Loading...

(photo source: pixabay.com)

"Tahun 2020 sangat berat ya sayang," seloroh saya kepada istri disaat kita sedang membereskan beberapa perlengkapan berlibur, seperti koper dan ransel, serta merapikan beberapa lembar pakaian. Rencana liburan di tahun 2020 yang telah kami rencanakan satu tahun sebelumnya harus gagal karena pandemi corona. Tiket pesawat yang sudah terbayar harus refund, pesanan hotel hingga sewa transportasi di destinasi tujuan juga terpaksa dibatalkan.

Dampak dari pandemi yang terjadi di berbagai belahan dunia juga menghantam sektor perekonomian di Tanah Air. Tak terkecuali sektor industri pariwisata. Akibat pandemi corona, beberapa tempat wisata ditutup, agen perjalanan wisata harus gigit jari karena tidak melayani wisatawan hingga pemasukan berkurang. Hotel-hotel yang sepi pengunjung membuat sebagian karyawan harus kehilangan pekerjaan.

Di masa pandemi, kita terpaksa harus menahan diri untuk sekadar berwisata. Kesehatan nomor pertama, liburan bisa dipikir selanjutnya. Namun bagi yang sudah merencanakan plesir seperti kami, tentu sangat berdampak signifikan, tiket pesawat dan pemesanan hotel rela dibatalkan. Semua itu dilakukan demi penularan virus corona agar segera dapat teratasi dan terselesaikan.

Setelah sekian bulan berdiam diri karena pandemi, saat ini kita telah memasuki fase new normal. Di mana aktivitas kembali berjalan normal, syaratnya adalah dengan mematuhi protokol kesehatan. Protokol kesehatan di masa new normal telah dirilis oleh Kementerian Kesehatan pada Senin (25/5/2020) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020. Menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, dan menjaga kesehatan dengan asupan makanan dan berolahraga.

Saya dan istri tentu bahagia, setelah fokus menjaga kesehatan dengan #dirumahaja, bekerja dan beraktivitas hanya dari rumah, kami pun tak lupa menatap rencana tahun depan untuk plesir bersama demi menjaga asupan mental, demi meredakan stres dan melepaskan diri dari rutinitas pekerjaan. 

Kami pun sepakat memilih destinasi, terletak di Nusa Tenggara Timur. Yup, kami merasa jatuh hati dengan eksotisme salah satu destinasi di sana, yaitu Labuan Bajo. Baik karena kekayaan seni dan budaya, hingga pesona alam yang luar biasa menjadi daya tarik utama. 

Kami pun berencana plesir selama 4 Hari 3 Malam di Labuan Bajo.

Siapa sih yang bisa menolak keindahan dan pesona alam serta kekayaan seni dan budaya Labuan Bajo? Tak hanya kami yang terpesona, pesohor Tanah Air dan dunia juga jatuh hati dengan salah satu big four destinasi super prioritas di Indonesia ini. Oh iya, buat kalian yang belum tahu, Indonesia memiliki big four Destinasi Super Prioritas. Selain Labuan Bajo, komposisi big four lainnya adalah Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika. Bisa nih kalian masukin dalam bucket list destinasi impian selanjutnya.

Pesohor dunia yang telah menginjakkan kaki di Labuan Bajo yang merupakan destinasi wisata bahari kelas dunia sangat banyak lho. Di antaranya bintang top sepak bola Eropa, yang paling terbaru berlibur ke Labuan Bajo yaitu bintang Bayern Muenchen Arjen Robben, tak sendiri, bintang di kompetisi Bundesliga ini membawa turut serta keluarga. Semakin bangga dong! Robben dan keluarga berpetualang di alam indah Pulau Kelor, Pulau Rinca, dan Pulau Kalong serta menikmati keindahan Pulau Padar, Pink Beach dan tak lupa mampir ke habitat Varanus Komodoensis di Pulau Komodo. 

Tak jauh berbeda dengan Robben, pemain Real Madrid Marcos Llorente juga diketahui berkunjung ke Pulau Rinca dan Pink Beach yang terkenal akan pasirnya yang sangat indah berwarna merah jambu, serta tempat favorit snorkeling bersama Manta Ray.

