Loading...

Foto: instagram.com/novadelviaa20/

Berbicara soal wisata di Indonesia, tentunya tidak akan pernah habis dalam waktu singkat. Slogan “Wonderful Indonesia” bagi pariwisata di Indonesia ini benar-benar merepresentasikan salah satunya keindahan alam Indonesia.

Salah satu wisata Indonesia yang terakhir kali saya kunjungi dan sangat berkesan adalah Puncak Sagara. Puncak Sagara ini merupakan Puncak Gunung Sagara dengan ketinggian 2.132 mdpl yang berlokasi di Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Saat ini, Puncak Sagara sedang menjadi salah satu destinasi baru yang hits terutama bagi para pendaki. Bahkan, saat saya mendaki pun sebenarnya Puncak sagara ini masih dalam tahap pengambangan dan belum di-launching secara resmi oleh Pemerintah Daerah. Namun, antusiasme para pendaki melebihi ekspektasi. Kami pun sempat kesulitan untuk mendapatkan tempat berkemah akibat semua lahan yang terbilang terbatas sudah hampir penuh.

Pengalaman Pertama

Foto: instagram.com/sarulrf/

Semasa SMA dan kuliah, tidak jarang saya melihat teman-teman atau kerabat yang mendaki gunung. Ingin sekali mencobanya, namun karena kondisi fisik saya yang sangat jarang berolahraga, saya tidak merasa percaya diri untuk mendaki. Terlebih, saya khawatir saya akan menjadi beban bagi pendaki lain ketika saya merasa mudah lelah jika dibandingkan pendaki lain. Namun pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk mendaki mengingat travelmate saya adalah keluarga sendiri yang pasti sudah memiliki rasa maklum terhadap saya apapun yang terjadi, serta keponakan saya yang masih SD pun ikut serta karena setelah mencari berbagai informasi, Puncak Sagara ini sangat aman bagi pemula. Bahkan, saya sempat berbarengan dengan rombongan “bule” yang membawa balita. Hebat, bukan?

Maka dari itu, mohon dipahami jika dalam menceritakan pengalaman saya ini, saya tidak menggunakan/menjabarkan dengan baik istilah-istilah yang sebenarnya sudah relate dengan mendaki karena mendaki Puncak Sagara ini adalah pengalaman mendaki yang pertama bagi saya, hehe..

Back to the topic, saya kira setiap track mendaki memiliki pos-pos dengan kegunaan entah itu untuk para pendaki beristirahat, tempat berkumpul atau sebagai penanda agar kita tidak salah arah. Di track mendaki Puncak Sagara ini, terdapat 5 pos yang besar dan jaraknya berbeda-beda.

Sebelum menuju Pos 1, para pendaki diharuskan untuk mendaftar yang kami menyebutnya sebagai basecamp. Perjalanan menuju basecamp itu sendiri, saya menggunakan motor pribadi dan keluarga saya menggunakan mobil pribadi.  Untuk menuju Pos 1, saya lanjut menggunakan motor pribadi dan keluarga saya menggunakan ojek. Di basecamp yang letaknya lumayan jauh menuju Pos 1, tersedia ojek-ojek pangkalan yang memang terbiasa mengantarkan para pendaki menuju Pos 1. Konon, menurut salah satu pendaki yang saya temui saat menuju Pos 2, dulu saat mulai perintisan jalur mendaki ini, mereka harus berjalan kaki untuk menuju Pos 1.

Di tengah perjalanan menuju Pos 1, kami mendapati terdapat semacam warung lengkap dengan meja dan kursi dari kayu yang bahkan bisa kami buat untuk prasmanan bekal. Di hutan tapi prasmanan, ajaib ya? Oiya, kami (kecuali saya) memang warga lokal yang tinggal di Garut. Butuh waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dari rumah (yang diselingi berbagai hal) hingga sampai ke warung ini sehingga waktu makan siang kami yang terlewat pun bisa terpenuhi. Setelah makan siang dan tenaga terisi, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Pos 1. Pos 1 ini yang saya lihat berfungsi sebagai tempat parkir motor pribadi para pendaki sekaligus tempat drop off/pick up point ojek. Selain itu, tersedia WC umum sederhana yang dapat digunakan para pendaki. Meskipun terbilang aman, lebih baik jangan lupa gunakan kunci ganda motor.

