Loading...

Masa orientasi mahasiswa baru saya beberapa bulan lalu di Mesir banyak dipenuhi pesan-pesan dari para senior di perhipunan pelajar Indonesia agar kami pandai menjaga diri, diwanti-wanti untuk tidak pergi-pergi sendiri, dan terus-menerus diingatkan bahwa Mesir termasuk negara yang tidak ramah perempuan. Salah satu penyebabnya adalah angka pelecehan seksual yang tinggi, baik secara verbal maupun nonverbal. Saya sendiri pernah sekali-duakali bertemu om-om penjaga toko ataupun resto yang menggoda teman sesama mahasiswi dan berkata ingin menikah dengan orang Indonesia.  Selain itu banyak juga kasus-kasus pencurian dan penjambretan yang ditujukan kepada pelajar asing. Hampir setiap hari ada berita kehilangan dan kecopetan beredar di grup-grup mahasiswa. Saya sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya ditipu oleh supir taksi dan angkot. Rasanya sungguh dongkol, ingin marah-marah namun saya belum fasih berbahasa mereka dan belum bisa marah-marah dengan nada tinggi seperti kebanyakan warga Mesir ketika berantem, akhirnya saya cuma bisa menahan nangis sambil menghibur diri bahwa kerugian yang saya alami adalah bayaran untuk membeli sebuah pengalaman.

Saya masih ingat pesan senior ketika masa orientasi: “lebih baik berburuk sangka kepada orang-orang Mesir daripada berbaik sangka lalu berujung hal-hal buruk”. Intinya adalah untuk selalu waspada dan tidak mudah luluh pada tampang baik orang Mesir. Konon di Mesir ada dua jenis manusia: keturunan Nabi Musa yang amat baik hati dan keturunan Firaun yang dzolim. Meskipun saya juga pernah menemui banyak orang baik di Mesir, tapi sejak insiden ditipu supir taksi saya jadi tidak mau lagi berbaik sangka dan menaruh harapan baik terhadap sembarang orang Mesir. Lebih baik saya merasa bersalah karena menganggap orang tersebut jahat daripada harus menahan dongkol karena orang yang saya pikir baik tapi ternyata malah menipu.

Terlalu menaruh perasaan hati-hati terhadap orang-orang Mesir seringkali membuat saya memilih untuk tidak berinteraksi dengan mereka. Sesuatu yang saya pikir itu benar. Sia-sia dong saya merantau jauh-jauh kalau tidak mau berinteraksi dan mengenal penduduk setempat? Namun itulah yang terjadi pada saya selama berbulan-bulan menjadi maba. Hingga sebuah perjalanan pertama saya ke Alexandria membawa saya bertemu banyak orang baik.

Perjalanan ke Alexandria adalah perjalanan pertama saya keluar Kairo. Saya dan kelima teman saya yang sama-sama mahasiswa baru memberanikan diri bertamasya ke Alexandria mengandalkan informasi dari internet, pengalaman senior, dan ingatan yang bercampur kesoktahuan salah satu teman saya yang pernah mengunjungi Alexandria sekali.

Saya terbangun ketika kereta yang saya tumpangi melewati pepohonan hijau dan ladang persawahan yang sedang tumbuh, pemandangan yang tidak terlalu jelas karena kaca jendela yang buram oleh debu dan tempat duduk saya yang satu kursi dari jendela. Saya tidur sejak awal perjalanan karena semalam tidur dini hari dan selepas subuh langsung bersiap pergi. Keempat teman saya mendapatkan nomor kursi berurutan asyik melahap camilan sambil berbincang, kursi mereka dibuat berhadap-hadapan dan saya mendapat kursi di sebrang mereka dengan bapak-bapak Mesir di samping saya.

Kalau dipikir-pikir, saya tahu bapak-bapak tersebut pastilah bukan orang jahat. Saya pikir orang akan susah berbuat kejahatan di dalam gerbong first class. Tapi tetap saja, ada keengganan tersendiri pada saya untuk memulai percakapan. Lagipula mungkin bapak itu tidak mau diganggu. Akhirnya saya memilih mendengarkan siniar sampa ketiduran, menghilangkan minat berbincang dengan orang asing.

