirikan rumah khusus anak-anak pengidap HIV-Aids ini. Dengan memberikan perhatian serta perlindungan khusus, beliau berharap setiap anak kelak dapat mewujudkan impiannya masing-masing demi kelangsungan hidup yang lebih baik.

Kedatangan saya disambut dengan pemasangan bindi berupa cap merah di antara kedua alis serta suguhan masala tea dan gulab jamun. Bagi mereka bindi merupakan simbol cakra ketiga dan dapat melindungi diri kita dari nasib buruk. Orang India itu kasar? Tidak juga, coba rasakan langsung sisi kehangatan mereka dengan berkunjung ke negaranya.

Hari-Hari Menjadi Relawan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Kami kemudian berangkat ke lokasi panti khusus anak laki-laki yang letaknya berada di desa Nevta, berjarak sekitar 17km dari pusat kota. Dengan posisi sandwich kami berkendara bertiga di atas satu motor hingga sesampainya di lokasi, cara berjalan saya jadi seperti pithecanthropus erectus. Pegal banget, asli.

Lokasinya sangat terpencil. Tak ada aspal, jalan di sekitarnya hanya berupa pasir gurun yang ketika mengendarai sepeda motor dengan kecepatan di atas 20km/jam dijamin akan bikin kita berbaring cantik di atas tanah. Di sekitarnya banyak hewan bebas berkeliaran seperti sapi, rusa, unta, gajah, babi, burung merak, serta monyet yang wajahnya agak mirip mantan. Bagusnya, pemerintah India memberlakukan sanksi keras bagi siapa saja yang mengganggu keberlangsungan hidup satwa liar.

Selain jauh dari segala racun-madunya perkotaan, tempat ini juga memiliki gedung yang besar serta tanah yang luas untuk mereka bermain. Betapa hangatnya melihat anak-anak tersebut dengan penuh semangat dan keceriaan berlarian ke sana kemari, menari, dan melakukan yoga. Bahkan saya hampir tidak percaya bahwa mereka sedang mengidap HIV. Jadi pada dasarnya mereka tak begitu berbeda dengan anak normal lainnya baik secara fisik maupun tenaga, hanya sistem imunnya saja yang tidak stabil. Itulah sebabnya kita harus selalu mendukung mereka bukannya mendiskriminasi.

Selama di sana, saya mengerjakan beberapa hal seperti membantu anak-anak meminum obat ARV, mengerjakan tugas sekolah, melakukan fundraising, bermain bersama, dan mendampingi mereka ke berbagai acara perlombaan. Kami juga saling bertukar cerita soal kebudayaan dan bahasa masing-masing. Tak sulit untuk berkomunikasi dengan mereka, hampir semua anak di sana paham dengan Bahasa Inggris.

Saya pun tak mau melewatkan kesempatan membantu aktivitas di dapur setiap hari, lumayan bisa kursus gratis cara membuat chapati dan masala tea yang otentik. Sangatlah menyenangkan bisa mempelajari banyak hal tentang kebudayaan warga lokal selama tinggal bersama mereka.

Dua Minggu Berlalu


(photo source: dokumentasi pribadi)

Sore itu semua anak berkumpul di aula dengan wajah yang sedikit kecewa. Tentu saja saat itu adalah hari terakhir saya di Aashray Care Home, tak ada pilihan lain sebab saya harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Entah mengapa dua minggu terasa seperti dua tahun, sangat banyak hal yang kami lalui bersama hingga bisa sangat dekat layaknya saudara kandung.

Mereka satu-persatu datang dan memeluk erat, tidak ingat kapan terakhir kali saya menangis namun pada momen tersebut saya tidak kuat juga menahan ingus dan air mata. Sangatlah berat untuk berpisah dengan mereka. “Bhaiya, please come again...” kata seorang anak yang terlihat sangat membutuhkan dukungan emosional dan kasih sayang.

Harta Yang Tak Ternilai Harganya

(photo source: dokumentsi pribadi)

Meskipun harus membatalkan rencana mengunjungi India bagian utara karena memilih tinggal selama dua minggu di Aashray Care Home, namun bertemu dengan anak-anak tersebut merupakan perjalanan serta pengalaman terbaik yang pernah saya alami. Mereka telah membuka sudut pandang yang baru mengenai arti hidup yang sesungguhnya, membuat beban saya menjadi enteng dan lebih percaya diri dalam menghadapi segala problema hidup yang ada. Senyuman serta keceriaan di Aashray Care Home adalah suatu harta yang tak ternilai harganya.

Bagi saya traveling tak melulu soal mengunjungi tempat-tempat yang turistik atau sekadar melancong, namun juga merupakan salah satu bentuk meditasi, penenangan pikiran, serta suatu bentuk pengembangan diri. Tentunya suatu saat saya akan kembali lagi ke Aashray Care Home untuk bertemu mereka. Yah, jika masih diberi umur yang panjang...

 

Penulis: A. Arif Wangsa

Twitter: @argarif_w

Facebook: Arga Arifwangsa

Instagram: @argarif.w

Press Enter To Begin Your Search
×