Sebelum Robben dan Llorente, pada 2015 Labuan Bajo telah dikunjungi oleh pesohor sepak bola dunia lainnya. Sebut saja Smalling, bintang top klub Manchester United kala itu mengaku terkesan dengan eksotisnya alam di sana. Selain pesepak bola dunia, ada juga bintang balap roda dua MotoGP yang kagum dengan eksotisme Labuan Bajo. Sebut saja Lorenzo yang menghabiskan watu 3 hari berkunjung ke Labuan Bajo dan berlayar ke Pulau Komodo di tahun 2011. Selain Lorenzo, rider kenamaan dengan jutaan fans di seluruh dunia, Valentino Rossi juga datang dan berlibur di Labuan Bajo pada Januari 2017.

Tentu kehadiran mereka memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan wisata Labuan Bajo. Nah, semoga aja nih saya dan keluarga bisa mengikuti jejak mereka berlibur dan menikmati keindahan Labuan Bajo dan destinasi di sekitarnya.

Bagaimana Cara ke Labuan Bajo?

Bagi saya yang tinggal di Jogja dan memiliki kewajiban bekerja, tentunya memiliki waktu berlibur yang terbatas, makanya transportasi udara jadi pilihan utama bagi kami untuk ke Labuan Bajo. Asal kalian tahu, jarak Jogja ke Labuan Bajo sejauh 1.4850 kilometer, atau 38 jam berkendara dengan transportasi darat, itu pun kalau nggak pakai istirahat. Kalau ditambah istirahat dan melintasi pulau dengan kapal ferry, bisa bermalam-malam di perjalanan lho. Pastinya sangat melelahkan! Kalau punya waktu libur hanya 4 hari, hari libur malah habis di jalan.

Nah, pilihan paling efektif yaitu dengan transportasi udara. Kami bisa memilih menaiki pesawat ke Labuan Bajo dari dua bandara di Jogja (Adisucipto dan YIA), kami bisa memilih maskapai yang menyediakan penerbangan transit di Bandara Ngurah Rai, Bali. Oh iya, hingga saat ini belum ada maskapai yang membuka penerbangan langsung Jogja ke Labuan Bajo. Setelah saya cek di Online Travel Agent (OTA), pilihan transportasi udara ke Labuan Bajo dari Jogja lumayan banyak, harganya pun terjangkau. 

Untuk waktu tempuh paling cepat dengan pesawat terbang dari Jogja ke Labuan Bajo itu sekitar 3 jam 40 menit, dibanderol dengan harga tak sampai Rp2 juta untuk satu penumpang. Nah, beruntungya saya punya banyak pengalaman cari tiket promo dan diskonan nih. So, untuk urusan tiket pesawat, bisa lah dapat yang murah dan ramah di kantong.

Apa yang akan kami lakukan di Labuan Bajo?

Menikmati Kuliner Lokal - Memburu Sunset - Snorkeling - Melihat Langsung Kadal Terbesar di Dunia - Menikmati Keindahan Panorama Alam.

(photo source: pixabay.com)

"List to do di Labuan Bajo dan sekitarnya serahkan pada mama aja," seloroh istri tercinta. Yap, saya beruntung punya pasangan yang jago banget nih bikin itinerary. Maklum, doi jebolan kantor agen travel ternama di Jogja. Jadinya bisa tenang meskipun liburan dengan waktu terbatas. Jangankan cuma bikin itinerary liburan berdua, pernah suatu waktu dengan mudah ia mengatur acara liburan karyawan sebuah perusahaan yang jumlahnya ratusan orang.

Setelah berbincang banyak, istri saya memutuskan untuk memilih destinasi favorit berdasarkan pengamatannya. Menurutnya, usai melakukan penerbangan dan check-in penginapan tentu badan akan sedikit lelah, ada baiknya kami menikmati sunset di Puncak Waringin.

Bagaimana untuk hari kedua? "Mama itu nggak mau ya naik-naik gunung, kayak di Pulau Padar, huh pasti capek!" pintanya. Namun, dengan kemampuan komunikasi dan lobi yang mumpuni, saya pun berhasil meyakinkan istri untuk naik ke Pulau Padar, tentu dengan iming-iming suguhan panorama alam yang sangat cantik dan romantis, serta fasilitas 'digendong' atau sewa porter demi meringankan perjalanan.