Laju kereta yang saya tumpangi melambat, orang-orang mulai bergerak menyiapkan diri untuk turun. Teman saya yang pernah ke Alexandria itu sedikit kebingungan, ia lupa apakah ini adalah pemberhentian yang benar untuk kami. Ia mencoba bertanya kepada orang yang lewat dan voila, bapak Mesir di sebelah sayalah yang menjawab. Ia bertanya tujuan kami dan menjelaskan kepada saya (karena saya yang paling dekat duduknya dengan beliau) dengan bahasa amiyah (bahasa orang Mesir) yang saya tanggapi dengan kerutan di dahi. Saya memintanya menjelaskan dengan bahasa Inggris, dan di luar dugaan beliau menjelaskan dengan baik. Dari situlah pintu obrolan kami terbuka.

Kereta Alexandria pertama tempat saya bertemu Bapak Mesir yang baik hati.

Saya akhirnya memberanikan diri untuk memulai percakapan random, bercerita bahwa saya bosan dengan Kairo dan segala keramaian, macet, serta debu jalanannya. Saya juga berkata bahwa saya senang bisa melihat pepohonan hijau sepanjang jalan, saya tidak pernah bertemu yang seperti itu di Kairo. Bapak Mesir menanggapi cerita saya seolah saya adalah seorang teman. Beliau balik bercerita, katanya Kairo memang begitu. Terlalu bising. Orang-orang Alexandria tidak ada yang mau tinggal di Kairo, bikin sakit kepala katanya. Beliau bilang pilihanku pergi ke Alexandria adalah pilihan yang tepat “kamu akan dengan mudah jatuh cinta, kota kami, Alexandria, adalah kota yang cantik”. Kami berbincang cukup lama sampai kereta behenti dan para penumpang satu persatu meninggalkan gerbong. Sebelum turun beliau berpesan kepada saya agar tidak sungkan bertanya pada warga sekitar jika kebingungan “Orang Alexandria tidak seperti orang-orang di Kairo yang selalu terlihat sibuk dan punya dunia sendiri, kamu akan mendapati orang-orang Alexandria jauh lebih ramah,”.

Saya dan bapak Mesir berpisah di stasiun pertama, beliau akan turun di pemberhentian berikutnya. Saya keluar gerbong kereta dengan perasaan riang sambil sebal kepada diri sendiri karena tidak memulai perbincangan sepanjang perjalanan. Yang tadi itu adalah percakapan paling menyenangkan pertama saya dengan orang Mesir. Teman-teman sayapun meledeki saya yang sepanjang perjalanan cuma diam tapi waktu harus turun malah menjadi suara mengobrol paling keras di dalam gerbong.

Seperti arahan Bapak Mesir, untuk mencapai tujuan kami, kami masih perlu naik kereta lokal atau bisa juga angkutan umum. Kereta lokal antardistrik Alexandria adalah kereta tua dengan gerbong yang saking padatnya di mata saya hampir terlihat seperti penjara. Tapi bisa dimaklumi karena harga sekali jalan hanya 1 pound mesir (kalau dirupiahkan sekitar sembilan ratus sekian).

Bapak Mesir adalah satu dari beberapa orang baik yang saya temui di Alexandria. Setelah bapak Mesir saya bertemu kakek-kakek yang menawarkan diri menjadi guide kami ketika kami kebingungan di kereta lokal: lagi-lagi dengan topik harus turun dimana. Awalnya saya juga sempat menaruh rasa curiga terhadap si Kakek karena beliau sempat membercandai kami, namun pada akhirnya beliau benar-benar memastikan kami sampai di stasiun yang benar. Pada hari kedua perjalanan saya di Alexandria, saya juga bertemu satu keluarga yang sama-sama sedang berlibur mengajak kami berkenalan, menawarkan sarapan, bahkan mengajak keliling Alexandria bersama.

Perjalanan bertemu orang-orang baik di Alexandria adalah perjalanan pertama dimana saya merasa benar-benar travelling dan membuat saya bersumpah pada diri sendiri untuk melakukan lebih banyak perjalanan, bertemu dan berbagi lebih banyak kisah dengan lebih banyak orang asing, lebih berani memulai percakapan dengan banyak orang, dan tetap berhati-hati namun tidak antipati.

Alexandria yang cantik seperti perkataan Bapak Mesir.

 

Nama Penulis: Aisyah

Instagram: www.instagram.com/isyiiii

Press Enter To Begin Your Search
×