Loading...

Mata pencaharian utama masyarakat Desa Kahatola adalah sebagai nelayan (photo source: dokumentasi pribadi)

Perjalanan yang rumit akan menghasilkan sebuah cerita yang menarik. Saya percaya itu. Dan perjalanan saya mengunjungi Pulau Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, pada September 2017 lalu adalah buktinya. Jangankan membayangkan suasana desanya, mendengar namanya saja saya belum pernah, waktu itu.

Ditemani Kakak Ani, seorang kawan dari Ternate, saya memulai perjalanan dari Jailolo menuju Desa Ibu, Halmahera Barat. Waktu tempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan mobil pribadi. Sesampainya di Desa Ibu, Kakak Ani mengajak saya singgah untuk makan siang di sebuah warung sederhana dekat pelabuhan kecil.

“Kakak Ani, kita sudah sampai kah di Desa Kahatola?” Tanya saya. Kakak Ani melihat ke arah saya, lalu tertawa.

“Wah belum, ini baru setengah perjalanan. Setelah ini kamu masih harus sebrang laut, satu setengah jam lah kira-kira. Saya cuma bisa antar sampai sini karena masih ada urusan di Jailolo.” Jelas Kakak Ani. Kakak Ani akan ‘menitipkan’ saya pada kawannya, Bang Sobri.

Tidak sampai satu jam, dari kejauhan terlihat sebuah kapal yang tidak cukup besar dengan dua orang lelaki duduk di atasnya. Ternyata satu diantaranya adalah Bang Sobri, kawan Kakak Ani. Kalau tidak salah, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Setelah berpamitan dengan Kakak Ani, saya dengan dua orang lelaki tadi memutuskan segera bergegas agar tidak kemalaman di laut.

Saya baru sempat berkenalan dan berbincang di atas kapal. Bang Sobri berusia empat tahun di atas saya, yang seorang lagi, Dimas, usianya dua tahun di bawah saya. Mesin kapal yang bising menemani perjalanan kami mengarungi lautan lepas.

Kapal saya menuju Desa Kahatola, serta Dimas yang berjaga di depan (photo source: dokumentasi pribadi)

Alam memang tidak bisa ditebak. Langit yang tadinya terik seketika berubah gelap, mendung. Gelombang laut mulai tinggi. Bang Sobri berbicara pada Dimas menggunakan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Mesin kapal pun dimatikan. Kapal sederhana kami mulai terombang-ambing mengikuti arah gelombang.

Jantung saya berdegup kencang sekali. Pikiran-pikiran negatif pun mulai berkeliaran di kepala. Mata saya menengok sedikit ke air laut. Warnanya biru pekat, seolah menandakan bahwa laut ini tidak berdasar. Kalau kapal ini terbalik bagaimana? Maklum, keahlian berenang saya hanya bisa diuji di kolam renang dengan kedalaman satu sampai dua meter saja. Saya terdiam dan memohon pada semesta. Belum pernah saya merasakan panik sehebat itu.

Angin laut berhembus semakin dahsyat. Saya sigap mengamankan peralatan elektronik seperti laptop, handphone, dan dua buah kamera, ke dalam gulungan rain cover daypack, lalu dimasukan lagi ke dalam kantong plastik. Sementara untuk diri saya, pasrah sajalah.

Benar saja, tetesan air jatuh dari langit. Sedikit demi sedikit, kemudian lebat. Suara Bang Sobri meninggi. “Ngana lihat di depan! Kita lihat dari belakang. Torang jaga baik-baik kakak ni biar tidak tenggelam.” Kata Bang Sobri pada Dimas, disusul dengan tertawa. Sepertinya Bang Sobri lihai membaca ketakutan saya, yang sedari tadi hanya duduk mematung di bagian tengah kapal. Kami bertiga pun tertawa dengan kondisi tubuh kuyup tersapu hujan, begitu pun daypack yang berisi pakaian saya. Menyebrang yang seharusnya ditempuh hanya sekitar satu setengah jam terasa seperti satu setengah bulan lamanya.

Akhirnya sekitar pukul lima sore, kapal yang saya tumpangi berlabuh di pinggiran pulau. Pulau inilah yang dinamakan Desa Kahatola. Secara administratif, Desa Kahatola masuk ke dalam Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Saya mengamati sekitar. Desa Kahatola berisikan rumah-rumah panggung sederhana dengan jalan setapak kayu, dikelilingi laut sebagai pekarangannya.

Hujan lebat yang masih mengguyur, seolah menyambut kedatangan saya sore itu. Dari kejauhan saya melihat seorang anak kecil yang mengintip dari balik jendela rumah panggungnya. Mungkin ia penasaran, siapa yang datang ke desa sore-sore hujan begini? Sayalah orangnya.

Usai ‘memarkirkan’ kapalnya, Bang Sobri dan Dimas mengantar saya ke rumah bapak kepala desa (yang saya lupa namanya), tempat saya menginap malam itu. Di teras depan rumah sudah berkumpul beberapa ibu-ibu beserta gerombolan adik-adik yang menanti kedatangan saya. Malu rasanya bertamu ke rumah orang dengan kondisi tubuh basah kuyup begitu. Ibu sudah menyiapkan teh manis hangat, serta memberikan saya pakaian ganti karena pakaian saya basah semua.

Suasana Desa Kahatola sehabis hujan (photo source:dokumentasi pribadi)

Ditemani langit mendung sisa hujan, saya memutuskan berkeliling melihat-lihat suasana desa. Tentu saja juga bersama adik-adik yang membututi saya terus-menerus. Mereka bercerita kalau di desa ini hanya terdapat beberapa ruang kelas sekolah dasar. Sementara anak-anak remajanya pergi bersekolah di luar pulau. Pantas saja saya hanya menjumpai adik-adik ini. Selain itu, penerangan di desa juga masih bersumber pada mesin genset yang menyala sedari pukul tujuh malam sampai pukul lima pagi saja, saat itu. Dan untuk mendapatkan sinyal, saya harus naik ke atas bukit di dekat bangunan sekolah. Bisa dibayangkan bukan bagaimana ketenangan di desa ini?

Potret malu-malu  beberapa adik di Desa Kahatola (photo source: dokumentasi pribadi)

Menjelang maghrib, bapak memanggil saya pulang. “Mari makan! Tadi siang bapak sudah pancing ikan karena tau kamu mau datang.” Saya terharu sekali mendengarnya.

Menurut Ibu, kedatangan saya seperti anaknya yang baru pulang merantau dari jauh, jadi sudah sepantas harus disuguhkan makanan yang enak. Menu makan malamnya ada singkong rebus, ikan goreng, lengkap dengan sambal dabu-dabu. Saya pun makan dengan lahapnya, Bapak dan Ibu sampai tertawa melihat tingkah saya.

Diterangi cahaya lampu temaram yang sudah menyala, saya, Bapak, Ibu dan Bang Sobri yang juga datang, saling bertukar cerita seru sekali. Walau perjalanan menuju Desa Kahatola sempat membuat saya ketakutan, namun bahagia rasanya karena saya berkesempatan ‘terdampar’ di desa ini. Keramahan dan kehangatan masyarakat desa sungguh membuat saya serasa pulang ke rumah. Jika diminta untuk tinggal selama sebulan pun sepertinya saya betah.

Oh iya, teruntuk adik-adik di Desa Kahatola bagaimanakah kabarnya? 

 

Penulis: Dionesia Ika

Instagram: @_dionesia

Twitter: @_dionesia

Press Enter To Begin Your Search
×