Loading...

(photo source: pixabay.com)

 “Hah kelahiran Ambon?”

“Loh, kok Ambon sih?”

“Gak salah nih tempat lahirmu?”

Begitu seruan teman-teman ketika melihat tempat kelahiranku yang bertuliskan Ambon tercatat di berbagai dokumen administrasi. Maklum, saat ini saya hidup di pulau Jawa, lokasi Ambon tentunya berada di ujung Timur Indonesia, tidak menyalahkan teman-teman yang menyeru demikian.

Bukan hanya ditakdirkan untuk lahirnya saja di Ambon, tetapi sempat tinggal di sana selama kurang lebih 7 tahun. Melihat berbagai keindahan wisatanya juga saya alami dan tentu saja saat ini menjadi impian untuk bisa kembali kesana, bernostalgia dengan kenangan masa kecil.

Ambon Kota Musik (photo source: kabartimurnewa.com)

Beberapa kali pada suami selalu saya katakan, pantai di Ambon itu indah dan bersih, belum terlalu terjamaah keramaian seperti di pulau Jawa, keindahan warna lautnya pun masih terjaga karena minim kawasan industri sebagai penghasil limbah. Untuk penangkapan paa nelayan di sana masih menggunakan alat tradisional dibandingkan alat modern yang merusak populasi laut. Selain itu, jika pantai di Jawa selalu sesak akan kunjungan, di Ambon pasti berbeda, pantainya masih cenderung sepi.

Kalau dulu, sekitar tahun 1997 mengunjungi Ambon harus menggunakan kapal laut dengan perjalanan 4 hari tiga malam dengan transit di 3 tempat, saat ini cukup menggunakan pesawat sekitar 2-3 jam sudah mencapai tanah Ambon Manise. Sangat praktis dan cepat.

Melihat sisi lain Ambon dari segi sejarahnya, jauh sebelum masa kemerdekaan, Ambon merupakan kota transit berbagai bangsa Eropa khususnya Portugis dan Spanyol. Jejak kedua Negara penjelajah tersebut sampai saat ini masih jelas di sana, misalnya benteng Middleburg dan benteng Victoria, meskipun benteng ini terkesan kurang terawat dibandingkan benteng yang lainnya, tetapi bukti bahwa Portugis pernah betah di kota ini menjadi semakin kuat. Selain itu, ada yang namanya benteng Amsterdam, namanya mengingatkan kita pada Belanda padahal awalnya benteng Amsterdam dibangun oleh Portugis sebagai tempat penyimpanan  rempah-rempah kemudian saat VOC menduduki kota Ambon beralih fungsi menjadi benteng meskipun secara fisik lebih mirip rumah dibandingkan benteng.

Kota Ambon dipenuhi dengan peninggalan berupa benteng dibandingkan peninggalan bentuk lainnya, hal ini karena sejak dulu Ambon menjadi pusat penghasil rempah-rempah terbaik dan di incar oleh bangsa Eropa, sehingga mereka membuat benteng pertahanan untuk memukul mundur orang local maupun orang baru yang ingin menguasai wilayah tersebut. Menarik sekali yah.

Berwisata tidak lengkap tanpa melihat kekayaan kuliner kota Ambon, kalau saya bisa mengunjungi Ambon lagi yang sangat ingin saya lahap adalah sambal colo-colo dengan ikan bakar atau gorengnya yang masih segar dan nasi panas, nikmatnya tiada tara. Di lahap di pinggir pantai sambil mendengarkan musik poco-poco serta meneguk segelas air kelapa muda. Belum lagi membayangkan ada kue kenari sebagai camilannya. Kenari memang banyak di temui di Ambon, rasanya seperti kacang tetapi bentuknya yang pipih dan tipis membuatnya lebih gurih dan mudah dinikmati. Belum lagi jika ada pisang Ambon yang di olah dengan sajian yang manis dan masih panas, pasti lidah di manja habis-habisan. Masih banyak lagi wisata kuliner yang bisa di nikmati jika berkunjung ke Kota Ambon.

Jadi, untuk wisata impian saya adalah kembali travelling di kota Ambon dengan bernostalgia sepanjang jalan kenangan (seperti lagu deh), semoga saja suatu saat bisa terwujud mimpi travelling ini, agar bisa bercerita pada semua, bahwasanya..

Sambal Colo Colo (photo source: pinterest.com)

Ambon itu indah pantainya.

Ambon itu kala senja seolah membuat kita terjebak dalam lukisan yang indah.

Ambon itu makanannya manis semanis orang disana.

Ambon itu kaya akan ikan yang mengandung banyak omega dan baik untuk kesehatan.

Ambon itu begitu di rindukan.

Gong Perdamaian Kota Ambon (phto source: kabartimurnewas.com)

 

Penulis: Nanik Prasasti

Instagran: @nanikprasasti

Twitter: @nnkprsst

Facebook: @nnkprsst

Press Enter To Begin Your Search
×