Loading...

(photo source: pixabay.com)

Ciao, ragazzi! Kali ini saya akan mengajak kalian berwisata ke negeri jiran, Malaysia. Malaysia merupakan negara tetangga yang banyak dikunjungi turis Indonesia, karena jaraknya yang dekat dan harganya terjangkau. Biasanya turis-turis Indonesia “mentok” di kota-kota mainstream, seperti Kuala Lumpur, Malaka, Penang, dan Johor Baru.

Padahal Malaysia punya kota lain yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi, seperti Kota Miri. Miri terletak di Serawak, Malaysia Timur, tepatnya di Pulau Kalimantan. Miri merupakan wilayah tapal batas Malaysia yang berbatasan langsung dengan negara Brunei Darussalam.

Miri merupakan kota pertama di luar ibu kota Malaysia yang menyandang status sebagai kota besar. Sama seperti Balikpapan dan Pekanbaru di Indonesia, Miri dikenal sebagai kota penghasil minyak dan merupakan lokasi pengeboran minyak pertama di Malaysia. Meski dikenal sebagai kota industri, ternyata Miri memiliki yang pesona luar biasa, loh. Penasaran? Yuk, ikuti cerita saya berwisata ke Miri!

Taman Nasional Niah, Miri (photo source: Malaysia Tourism Board)

Ke Miri Harus Naik Apa?

Saya berkunjung ke Miri pada tahun 2017, saat itu saya pergi ke sana untuk mengikuti kompetisi di salah satu universitas yang ada di sana. Supaya sekali dayung dua sampe tiga pulau terlampaui, saya juga memanfaatkan kesempatan ini untuk traveling.

Untuk mencapai Miri, saya tidak jalan kaki melintasi hutan, tetapi, tentu saja naik pesawat dari Jakarta selama 1 setengah jam, kemudian transit di Kuala Lumpur, karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke sana, baru kemudian dilanjutkan dengan penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Miri selama 2 jam.

Awalnya, saya mengira bahwa Miri hanya kota industri yang sepi, berpolusi, panas, dan membosankan. Tetapi, setelah beberapa hari tinggal di Miri, akhirnya saya menemukan berbagai tempat wisata dan kegiatan menarik untuk bertamasya.

Wisata Sejarah di Miri

Karena saya sangat menyukai sejarah, saya pasti akan “bertapa” di dalam museum selama traveling, termasuk di Miri. Saya berkunjung ke Bukit Telaga Minyak atau sering dikenal sebagai Canada Hill oleh turis asing, tempat di mana Museum Perminyakan berada.

Di sini, diorama yang menceritakan sejarah perminyakan di Malaysia, khususnya di Miri diceritakan secara lengkap. Hebat sekali, gumam saya, ketika melihat bagaimana industri perminyakan bisa menyulap Miri yang dulunya hanya desa nelayan kecil menjadi salah satu kota penting di Malaysia.

Di museum ini, ada juga replika alat-alat yang dipakai untuk pengeboran minyak, dan sampel produk minyak bumi, yang tentu saja tidak boleh dicicipi, hanya boleh dilihat.

Area luar museum berbentuk bukit berwarna hijau yang cukup tinggi. Dari atas bukit, saya bisa memandang 360° panorama kota dan hamparan Laut Tiongkok Selatan. Panorama yang cantik ditambah bukit yang asri, sangat cocok digunakan untuk foto-foto ceria.

Di atas bukit ini juga ada replika The Grand Old Lady yang merupakan replika sumur minyak pertama di Malaysia. The Grand Old Lady yang asli dibangun pada tahun 1910. Meski hanya replika, sumur minyak ini tinggi sekali, lho! Tingginya mencapai 30 meter!

Kabar baik bagi pelancong irit seperti saya, museum ini tidak memungut biaya sama sekali, alias gratis. Jadi, kalian bisa foto-foto cantik sambil menambah pengetahuan di sini.

Menengok Pahatan Batu Menakjubkan di Taman Nasional Niah

Untuk memuaskan rasa penasaran saya terhadap sejarah Miri, saya melanjutkan perjalanan saya ke Taman Nasional Niah. Kalau kalian pernah menonton film Avatar, kalian pasti pernah melihat susunan batu-batu planet Pandora yang menakjubkan, kurang lebih seperti itulah Taman Nasional Niah.