Selain Padar, istri memilih untuk pergi ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, melihat dan merasakan langsung interaksi dengan kadal terbesar di dunia yaitu Komodo atau penduduk setempat menyebutnya Ora. Ya, kapanlagi ketemu Komodo langsung setelah sekian lama melihatnya dari layar kaca televisi. Saat menceritakan Komodo, istri terlihat bersemangat dengan mata berbinar-binar.

"Oke aku setuju," jawabku pada istri meskipun ia sebenarnya tak perlu meminta persetujuan, mau saya setuju atau tidak sepertinya istri tetap memasukkan destinasi tersebut ke dalam to do list.

Selanjutnya kami menentukan pilihan untuk menikmati pantai. Sebagai penggemar Real Madrid, eh apa hubungannya yah! Ada dong. Pemain Real Madrid Llorente mengunjungi Pink Beach, masak iya saya melewatkannya. Apalagi di sana ada spot snorkeling bareng Manta Ray yang tersohor hingga penjuru dunia. Saya yang snorkeling, istri cukup menikmati keindahan pasir pantai yang berwarna eksotis tersebut. Kali ini, istri saya pun dengan mudah mengangguk setuju.

Hari Kedua - Hoping Island Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Komodo dan Pink Beach.

Namun jika ada waktu lebih, kami memiliki opsi lain untuk ke Pulau Kelor, pulau kecil dengan pasir putih dan tetumbuhan hijau di bagian tengah, serta riak ombak yang tenang. Saya juga mengusulkan memasukkan opsi Pulau Kanawa, konon di sini memiliki laut biru yang sebening kaca dan pantai pasir putih yang eksotis.

Lanjut hari ketiga, usai ngobrolin destinasi di Labuan Bajo, saya nyeletuk dong ke istri. "Destinasi yang rencana mau kita datengin kan letaknya di pulau-pulau kecil tuh, harus pakai perahu dong!" tanya saya ke istri. "Gampang pa, di sana banyak perahu, bahkan ada yang menyediakan paket juga. Jadi wisata ala Jurassic Park gitu, keliling pulau eksotis," jawab istri dengan suara meyakinkan.

"Eits, destinasinya belum selesai, kan kita baru ngobrolin destinasi wisata bahari, kita masih ada plan buat nikmati wisata yang ada di darat lho," jawab istri dengan mimik muka tersenyum. "Hah, masih banyak nih kegiatan kita? Wah menarik dong!" jawabku kaget. "Nah makanya, papa fokus kerja cari duit yang banyak. Urusan liburan pasrahkan ke mama aja," sahutnya dengan bibir tersungging.

Hari ketiga, istri memutuskan untuk membuat to do list mengunjungi goa eksotis di Labuan Bajo, yaitu Goa Rangko. Goa ini terletak di Desa Rangko, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dapat diakses dari Labuan Bajo dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Goa Rangko bak kolam renang pribadi dengan keheningan dan kesegaran air yang ada di dalamnya. Air yang terdapat di dalam goa merupakan air asin yang bersumber dari air laut, hal ini disebabkan karena terdapat rongga-rongga atau celah yang menghubungkan kolam di dalam goa dengan laut lepas.                                

Usai dari Goa Rangko, kami berencana menikmati budaya lokal dengan mengunjungi Desa Adat Liang Ndara.

Menikmati Budaya Lokal Desa Adat Liang Ndara

Desa Liang Ndara terletak di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kalau dari Labuan Bajo, jaraknya sekitar 20 kilometer dari Labuan Bajo. Desa ini satu dari 6 desa yang menjadi program pemerintah untuk dijadikan desa ekowisata.

Kami sangat tertarik berkunjung ke desa ini, banyak potensi wisata budaya yang bisa kami nikmati. Salah satunya adalah tarian khas yang hanya bisa ditemukan di Desa Liang Ndara, yaitu Tarian Caci.