Beberapa langkah dari Pos 1, kami sudah disuguhi jalan menanjak tiada henti. Benar saja, setelah berjalan sekian meter pun saya langsung tergopoh-gopoh disertai keringat bercucuran. Bukan hanya jalan yang menanjak, beban perlengkapan yang saya bawa pun saya kira di luar kemampuan saya. Saat itu, saya membawa sekitar 15-20 kg perlengkapan yang dimasukkan ke tas carrier seperti yang biasa digunakan pendaki pada umumnya. Semacam tips bagi keluarga yang berniat mendaki untuk pertama kalinya, pertimbangkan beban bawaan. Usahakan beban bawaan dibagi rata dan sesuai kemampuan. Saat itu, karena hanya saya yang membawa tas carrier, semua orang merasa tas itu bisa dimasuki apapun hingga berjejal. Meskipun merasa keberatan, tapi saya pikir saya masih mampu membawanya. Yang tidak saya kira adalah bahwa mendaki gunung itu berarti tidak menemukan jalan yang mendatar.

Sepanjang perjalanan menuju Pos 2, saya sudah mulai kesal karena belum apa-apa perjalanan teramat menyiksa dan benar-benar tidak bisa dinikmati. Selain itu, karena di rombongan kami terdiri dari usia yang bervariasi, pada akhirnya kami terpisah-pisah menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, 2 anak-anak dan 1 orang dewasa yang merupakan kakak ipar saya. Mereka mendaki dengan sangat cepat. Di luar ekspektasi, yang dikhawatirkan adalah anak-anak, tetapi ternyata mereka sepertinya tidak punya rasa lelah sehingga sekitar 3,5 jam pun mereka sampai ke puncak. Adapun kelompok 2, duo ibu dan anak (kakak tertua saya/my eldest sister beserta anak remajanya) yang memang cukup mampu mengatasi rasa lelah dengan penuh semangat sambil memperhatikan kami yang ketinggalan.

Untuk kelompok 3 yang sudah bisa ditebak, yaitu saya dan kakak kedua saya/my elder sister yang seperti kakek-kakek dan nenek-nenek. Kakak perempuan saya yang satu ini memang terbilang yang punya fisik paling lemah. Adapun saya ini benar-benar merasa tersiksa hingga berada di urutan terakhir akibat beban bawaan yang di luar batas kemampuan saya. Sepanjang perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 pun tidak henti-hentinya kami banyak berdiam hanya untuk meredakan rasa lelah dan hingga di Pos 3 ini saya masih bisa mendengar bahkan kembali bertemu dengan kakak tertua saya.

Perjalanan paling mengerikan bagi saya adalah mulai dari Pos 3 menuju Pos 4. Inilah sesungguhnya yang disebut mendaki. Track jalan yang lumayan terjal tidak bisa dihindari. Rasa frustasi sudah lebih dulu mencapai puncak. Bukan sekali saya kira saya menyerah dan pasrah dan tidak tahu kapan mencapai puncak. Hal itu sebenarnya tidak baik dilakukan karena ternyata itu sangat mempengaruhi kakak kedua saya. Ternyata sepanjang perjalanan mendaki, dia tidak berhenti cemas lalu berdoa agar saya dikuatkan dan diselamatkan serta dihindarkan dari segala macam hal-hal buruk, terlebih kami baru mencapai Pos 4 pukul 5 sore dan sudah benar-benar terpisah dari rombongan. Lucunya, di Pos 4 ini kami bertemu dengan rombongan pemuda (yang sepertinya sudah pro) yang sebelumnya bertemu di Pos 3 yang kami sebut rombongan “aa galon” karena salah satu dari mereka membawa 2 galon air persediaan dan paling talkative. Ternyata mereka mengenali kami karena selain sempat bertemu dengan kakak ipar saya, mereka dititipi kami oleh kakak tertua saya yang khawatir karena sudah meninggalkan kami terlalu jauh.

Awalnya kami berpikir untuk berangkat menuju Pos 5 berbarengan dengan tim aa galon. Namun, mempertimbangkan kami yang mendaki teramat sangat lambat, kami memutuskan berangkat lebih dulu mumpung masih terang dengan harapan saat gelap, kami bertemu mereka. Benar saja saat maghrib tiba dan langit mulai gelap, kami masih berjalan berdua di tengah hutan tanpa tahu akan bertemu manusia lagi atau tidak, akan segera sampai atau tidak. Namun, kami tidak pernah membahas itu. Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Bukan apa-apa, kami merasa butuh tenaga super extra bahkan hanya untuk berbicara.

Hingga setelah ⅔ perjalanan antara Pos 4 menuju Pos 5, seperti mendapat anugerah yang tiada terhingga, kami didatangi pemandu yang tentunya sudah sampai jauh lebih awal. Perlu diketahui, kami mendapat pemandu ketika kami mendaftar di basecamp. Menemukan kami yang cukup mengenaskan di tengah kegelapan, beliau menawarkan bantuan untuk membawakan tas carrier saya. Tanpa basa-basi, langsung saya berikan tas tersebut dan Whoopla! saya seperti melayang. Di tengah track antara Pos 4 dan Pos 5 yang curam dan di sisa-sisa tenaga, saya tiba-tiba bisa melangkah dengan amat sangat mudahnya. Saya pun pada akhirnya membawa tas kakak saya karena kondisinya pun teramat kelelahan dan ya, bagi saya yang sudah membawa tas berkilo-kilo sepanjang hari, tas kakak saya tidak ada apa-apanya nghhehehee.