Tiket masuk Taman Nasional Niah cukup murah, yaitu hanya 10 ringgit. Taman Nasional ini, terusun dari formasi batuan dan gua sepanjang 100 kilometer. Saking bagusnya, saya akhirnya masuk untuk menyusuri bagian dalam gua. Semakin masuk ke dalam gua, hawa di dalamnya terasa semakin pengap, yang sukses membuat nafas saya ngap-ngapan.

Kelelahan saya akhirnya terbayarkan. Selain terdapat stalagtit dan stalagmit yang artistik, saya menemukan berbagai lukisan-lukisan gua luar biasa yang dilukis oleh pada seniman handal dari zaman batu.

Di dalam gua tersebut, saya juga menemukan beberapa kotak, yang ternyata adalah peti mati tua, berisi tulang-belulang manusia. Peti-peti mati ini ternyata telah berusia 40.000 tahun, sehingga dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi tertua di Asia.

Di Taman Nasional Niah, juga terdapat suku asli Miri, bernama suku Penai, yang bekerja sebagai peramu sarang burung. Mereka mengumpulkan sarang burung dengan cara tradisional, yaitu dengan memanjat tebing menggunakan tali-temali. Mereka mengumpulkan sarang burung dengan cekatan, seperti tupai.

Tidak hanya itu, kalian dapat naik perahu motor menyusuri sungai di Taman Nasional Niah dengan hanya membayar 1 ringgit saja.

Mencicipi Kuliner Khas Miri dan Melepas Dahaga di Kedai Es Krim Homemade

Setelah lama menjelajah gua, akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat dan mengisi perut yang keroncongan di salah satu rumah makan yang menyediakan makanan khas Miri. Di sini, saya mencoba ikan pari panggang, nasi Bario, dan sayur daun labu khas suku Kelabit, salah satu suku asli Miri. Rasanya sungguh lezat dan unik sekali!

Setelah itu, saya di salah satu kedai es krim homemade legendaris di Miri. Kedai es krim ini ramai dikunjungi masyarakat lokal dan turis pada hari libur. Di sini saya memesan es krim andalan mereka, yang terdiri dari 4 scoop es krim berbagai rasa, yang terdiri dari es krim vanilla, cokelat, pandan, dan kelapa. Rasa manisnya pas dan sangat menyegarkan.

Bersantai Memandang Sunset di Pantai Tanjong Lobang

Menuju Senja di Pantai Tanjong Lobang (photo source: dokumentasi pribadi)

Sebelum pulang untuk beristirahat, saya singgah dahulu ke Pantai Tanjong Lobang, atau lebih dikenal sebagai Brighton Beach oleh turis mancanegara. Pantai ini dinamakan Tanjong Lobang karena pantai ini memiliki tebing yang membentuk gua kecil di bagian bawahnya. Pantai Tanjong Lobang merupakan taman rekreasi dan pantai umum tertua di Miri yang merupakan tempat terbaik untuk melihat sunset di Serawak, Malaysia Timur.

Saya menghabiskan sore dengan bermain pasir di pantai ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, saya segera menuju ke dermaga yang terletak di Laut Tiongkok Selatan. Sialnya, ternyata jalan ke dermaga berbatu dan beberapa kayu di dermaganya terlihat berlubang. Meski penuh perjuangan, akhirnya saya bisa menyaksikan indahnya guratan langit berwarna jingga, kuning, pink, dan ungu di langit yang cerah. Puas melihat sunset, saya pun akhirnya makan seafood di salah satu rumah makan yang terletak di tepi pantai sebelum pulang.

Bersatu dengan Alam di Taman Nasional Bukit Lambir

Air Terjun Latak, Taman Nasional Bukit Lambir (photo source: dokumentasi pribadi)

Jika kemarin saya berwisata sejarah, kali ini saya akan melakukan hiking. Saya akan melakukan hiking di Taman Nasional Bukit Lambir yang berjarak 1 setengah jam dari pusat Kota Miri. Taman Nasional Bukit Lambir merupakan taman nasional bernuansa hutan tropis. Karena taman nasional ini sangat besar, ada banyak rute penjelajahan yang bisa dipilih, mulai dari yang paling mudah hingga yang paling menantang. Karena saya masih penjelajah newbie, saya memilih rute yang lumayan mudah, yaitu rute menuju air terjun Latak.

