Loading...

Foto: Unsplash

Cerita ini dimulai dengan keinginan saya dan tiga orang sahabat saya yang merupakan kawan satu kontrakan saat kuliah yang ingin mengadakan reuni. Setelah terpisah antar pulau lebih dari dua tahun lamanya, kami berpikiran untuk berkumpul di suatu tempat untuk sekedar melepas rindu dan penat akan aktivitas masing-masing. Saya yang antusias saat itu mengajukan syarat untuk mengadakan liburan yang menyenangkan tanpa disibukan kegiatan berfoto atau yang lebih familiar dengan "mengabadikan momen". Gayung pun bersambut setelah sahabat saya menyetujui syarat tersebut. Reuni pun akhirnya terwujud pada April 2018 di Yogyakarta.

Reuni ini diawali dengan berwisata kuliner saat waktu kedatangan. Pilihan pertama kami adalah menikmati es krim yang dingin dikala siang yang panas itu. Hari kamis pun dibuka dengan sejuknya es krim rasa teh hijau dan tawa mengingat masa lalu. Selepas itu, karaoke adalah pilihan kami untuk melepas sisa-sisa kekonyolan masa muda. Bernyanyi, berjoget dan mengekspresikan diri bersama orang terdekat memang sangat menyenangkan. Tak kira dua jam kami habiskan untuk bernyanyi ngalor ngidul walau hanya berempat saja. Tak sampai disitu, menjelang tengah malam jumat, kami pun berburu kuliner kota Yogyakarta. Tak lain tak tak bukan adalah gudeg khas Yogyakarta yang hanya buka di malam hari dan dihidangkan langsung dari dapurnya. Walau harus menunggu hampir dua jam berdiri, gudeg yang manis dan pedas memang membuat suasana malam tersebut menyenangkan namun tetap hangat, apalagi ditambah insiden sakit perut salah satu sahabat saya yang membuat semua tertawa.

Gudeg Khas Yogyakarta (foto: food.detik.com)

Hari kedua dilanjutkan dengan agenda touring menaiki mobil berkeliling di kawasan Gunung Merapi. Setelah menyantap makan siang, kami pun melaju ke daerah Kaliurang untuk bertemu dengan  pemilik kendaraan. Menjelang sore tersebut, perjalanan dimulai dengan hal yang terbalik, kegiatan susur sungai yang harusnya di akhir kini dimajukan karena takut larut malam ketika kami kembali dari atas gunung. Kegiatan ini benar-benar baru untuk kami. Bermain air dengan menyusur sungai menggunakan mobil offroad membuat adrenalin memuncak. Teriak bahagia dan menertawai sahabat yang terkena cipratan air memang tiada dua. Kegiatan pun ditutup dengan melanjutkan untuk melihat bekas bunker di gunung merapi dan museum rumah warga yang terkena dampak letusan merapi.

Tour Merapi (foto: jogjahits.com)

Ketidakpuasan kami bermain air pun dilanjutkan di hari ketiga. Kali ini kami bermain air di wahana water park. Kami memang sengaja datang sepagi mungkin agar puas saat bermain wahana-wahana yang ada di water park ini. Ada kurang lebih Enam wahana yang kami mainkan dari total delapan wahana yang ada. Dari balap seluncur, sampai bermain wahana ombak yang menegangkan dan membuat kesakitan. Lebih dari tiga jam kami bermain wahana di waterpark ini. Bukanya lelah, justru menaiki anak tangga sambil tertawa karena kekonyolan membuat semua tampak sempurna.

Hari ketiga ini merupakan hari terakhir sebelum keesokan pagi kami berpisah. Walau menguras tenaga, liburan tanpa datang ke tempat berfoto memang lebih menyenangkan. Momen yang ada selalu kami nikmati tanpa sibuk memegang smartphone. Malam terakhir pun kami habiskan dengan bermain Ludo di sebuah restoran cepat saji sambil bersantap malam. Tak hanya itu malam pun berlanjut dengan bermain kartu di penginapan sampai larut malam. Walau terkesan sederhana, momen-momen berkesan itu lah yang banyak membuat saya bahagia tentunya takkan hilang kemanapun saya melangkah.

 

Penulis: Diaz Ficry Arfianto

Twitter: @diaz_ficry

Press Enter To Begin Your Search
×