Tarian tradisional ini menunjukkan ketangkasan para penari, dilakukan oleh dua penari yang dibekali oleh cambuk dan perisai, di mana cambuk digunakan sebagai senjata, sedangkan perisai digunakan penari sebagai alat untuk menangkis serangan lawan. Mereka akan mencambuk dan menangkis secara bergantian.

Dalam beberapa literatur yang tersebar di dunia maya, tarian ini merupakan tarian sakral suku Manggarai, Flores. Tarian Caci melambangkan kejantanan dan keperkasaan lelaki di suku ini. Dalam penampilan Tarian Caci, akan selalu diiringi oleh alat musik gendang dan gong. Di mana lantunan musik yang dimainkan adalah lagu Neggong atau Dare.

Ah, banyak sekali informasi tentang tarian yang melegenda satu ini. Alangkah beruntungnya jika bisa langsung menyaksikan Tarian Caci langsung di Desa Adat Liang Ndara. Semoga awal tahun depan mimpi berkunjung ke Labuan Bajo jadi kenyataan. Amin.

Daerah yang terletak di pesisir pulau Flores ini membuat Labuan Bajo tak bisa lepas dari olahan hasil lautnya. Salah satu tempat yang akan kami datangi demi menikmati olahan laut Labuan Bajo adalah Kampung Ujung.

Kampung Ujung berlokasi di tempat yang sangat strategis nan romantis, yaitu di pesisir pantai. Berdasarkan review traveler di beberapa situs perjalanan, kuliner seafood di Kampung Ujung sangat direkomendasikan.

Pertama, Kampung Ujung sangat bagus untuk kulineran sembari menikmati sunset atau matahari tenggelam. Kedua, tempat ini sangat direkomendasikan untuk sekadar makan malam, baik sendiri, bersama teman, keluarga atau pasangan. Ketiga, sajian ikan super segar dengan harga terjangkau dan nggak bikin kantong bolong. Salah satu traveler merekomendasikan untuk mencicipi sajian sop ikan kuning di Kampung Ujung, katanya sih sangat lezat dan nikmat.

Di antara beberapa sajian olahan seafood, kami ingin sekali menikmati olahan dari cumi-cumi nih. Maklum, saya dan istri sangat suka sekali dengan olahan cumi, selain kaya protein, cumi-cumi juga nikmat. Kalau di Labuan Bajo, ada nih olahan cumi-cumi yang ingin kami nikmati, yaitu Lawar Pansa. Dalam bahasa Bajo, Pansa berarti cumi-cumi. Cumi-cumi segar direbus dan ditambah perasan jeruk nipis dan irisan bawang. Sajian masakan ini biasanya dikonsumsi oleh nelayan hingga masyarakat pesisir pantai. Duh, bikin ngiler deh! Semoga tahun depan jadi nih ke Labuan Bajo, amin.

Oh Iya, di Labuan Bajo Menginap di Mana?

Plesir ke Labuan Bajo, saya akan memilih penginapan yang nyaman dan tentunya banyak direkomendasikan. Memiliki rating dan penilaian pelanggan salah satu poin utama. Berlokasi di pusat kota, tak jauh dari bandara dan pusat keramaian tentunya.

Namun, secara pribadi saya memiliki kriteria khusus dalam memilih penginapan. Selain harga terjangkau, penginapan harus memiliki poin utama penunjang kenyamanan. 

Di antara poin tersebut seperti kamar mandi bersih, tersedia televisi, perlengkapan alat mandi, air mineral dan Wi-Fi. Kualitas oke, harga terjangkau. Selain itu, kemudahan pemesanan dapat diandalkan. 

Di Labuan Bajo, saya akan menginap di sekitar area Jalan Soekarno Hatta. Di daerah sini terdapat salah satu akomodasi yang affordable, harganya ramah di kantong dan tentunya memenuhi poin kenyamanan akomodasi di atas. Nama penginapan tersebut Hotel Pagi. Tentunya, menginap di sini akan jadi pengalaman tak terlupakan selama berlibur bersama pasangan.

 

Penulis: Mohammad Gufron Salim

Instagram: @jejakgufron

Facebook: Gufron Salim

Twitter: @gufronsalim

 

Press Enter To Begin Your Search
×