Meskipun katanya ini salah satu rute termudah, menjelajah di dalamnya ternyata tidak semudah yang saya pikirkan. Saya harus melewati berbagai jalan setapak yang licin. Sehabis itu, saya juga harus menyebrangi sungai dengan melewati batu-batu besar tanpa jembatan, yang membuat saya nyaris tercebur. Di sini, satwa-satwa khas pulau Kalimantan seperti babi hutan, orang utan, dan bajing dapat ditemukan di beberapa lokasi, yang membuat perjalanan menjadi semakin menyenangkan.

Setelah lama berjalan dan berjuang melawan gigitan nyamuk, tibalah saya di air terjun Latak yang sangat memukau. Terpesona dengan air terjun tersebut, saya akhirnya benerang di kolam air terjun yang menyegarkan itu.

Melihat Laut Bersinar di Pantai Tusan

Menjelang sore, saya mengunjungi Pantai Tusan. Pantai ini memiliki pasir putih dan tebing yang cantik, sehingga cocok untuk berfoto di saat senja, seperti anak indie. Tidak hanya itu, setelah matahari terbenam, saya beruntung dapat melihat laut yang bercahaya di Pantai Tusan, yang dikenal dengan nama “air mata biru”. Rupanya, pantai bercahaya itu bukan disebabkan oleh tumpukan harta karun atau lampu kapal, loh, tetapi karena kumpulan mikroorganisme yang dapat memancarkan cahaya warna biru.

Makan Enak dan Menghabiskan Malam di Miri Sky Bar

Setelah membersihkan diri, saya menghabiskan malam terakhir di Miri dengan makan malam dan hangout di Miri Sky Bar. Meski Miri terletak di perbatasan, rooftop sky bar tersedia di banyak hotel berbintang, seperti halnya di Jakarta. Di rooftop, tersedia berbagai macam hidangan berbentuk buffet, di mana rendang a la Malaysia menjadi signature dish di bar-bar ini. Berbagai jenis minuman seperti soft drink, jus, hingga aneka cocktail tersedia di sini. Jika kalian memilih duduk di area teras, kalian dapat melihat panorama Miri dan Laut Tiongkok Selatan di malam hari.

Berburu Oleh-oleh Khas Miri

Selesai berlibur ke Miri, kalian dapat membawa pulang berbagai oleh-oleh khas Miri. Kalian dapat berbelanja oleh-oleh di Miri Craft Center. Di sana, tersedia berbagai macam aksesoris seperti gelang, kalung, tas, yang terbuat dari manik-manik khas suku Dayak. Ada juga aneka pahatan dan kerajinan khas suku Dayak lainnya. Untuk makanan, kalian dapat membawa pulang lapis pelangi khas Serawak, yaiitu lapis legit beraneka warna dengan motif-motif unik.

Apa yang Membuat Liburan Saya ke Miri Berkesan?

Saya memang bukan orang yang romantis nan filosofis, selain mempelajari sejarah peradaban manusia, saya mendapat banyak pengalaman berharga, yang membuat wisata saya ke Miri berbeda dengan wisata-wisata lain yang telah saya lakukan. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, wisata di Miri didominasi oleh wisata alam. Selama saya melakukan kegiatan wisata alam di Miri, saya semakin menyadari bahwa alam semesta ini sangatlah besar dan tak terbatas, saya merasa diri saya hanyalah serpihan debu kecil di tengah-tengah alam semesta, ego dan masalah yang saya hadapi sehari-hari menjadi tidak sebanding dengan besarnya alam semesta. Ini adalah bukti bahwa Sang Pencipta itu Maha Indah dan Maha Besar ciptaan-Nya.

Selama berwisata alam, tentu saja saya menghadapi banyak rintangan, mulai dari tersesat ketika hendak pergi ke tujuan, terpeleset jatuh, nyaris tercebur ke sungai, hingga melihat kawan saya tergigit lintah. Untuk menghadapi semua itu, tentu saja saya harus berhati-hati, berpikir matang-matang, dan tentu saja tidak menyerah menghadapi rintangan yang ada. Kejadian ini mengajarkan saya untuk selalu bekerja keras tanpa putus asa ketika menghadapi masalah. Tidak hanya itu, untuk melewati rintangan pada beberapa titik di taman nasional misalnya, diperlukan kerja sama dan kekompakan untuk menghadapinya, yang mengajarkan saya untuk mengalahkan ego dan bekerja sama dalam kehidupan.

