Loading...

 

Pantai Bandulu, Anyer, Banten (photo source: dokumentasi pribadi)

Halo RedTraveler. Thanks, God. Sekarang saya tinggal di Banten. Sebuah provinsi yang mendapat julukan sebagai The Sunset of Java. Kenapa? Karena provinsi ini berada di ujung paling barat Pulau Jawa. Seperti kita ketahui bahwa bagian barat ini adalah arah dimana matahari terbenam. Makanya, warna-warni sunset di daerah pesisir Banten ini sangat indah dan warnanya akan berbeda setiap harinya. 

Melihat sunset di pantai-pantai di Kabupaten Serang, Lebak, dan Pandeglang akan cukup jelas dengan siluet Gunung Anak Krakatau. Daerah ini akan selalu ramai hampir di setiap weekend atau liburan oleh para wisatawan dari daerah Banten dan dari kota-kota terdekatnya. Nggak ketinggalan, saya juga selalu traveling ke pantai untuk menyaksikan sunset-nya setelah seharian main di pantai. Pantai-pantai di daerah pesisir ini cukup eksotis dan masih alami.

Tapi, Banten nggak hanya mempunyai wisata alam berupa pantainya saja, ada sederet wisata sejarah dan budaya yang patut di banggakan oleh orang Banten. Bukan hanya dibanggalan saja, tapi juga harus dikunjungi dan sekaligus harus dipelajari. Dengan begitu, kita jadi lebih mengenal sejarah dan budaya daerah sendiri. Dan, itu lebih penting. 

Alhamdulillah, saya mempunyai kesempatan untuk traveling ke tempat-tempat wisata sejarah dan budaya tersebut. Ada yang baru pertama kali saya datangi, dan ada juga yang sudah beberapa kali saya datangi. Saya jadi merasa seperti perwakilan dari daerah saya sendiri yang harus tahu tentang sejarah dan budaya, serta membagikannya kepada orang lain. 

Makanya saya merasa beruntung bisa tinggal di Banten dan traveling ke tempat-tempat wisata tersebut. Mengenal daerah sendiri itu lebih penting sebelum saya traveling ke daerah atau negara lain yang lebih jauh lagi. Ini nih pengalaman seru dan memorable saat saya traveling ke tempat-tempat wisata sejarah dan budaya serta ke pantai yang ada di Banten:

1. Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan

Masjid Agung Banten (photo source: dokumentasi pribadi)

Traveling ke Kawasan Wisata Banten Lama bisa dibilang paket wisata komplet. Kenapa? Karena kawasan ini merupakan kawasan Kesultanan Banten yang sarat akan sejarah dan budaya. Kesultanan ini mulai didirikan pada tahun 1526. Ada beberapa tempat wisata peninggalan kesultanan yang saya kunjungi di kawasan ini, dimulai dari Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan. 

Masjid Agung Banten telah dibangun oleh pendiri Kesultanan Banten yaitu Sultan Maulana Hasanuddin antara tahun 1552-1570. Di sini saya berziarah ke makam sultandan keluarganya. Selain itu, saya juga bisa mengetahui tentang makna filosofis dari bangunan masjidnya. Setiap detail bangunannya mempunyai arti dan pelajaran hidup yang sangat penting saya ketahui.

Sekarang area masjid ini telah dipercantik dengan taman-taman dan payung-payung hidrolik seperti di Masjid Nabawi Mekah. Jadi, berwisata sejarah di sini tidak membuat saya cepat bosan. Karena, saya juga bisa lebih menikmati keindahan lingkungannya. 

Keraton Surosowan (photo source: dokumentasi pribadi)

Sedangkan, Keraton Surosowan dibangun sekitar tahun 1522-1526 di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Keraton ini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banten dan juga berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan keluarga. Walaupun sekarang bangunan keraton ini sudah tidak lengkap lagi, hanya tersisa beberapa dinding dan pondasinya saja, tapi kemegahan dan kekokohan keratonya masih bisa terlihat.

2. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Miniatur Kotak Gali di Museum (photo source: dokumentasi pribadi)

 

Masih berada di kawasan kesultanan, saya kemudian mengunjungi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Museum ini berisi tentang awal mula berdirinya sejarah Kesultanan Banten dan sejarah Banten Lama masa awal.

Di museum ini juga banyak penjelasan tentang  sejarah pemugaran Benteng Speelwijk, pemugaran Keraton Kaibon, pemugaran Keraton Surosowan, sejarah debus, sejarah gerabah yang ada di Banten, rekontruksi arsitektur kapal VOC yang pernah mengarungi Selat Sunda, dan yang lainnya.