Setelah sekitar 20 menit mendaki track yang curam tiada henti, akhirnya kami berhasil mencapai Pos 5 yang digunakan para pendaki untuk berkemah. Setelah 4,5 jam perjalanan, akhirnya angin Puncak Sagara meniup hingga ke ujung rambut. Sayang, hari sudah gelap. Sejauh mata memandang hanya terlihat titik-titik sinar temaram dari bangunan yang jaraknya entah seberapa jauh hingga kegelapan yang tidak berujung sampai akhirnya saya mendongak ke atas agar bisa menemukan titik-titik sinar bintang yang jauh lebih indah. Meskipun saya tidak bisa merasakan sensasi negeri di atas awan yang menurut kabar akan sangat terlihat saat matahari terbenam, saya bisa mendapati keindahan lain yang Tuhan berikan kepada saya.

Waktu terus bergulir, kaki terus melangkah. Akhirnya saya mendapati rombongan tercinta yang sedang mencoba memasang tenda. Meski sempat berpikir kenapa masih pasang tenda, ternyata tanpa ditanya pun mereka bercerita sulitnya mendapat lahan yang cukup untuk membangun tenda. Akhirnya, setelah berbenah memasang tenda dan mempersiapkan untuk bermalam, kami pun beristirahat setelah menempuh perjalanan yang luar biasa.

Half-Century Man

Setelah beristirahat semalaman penuh, pagi hari mulai pukul 05:30, suasana di Puncak Sagara sudah ramai. Para pendaki sangat antusias untuk menyaksikan indahnya matahari terbit. Dari sanalah kita dapat merasakan sensasi “negeri di atas awan”, di mana kita seperti berada di tempat yang lebih tinggi daripada awan yang tentunya dapat memanjakan mata dan menenangkan hati dan pikiran. Sejauh mata memandang, terlihat pegunungan yang mengelilingi Garut, langit jingga dan biru membentang seolah dilukis Tuhan untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Seketika rasa penat, lelah, emosi, frustasi yang dirasakan saat mendaki hilang. Tentu saja, sebagian besar pendaki tidak lupa mengabadikan momen yang tidak dapat setiap hari dinikmati, termasuk kami.

Foto: instagram.com/novadelviaa20/

itu dan saya yang menentukan momennya. Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah hal yang biasa atau bahkan lebay. Namun, menurut kami ini termasuk momen yang spesial karena kakak iparku ini sulit untuk diberi kejutan ulang tahun dan kali ini, kami sukses. Meskipun ia sudah menduga bahwa mendakiBerbicara momen, ada satu momen yang sebenarnya menjadi tujuan utama kami. Momen yang membuat saya pada akhirnya memberanikan diri mendaki untuk pertama kalinya, yaitu ulang tahun kakak ipar saya yang ke-50. Kakak tertua saya yang memiliki ide untuk merayakan ulang tahun suaminya di negeri di atas awan

ini ada “dalam rangka”, tapi ia tidak menyangka akan dirayakan di pagi hari di tengah indahnya mentari terbit. Tidak hanya itu, kami yang kikuk untuk bernyanyi lagu ulang tahun pun dibantu oleh para pendaki lain di sekeliling kami yang membuat rasa kekeluargaan dan kehangatan bertambah, padahal kami tidak tahu siapa mereka dan mereka tidak tahu siapa kami. Bahkan nama pun tidak. Kami saling memanggil dengan sebutan dengan sesuka hati kami, tapi kami merasa dekat saat itu.

Begitulah sepenggal cerita yang bagi saya sebuah pengalaman baru yang luar biasa. Mendaki Puncak Sagara mengingatkan saya akan cycle of life, untuk mendapat sebuah kenikmatan dan keberkahan terkadang harus ditempuh dengan perjuangan yang tiada terhingga. Padahal, kenikmatan itu kita rasakan hanya sesaat. Kita pun harus dihadapkan dengan menuruni jalan berliku nan curam yang jika tidak hati-hati, bisa terperosok.

Puncak Sagara mengajarkan pula tentang arti persaudaraan. Bukan soal darah, melainkan rasa simpati dan rasa sehidup sepenanggungan yang bisa datang entah dari mana. Mari kita mensyukuri atas segalanya yang telah diberikan Tuhan.

 

Nama Penulis: Syahrul Ramdhani

Instagram: www.instagram.com/sarulrf/

Twitter: www.twitter.com/syahrul960

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×