Hal unik lain yang saya dapatkan ketika berwisata alam di Miri adalah, ketika melihat teman saya tergigit lintah saat menjelajahi Taman Nasional Bukit Lambir. Ketika teman saya berteriak kesakitan tergigit lintah dan saya berniat menabur garam untuk mengusir lintah, Atuk (kakek) pemandu berkata pada saya untuk tidak membunuh lintah itu. Atuk mengatakan bahwa lintah tidak akan menghisap darah sehingga menyebabkan orang meninggal, ia akan lepas sendiri ketika kenyang. Benar saja, tak lama kemudian, lintah tersebut pergi meski tidak saya usir dengan garam. Dari sini, saya belajar cinta kasih dan rasa menghargai alam dari Atuk. Tidak hanya itu, saya juga baru mengetahui bahwa lintah, yang selama ini konotasinya jelek, ternyata tidak rakus! Hayo, masa manusia kalah sama lintah?

Tips Berwisata ke Miri

  1. Pesanlah tiket pesawat dan hotel jauh-jauh hari, untuk mendapat harga yang lebih murah
  2. Pilihlah penerbangan yang memiliki waktu tiba pada pagi hingga siang hari. Angkutan umum di Miri cukup jarang pilihannya, apalagi jika malam hari
  3. Menukarkan uang ringgit di Indonesia, karena rate nya lebih rendah
  4. Jika kalian berencana berwisata di Miri lebih dari 3 hari, belilah kartu SIM local, untuk mempermudah komunikasi
  5. Membawa lotion anti nyamuk. Nyamuk-nyamuk di Miri, terlebih di taman nasional, sangat ganas
  6. Membawa pakaian yang ringan cepat kering. Sebagian besar wisata di Miri adalah wisata alam, kalian akan banyak menjelajah dan berkotor-kotor, pakaian yang cepat kering tentu lebih praktis dibawa. Jangan lupa juga untuk membawa sepatu kets yang nyaman, untuk berwisata alam. Simpanlah high heels, pantofel, dan wedges untuk makan malam saja
  7. Untuk traveler Muslim, bertanyalah terlebih dahulu apa bahan makanan ketika memesan makanan lokal
  8. Untuk mempermudah explore tempat wisata dan karena angkutan umum di Miri terbatas, kalian dapat menyewa mobil seharga 6 ringgit/jam
  9. Jangan pernah membuang sampah sembarangan, mencoret-coret benda (apalagi dengan tulisan alay), memetik tanaman, apalagi berbuat tidak senonoh di tempat-tempat wisata. Selain merusak alam, tindakan itu berpotensi membuat malu negara. Ingat guys, ketika menjadi traveler kita membawa identitas negara 
  10. Walau akses internet sangat lancer meski di dalam hutan, janganlah terlalu sering melirik ponsel. Berfoto boleh, tapi jangan lupa untuk enjoy the moment sambil mengagumi ciptaan-Nya

Indonesia Bisa Belajar dari Miri

Setelah berwisata ke Miri, saya sungguh berharap agar Indonesia banyak belajar dari Malaysia, dalam mengelola pariwisata di tapal batas. Miri terletak di titik terluar Malaysia yang berbatasan dengan negara Brunei Darussalam. Meski merupakan wilayah terluar Malaysia, Miri tidak tampak seperti daerah tertinggal. Sarana penunjang pariwisata di Miri sangat bagus. Kondisi jalan raya di sana mulus, berbagai hotel dan tempat makan tersedia, serta akses internet di sana sangat cepat dan lancar.

Wilayah-wilayah tapal batas Indonesia sebenarnya memiliki keindahan alam yang menakjubkan, sehingga dapat menjadi destinasi wisata internasional, tanpa melibas kearifan local yang ada. Untuk mencapai hal itu, pemerintah perlu meningkatkan sarana dan pra sarana penunjang wisata. Jika potensi wisata di wilayah tersebut digarap dengan serius, tentu saja ekonomi daerah tersebut akan meningkat.

 

Penulis: Faustina Prima

Instagram: @faustina.martha

Twitter: @PrimaAksara

Facebook: Faustina Martha

Press Enter To Begin Your Search
×