Untuk mengunjungi Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, RedTraveler bisa menggunakan angkot dengan jurusan Desa Kasemen atau dengan transportasi online. Jaraknya hanya sekitar 14 km dari Terminal Pakupatan - Serang, dengan waktu tempuh sekitar 35 menit. Masuk ke semua tempat wisata ini gratis, tidak dikenakan biaya masuk. 

3. Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara

Benteng Speelwijk (photo source: instagram @rizaldyyuda90)

Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara masih berada di Kawasan Wisata Banten Lama. Jaraknya sekitar 1 km dari kompleks Keraton Surosowan ke arah timur. Benteng ini berada di salah satu sudut Desa Pamarican, Kabupaten Serang. 

Menurut sejarah, Benteng ini dibuat oleh Belanda sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh, yaitu bangsa Inggris dan Portugis. Benteng Speelwijk ini dibangun antara tahun antara 1681-1685. Benteng ini dulu lebih difungsikan sebagai markas latihan serdadu Belanda di Banten.

Vihara Avalokitesvara Banten (photo source: instagram @agungwiral)

Di depan gerbang masuk benteng di sebelah barat, ada Vihara Avalokitesvara yang merupakan vihara tertua di Provinsi Banten. Konon vihara ini sudah dibangun sejak abad 16, tepatnya pada tahun 1652, saat kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Begitu mendekati vihara ini, mata saya tertuju kepada warna bangunan yang mencolok dan arsitektur yang indah. Gerbangnya berhiaskan dua naga yang sedang memperebutkan mustika sang penerang (matahari). Vihara ini disebut juga kelentang Tri Darma, karena melayani tiga kepercayaan umat sekaligus, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. 

Luar biasanya, vihara ini memiliki ukiran yang menceritakan kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Ukiran ini juga menceritakan bagaimana vihara ini digunakan sebagai tempat berlindung saat terjadi tsunami beserta letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

4. Mercusuar Cikoneng dan Pantai Bojong Anyer

Mercusuar Cikoneng (photo source: dokumentasi pribadi)

Lokasinya berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer. Memang bangunan mercusuar yang sekarang ini adalah bangunan baru yang dibangun pada tahun 1885. Sedangkan, bangunan awal mercusuarnya yang merupakan bangunan tertua di Indonesia hancur oleh gelombang Tsunami pada tahun 1883.

Mercusuar pertama dibangun pada tahun 1806. Sayangnya, sekarang hanya tersisa bongkahan-bongkahan kecil bangunannya yang telah dijadikan sebuah monumen. Monumen ini bertujuan untuk mengenang dasyatnya letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menyebabkan gelombang Tsunami. 

Pantai Bojong Anyer (photo source: dokumentasi pribadi)

Untuk melihat mercusuar dan sejarah di dalamnya, saya biasanya masuk melalui Pantai Bojong Anyer. Pantai ini berkarang, tidak bisa dijadikan tempat berenang. Makanya, pantai ini lebih cocok untuk dijadikan relaksasi sambil menikmati keindahan pantainya.

Tempat favorit saya di pantai ini adalah di area dermaga. Di area ini saya bisa melihat sunset lebih jelas dan indah, karena letaknya yang menjorok ke lautan. Saya juga bisa melihat lebih jelas luasnya lautan, garis pantai Kecamatan Anyer, dan juga megahnya bangunan mercusuar. 

Untuk menuju Mercusuar Cikoneng dan Pantai Bojong Anyer, saya biasanya menggunakan motor dengan tiket masuknya Rp. 10 ribu. Untuk tranportasi umum, hanya tersedia angkot dari pintu keluar Tol Cilegon Timur dan bisa langsung turun tepat di depan gerbang masuk pantainya.

5. Pantai Pasir Putih Bandulu

Pantai Bandulu (photo source: dokumentasi pribadi)

Sama seperti di Pantai Bojong, di Pantai Pasir Putih Bandulu juga bisa dijadikan tempat untuk melihat sunset. Lebih jelas dan eksotis dengan siluet Gunung Anak Krakatau. Asyiknya di pantai ini tersedia watersports dengan lengkap. Ada banana boat, donat boat, jet sky, parasailing, dan perahu wisata. Ada juga penyewaan motor ATV yang menjadi favorit para remaja dan anak-anak. 

Pantai ini juga dijadikan tempat para atlet olahraga untuk berlatih. Jadi sambil bermain ombak saya juga bisa sambil melihat para atlet wind surfing dan para surfers berlatih. Makanya di pantai ini sering diadakan lomba surfing setiap tahunnya. Ombak di pantai ini cukup bagus dan aman untuk dijadikan tempat berolahraga air.

