Loading...

(photo source: Pixabay)

Sebagai seorang yang suka bepergian, tapi sayangnya nggak punya banyak kesempatan untuk itu, perjalanan aku ke pantai Bira adalah salah satu perjalanan wisata terindah dalam sejarah hidupku. Diawali dari kunjungan aku ke Bantaeng, sebuah kota kecil namun indah di Sulawesi Selatan, di mana saat itu bapak sebagai seorang PNS sedang bertugas.

Sudah 21 tahun berlalu lumayan banyak detil yang aku lupa. Tapi yang paling aku ingat adalah saat aku berkunjung ke sana bertepatan dengan pemilu tahun 1999, dan aku nggak bisa memilih karena administrasi untuk bisa memilih di sana nggak lengkap sedangkan KTP domisili Jakarta.

Sebelum bercerita tentang pantai Bira, ada beberapa hal menarik yang aku alami sejak kedatanganku di pelabuhan laut Makassar hingga ke Bantaeng. Dari Surabaya aku naik kapal laut. Sebenarnya bapak menawarkan naik pesawat, namun karena aku belum pernah naik kapal laut, aku memilih berangkat ke Makassar dengan kapal laut. Butuh waktu sehari semalam dari pelabuhan Tanjung perak ke pelabuhan Makassar.

(photo source: eljohnnews.com)

Setelah sampai di Makassar, kami melewati kota Gowa, Jeneponto dan Takalar. Di sepanjang perjalanan itu aku diajak keluarga mampir ke kedai penjual jagung pulut. Jagung pulut adalah jagung yang bulirnya berwarna putih dan rasanya lengket seperti ada ketannya. Dimakannya pun dengan sambal khas yang rasanya asam asin namun serasi dan enak dimakan dengan jagung pulut rebus. Aku juga melihat beberapa warung makan yang menjual coto kuda. Wah menarik banget menurut ku. Singkat cerita aku pun sampai di rumah dinas bapak di Bantaeng. Wah sebenarnya cerita tentang Bantaeng pun sangat menarik tapi aku batasi untuk fokus cerita tentang pantai Bira nya dulu ya.

Dari Bantaeng ke pantai Bira, memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan mobil pribadi. Saat itu jalan dari Bantaeng ke pantai Bira sudah mulus walau kecil, hanya bisa dilalui dua mobil. Namun pemandangan sepanjang jalan indah sekali.

Pantai di Bantaeng memiliki pasir berwarna hitam. Sepanjang perjalanan dari Bantaeng ke pantai Bira, warna pasir pantai berangsur berubah warna. Ya jalan menuju pantai Bira hampir selalu bertemu dengan garis pantai, sehingga perubahan gradual pasir pantai terlihat jelas.

Sebelum sampai di pantai Bira, kami melewati kota Bulukumba, kota tempat perahu phinisi dibuat. Kebetulan saat itu sopir kami yang orang Bantaeng asli mengetahui bahwa ada sebuah kapal pinisi yang sedang dibuat yang merupakan pesanan dari sebuah perusahaan di Jepang, sehingga kami punya kesempatan berharga bisa melihat perahu pinisi yang sedang dibuat langsung di tempat asalnya. Yang membuat aku lebih terpana lagi adalah perahu pinisi itu dibuat di pinggir pantai yang sangat indah, dengan pasirnya yang putih.

Pantai yang landai, serta air biru kehijauan yang tenang, seperti kolam renang. Hanya saja ini kolam renang alami super indah mahakarya sang pencipta. Pemandangan pantai dekat perahu pinisi itu seperti gambar pantai di kalender-kalender.

(photo source: bratapos.com)

Aku dan keluargaku hanya berhenti untuk mengagumi pantai dan kapal pinisi selama setengah jam saja. Setelah itu kami meneruskan perjalanan menuju pantai Bira.

Sesampainya kami di pantai Bira, kami dibuat kagum oleh keindahannya. Pantai putih bersih berkilau...dibingkai oleh tebing yang memberi teduhan di beberapa titik di pantai sehingga kami bisa bermain pasir tanpa kena terpaan sinar matahari yang terik...laut yang hampir tidak berombak...dan air kebiruan yang sangat jernih. Pantai yang landai juga memberi kenyamanan kami untuk bermain di sana. Ditambah lagi penginapan tempat kami menyewa sebuah kamar...yang nuansanya penuh dengan kayu sangat alami.

Sayang...kami tidak bisa menginap saat itu. Jadi kami hanya berenang hingga senja lalu kembali ke Bantaeng.

Entah seperti apa pulau Bira sekarang. 21 tahun bukan waktu yang singkat. Tapi aku harap keindahannya tidak rusak karena ulah turis maupun pengelola pantai dan semoga suatu saat aku bisa kembali ke pantai Bira bersama suami dan anak-anak.

 

Penulis: Novi Kartika Hidayati

Facebook: Novi Kartika Hidayati

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×