Loading...

Salam Jelajah..

Kali ini aku mau membagikan pengalaman aku dan teman-teman saat ke Wae Rebo, Manggarai, NTT.

wae rebo

Kampung Wae Rebo, Manggarai, NTT (Foto: Dokumen Pribadi)

Perjalanan kami ke Wae Rebo dimulai dari Labuan Bajo mengunakan mobil, karena jika menggunakan motor terlalu berbahaya, cuaca sekitar Wae Rebo suka berganti-ganti dan jarak Labuan Bajo ke Wae Rebo cukup jauh.

Kami sewa mobil+bensin+driver untuk 2 hari dengan harga Rp1,5 juta dengan kapasitas maksimal 8 orang.

Baru sebagian perjalanan hujan dan kabut sudah mulai turun dan jalan mulai licin, jika kalian ingin menggunakan motor harus sedia jas hujan dan pastikan kondisi motor bagus dan disarankan motor besar seperti Nmax dan setipe agar lebih aman.

waerebo

Kondisi Cuaca Manggarai Barat (Foto: Dokumen Pribadi)

Di sepanjang perjalanan kami melihat bukit dan bermacam satwa dan tumbuhan yang pasti membuat perjalanan kami tidak membosankan. Jarak dari Labuan Bajo ke Wae Rebo di tempuh waktu 4-5 jam dan bisa lebih lama lagi jika kami melewati jalur Ruteng yang biasa dilewati turis.

waerebo

Jalur Hijau yang Kami Lewati (Foto: Maps)

Karena kami melewati jalur dekat garis pantai membuat kami banyak melewati pantai dan melewati 1 pulau yang bener-bener indah yaitu Pulau Mules.

waerebo

Pulau Mules, Manggarai, NTT (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Pantai di Repi, Lembor Manggarai, NTT (Foto: Dokumen Pribadi)


Setalah melakukan perjalanan kurang lebih 4-5 jam kami sampai di Dange, Denge adalah batas kendaraan diperbolehkan masuk oleh masyarakat sekitar.

Dari Dange kita melanjutkan perjalaan dengan ojek motor sekitar 15 menit dengan medan yang lebih terjal menuju Wae Lomba (Post 1).

waerebo

Dange, Manggarai, NTT (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Wae Lomba (Post 1) (Foto: Dokumen Pribadi)

Dari Wae Lomba (Post 1) kami akan memulai Tracking menuju Kampung Wae Rebo.

Waktu Tracking  kurang lebih 2 sampai 3 jam dan akan melewati 2 post lagi yaitu Ponco Roko (Post 2) dan Nampe Bakok (Post 3) dan barulah sampai rumah Kasih Ibu (Pintu masuk kampung Wae Rebo).

waerebo

Tracking ke kampung Wae Rebo (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Ponco Roko (Post2) (Foto: Dokumen Pribadi)

Jalur yang lumayan berat adalah dari Wae Lomba (Post 1) ke Ponco Roko (Post 2) dan Ponco Roko (post 2) ke Nampe Bakok (Post 3) karena kami selalu menanjak sehingga membuat kami mudah kelelahan.

Dari Nampe Bakok (Post 3) ke Rumah Kasih Ibu kami melewati jalur yang sedikit menurun mebuat kami tidak terlalu lelah.

waerebo

Nampe Bokok (Post 3) (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Pemandangan Nampe Bakok (Foto: Dokumen Pribadi)


Sesampai di rumah Kasih Ibu kami harus membunyikan alat "Tambuh Bamboo" bertanda kami akan masuk ke dalam kampung Wae Rebo.

waerebo

Alat musik Tabuh Bambo (Foto: Dokumen Pribadi)

Setelah membunyikan alat musik, kami turun ke kampung lalu disambut salah satu warga lalu diantar ke rumah Niang Gendang untuk melakukan Waelu'u atau upacara penghormatan kepada leluhur, setelah itu barulah kami diperkenankan untuk beraktivitas di kampung Wae Rebo.

Lalu kami diantar ke rumah Niang untuk meletakan barang dan mencoba kopi khas Wae Rebo.

waerebo

Rumah Niang Gendang (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Mama lagi membuat Tenun (Foto: Dokumen Pribadi)

Setelah itu kami bekeliling kampung untuk melihat aktivitas masayarakat dan bermain bersama anak-anak Wae Rebo.

waerebo

Anak-Anak Wae Rebo (Foto: Dokumen Pribadi)

Di sore hari Kabut sudah mulai turun  dan dinginnya udara sudah mulai berasa di kulit, kamipun masuk ke Rumah Niang untuk Menghangatkan tubuh dan menunggu makan malam, setelah makan malam kami lalu istirahat menunggu esok pagi.

Di dalam Rumah Niang yang kami inapi ada satu buku besar tetang sejarah Wae Rebo dari bentuk Rumah adat, dan sampai kenapa mereka tinggal di dataran tinggi Manggarai.

waerebo

Kampung Wae Rebo, Manggarai, NTT ( Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Niang Gena Mandok (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo
Niang Gena Maro (Foto: Dokumen Pribadi)


Pagi hari jam 8.30 kami turun setelah sarapan pagi dan pamit ke masyarakat untuk pulang.

Di dalam hatiku ingin balik ke sini lagi karena mereka mengganggap kami sudah seperti keluarga mereka dan aku akan rindu dengan ceria muka anak-anak Wae Rebo.

waerebo

Oma Wae Rebo (Foto: Dokumen Pribadi)

waerebo

Tengah (Ketua Adat Wae Rebo) (Foto: Dokumen Pribadi)

Info

  • Makan malam jam 7-8 malam
  • Makan pagi jam 7 pagi
  • Listrik akan hidup saat malam tiba dan mati jam 9-10 malam

Biaya yang kami keluarkan 

  • Sewa mobil include supir dan bensin PP (Labuan Bajo-Wae Rebo) Rp1,5 juta Pergrub atau Rp250 ribu per orang
  • Ojek dari Dange ke Wae Lomba (post 1) dan jas hujan Rp55 ribu per orang
  • Tongkat (Tidak wajib sewa jika tidak membutuhkan tapi menurut aku itu sangat membatu saat tracking) Rp10 ribu per orang
  • Uang suka rela penyambutan tamu di berikan ke ketua adat. Rp100 ribu Pergroub atau  Rp17 ribu per orang
  • Menginap di rumah Niang dan makan malam dan pagi Rp325 ribu per orang
  • Ojek dari Wae Lomba (Post 1) ke Dange Rp35 ribu  per orang
  • Total per orang = Rp692 ribu.

 

Penulis: Tarnando Eko

Instagram: Jejak_penjelajah

Press Enter To Begin Your Search
×