Di pantai ini tersedia penyewaan peralatan snorkeling dan surfing. Saya juga beberapa kali pernah berlajar surfing. Ombak di Pantai Pasir Putih Bandulu sangat cocok untuk para surfer pemula yang ingin menjajal papan surfingnya. Karena karaktersitik pantainya landai, berombak sedang, dan berpasir. Untuk menuju Pantai Pasir Putih Bandulu, rutenya sama seperti akan menuju Mercusuar Cikoneng dan Pantai Bojong Anyer. Jaraknya sekitar 5 km lagi dari kedua tempat ini. 

6. Tenun dan Batik Baduy

Tenun dan Batik Baduy (photo source: dokumentasi pribadi)

Siapa yang belum pernah mendengar Suku Baduy? Sepertinya suku asli yang ada di Provinsi Banten ini telah dikenal ke seluruh nusantara bahkan mancanegara. Banyak wisatawan yang berwisata sekaligus menginap di perkampungan Suku Baduy agar lebih mengenal cara mereka menjalani kehidupannya sehari-hari. Saya saja sudah mengunjungi perkampungan Suku Baduy ini sebanyak dua kali. 

Suku Baduy dikenal sangat menjaga alam. Mereka tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat kimia. Bahan-bahan ini ditakutkan dapat merusak alam tempat mereka menggantungkan hidup. Karena, semua bahan makanan dan pakaian yang digunakan oleh mereka berasal dari alam. Nah, selain mengenal kehidupannya yang sangat menjaga alam. Suku Baduy juga mempunyai Tenun dan Batik yang menjadi ciri khas dan identitas mereka. 

Warna Batik Suku Baduy adalah hitam dan biru terang. Warna tersebut memiliki makna kecintaan mereka kepada alam. Motif batiknya, yaitu Tapak Kebo, Motif Merak, Motif Keong, Motif Belimbing, dan masih banyak lagi. Motif pada kain batik ini memcerminkan tentang alam dan kehidupan mereka yang sebagian besar adalah bercocok tanam.

Sedangkan kain Tenun Suku Baduy memiliki kekhasan dari bahannya yang agak kasar dan warnanya yang cenderung dominan. Motifnya berupa garis warna-warni. Luar biasanya adalah alat untuk memintal dari kapas menjadi benang merupakan alat yang mereka ciptakan sendiri sejak ratusan tahun lalu. Alat ini disebut gedogan atau raraga. Kain Tenun ini biasanya dibuat oleh perempuan Suku Baduy. Hal ini merupakan wujud dari ketaatan mereka terhadap aturan adat yang mereka junjung tinggi. 

Sekarang, jalan untuk menuju perkampungan Suku Baduy ini sudah cukup bagus. Para wisatawan dari luar Banten bisa menggunakan KRL menuju Stasiun Rangkasbitung dan dilanjutkan dengan naik mobil sejenis elf menuju Terminal Leuwidamar. Tapi, menurut saya, lebih direkomendasikan lagi untuk menggunakan jasa agen perjalanan agar lebih teratur dan aman. 

7. Beach Club Tanjung Lesung dan Sanggar Batik Cikadu 

Beach Club Tanjung Lesung (photo source: instagram @rahayuamar)

Bahkan seorang travel writer Trinity pun memuji keindahan Beach Club Tanjung Lesung di bukunya. Pujian itu bukan tanpa alasan, karena memang pantai ini sangat bersih dan indah. Lokasi pantai ini berada di sebuah tanjung dan juga berada di balik perbukitan. Makanya suasana alamnya sangat tenang dan kebersihannya terjaga. 

Ombaknya berarus tenang dan air lautnya jernih kebiru-biruan. Banyak watersports yang bisa dilakukan di sini. Tapi, kalau saya biasanya melakukan snorkeling untuk melihat terumbu karang dan ikan-ikannya. 

Tanjung Lesung ini telah dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh Presiden Jokowi pada tahun 2015. Di kawasan ini bukan hanya mengembangkan wisata alamnya saja, tapi juga wisata budaya. Salah satunya adalah Sanggar Batik Cikadu Tanjung Lesung.  

Batik Khas Banten (photo source: instagram @batik_cikadu)

Di sanggar ini, batik mulai diproduksi, dikembangkan, dan dipopulerkan sejak 2015 lalu. Para wisatawan yang datang biasanya ingin melihat langsung proses pembatikannya. Ada lebih dari 60 motif batik tulis dan dua motif yang kemudian paling diminati dan menjadi ciri khas Kabupaten Pandeglang adalah  motif badak bercula satu dan gondang lesung.

Nah, RedTraveler, itulah tempat-tempat wisata sejarah dan budaya, serta sebagian pantai yang ada di Provinsi Banten. Dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut saya jadi lebih mengenal daerah sendiri terutama tentang sejarah dan budayanya. 

Penulis: Yudi Rahmatullah

Instagram: @yoedirahmatullah

Twitter: @yudRayi

Facebook:  Yudi Rahmatullah

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×